
🌼✨HAPPY READING✨🌼
Amora membersihkan kamar Alvan terlebih dahulu karena Alvan adalah kakak tertua dari tuan muda nya. yang tua harus didahulukan, Pikirnya. Alvan membuka pintu kamarnya dengan keras sehingga membuat Amora terkejut dan terpelonjak dari atas kursi, dengan sigap Alvan menangkap tubuh Amora yang hendak terjatuh dan melemparkan tas kerjanya ke sembarang arah.
Wajah Alvan dan Amora sangat dekat bahkan deru nafas Alvan sangat terasa di wajah Amora. "Lo nggak papa?" Tanya Alvan sembari menurunkan Amora dari gendongannya
"Eng-nggak papa, Ttt-tuan"
"Lo ngapain di kamar gue?"
"Oh ini saya lagi bersihin kamar, tuan. Kata Bu nyonya saya harus bersihin kamar, tuan muda"
Alvan hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi tanpa berniat mengambil tas kerjanya.
Alvan menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang tepat pada Amora. "Lo nggak mau keluar? Gue mau mandi!" Alvan mengernyitkan keningnya
"O-ooh iya, tuan, saya keluar sekarang" ucap Amora sembari mengambil lap nya yang tadi terjatuh
Amora menutup pintu kamar Alvan dengan pelan. "Huh, ternyata, tuan Alvan, lebih menakutkan daripada, tuan Alfa" ujar Amora sambil mengusap dadanya
Kamar Alden adalah tujuan kedua Amora. Amora mengetuk pintu kamar Alden karena dirasa Alden berada dalam kamarnya.
"Kenapa?" Tanya Alden yang sudah membuka sedikit pintu kamarnya
"Saya, mau bersihin kamar, tuan Alden"
"Yaudah masuk aja" titah Alden sembari membuka lebar pintunya
Mata Amora membola sempurna melihat isi kamar Alden yang sangat rapih dan bersih, bahkan rasanya tidak perlu dibersihkan lagi olehnya.
"Kenapa, Ra? Kok bengong, katanya mau bersihin kamar gue?" Tanya Alden sembari mendudukkan bokongnya di atas kasur
__ADS_1
"Kamar, tuan Alden, bersih banget. Ini mah nggak perlu dibersihin lagi. Nggak seperti kamar, tuan Alvan, kotor dan berantakan bahkan ya, tuan, seprainya aja sampai kemana-mana, buku-buku nggak jelas berserakan di sana-sini belum lagi baju kotor yang tergeletak dilantai banyakkkkkkkk banget, tuan" omel Amora yang membuat tawa Alden jatuh sendiri melihat kelakuan asistennya.
Lucu, pikirnya
"Belum aja tau kamar, Alfa"
"Memang kenapa, tuan? Kamar, tuan Alfa, sama berantakannya ya sama kamar, tuan Alvan?"
"Lihat aja nanti sendiri, Ra"
"Yaudah deh, tuan, saya permisi ya kekamar, tuan Alfa, biar cepet selesai pekerjaan saya"
"Iya" ucap Alden yang masih setia dengan tawa kecilnya
"Eh, Ra, tunggu!"
"Ada apa, Tuan?"
"Memang, tuan, mau kemana?"
"Mau beli buku"
"Bisa, tuan, bisa"
"Oke" Amora tersenyum membalas jawaban Alden
Amora mengumpulkan kekuatan untuk bertemu langsung dengan Alfa, sejujurnya ia masih takut dengan Alfa karena kejadian tadi siang yang sama sekali tidak ia harapkan.
"Duh, ketuk nggak ya? Ketuk nggak? Ketuk ngga?" Ucap Amora sembari menghitung dengan jemarinya
Alfa yang hendak keluar kamar terkejut melihat kehadiran Amora didepan kamarnya. "Ngapain, Lo?"
__ADS_1
Amora terkejut dan melangkah mundur. "Ss-saya mm-mau bersihin kamar, tuan" ucap Amora dengan gugup sembari meremas ujung bajunya kuat
Alfa membuka pintu kamarnya. "Masuk"
"Bb-baik, tuan"
Lagi dan lagi mata Amora membola sempurna, jadi ini yang dimaksud tuan Alden tentang kamar tuan Alfa. Sangat menjijikkan, pikirnya. Seprai kasur yang amat sangat berantakan, sampah Snack dan kertas yang berhamburan di lantai, belum lagi botol-botol bekas bir yang berada di setiap sudut kamar.
"Cepet bersihin! Nggak usah banyak bengong"
"Kamar atau gudang sih?" Gumam Amora yang masih terdengar di telinga Alfa
Alfa murka dengan perkataan Amora, ia melangkah ke arah Amora mengikis jarak diantara mereka membuat Amora ketakutan dan gemetaran. Alfa mendorong tubuh Amora ke dinding pelan dan mengunci pergerakannya dengan kedua tangan kekarnya.
"Apa Lo bilang?" Tanya Alfa dengan suaranya yang berat
"Mm-maaf Ttt-tuan..." Ucap Amora sambil menunduk dan meremas kuat ujung bajunya
Alfa mengangkat dagu Amora. "Tugas Lo cuma bersihin bukan ngebacot, PAHAM!" Jelas Alfa dengan tatapan tajam
Amora hanya mengangguk pasrah, sejujurnya ia sangat takut. Mendengar suara Alfa saja sudah mampu membuat dirinya gemetar apalagi jika ia menatap wajah Alfa sedekat ini. Amora tidak memiliki keberanian untuk menatap Alfa ia terus terpejam dan menahan nafasnya sekuat mungkin.
Â
..........
Â
Amora kembali ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya yang sudah tercium busuk. Menatap cermin yang terpampang jelas di kamar mandinya, entah kenapa ia sangat merindukan ibunya. Kejadian waktu itu belum bisa ia lupakan begitu saja dan tanpa ia sadari air matanya sudah lebih dulu lolos tanpa persetujuan nya.
"Ibu, Alind, kangen. Kenapa ibu pergi nggak ajak, Alind? Ibu, ngga kasihan apa sama, Alind? Sekarang, Alind, udah mandiri, Bu. Alind, udah bisa bayar sekolah, Alind, dengan uang, Alind, sendiri bukan minta sama, ayah. Ibu, harus tau! Sekarang aku ganti nama panggilan jadi Mora, maaf ya Bu, alind, lancang" ucapnya pelan sambil berusaha menyeka air matanya. Alind adalah nama panggilan yang ayahnya berikan padanya sejak kecil dan sejak kejadian waktu itu ia membulatkan niatnya untuk mengganti nama panggilannya dengan Mora, tidak lagi ingin dipanggil atau dikenal sebagai Alind, karena sekarang baginya Alind sudah tiada.
__ADS_1
Ia lalu membasuh wajahnya dengan air, tidak bisa dipungkiri lagi Mora memang sangat merindukan ibunya. Bahkan permasalahan yang selalu terjadi diantara ibu dan ayahnya masih teringat jelas di pikirannya. Andai waktu itu Mora pulang tepat waktu mungkin sekarang ibunya masih berada dalam dekapannya.