Stuck In Your Heart

Stuck In Your Heart
Mulai Melunak


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


Evans begitu kasihan kepada Isana lalu berinisiatif untuk segera mengantarnya pulang.


Laki-laki itu membawa Isana ke dalam mobil dan kemudian mendudukan wanita itu di kursi depan.


Kondisinya saat ini kelihatan lebih baik setelah tadi di tenangkan oleh Evans. Kini wanita itu sudah berhenti menangis.


"Kau tunggu disini sebentar". Ucap Evans. Isana hanya mengangguk tanpa menatap wajah Evans. Laki-laki itu kemudian menutup pintu mobilnya lalu bergegas menuju ke warung makan tadi dan meminta kepada pelayan disana supaya makanan pesanannya tadi di bungkus saja.


Tidak lama kemudian Evans kembali ke dalam mobil dengan membawa satu kantong kresek berisi dua bungkus makanan dan minuman yang tadi sempat mereka pesan.


Isana mencium bau wangi makanan yang menggoda perutnya. Dia pun melirik ke arah kantong kresek yang berisi makanan yang di bungkus itu.


Nafsu makananya kembali seketika setelah tadi sempat hilang.


Evans menyadari itu lalu kembali memberi perhatian kepada wanita disampingnya yang terlihat begitu rapuh itu.


"Apa kau makan di mobil?". Tanya Evans dengan lembut.


Isana melirik ke arah Evans dengan tatapan sendu, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil itu. Jujur saja saat ini Isana merasa sangat senang mendapat perhatian dari Evans.


Namun disisi lain dirinya masih sedikit merasa sedih atas rasa rindunya terhadap ibu tercintanya yang sudah lama meninggalkannya.


Perasaan Isana terasa campur aduk, antara bahagia dan sedih.


Evans merasa sedikit kesal karena di abaikan, tapi hatinya tidak tega melihat wanita itu.


Evans pun mengambil keputusan untuk membawa Isana pulang terlebih dahulu.


"Yasudah, nanti kita makan di rumahmu saja ya, kamu jangan menangis lagi". Ucap Evans dengan sangat perhatian.


"Iya". Singkat Isana menjawab.


Setelah itu Evans melajukan kendaraannya, di tengah perjalanan laki-laki itu sesekali melirik ke arah Isana untuk memastikan bahwa keadaan wanita itu.


Tidak lama kemudian mereka berdua pun sampai di rumah Isana.


"Kita sudah sampai, ayo turun". Ucap Evans.


Isana hanya mengangguk lalu membuka pintu mobil untuk segera keluar dari sana. Evans pun mengikutinya.


Mereka berdua berjalan pelan menuju teras rumah sampai kemudian mereka berhenti di depan pintu.


Kedua orang itu kini berdiri berhadapan.


Situasi terlihat sedikit canggung antara mereka berdua. Sejenak mereka berdua saling mendiamka satu sama lain.


Sampai kemudian Evans mengulurkan tangannya yang tengah memegang satu kantong plastik berisi makanan yang tadi di bungkusnya dari warung makan.


"Ini makananmu". Ucap Evans


Isana pun menerimanya lalu mulai berbicara.


"Terima kasih kak Evans". Sejenak Isana memberi jeda lalu kemudian melanjutkan kata-katanya "Habis berapa kak, biar aku ganti".


"Tidak usah, anggap saja aku mentraktirmu". jawab Evans.


"Tapi aku ngak Enak kak". Isana masih memaksa.


"Sudah tidak usah difl fikirkan". Kali ini Evans berucap sedikit dingin.


Menyadari Evans mulai sedikit dingin, Isana pun mengiyakan saja. dia tidak ingin membuat laki-laki itu kesal.


Sementara saat itu hujan masih belum kunjung mereda.


Isana memandang ke arah Evans. Pakaiannya terlihat basah dan badannya terlihat sedikit gemetaran. Begitupun sebaliknya, kondisi Isana tidak jauh berbeda dari laki-laki itu.

__ADS_1


"Pasti kak Evans kedinginan karena tadi kehujanan, ini semua gara-gara aku". Gumam isana dalam hatinya diiringi perasaan bersalah.


"Mampir dulu kak, pakaian kak Evans basah, dikeringkan dulu nanti masuk angin". Isana menawarkan Evans untuk mampir ke rumahnya.


