
Isana melangkahkan kakinya di sekitaran bandara internasional soekarno-hatta.
Setelah empat tahun menuntut ilmu di Jerman, akhirnya hari ini Isana kembali menginjakan kaki di tanah kelahirannya.
"Jakarta, akhirnya aku kembali ke sini". Gumam Isana.
Wanita itu berdiri terdiam sambil menenteng sebuah koper di sekitaran pintu kedatangan di area bandara internasional soekarno-hatta.
"Isana!". Seseorang memanggil namanya.
Isana menoleh ke arah suara itu. Dilihat wajah yang sangat tidak asing baginya.
"Fenny". Ucap Isana dengan senyuman sumringah.
Fenny dan Isana adalah sahabat sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka berdua sangat dekat, keduanya bahkan menganggap satu sama lain layaknya saudara, walaupun tidak memiliki hubungan darah sedikitpun.
Mereka pun saling memeluk melepas kerinduan antara satu sama lain setelah empat tahun lamanya terpisah karena Isana yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan jenjang kuliahnya di Jerman.
"Isana, aku sangat rindu denganmu". Ucap Fenny yang memeluk Isana semakin erat.
"Fenny... aku susah bernafas". Isana mengeluh karena pelukan Fenny yang terlalu erat sampai membuatnya susah mengatur nafas.
Menyadari hal itu Fenny pun melepaskan pelukannya.
"Maaf Isana, aku terlalu senang bertemu denganmu". Ucap Fenny dengan senyuman penuh kebahagiaan.
Sementara Isana kini hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu.
"Setelah lama tidak bertemu, kamu terlihat semakin cantik saja". Fenny berucap sambari meyusuri setiap jengkal wajah Isana yang di rasanya begitu cantik.
"Bisa saja kamu Fen, kamu terlihat jauh lebih cantik dariku". Puji Isana pada Fenny. Pada kenyataannya kedua wanita itu terlihat sama cantiknya.
"Apa kau sudah lama menungguku". Tanya Isana pada Fenny.
"Belum kok". Jawab Fenny singkat, kemudian melanjutkan kata-katanya "Ayo kita ke parkiran, kak Evans sudah menunggu kita disana".
DEG.. DEG.. DEG..
Jantung Isana berdetak kencang begitu mendengar nama Evans di sebut.
"Kak.. Kak Evans.. ". Ucap Isana terbata-bata.
"Iya, aku ke sini bersama kak Evans".
Wajah Isana pun memerah mengetahui Evans yang sudah menunggu mereka.
Evans adalah saudara sepupu Fenny. Sejak kecil Isana sudah jatuh hati pada sosok Evans. Dulu Evans pernah hampir kehilangan nyawanya karena menolong Isana yang hampir tertabrak oleh mobil.
Isana pun mengingat-ingat saat dimana Evans pernah hampir meregang nyawa karena dirinya.
Mata Isana pun mulai berkaca-kaca mengingat masa-masa itu.
* * * *
Flashback masa lalu Isana (ON).
Seorang gadis sekolah dasar berseragam putih merah tampak sedang berdiri di area gerbang sekolahannya, gadis itu menunggu ayahnya yang sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.
Gadis yang sedang menunggu itu adalah Isana.
Tidak lama gadis itu menunggu, tampak olehnya sebuah mobil berhenti di seberang jalan di sisi lain sekolah tersebut. Isana sangat hafal betul bahwa mobil itu adalah milik ayahnya.
Seorang laki-laki terlihat keluar dari dalam mobil tersebut.
Isana tersenyum bahagia melihat wajah laki-laki yang sangat tidak asing baginya. Laki-laki itu adalah ayah dari Isana.
Isana sangat menyayangi ayah nya, begitu pun sebaliknya.
