
🌼✨HAPPY READING✨🌼
Amora turun dengan mengenakan celana jeans, baju crop berwarna putih polos dengan lengan pendek, sepatu balet berwarna putih, dan tas selempang berwarna hitam polos, rambut panjang yang selalu ia biarkan tergerai.
"Rapih banget, Ra, mau kemana?" Tanya Alvan yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di ruang tengah
"Saya, mau menemani, tuan Alden, beli buku, tuan"
"Udah siap, Ra?" Tanya Alden yang sedang merapikan jaketnya
"Sudah, tuan"
"Jangan pulang malam-malam"
"Iya, kak. Kakak ada mau nitip sesuatu nggak?"
"Nggak usah"
"Yaudah, kak, gue jalan" Alvan berdeham
Â
................
Â
Amora mengikuti langkah Alden yang menyusuri rak satu persatu. "Memangnya, buku apa yang, tuan, cari?"
"Buku instrumen bedah jantung, Ra. Nah ketemu" Alden mengambil buku yang sedari tadi ia cari
"Iih, ngeri" Amora bergidik geli
"Apanya yang ngeri?"
"Ya ngeri lah, tuan. Emangnya, tuan Alden, tega apa robek badan orang pakai pisau, nih kan ya, tuan, setahu, Mora, kalau operasi itu perutnya di robek pakai pisau" Alden tertawa kecil
"Kan operasi itu cuma buat orang yang penyakitnya udah parah, Ra"
"Tuan Alden, kan orangnya baik banget memang tega?" Tanya Amora polos
"Namanya dokter ya harus tega lah, lo ini aneh"
"Tuan, kenapa mau jadi dokter?"
"Biar bisa nyelamatin nyawa orang"
"Kan itu emang tugasnya dokter, tuan, aneh banget sih ah" ucap Amora sambil menyipitkan kedua matanya
"Lo yang aneh. Udahlah ayok kita ke kasir, nanti pulang kemalaman mau Lo dimarahin, kak Alvan?" Amora menggelengkan kepalanya dengan cepat
Amora dan Alden masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan mereka. Alden berhenti disebuah cafe. "Loh, kok berhenti, tuan?"
"Gue lapar, makan dulu yuk" ucapnya sambil melepas seat back nya "ohiya, kalau di luar rumah jangan panggil tuan ya, ngga enak didenger orang"
"Terus, aku harus manggil apa? Nggak mungkin kan manggil nama nggak sopan tahu, tuan, lagian kan, tuan Alden, lebih tua dari saya"
"Panggil kak aja deh"
"Emang nggak papa, tuan?"
"Nggak papa, pas diluar rumah aja kok"
"Oke, tuan, eh kak" ucapnya sambil menyengir menampakkan gigi putihnya yang rapih
Alden memegang menu cafe. "Lo, mau apa, Ra?"
"Aku, nggak bawa uang" ucapnya lirih bahkan Alden saja hampir tidak mendengarnya
"Ha? Lo ngomong apa? gue nggak denger, Ra"
Amora berdecak. "Ish, aku nggak bawa uang, tuan eh kak" ucapnya sekali lagi dengan membisikkan di telinga Alden
Alden tertawa kecil. "Gue yang bayar, udah cepet milih"
"Beneran?"
"Iya, Mora. Cepet milih ih gue udah lapar nih"
"Emm, aku mau pancake aja"
"Lo, nggak pesen minum? Seret gue nggak tanggung jawab ya"
"Ish, lemon tea aja deh"
"Spaghetti sama pancake, minumnya lemon tea aja 2"
"Baik, tuan" ucap pelayan cafe sembari menundukkan kepalanya sebentar
"Alden?" Panggil seorang gadis dengan balutan dress warna kuning bermotifkan bunga-bunga
Alden dan Amora mengangkat kepalanya secara bersamaan. "Lo?"
"Gue boleh ikutan duduk?"
__ADS_1
"Boleh, duduk aja" ucap Alden dingin
Amora mengernyitkan keningnya bingung, tidak biasanya Alden bersikap seperti ini, bukankah dia pria baik yang ramah.
"Dia....siapa?"
"Bukan urusan, lo"
Gadis itu menghela nafasnya pelan. "Pacar baru ya?"
