
Story 9. Cadaver
"Yo... liat siapa ini? si gadis jenius! Nilai mu yg tertinggi lagi dalam praktek kali ini, 98 nyaris sempurna. Apakah rahasianya?"
Aku menyingkirkan handphone yudi yang terpampang di depan wajahku, dia berlagak seperti wartawan berita dgn handphone sebagai pengganti microphone seperti hendak mewawancara saja.
Anak ini memang paling lawak di angkatanku. Kami berdua dari jurusan kedokteran, dan minggu lalu kami dan seluruh anak angkatanku melakukan praktek cadaver▪︎1. Seperti yg dikatan temanku tadi, nilai ku memang yg tertinggi padahal aku hanya berlatih 2 kali.
Yah masalahnya biaya mayat cadaver itu mahal.
"Sudah sudah, kamu membuatku malu saja"
Aku menariknya dari depan mading pengumuman, orang-orang melihat kami-oh ya ampun- padahal hanya nilai praktek, aku seperti barang museum saja yg dilihat orang. Ugh!
"Ah si gadis jenius malu rupanya, wkwkwk~"
"Yudi diam!"
_
_
_
"Tapi serius mi, apa rahasiamu? Nilaimu selalu bagus setiap praktek"
Kami duduk di depan televisi diBTN ku, setelah pulang dari kampus tadi. Dia memintaku mentraktir dia makan, jadi aku berencana memasakan dia makanan.
"Ya latihan tentusaja, aku lahitan 2 kali. Tapi aku tidak yakin nilaiku akan tetap bagus di praktek minggu depan"
"Ck selalu merendah! Dasar jenius sombong!"
Yudi melemparkan keripik ke arahku, aku tertawa kecil menangkap keripik lalu memakannya.
"Aku serius yud, makanya aku ingin minta bantuanmu"
"Bantuan apa, bilang aja. Aku pasti bakalan bantu"
"Sungguh? Kamu bakalan bantu?"
"Tentu saja, kita kan teman"
__ADS_1
Aku tersenyum menanggapi ucapan yudi, ah dia memang setiap kawan. Senang punya teman sepertinya.
"Ya teman"
_
_
_
"Sialan!, nilainya sempurna kali ini. 100! Dia benar benar jenius!"
Aku mendengar bisik bisik dari arah sampingku, para mahasiwa lain melihatku sambil berbisik. Aku masih memandangi mading kampus, melihat namaku di pengumuman dgn nilai 100 tertera, nilai yg sangat sempurna.
Tidak sia-sia aku berlatih selama seminggu kemarin, aku harus berterimakasih kepada yudi dia banyak membantuku. Aku tidak akan mentraktir dia makan kali ini, kufikir aku harus membawakannya bunga saja.
Catatan
▪︎Cadaver (merupakan istilah yg digunakan dikedokteran buat praktik bedah m*yat)
Story 10. Blind Date
"Kamu mau pesan apa?"
karna masalah pembunuhan diperumahan kami, sekarang perumaham dijaga ketat, kami ngak bisa mendapatkan bahan baku lagi.
Jadi johan memiliki ide untuk kencan buta. dengan cara ini kami lebih mudah mendapatkan bahan baku produk.
"Steak aja, kak"
Aku melirik pria ini yg sedang berbicara dengan pelayan, namanya rian pratama, dia tinggi tapi badannya gak kurus, gak begitu berisi juga. Sangat cocok.
"Biasanya cewek cantik tuh makan sayur, tapi kamu beda Lili. Eh aku panggil lili gapapa kan?"
Aku yg dari tadi melamun langsung melihat ke arah rian, suaranya sangat bagus.
"Lili aja gapapa kak, hehe Aku suka daging kak, steak di sini enak"
"Gitu yah? Samaan dong kita, minggu lalu aku makan daging dan aku gakbisa lupain rasanya. Kamu harus coba lili, itu rekomended banget"
"Dari resto mana kak?" Sebelum kak rian menjawab pertanyaanku, pelayan datang membawakan pesanan kami.
__ADS_1
-
"Aku antar aja yah lili? Kamu tunggu temenmu kelamaan"
Aku tersenyum, well johan udah nunggu di pertigaan arah ke perumahan kami. Senang semua rencana kami berjalan lancar.
Jadi aku naik mobil rian dan dia mengantarku. Kami bercerita, karna kami punya makanan kesukaan yg sama jadi bercerita dengan dia sangat lancar.
"kak rian hobby nya apa?"
"Hiking"
"Terakhir kali kaka hiking kapan? Aku juga pengen sih tapi gak siap mental, takut jadi beban" rian tersenyum kecil mendengar perkataanku.
"Itu seminggu yg lalu, si cantik everest"
"Wow, keren banget. Everest yg tinggi itu kan? Dari berita aku liat banyak pendaki yg mati hipotermia atau kelaparan"
"Emang khusus buat yg udah pro aja, dan untungnya persediaan makan lengkap jadinya aku bisa balik dengan selamat"
Aku masih mendengarkan rian bercerita tentang pengalamannya hiking ke everest, aku melirik jam tanganku. 15 menit lagi sampai di pertigaan.
"Oh iya hampir lupa, yg tadi kaka bilang. Steak daging dari resto mana kak? Lili mau coba juga"
Tiba-tiba mobil rian berhenti, jalan sepi sekali. Aku yg bingung menoleh ke kanan saat mendengar rian tertawa.
"daging beku"
"Hmm?" Aku mengerutkan keningku, tidak paham dengan perkataan rian. Rian tertawa makin keras.
"Itu di everest"
"..."
"Sangat enak sekali"
"..."
.
.
__ADS_1
.
Sial! Johan tolong aku!!