Story' With Tuan Muda Al

Story' With Tuan Muda Al
Episode 5


__ADS_3

🌼✨ HAPPY READING✨🌼


"Pagi, mbok" sapa Amora yang sudah mengenakan seragam sekolahnya


"Pagi, non cantik"


"Eum, mbok, jangan panggil aku non cantik ya"


"Loh? Memangnya kenapa?"


"Kan aku disini kerja jadi nggak pantas dipanggil non cantik"


"Kan non emang cantik"


"Panggil nama aku aja ya, mbok"


"Yaudah iya" Amora tersenyum dengan kepasrahan mbok Ijah


Amora dan mbok Ijah menyiapkan semua makanan di meja makan yang sudah mereka masak tadi. Amora gemetar begitu Bu nyonya menatapnya dan Alden secara bergantian.


"Mami, kenapa?" Tanya Alvan sembari menarik kursi meja makan


"Mora, jawab pertanyaan saya dengan jujur"


"Ii-iya, Bu ny-nyonya" ucapnya sambil meremas rok sekolahnya


"Apa benar semalam kamu tidur dengan, Alden?"


Sontak seketika Alfa memuntahkan makanannya ke lantai mendengar pertanyaan mami nya. Entah kenapa Alfa sangat terkejut disini.


"Ii-iya" jedanya "t-tapi kan say...."


"Saya, udah tahu. Saya nggak akan marah kok, Mora, kamu nggak perlu takut, karena itu juga sebagian dari pekerjaan kamu, paham!"


"P-paham, Bu nyonya"


"Tidur dengan, kak Alden? Boleh? Mami nggak marah? Hebat, pake jimat apaan tu cewek" batin Alfa tanpa henti dengan menatap Amora remeh


"Asalkan kalian nggak ngelewatin batas!"


"Mami, tenang aja" jawab Alden dengan santai menyantap rotinya


Mami Aldora mengangguk pelan dan melanjutkan makannya


"Mora, cepat makan sana nanti kamu terlambat" ujar Alvan sembari memberikan segelas susu putih kepada Amora


"Baik, tuan"


"Eh, ini ambil"


"Tapi, tuan...."


"Ambil atau gue pecat"


Dengan cepat Amora mengambil segelas susu dari tangan Alvan


"Anak pintar" ucapnya sambil mengacak-acak rambut Amora


Ibuuuuuuu, anakmu dibuat baper lagiiiii. Ish dasar mental yupi gampang mleyot


 


......................


 


Diperjalanan Amora hanya bisa diam, apalagi yang harus dia lakukan. Alfa menatap Amora lalu menaikkan sudut bibirnya. "Murah"


Amora dengan cepat menoleh kepada Alfa


"Apa? Gue bilang fakta kan?" Ucap Alfa dengan memberikan pandangan remeh terhadap Amora


"Maksud, tuan, apa?


"Gak usah sok polos, Lo"


"Saya, memang nggak tahu maksud, tuan Alfa, apa?"


"Lo...." Alfa menggantungkan ucapannya "bekas j4l4ng ya?"


*Deg


Apa ini? Tidak salah dengar kah Amora? Alfa baru saja menyebut dirinya j4l4ng? Apa ada yang salah dengan pakaian Amora?


"Tuan, saya memang kaum rendahan tapi bukan berarti saya murahan, tuan"


"Yakin? Buktinya Lo mau diajak tidur sama kakak gue? Dibayar kan Lo? Dibayar berapa? 1 juta? 2 juta? Atau....100 juta?"

__ADS_1


Marah? Kesal? Itu yang Amora rasakan saat ini. Tidak habis pikir dengan pertanyaan Alfa terhadapnya. Apa serendah itu dia mata Alfa? Haruskah Alfa mencurigainya?


"CUKUP TUAN" teriak Amora dengan nafas tersengal-sengal. Sekuat mungkin ia menahan tangisnya dadanya sesak dan hatinya sakit


"Kenapa? Kan emang Lo itu...."