"Gue bilang bukan urusan lo"
"Tuan Alden, kenapa? Memangnya siapa gadis ini?" Tanya Amora pada dirinya sendiri, bodoh untuk apa memikirkannya tidak penting juga kan untukku memangnya aku bakal dibayar apa kalau memikirkan siapa gadis ini.
"Kalau nggak ada kepentingan Lo bisa pergi" titah Alden sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana
"Lo ngusir gue? Lagian ini kan tempat umum, Den, siapa aja bebas keluar masuk kesini"
"Kursi kosong masih banyak"
Amora hanya diam mematung, untuk apa juga ia ikut bicara jika dirinya saja tidak tahu siapa gadis ini dan kenapa tuan Alden sangat dingin ketika berbicara dengan gadis itu
"Ini pesanannya tuan, selamat menikmati" Alden hanya berdeham
"Cepet dimakan, Ra, gue nggak punya banyak waktu"
"Ii-iya"
"Kenalin gue, Tiara, mantan pacarnya, Alden" ujar gadis itu sambil mengulurkan tangannya
Amora yang hendak memegang pisau mengurungkan niatnya dan menjabat tangan gadis itu. "Aa-aku, Mora"
Alden melepas tangan Tiara dengan kasar dari tangan Amora. "Lo, kenapa sih, Den? Salah ya gue kenalan sama dia?"
"Oke, kenalin dia, Amora Okalind, pacar gue sekarang, puas Lo?" ucapnya dengan menekankan kata 'pacar'
*Deg
Seperti ada sebuah pedang besar yang sedang menusuk dada Tiara sekarang ini, sesak? iya itu yang Tiara rasakan saat ini. Tiara mengangguk paham. "Semoga bahagia ya, gue pergi dulu" ucapnya yang dengan kuat menahan air mata
Alden menatap punggung Tiara yang semakin berjalan jauh darinya. Sebenarnya bukan ini yang ia mau tapi, apalah daya ia tidak sekuat laki-laki lain. Banyak hal yang masih harus Alden jalani dan perjuangkan, soal cinta itu urusan belakangan.
"Kak"
"Kak Alden, nggak papa?"
"Kak, kakak dengar aku kan?"
Alden memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang. "Ayo pulang, gue udah nggak nafsu"
Â
.................
Â
Alden langsung masuk kedalam kamarnya tanpa ada suara sedikitpun. Alvan mengernyitkan keningnya, ada apa dengan adiknya ini. Bukankah tadi ia terlihat baik-baik saja.
"Mora"
"Iya, tuan"
"Alden, kenapa?"
"Emmh, itu...saya juga kurang paham, tuan"
"Ha? Kalian berantem?"
"E-eh nggak kok, tuan. Cuma...."
"Cuma apa?"
"Tadi ada cewek yang nyamperin kita pas lagi makan"
"Cewek? Lo tahu siapa namanya?"
"Namanya.....Ti....Tiara tuan, iya Tiara" ucapnya setelah berhasil mengingat nama gadis itu
"Cewek itu masih aja berani ganggu adik gue" rahang Alvan mengeras seketika ia mendengar nama Tiara yang tersebutkan
"Ra, buatin susu hangat untuk, Alden"
"Baik, tuan"
Alvan berjalan memasuki kamar Alden dan ia melihat adiknya yang terlihat murung, hati Alvan pun ikut sakit melihat keadaan adiknya.
"Nggak usah Lo pikirin lagi cewek kayak gitu" ucapnya sambil menepuk pundak Alden
"K-kak" Alden meneteskan air matanya
"Udah gue bilang nggak usah dipikirin"
"Gue nggak bisa ngelupain dia gitu aja, kak"
__ADS_1
"Iya, gue tahu tapi Lo nggak boleh lemah, Den. Lagian percuma juga kan Lo perjuangin cewek brengs3k kayak, Tiara"
Tok tok tok
"Permisi, tuan. Apa aku boleh masuk?"
"Tu, ada, Mora, usap air mata Lo"
Alden mengusap air matanya dan membuka pintu. "Ada apa?"
