Stuck In Your Heart

Stuck In Your Heart
Bahagia dan Kekesalan


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu semenjak kepindahan Isana dari Jerman ke Indonesia. Selama satu minggu ini pula Isana sudah mencoba mencari lowongan pekerjaan, namun sayang sekali walaupun sudah melamar ke beberapa perusahaan tetap saja sampai saat ini wanita itu belum mendapatkan panggilan interview sama sekali.


Isana sedang berada di rumahnya saat ini, memasak kue untuk temannya Fenny yang akan datang berkunjung.


Sekitar satu jam kemudian akhirnya kue buatannya sudah matang.


"Mmm, baunya enak sekali, Fenny pasti suka". Ucapnya dengan senyum merona.


Isana lalu meletakan kue buatannya di atas meja ruang makannya. Selaian kue buatannya, Isana juga sudah menyiapkan beberapa camilan serta jus mangga Kesukaan temannya Fenny. Wanita itu hafal betul jika Fenny sangat menyukai jus mangga, karena itulah Isana sengaja menyiapkannya.


Sekitar 15 menit kemudian terdengar ketukan dari pintu rumahnya. Secara sigap Isana membuka pintu dan benar saja sesuai dugaannya, orang yang mengetuk pintu barusan adalah Fenny.


"Fenny, selamat datang". Isana berucap dengan senyuman manis di bibirnya.


"Hi Isana". Balas Fenny yang kemudian memeluknya.


Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah menuju ke ruang tamu. Mereka berdua langsung mendudukan badannya di kursi panjang yang ada di ruangan itu.


Mata Isana menyapu ke seisi ruangan tamu menilai-nilai keadaan ruangan yang sangat sederhana itu.


"Rumahmu biarpun kecil tapi sangat bersih dan nyaman". Ucap Fenny memuji.


"Tentu saja, rumah siapa dulu!". ketus Isana dengan sombongnya.


"Ya ampun sombongnya temanku ini". Ucap Fenny sambil mencubit pipi Isana yang di rasanya begitu menggemaskan itu.


"Aw, sakit Fenny!".


Sementara Fenny hanya tersenyum puas setelah berhasil menggoda sahabatnya itu. Tidak bisa di pungkiri wajah Isana memang sangat imut dan menggemaskan.


"Fen, tunggu di sini sebentar, aku ambilkan camilan di dapur".


Fenny mengiyakan tawaran itu.


Tidak lama kemudian Isana kembali dengan membawah satu nampan berisi Kue coklat buatannya dan dua gelas jus mangga kesukaan Fenny.


"Tau saja kamu minuman kesukaanku".


"Apa sih yang tidak Isana ketahui dari seorang Fenny". Ketus Isana memuji dirinya sendiri.


Bukannya risih atas kesombongan Isana, Fenny justru senang karena dia tau Isana sebenarnya sangat perhatian kepada dirinya.


Fenny hanya terkekeh mendengar Ucapan itu.


"O iya Fen, ini kue buatanku sendiri, cobalah, rasanya pasti enak". Ucap Isana dengan percaya diri.


Fenny kemudian mengambil satu potong kui lalu segera memakannya.


Satu suapan..


Dua suapan..


Tiga suapan..


"Mmm, Enak sekali!!! Apa benar kue ini kamu yang buat sendiri?". Fenny seolah tidak percaya.


"Tentu saja!". Ketus Isana seolah membanggakan dirinya.


Kui buatan Isana sungguh lezat sampai-sampai Fenny kembali mengambil beberapa potong dan dengan lahap langsung di habisinya.


Sementara Isana melihat temannya menikmati kue buatannya merasa sangat bahagia. Senyuman penuh kepuasan terpancar dari bibir manisnya.


Kedua orang itu kemudian saling mengobrol satu sama lain, entah apa yang mereka obrolkan, yang jelas keduanya terlihat sangat asik dengan obrolannya.


DRRRTTT... DRRRTTT... DRRRTTT...