Evans sejenak berfikir. Bajunya memang basah dan jujur saja saat ini dia sedikit kedinginan. Sebenarnya dia sedikit gengsi untuk menerima tawaran Isana.


Sejenak laki-laki itu terdiam memikirkan tawaran Isana, dan pada akhirnya dengan terpaksa dia mengiyakan tawaran itu mengingat kondisinya sekarang. Selain itu Evans juga menyadari gestur Isana yang terlihat seolah menyalahkan dirinya atas keadaannya saat ini. Ya, sedikit banyak kondisi itu memang disebabkan oleh tingkah Isana.


"Baiklah, terimakasih". Datar Evans berucap.


Isana pun tersenyum mendapati Evans mengiyakan tawarannya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah.


Isana mempersilahkan Evans untuk duduk dikursi kayu yang berukuran sedikit pajang di ruang tamu rumahnya. lalu wanita itu menaruh kantong plastik berisi makanan tadi di meja yang terletak di depan kursi panjang tersebut.


"Tunggu disini kak, Isana ambilkan handuk". Ucap Isana yang kemudian di balas dengan anggukan kepala oleh Evans.


Kemudian setelah itu dia berlalu ke kamarnya dan mengambil sebuah handuk untuk Evans.


Sebelum kembali ke ruang tamu, Isana terlebih dahulu mengganti pakaiannya yang basah. Tidak lama kemudian dia selesai berganti pakaian dan kembali ke ruang tamu untuk memberikan handuk itu kepada Evans.


"Ini kak Handuknya". Ucap Isana sembari memberikan handuk itu kepada Evans yang sedang duduk.


"Terima kasih". Balas Evans datar.


Setelah itu Isana mendudukan dirinya di agak jauh di samping Evans. Karena memang di ruang tamu itu hanya ada satu kursi kayu panjang itu saja.


Evans pun mengusap-usap pakaian basahnya dengan handuk itu. Dia sadar itu tidak akan mengeringkan pakaiannya tapi setidaknya bisa mengurangi tingkat kebasahan.


"Maaf ya kak, aku tidak punya mesin cuci, makum baru pindahan". Ucap Isana sedikit memelas.


"Tidak masalah, ini saja sudah cukup". Balas Evans.


"Aku ada sweater yang sedikit longgar, kalau kakak mau pakai, aku bisa mengambilkannya". Ucap Isana sebari memberi tawaran kepada Evans.


Evans terdiam sejenak. Laki-laki itu justru memandangi tubuh Isana, bukan bermaksut tidak sopan, evans hanya mencoba memastikan postur tubuh wanita itu dengan ukuran pakaiannya, apakah sesuai untuk dirinya atau tidak.


Kurang lebih seperti itulah kesimpulan Evans, dan sudah bisa di pastikan pakaian wanita itu tidak akan sesuai dengan dirinya yang memiliki postur yang tinggi besar dengan otot-otot kencangnya.


Laki-laki itu masih terlihat menerawang ke tubuh Isana. secara tidak di sengaja, dia menyadari ada bagian tubuh dari wanita itu yang begitu menarik perhatian evans.


"Dadanya besar juga". Evans menilai dalam fikirannya.


Dan benar saja, dada Isana memang memiliki ukuran yang bisa dibilang cukup besar.


"Sial! Apa yang ku fikirkan!". Umpat Evans yang kepada dirinya sendiri karena merasa tidak seharusnya berfikiran kotor seperti itu kepada Isana.


Wajah Evans terlihat sedikit tesipu malu. Ada sedikit hawa panas dalam dirinya melihat hal barusan. Ya, bagaimanapun Evans juga laki-laki normal.


Tiba-tiba dua lengan Isana menyilang menutupi bagian dadanya.


"Sial". Evans kembali mengumpat kepada dirinya sendiri. Laki-laki itu tau Isana sudah menyadari gelagatnya.


"Ka - Kak Evans lihat apa?". Ucap Isana sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya. Wajah Isana terlihat memerah, sedikit ada raut gelisah di wajahnya.


"Ja - jangan salah paham". Ucap Evans sedikit kelabakan.