"SAYA BILANG CUKUP, TUAN, SAYA INI WANITA BAIK-BAIK SAYA TIDUR DENGAN, TUAN ALDEN, KARENA PERMINTAAN, TUAN ALDEN, SAYA NGGAK DIBAYAR KOK SAMA, TUAN ALDEN, LAGIAN YA, TUAN, SAYA MELAKUKAN ITU KARENA KEADAAN, TUAN ALDEN, SANGAT MEMPRIHATINKAN, KALAU, TUAN, NGGAK TAHU APA-APA SETIDAKNYA JANGAN SEMBARANGAN MENGATAKAN ORANG" teriaknya yang sudah bercucuran air mata


Detik itu juga Alfa menghentikan mobilnya. Alfa menatap Amora dengan rasa bersalah, memang seharusnya Alfa tidak mengatakan hal itu kepada Amora. Sekarang lihatlah gadis cantik ini sudah menangis, matanya merah dan kedua pipinya bahkan sudah basah.


"Ra..."


"Apa? Tuan, belum puas? Mau menghina saya lagi? Iya? Silahkan, tuan, hina saya sepuas, tuan"


Alfa menghela nafas kasar, memukul setir mobil dengan keras. Menarik tubuh Amora kedalam pelukannya "sorry"


"LEPAS, TUAN! LEPASINNNNNN" teriaknya sambil memukul dada bidang Alfa


"Sorry, Ra. Gue nggak bermaksud buat ngehina Lo"


Amora hanya menangis tanpa membalas permintaan maaf Alfa


"Sorry banget, Ra, gue janji nggak bakalan ngulangin ini lagi" ucapnya sambil mempererat pelukannya


"T-tuan..."


"Diam!"


"Jangan kencang-kencang pelukannya saya nggak bisa nafas...hiks..."


"Astaga" Alfa menepuk jidatnya pelan lalu melepas pelukannya


"Udah jangan nangis lagi, gue kan udah minta maaf" Alfa menghapus air mata Amora dan menangkup kedua pipi gadis itu


"Mengucapkan maaf memang mudah, tuan, tapi, tuan, harus ingat! Luka itu akan terus membekas" ujarnya yang kemudian melepas tangan Alfa dari kedua pipinya


"Gue tahu gue salah..."


"Mending sekarang, tuan, jalanin mobilnya saya nggak mau telat"


"Oke, terserah Lo aja yang penting gue udah minta maaf"


"Tuan, ikhlas nggak sih kalau minta maaf"


Alfa hanya diam dan kembali menghidupkan mobilnya.


"Tuan"


"Tuan"


"Tuan, tuli ya?" Ucapnya sedikit keras


"Berisik"


"Tuan, aneh ya harusnya yang marah itu saya bukan, tuan"


"Diem!"


"Tuan, saya masih nggak terima ya tadi, tuan, ngatain saya seenaknya"


"Terus?"


"Terussss? Tuan...."


Ssstttt


Alfa menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, kepala Amora terbentur. "Ra, sorry nggak sengaja" Alfa memegang kepala Amora dengan lembut


"Tuan, sengaja ya?"


"Nggak, Ra. Mana yang sakit?"


"Lutut, Mora. Pakek nanya lagi" bentak Mora dengan tatapan tajam


"Ya biasa aja dong nggak usah ngegas"


"Ish, tuan, tuh ya udah salah seenaknya lagi"


"Lah? Seenaknya gimana si?"


"Udahlah saya turun aja, mending saya naik angkot daripada naik mobil sama, tuan"


Alfa menarik tangan Amora " jangan coba-coba ngejauh dari gue" ucap Alfa dengan suara beratnya yang membuat Amora menelan Saliva nya kasar


"Diem atau Lo jadi pacar gue"


"H-hah?"

__ADS_1


"Kenapa? Lo mau jadi pacar gue?"


"Nggak nggak mau, pacar tuan, udah banyak saya nggak mau berbagi"


"Oh, jadi Lo maunya gue cuma punya Lo?"