Gadis itu masih berdiri terdiam di belakang gerbang bagian dalam area sekolah dasar tersebut. Petugas sekolah disana memberi pengamanan ekstra ketat kepada siswa dan siswinya ketika pulang sekolah demi untuk alasan keamanan, karena letak sekolah itu yang memang berada tepat di pinggir jalan raya dengan tingkat lalu lalang kendaraan yang tinggi.
Dari sisi lain jalan itu, ayah Isana tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Isana. Laki-laki itu pun terlihat akan menyeberang jalanan yang nampak masih ramai dengan lalu lalang kendaraan untuk segera menjemput anak gadis kesayangannya itu.
Isana sangat senang dengan perlakuan ayahnya. Terlalu senang dengan hal itu, tanpa sadar secara tiba-tiba Isana berlari keluar gerbang untuk segera menghampiri ayahnya yang masih belum bisa menyeberang jalanan karena lalu lalang kendaraan yang masih ramai.
Entah bagaimana saat itu petugas keamanan di sana bisa kecolongan dengan tindakan Isana. Menyadari gadis yang sudah berlari keluar gerbang dan hampir sampai ke bibir jalan, petugas di sana pun langsung kelabakan dan berusaha untuk mengejarnya.
Namun sayang sekali usaha mereka sia-sia, Isana kini sudah berlari di tengah jalan raya yang sangat ramai itu dan secara tiba-tiba dari arah kanan Isana melaju sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
PIIIIMMM!!! PIIIMMM!!!
Suara klakson mobil terdengar begitu keras yang membuat Isana menoleh ke arah suara klakson itu dan seketika itu pula Isana mematung, fikirannya kosong.
Disaat bersamaan menyadari situasi itu Ayah Isana pun panik dan langsung berusaha berlari menuju ke arah putrinya tanpa mempedulikan lalu lalang kendaraan disekitarnya.
Namun usahanya terlambat.
__ADS_1
Disaat bersamaan pula terlihat seorang bocah laki-laki berseragam putih merah juga berlari ke arah Isana.
"AWAS!!!". Teriak bocah itu.
Mendengar teriakan itu Isana menolehkan sedikit wajahnya ke arah suara itu. Isana menatap sekilas wajah seorang bocah yang sudah sangat dekat dengannya.
Tiba-tiba bocah itu mendorong tubuh Isana hingga tubuhnya bergeser dan terjatuh beberapa meter dari tempatnya mematung tadi.
Sementara bocah itu kini justru berdiri tepat di hadapan mobil yang tengah melaju kencang tadi, dan akhirnya tabrakan pun tak terelakan
BRAAAKKKK!!!
Bocah yang tadi mendorong tubuh Isana pun seketika terpental karena tertabrak mobil di hadapannya.
Seketika itu pandangan Isana gelap, gadis kecil itu tidak sadar dengan situasinya.
* * * *
Beberapa saat kemudian.
"Isana!!! Isana sayang!!!".
Suara itu terdengar oleh Isana yang kemudian secara perlahan membuka kedua bola matanya.
"Isana!!! Isanaaa!!! Sayang!!! Bangun sayang!!!". Suara itu di iringi isak tangis.
Isana pun mendapatkan kembali kesadarannya, dia memandang ke arah seseorang yang sedari tadi memanggil manggil namanya. Orang itu adalah Ayahnya.
"Ayah.. ". Ucap Isana lirih.
Mendapati putri kesayangannya sudah sadarkan diri, laki-laki itu langsung memeluk erat tubuh gadis kecil itu di iringi air mata dan isakan tangis dari mulutnya.
Setelah beberapa saat kemudian ayah Isana melepaskan pelukannya. Sementara itu Isana masih binggung dengan fikirannya. Dengan raut wajah kuwatir, sang Ayah terlihat sibuk melihat-lihat kondisi tubuh anak gadisnya yang dipenuhi beberapa luka goresan.
Isana masih terdiam dengan kebinggungannya. Ditengah kebinggungannya itu, mata Isana menatap ke arah orang-orang yang tengah berkerumun tidak jauh dari tempatnya berada.