"Aku hanya membandingkan postur tubuhmu saja, memastikan ukuran sweater mu apakah pas denganku atau tidak. Sudahlah! Kau tidak perlu mengambilnya, lagi pula tidak mungkin pas dengan badanku". Lanjut Evans panjang lebar sembari berusaha mengelak.


"Ma - maaf kak, aku sudah berfikir yang tidak-tidak". Isana dengan polosnya justru malah meminta maaf.


"Kenapa malah dia yang meminta maaf!". Gumam Evans dalam hatinya.


"Su - sudahlah tidak perlu di fikirkan". Ucap Evans masih sedikit kelabakan.


Isana hanya mengangguk pelan kemudian menyingkirkan tangannya yang sedari tadi menyilang di dadanya.

__ADS_1


"Syukurlah, aku kira kak Evans sedang berfikiran mesum". Fikir Isana dengan polosnya.


"Lebih baik aku pulang dulu, sudah malam, tidak enak dengan tetangga". Ucap Evans yang kemudian berdiri seolah menunjukan gestur untuk pergi meninggalkan rumah itu.


"Tunggu kak". Ucap Isana dengan tiba-tiba setelah mendapati gestur dari Evans.


"Ada apa!". Ucap Evans dengan nada sedikit tinggi.


Mendengar Evans berbicara dengan nada tinggi seketika menunduk karena ada rasa sedikit takut.


Evans menyadari itu merasa tidak tega. Sebenarnya Evans tidak berniat seperti itu, laki-laki itu hanya sedikit salah tingkah saja karena kejadian beberapa saat yang lalu.


"Ada apa?". Kali ini Evans berucap dengan halus membuat Isana kembali berani untuk berbicara padanya.


"Nasi gorengnya di makan dulu kak". Ucap Isana dengan hati-hati karena takut menyinggung Evans.


Evans mendengus lembut lalu mulai menanggapi "Kau saja yang habiskan, aku sudah kenyang".


"Aku mana mungkin makan semua ini sendirian". Ucap Isana sedikit memelas.


"Apa dia berusaha menahanku disini, dia ini benar-benar tidak banyak berubah, masih suka memaksakan sesuatu". Ketus Evans dalam hati sembari menilai karakter Isana yang di sangkanya masih suka memaksakan suatu hal.


Karakter Isana memang bisa dibilang demikian. Tapi itu hanya berlaku jika berhubungan dengan perasaannya kepada Evans. Wanita itu sejak dulu memang pantang menyerah terhadap perasaannya yang selalu mendapat penolakan dari Evans.


Tapi kali ini berbeda, dia benar-benar hanya ingin menawarkan makanan itu kepada Evans karena laki-laki itu sudah berbaik hati kepadanya hari ini.


"Kalau kak Evans tidak mau makan disini kakak bisa bawa pulang saja jatah kakak, lsana tidak memaksa kok kak". Ucap Isana dengan tulus namun terkesan menunjukan sebuah rasa kecewa.


Evans menatap wajah kekecewaan itu dan pada akhirnya dia memutuskan untuk makan di rumah Isana, kali ini bukan karena tidak tega atau tidak enak hati. Evans melakukannya karena melihat ketulusan dari kata-kata itu. Evans pun mulai berfikir ulang tentang penilaiannya terhadap karakter Isana yang sekarang.


Isana sangat senang akan hal itu. Dia merasa sikap Evans yang selama ini selalu dingin terhadap dirinya terasa sedikit berkurang.


Dengan segera Isana pergi ke dapur untuk mencari sendok namun sayang dia tidak medapati satu pun perkakas dapur disana.


"Bodohnya akuuu, mana ada peralatan dapur disini, aku kan baru saja pindah ke sini". Keluh wanita itu dalam hati.


Isana pun kembali ke ruang tamu dengan tangan kosong.


"Ma - maaf kak". Ucap Isana ragu.


"Kenapa?". Tanya Evans.


"Aku kan baru pindah, jadi tidak ada peralatan apapun di dapur, termasuk sendok". Ucapnya dengan wajah polos.


Evans hanya bisa menarik nafas panjang lalu menepuk jidatnya.


"Makan pakai tangan saja!". Ketus Evans


.


.


.


.


.


Bersambung.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Catatan Penulis : Maaf ya kalo banyak kesalahan penulisan, males mau koreksinya. 😗😗😗


__ADS_2