"Ini aku buatkan susu hangat untuk, tuan"
"Gue keluar, habisin tu susu gue yang nyuruh, Mora"
Alden hanya mengangguk pelan
"Masuk dulu ya, Ra. Temenin gue sebentar"
"Iya, tuan"
Alden mengajak Amora duduk di balkon kamarnya sambil menikmati bintang-bintang yang terlihat indah malam ini.
"Tuan"
"Hm"
"Kalau aku boleh tahu, tuan, tadi kenapa bersikap kasar sama, Tiara?"
"Nggak usah bahas dia"
"M-maaf, tuan"
Alden menyenderkan kepalanya di pundak kanan Amora. Amora terkejut dan jantungnya sedikit tidak aman.
"T-tuan, ngapain?"
"Sebentar"
"Tuan, kalau ngantuk tidur aja ya"
"Tapi temenin"
"H-hah?"
Alden menggendong Amora ala bridal style secara tiba-tiba membuat mata Amora membola sempurna. Alden mendudukkan Amora diatas kasurnya dengan pelan. Ia berjongkok di depan Amora. "Temenin gue tidur ya, Ra. Pleaseeeee"
"T-tapi nanti kalau Bu nyonya dan Pak tuan tahu gimana?"
"Biar gue yang bilang, mereka nggak akan marah kok, tenang aja"
"Tapi...." Alden langsung berbaring di sebelas Amora dan melingkarkan tangannya di pinggang Amora, Amora hanya bisa diam mematung tubuhnya gemetar dan jantungnya lari kesana-kemari
Alden menenggelamkan wajahnya dileher Amora sambil menangis sesenggukan, ia sudah tidak bisa menahan tangisnya. "Tuan kenapa nangis?"
Alden terisak "bisa elus rambut gue?"
"B-bisa k-kok, tuan"
Amora mulai mengusap lembut rambut Alden, ia sangat tidak tega melihat keadaan Alden yang sekarang. Apa karena cewek tadi? Memangnya apa masalah mereka sampai tuan Alden seperti ini? Gadis bodoh yang menyia-nyiakan dan menyakiti tuan Alden
Â
...................
Â
Alden membuka matanya dan ia tersenyum tipis melihat wajah Amora yang masih tertidur, dengan posisi yang masih sama. Alden menarik tangannya pelan dan duduk disamping Amora. Juga tangannya yang bertengger manis di kepala Amora. Alden mengusap lembut rambut Amora. "Manis banget sih Lo kalo lagi tidur, dasar bocah"
Amora menggeliat dan membuka matanya. Ia terkejut dan reflek bangkit dari tidurnya tapi sial ia yang tidur di pinggir kasur membuatnya jatuh ke belakang dan Alden langsung menarik pinggang Amora, kini posisi mereka menjadi Amora yang terjatuh diatas Alden karena tadi Alden menariknya. Kedua mata mereka saling menatap, hening? Itu yang sedang terjadi saat ini. Amora menggelengkan kepalanya dan duduk dengan cepat.
"T-tuan, udah b-bangun? Kok nggak bangunin a-ak..kuu?" Ucapnya gugup
"Soalnya Lo kalo tidur manis gue suka lihatnya"
"Hahaha, tuan, bisa aja"
"Yaudah gih Sono Lo ke kamar, mandi habis itu bantuin mbok Ijah masak"
"Siap tuan. Eh tuan nanti kalau saya di marahin Bu nyonya gimana?"
"Nggak akan"
"Tuan, mah yang bener ih"
"Ya bener, Ra"
"Awas ya kalau sampai aku di marahin sama Bu nyonya"
"Iya iya, bawel banget sih Lo. Udah sana gue juga mau mandi"
"Dih ngusir"
"Bodo amat" ucapnya yang bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi
__ADS_1
Amora berlari masuk ke kamarnya dan melompat ke atas kasur menenggelamkan wajahnya di guling dan berteriak sembari meremas seprainya.
"Huaaaaa ibu, anakmu baperrrrrrr. Dasar, tuan Alden, bikin anak orang baper iiiih" Amora duduk dan menampar pipi kirinya pelan "ish, sadar diri, Mora kamu cuma asisten nggak boleh suka sama majikan, sadar sadar sadar" ucapnya yang terus menampar pipi kirinya