Stuck In Your Heart

Stuck In Your Heart
Kerinduan Isana


__ADS_3

Entah apa yang ada di fikiran Evans dengan tatapan tajamnya.


Sejak beberapa saat yang lalu Evans sudah selesai meeting bersama pegawai-pegawainya. Laki-laki itu pun berjalan mendekat menuju ke arah tiga orang yang tengah bercengkrama itu.


"Apa kalian sudah selesai makan". Ketus Evans yang sudah berdiri tepat di samping meja.


Isana, Fenny dan Henry menoleh ke arah suara itu, mereka sedikit kaget dengan kedatanagan Evans, pasalnya mereka tidak tau sejak kapan laki-laki itu berdiri di samping meja mereka.


"Eh kak Evans, sudah selesai meetingnya?". Tanya Fenny. Evans pun memandang ke arahnya.


"Sudah". Singkat Evans menjawab lalu melirik ke laki-laki asing di samping Isana. Kali ini Evans terlihat menatap datar terhadap laki-laki itu.


Laki-laki itu menatap balik Evans dengan ramah, kepalanya mengangguk sekali di iringi dengan senyuman tipis dari bibirnya.


"Apa dia temannya Isana dan Fenny?". Henry mencoba menerka-nerka dalam fikirannya.


Melihat kedua orang yang saling bertatapan itu Isana mencoba berinisiatif untuk mengenalkan mereka berdua.


"Maaf, apa anda temannya Isana?". Henry justru berbicara terlebih dahulu seolah bertanya kepada Evans.


Isana hanya diam dan melirik ke arah Henry, kemudian memalingkan pandangannya ke arah Evans. Isana ingin melihat bagaimana sikap Evans jika bertemu dengan orang baru, apakah akan sedingin sikapnya terhadap dirinya atau tidak. Isana sangat penasaran.


"Ya, aku temannya". Singkat Evans menjawab dengan ketus. Sementara itu Henry masih terlihat dengan wajah ramahnya.


Henry sebenarnya sedikit kesal dengan jawaban itu, tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk bersikap ramah. Akhirnya laki-laki itu berinisiatif memperkenalkan dirinya terlebih dulu


"Namaku Henry Sebastian, teman kuliah Isana waktu di Jerman". Ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepada laki-laki di depannya.


Sementara kedua tangan Evans sedari tadi terlihat di masukan ke dalam saku celana jeans yang di kenakannya.


Evans pun menarik satu tangan dari saku celanya dan kemudian menjabat tangan Henry.


"Evans Aditama". Jawab Evans seperlunya dengan raut wajah datar. Membuat Henry binggung untuk melanjutkan obrolan.


"Dia ini robot atau manusia, dingin sekali". Henry pun mulai menilai tentang sikap Evans.


Sementara itu Isana merasa lega melihat Evans yang bersikap dingin terhadap Henry. Setidaknya bukan hanya dengan dirinya saja sikap dingin dan acuh itu di tunjukan. Namun bukan berarti Isana membenarkan perilaku tersebut.


"Kak Evans duduk dulu". Ucap Fenny sambil memberikan sinyal mata ke arah kursi kayu di sampingnya.


"Tidak usah". Tolak Evans singkat kemudian melanjutkan perkataannya "Habiskan makan kalian, setelah selesai aku antar kalian pulang. Aku tunggu di mobil".


Setelah mengatakan itu Evans berlalu meninggalkan ketiga orang yang masih terduduk di kursi masing-masing tanpa memberi salam sedikitpun.


"Benar-benar tidak sopan dia". Gerutu Fenny.


"Kenapa baru sekarang bilangnya, kenapa tidak dari tadi waktu kak Evans di sini". Ucap Isana dengan maksut bercanda pada sahabatnya itu.


"Kamu mau aku di masak hidup-hidup sama kak Evans". Fenny menanggapi candaan sahabatnya Isana.


Mereka berdua pun cekikikan satu sama lain.


"Jadi orang tadi benar teman kalian?". Henry mencoba memastikan kepada Isana dan juga Fenny.


"Iya, kita berdua berteman sama kak Evans". Fenny menjawab.


"Oh begitu ya". Singkat Henry.