Ponsel Isana yang sedang dalam mode diam bergetar, menandakan sebuah pesan masuk ke nomornya.


Isana meraih ponselnya untuk segera membuka pesan yang baru saja di terimanya. Nomer pengirim pesan itu terlihat asing bagi Isana.


📩Hi Isana, selamat siang, ini aku teman kuliahmu dulu, Henry😊.


Pesan masuk itu ternyata dari teman kuliahnya dulu, Henry. Isana pun mengeryitkan dahi melihat pesan itu.


"Ada angin apa tiba-tiba dia mengirim pesan padaku, lalu bagaiman dia bisa tau nomerku". Gumam Isana.


Dulu Isana memang sempat memiliki nomer Henry, tapi dia mengganti nomer ponselnya semenjak kembali ke Indonesia dan seingatnnya dia tidak pernah memberikan nomer barunya kepada Henry, karena keduannya memang tidak terlalu dekat.

__ADS_1


📩Isana : Siang Henry, dari mana kamu tau nomer ponselku?


📩Henry : Aku meminta nomermu dari Sylvana


Sylvana juga adalah salah satu teman kuliah Isana sewaktu di Jerman. Satu-satunya teman dekat Isana di sana. Sebelum kembali ke Indonesia, Isana sudah berjanji untuk memberikan nomer ponsel barunya kepada Slyvana.


"Jadi Sylvana, kenapa sih dia memberikan nomerku". Gumam Isana.


Isana sebenarnya merasa malas sekali menanggapi pesan dari Henry.


📩Isana : Oh, ada perlu apa?


📩Henry : maaf siang-siang begini menganggumu, apa aku boleh bertanya sesuatu?.


📩Isana : Apa?


📩Henry : Apa aku boleh minta nomer ponsel temanmu yang di Cafe waktu itu?".


📩Isana : Fenny?


📩Henry : Iya Fenny, hehe, bolehkah?


Isana sejenak berfikir, kemudian Isana melirik ke arah Fenny. Hal itu di sadari oleh Fenny.


"Ada apa Isana?". Tanya Fenny menyadari lirikan Isana yang terasa penuh maksut.


"Temanku minta nomer ponselmu". Tanpa basa-basi Isana menyampaikan maksutnya.


"Temanmu siapa? Memang kamu punya teman selain aku". Ledek Fenny.


"Ish, kamu ini". Ketus Isana sambil menotol bahu Fenny.


Sementara Fenny hanya terkekeh mendapati perlakuan itu.


"Memang siapa yang minta nomerku?" Kembali Fenny bertanya.


"Temanku yang di Cafe waktu itu".


"Henry maksutnya!". Ucap Fenny dengan nada sedikit tinggi. Sementara Isana hanya mengangguk pelan.


"Yakin Fen?". Isana terlihat sedikit ragu.


"Iya yakin Isana! Kenapa tidak!". Fenny meyakinkan sahabatnya itu.


Isana sejenak terdiam memikirkan sesuatu.


"Kamu lagi mikirin apa Isana?". Tanya Fenny yang menyadari gestur wajah Isana yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Wajah Fenny kini terlihat sedikit berubah masam.


"Kamu suka ya sama Henry". Ucap Fenny datar.


"Apaan sih Fen! Aku ngak ada perasaan sedikitpun sama dia!". Ucap Isana dengan nada tinggi.


Ucapan Isana terdengar sangat meyakinkan di telinga Fenny. Isana hanya menganggap Henry sebagai teman saja, dia sama sekali tidak memiliki perasaan lebih terhadap laki-laki itu. Entah kenapa Fenny merasa lega akan hal itu.


"Tapi dia itu terkenal playboy Fen!". Ucap Isana tanpa basa-basi.


Fenny terlihat sedikit kecewa mendengarnya.


"Beneran Fen?". Fenny seolah tidak percaya.


Isana sedikit terdiam dan kembali memikirkan sesuatu.


"Mmmm... Ngak tau juga sih Fen, kata teman-teman ku sih seperti itu". Ucap Isana sedikit ragu.