Dilihat oleh Isana dari kerumanan itu seorang bocah laki-laki sepantaran dengannya tengah tergeletak tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuh berlumuran darah, tampak pula darah segar mengalir dari kepala bocah tersebut.
Melihat keadaan itu Fikiran Isana seketika kembali, dia ingat ketika dirinya hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil yang tengah melaju kencang beberapa waktu yang lalu.
"Hua.. Hua.. Hua..". Isana terlihat shok lalu menangis histeris. Ayahnya pun mencoba untuk menenangkan anak kesayangannya itu.
Isana pun sadar bahwa bocah yang saat ini tergeletak berlumuran darah itu adalah sosok yang sama dengan orang yang mendorongnya.
Dan yang membuatnya lebih histeris lagi adalah karena Isana menyadari jika bocah laki-laki itu memang sengaja mendorong tubuhnya agar terhindar dari tabrakan.
* * * *
Beberapa tahun berlalu semenjak kejadian itu.
Saat ini Isana sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama atau SMP.
Selama beberapa tahun terakhir Isana terus saja terbayang-bayang dengan sosok bocah laki-laki yang dulu pernah menolongnya. Selama itu pula Isana selalu mencoba untuk mengetahui keberadaan bocah yang telah menyelamatkannya itu.
Sejak kejadian tabrakan itu Isana memang tidak pernah bertemu dengan bocah penyelamat hidupnya. Isana pernah mencoba menanyakan keberadaan penyelamatnya itu kepada ayahnya. Ayahnya mengatakan bahwa bocah itu baik-baik saja dan saat ini sudah pindah ke luar negeri.
Tapi pada kenyataannya bocah tidak dalam keadaan baik-baik saja. Semenjak kejadian itu, dia koma dan menjalani perawatan di luar negeri selama hampir satu tahun lamannya. Tentu saja Ayah Isana tau akan hal itu, hanya saja dia tidak memberi tahukan yang sejujurnya, ayah Isana tidak ingin putri kesayangan terlalu kefikiran.
Isana pun hanya bisa pasrah dan menerima keadaan. Di satu sisi Isana senang mendengar bahwa penyelamatnya itu baik-baik saja, tapi di sisi lain Isana juga merasa bayang-bayang sosok bocah itu selalu menghantui kehidupannya. Isana hanya ingin berterimakasih sekaligus meminta maaf kepadanya, jika bisa Isana juga ingin membalas budi atas kebaikan bocah itu.
Sebenarnya bukan hanya itu saja, entah sejak kapan semenjak hari di mana dia di tolong oleh bocah penyelamatnya, Isana sudah jatuh hati padanya. Isana tidak mengerti bagaimana perasaan itu timbul, yang jelas perasaan itu datang begitu saja.
Isana kecil merasa harapannya itu sudah pupus sampai akhirnya suatu ketika sosok penyelamatnya itu tiba-tiba muncul kembali di dalam kehidupannya.
* * * *
Flashback (OFF).
Fenny menyadari ekspresi Isana.
"Kenapa Isana?". Tanya Fenny setelah melihat raut wajah Isana yang terlihar sedih.
"Ti - tidak apa-apa Fen". Jawab Isana.
"Yakin? Padahal mau ketemu dengan kak Evans, harusnya kamu senang". Fenny sedikit menggoda Isana. Sejak dulu Fenny memang mengetahui kalau Isana menyukai Evans.
"Iya aku senang kok Fen, hanya saja aku teringat dengan kejadian waktu itu". Isana menanggapi perkataan Fenny, kali ini raut wajahnya tampak sedikit murung.
Fenny mengerti dengan apa yang di maksut Isana, dia tau betul masa lalu Isana yang pernah di selamatkan oleh Evans.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu Isana, lagi pula Kak Evans masih sehat walafiat sampai sejauh ini, tanpa kurang suatu apapun!". Fenny berusaha menghibur Isana.