"Bagaimana bisa dua orang cantik ini berteman dengan laki-laki dingin dan tidak punya sopan santun seperti itu". Gerutu Henry.


"Kamu pasti kesel kan sama sikap kak Evans barusan". Fenny seolah mengetahui apa yang sedang di fikirkan oleh Henry.


Mendengar itu Henry tersenyum malu kemudian menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal sedikitpun. Gestur itu secara tidak langsung membenarkan kata-kata Fenny.


"Saudaraku memang seperti itu, tapi sebenarnya kak Evans itu baik orangnya, jadi jangan di ambil hati ya Henry". Lanjut Fenny.


Henry mengangguk lalu mulai kembali bertanya. "Dia saudara kamu?".


Fenny mengangguk membenarkan pertanyaan Henry. Sementara Henry terlihat tersenyum tipis setelah mengetahui hal itu. Entah apa maksut senyuman itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Isana dan Fenny pun menyelesaikan makan siang mereka dan setelah berpamitan dengan Henry mereka berdua langsung pergi menuju ke tempat parkir untuk segera menemui Evans.


Setelah itu mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah Isana.


Kurang lebih satu jam kemudian, mereka bertiga sampai disebuah rumah. Mobil Evans tampak di parkir tepat di depan gerbang rumah itu.


Dilihat dari luar, rumah itu sangat sederhana, ukuran rumah tidak terlalu luas karena memang berada di lingkungan padat penduduk. Halaman dan teras rumahnya pun tidak terlalu luas.


Mereka bertiga pun turun dari mobil, Isana segera mengambil koper miliknya yang ada di bagasi di bagian belakang mobil.


"Isana, ini rumah kamu?". Tanya Fenny.


"Bukan, aku ngontrak disini". Jawab Isana.


"Kenapa tidak pulang ke rumah kamu yang dulu?". Fenny menanyakan alasan kenapa Isana mimilih mengontrak rumah dari pada menempati rumah lamanya. Dulu Fenny memang sering berkunjung ke rumah Isana.


"Rumahku yang lama sudah di jual sejak kami Pindah ke Jerman". Jelas Isana kepada Fenny.


Fenny hanya mengangguk dan tidak melanjutkan bicaranya.


"Kalian mau mampir dulu?". Isana bertanya sambil melirik ke arah Fenny dan Evans secara bergantian.


Evans melirik ke arah Fenny lalu berucap "Kau mau mampir?".


Fenny hanya melirik dan mendengar saja tanpa membalas perkataan dari Evans. Kemudian Fenny bebicara dengan Isana.


"Maaf ya sayang, mungkin lain kali saja, setelah ini aku sudah ada janji menemani ibu ku belanja".


Isana tidak merasa keberatan dengan penolakan Fenny.


"Ya sudah Fen, makasih banget ya kamu sama kak Evans sudah mau jemput aku di bandara, maaf merepotkan". Ucap Isana sambil memandangi Fenny dan Evans secara bergantian.


"Iya, kamu memang ngerepotin". Canda Fenny dan di tanggapi dengan senyuman lebar oleh Isana. Sementara Evans terlihat diam mendengarkan obrolan itu.


"Tunggu dulu Fen, aku baru inget. Aku ada sedikit oleh-oleh dari Jerman". Ucap Isana yang kemudian di tanggapi dengan sumringah oleh Fenny.


Isana membuka tas koper miliknya lalu mulai mencari sesuatu di dalamnya. Tidak selang berapa lama, Isana mendapatkan apa yang dia cari.


"Makasih ya Isana ku sayang". Ucap Fenny sambil mencubit gemas pipi Isana. Isana pun tersipu malu sekaligus merasa sedikit sakit di buatnya.


"Iya sama-sama". Balas Isana sedikit menggerutu sambil mengelus pipinya yang barusan di cubit oleh Fenny.


Kini hanya tersisa satu bingkisan tas papper bag di tangan Isana, dan sudah bisa di tebak tas itu akan di berikan kepada siapa. Siapa lagi kalau Evans.


Setelah itu Isana melirik ke arah Evans, dan ternyata orang yang diliriknya itu sedari tadi tengah fokus memandanginya. Dua buah pasang mata pun tidak terelakan lagi untuk saling menatap antara satu dengan yang lainnya. Mereka pun saling memadangi satu sama lain untuk beberpa saat.