Mata Amora membola "ng-gak gitu maksudnya, t-tuan"


Alfa memiringkan bibirnya "sekarang Lo bisa bilang nggak tapi, tunggu sebentar lagi Lo bakal jatuh cinta sama gue"


"Idih, tuan Alfa, kepedean"


Alfa mengusap hidung mancung Amora "tunggu sebentar lagi, dan Lo bakal jadi milik gue"


"Ya ya ya terserah, tuan, aja yang penting sekarang kita berangkat ke sekolah nanti terlambat tahu, tuan"


"Iya bawel"


Alfa tersenyum kecil dan menjalankan mobilnya kembali, dan tetap fokus tanpa melihat Amora sedetik pun. Amora menatap wajah Alfa dengan lekat. Aneh, kenapa aku nggak bisa marah sama, tuan Alfa? Padahal tadi dia ngehina aku, aku kenapa si arghhhhh. Gini ya kalau kerja sama orang ganteng, gampang mleyot padahal aku manusia bukan yupi yang kalau di angkat dikit langsung mleyot kesana-kesini


Alfa berhenti di parkiran tempat biasanya dan seperti biasanya siswi-siswi SMA Agra sudah sangat siap menyambut kedatangan Alfa. Dana kali ini Amora dengan tidak sadarnya keluar dari mobil Alfa dengan santai. Mereka keluar bersamaan membuat para siswi-siswi SMA Agra terkejut setengah mati.


Calysta, Prilly, dan Nina pun ikut terkejut dengan pemandangan pagi ini. Amora berjalan di depan Alfa sambil menatap sekelilingnya yang sudah menatapnya tajam. "Ini pada kenapa sih?"


Calysta menarik lengan Alfa "jelasin!"


"Apanya?"


"Dia! Kenapa bisa berangkat sama kamu? Dia siapa? Oh atau kamu nambah pacar lagi?"


"Masih pagi nggak usah cari ribut" ucap Alfa sambil menarik tangannya kasar


"Fa, kalau kamu mau nambah pacar bilang dong" ujar Prilly


"Iya Fa, kita sebagai pacar kamu yang duluan harus tahu hal itu" sahut Nina Zatulini, gadis manis dengan pipi chubby dan rambut pendek berponi


"Dia belum jadi pacar gue"


"Beneran? Tapi kok bisa berangkat bareng?" Tanya Calysta lagi


"Banyak tanya Lo"


"Salah ya aku tanya, lagian aku juga pengen tahu"


"Gue mau ke kelas, besok malam ke basecamp gue bakal bawa tu cewek"


"Cal, Lo kenapa sensi sih?"


"Gue lagi pms aja sih, sebenarnya gue mau minta putus aja dari, Alfa"


"Loh? Kenapa?"


"Udah capek, berasa kek nggak ada cowok lain aja gitu"


"Bukannya malah enak ya kalau punya pacar yang banyak selingkuhannya" ucap Nina


"Ya enak sih soalnya kita akur coba kalau nggak"


"Lo mau kita berantem?" Tanya Prilly dengan mata melotot


"Sembarangan! Udahlah nanti kalau tu cewek berhasil jadi pacarnya, Alfa, gue mau putus"


Nina berdecak "Ish, Calysta nggak seru"


"Keliatan banget kalik kalau, Alfa, itu suka sama tu cewek bukan cuma mau jadi cadangan doang, percaya sama gue kalau, Alfa, udah pacaran sama dia Lo semua juga bakal diputusin"


"Tahu dari mana Lo?"


"Lihat aja. Dah hus hus gue mau ke kantor ada rapat sama, Bu Arita"


"Demen amat Lo rapat sama tu nenek lampir" ucap Nina gamblang


"Heh! Mulutnya, gue bilangin, bu Arita, baru tahu rasa Lo" balas Calysta


"Nggak Lo bilangin bu Arita juga gue udah tahu rasa rasa apel, rasa mangga, rasa..."


Plakkk


"Goblok, bukan itu yang dimaksud, Calysta" Prilly memukul lengan Nina keras


"Terus rasa apa?"


"Rasanya ingin ku membunuh mu, NINA ZATULINI"


"Jangannnnnn! Gue belum ngerasain yang namanya nikah"


"Gila!"

__ADS_1


Prilly dan Calysta pergi meninggalkan Nina yang masih asik dengan dunia halunya. Halu memang menyenangkan, meskipun Nina sudah menjadi member Alfalov dia tetap gadis yang suka berhalu. Halu menjadi seorang ratu kidul, hahaha.


__ADS_2