Kata-kata itu seolah menjadi angin sejuk bagi Fenny. Jujur saja sejak pertama kali bertemu dengan Henry, wanita itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Kamu itu ya.. Jangan pernah menilai seseorang dari "KATANYA!!".". Ketus Fenny.


"Iya iya Fen". Sejenak Isana menjeda kemudian melanjutkan kata-katanya "kamu yakin aku boleh kasih nomer kamu ke Henry?".


"Boleh". Singkat Fenny dengan yakinnya.


Isana terlihat mengabaikan perkataan Fenny. Isana mengambil ponselnya lalu mengirim sebuah pesan ke nomor Henry.


📩Isana : +62**********

__ADS_1


Isana mengirim nomer ponsel Fenny kepada Henry.


Tidak lama kemudian Henry pun membalas pesan singkat Isana dalam bahasa Jerman.


📩 Henry : Danke, mein freund 😊😊😊


(Artinya : Terimakasih, Temanku)


📩*Isana : Bitte


(Artinya : Sama-sama*)


Isana menaruh kembali Ponselnya lalu berucap kepada Fenny.


"Beres".


Sementara Fenny terlihat tersenyum puas mendengarnya.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolannya. Entah apa yang kini mereka bicarakan, yang jelas kedua terlihat sangat asik seperti sebelumnya.


* * * *


Sementara itu di sebuah apartemen yang tergolong mewah, Henry terlihat duduk di sofa kamarnya, laki-laki itu masih sibuk dengan ponselnya.


"Akhirnya. tidak ku sangka Isana bisa semudah itu memberikan nomer ponsel milik Fenny". Gumam Henry.


Tampak seorang wanita cantik dengan pakaian seksi keluar dari salah satu kamar apartemen itu. Wanita itu kemudian memeluk Henry dari belakang.


Mendapati diriny di peluk oleh wanita itu, Henry kemudian meletakan ponselnya ke sebuah meja di depannya.


"Sibuk sekali sayang". Ucap wanita itu dengan nada menggoda.


Henry tidak menanggapinya lalu laki-laki itu mengambil dompet dari kantong celananya. Di ambilnya uang seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar dari dalam dompetnya kemudian dia berikan kepada wanita itu.


"Pergilah". Ucapnya setelah memberikan sepuluh lembar uang pecahan seratus ribuan itu kepada wanita tadi.


Wanita itu tersenyum lebar setelah mendapatkan uang tersebut. Kemudian dia pergi meninggalkan apartemen henry dengan memberi ciuman di pipi Henry terlebih dulu.


"Dasar wanita murahan". Ketus Henry Setelah wanita itu melenggang pergi dari apartemennya.


Henry kembali mengambil ponselnya. Dia menulis sebuah pesan singkat lalu mengirimkannya ke nomor yang tadi dia dapatkan dari Isana. Setelah itu dia kembali menaruh ponselnya di atas meja.


Tidak lama kemudian ponsel miliknya berbunyi. Henry terlihat menarik sedikit salah satu sudut bibirnya ke atas. Kemudian laki-laki itu mengambil kembali ponsel itu.


Dari notifikasi layar ponsel itu, terlihat sebuah pesan singkat dari seseorang. Henry mengerutkan keningnya mengetahui siapa pengirim pesan singkat tersebut.


Henry terlihat sedikit kecewa sekaligus kesal setelah mengetahui siapa pengirim pesan itu.


📩Papa : Halo Henry, bagaimana kabarmu?


"Cih!". Henry berdecih seolah tidak suka setelah membaca pesan itu.


Seketika itu Henry langsung melempar ponsel miliknya ke sofa di sebelahnya. Laki-laki itu kemudian melenggang menuju ke kamarnya dengan wajah yang terlihat kesal.


.


.


.


.


.


Bersambung.


.


.


.


.


.


Maaf kalau banyak kesalahan penulisan, males koreksinya 😝

__ADS_1


__ADS_2