Isana pun tersenyum setelah mendengar perkataan Fenny.
Mereka berdua segera menuju ke lahan parkir di area bandara itu untuk segera mencari mobil milik Evans yang di parkirkan di sekitaran sana. Tidak lama kemudian mereka pun menemukan mobil yang di cari.
__ADS_1
DEG.. DEG.. DEG..
Jantung Isana kembali berdetak tidak karuan ketika mendapati Evans yang sedang berdiri menyandarkan punggung nya pada salah satu sisi dari mobil tersebut. Sementara Evans terlihat sibuk dengan ponsel di tangan kanannya.
"Kak Evans". Panggil Fenny yang seketika membuat Evans melirikan ke arahnya.
Evans pun menyadari keberadaan seorang Isana di samping Fenny lalu melirik ke arahnya.
"Isana". Ucap Evans dengan nada datarnya.
Mendengar namanya di panggil oleh sang pujaan hati, wajah Isana pun langsung memerah. Perasaan cintanya kepada Evans sama sekali tidak pernah berubah walaupun sudah 4 tahun lamanya tidak bertemu.
"Ka - Kak Evans. Te - Terimakasih sudah menjemputku". Ucap Isana sedikit terbata-bata.
Evans memperhatikan Isana dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Kemudian sebuah senyum tipis terukir dari wajahnya. Entah apa maksut senyuman itu.
Isana pun sadar akan hal itu.
"Ka - Kak Evans kenapa melihatku seperti itu?". Tanya Isana. wajahnya tampak semakin memerah ketika di perhatikan oleh Evans.
"Memangnya aku melihatmu seperti apa". Ucap Evans dengan nada dinginnya, sejenak dia terdiam lalu kembali melanjutkan kata-katanya. "Jangan buang-buang waktu, cepat masuk ke mobil, aku ada urusan setelah ini".
"Dia masih saja dingin terhadapku". Isana mengeluh di dalam hatinya. Tentu saja ada rasa sedih dan kecewa karena merasa sifat dingin Evans kepadanya dari dulu tidak pernah berubah.
"Iya kak Evans, maaf". Tampak raut wajah bersalah dari Isana.
"Kak Evans... ". Ucap Fenny dengan maksut menegur Evans yang bersikap dingin kepada sahabatnya.
Fenny sedari tadi memperhatikan obrolan Evans yang terdengar dingin dan acuh pada Isana.
Sebenarnya Fenny sudah faham betul dengan sifat Evans yang dari dulu memang sangat dingin dan terkesan cuek terhadap siapapun, tapi jika dengan orang yang sudah lama di kenalnya Evans bisa bersikap lebih hangat dan bersahabat.
Berbeda dengan perlakuannya pada Isana, Evans selalu saja bersikap dingin terhadapnya, walaupun keduanya sudah saling mengenal sejak lama.
Sedangkan bagi Isana sendiri, dia tidak terlalu ambil pusing akan sikap Evans terhadap dirinya. Asalkan dia masih bisa dekat dengan Evans, mau sedingin dan secuek apapun perlakuan laki-laki itu kepadanya, bagi Isana hal itu tidak menjadi masalah.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
Karena ini cerita pertamaku, jadi monmaap kalo ada banyak kesalahan baik itu ketikan, tata bahasa dll.
.
.
Bonus Visual!!!
Aktor Utama.
**ISANA PUTRI SANJAYA
(Isana itu ceritanya punya wajah imut-imut gitu, terus agak polos sama lugu orangnya. Cocok ngak nih**?).
**EVANS ADITAMA
(kayaknya cocok buat menggambarkan karakter Evans yang dingin dan cuek, iya ngak sih**?
-----------------------------------------------------
FIGURAN 😂, (sekedar penghangat)
**FENNY OKTAVIANA
**HENRY SEBASTIAN
__ADS_1