Pada akhiranya Isana menundukan kepalanya. Isana merasa sudah tidak mampu lagi beradu pandang dengan Evans.


"Aku ke mobil dulu ya, kak Evans". Fenny tiba-tiba saja berucap kepada Evans.


Fenny terlalu pintar untuk tidak mengetahui situasinya. Wanita itu berusaha memberikan kesempatan kepada Isana untuk sejenak bisa berduaan bersama Evans.


"Aku duluan ya Isana, sampai ketemu lagi, bye!". Fenny pun langsung melenggang pergi tanpa menunggu balasan baik itu dari Evans maupun Isana.


"Fenny pasti sengaja menjebakku dalam situasi ini". Geruti Isana dalam hati. Tapi di sisi lain Isana merasa sangat bahagia.


Isana pun memberanikan diri untuk kembali menatap Evans.


"Kak Evans".


Suara panggilan itu terlontar dari mulut Isana.


"Ya". Jawab Evans datar.


"Ini kak, ada sedikit oleh-oleh dari Isana". Isana menyampaikan kata-katanya dengan sangat halus dan lembut. Sembari mengulurkan tangannya yang tengah memegang sebuah tas papper bag berisi oleh-oleh darinya.


Setelah itu Isana menurunkan panadangannya ke arah papper bag yang masih di pegangnya.


Sebuah tangan terlihat mengambil papper bag itu, Isana kemudian tersenyum bahagia medapati Evans menerima oleh-oleh pemberiannya itu.

__ADS_1


"Terima kasih". Satu kata dari Evans cukup untuk membuat hati Isana berbunga-bunga. Kemudian Evans kembali berucap. "Apa isinya?". Tanya Evans.


Isana kemudian menatap wajah Evans.


"Rahasia". Singkat Isana menjawab. Sementara Evans terlihat menanggapinya dengan datar.


"Benar-benar dingin, apa aku menyerah saja untuk mendapatkan hatimu Evans". Isana kembali mengeluh atas ketidak berdayaannya mengetuk pintu hati Evans.


Sejak dulu sudah berbagai cara Isana lakukan supaya Evans mau membuka hati untuknya, tapi kelihatannya semua usahanya sia-sia saja, laki-laki itu soalah tidak menggubris sedikitpun perasaan Isana. Hatinya terasa sakit, semua perjuangannya selama ini terasa tidak ada gunanya.


"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu". Ucap Evans yang kemudian langsung memutar badannya dan kemudian mulai melangkahkan kaki menuju ke mobilnya.


Isana terdiam melihat Evans yang mulai berjalan menjauh darinya. Padahal Isana masih belum puas melepas kerinduannya setelah empat tahun lamanya tidak berjumpa dengan Evans. Tidak lama kemudian mobil yang ditumpangi Evans dan Fenny pun terlihat mulai pergi meninggalkan Isana sendiri di rumah kontrakannya.


Isana menghubungi nomer pemilik kontrakan itu, lalu tidak selang berapa lama seorang seseorang datang dari luar gerbang kontrakan itu.


Isana melihat seorang wanita medekat ke arahnya dengan menggandeng seorang anak kecil.


"Mbak Isana ya?". Tanya wanita itu.


"Iya". Jawab Isana singkat yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan. "Mbak yang punya kontrakan ini".


"Iya Mbak Isana, nama saya Tania, salam kenal ya mbak". Jawab wanita yang bernama Tanisa itu.


Isana membalasnya dengan anggukan dan senyuman ramah. Kedua orang wanita itu pun saling berjabat tangan. Lalu Isana melirik ke arah gadis kecil yang tengah di gandeng oleh Tania.


"Dia anak saya, namanya Aisyah". Ucap Tania yang menyadari gelagat Isana yang seolah menanyakan gadis di gandengannya.


"Aisyah ya". Isana berjongkok di depan Aisyah lalu mencubit lembut pipi tembem gadis kecil itu, lalu berucap. "Salam kenal ya adek manis, nama kakak Isana".


Aisyah tersipu malu mendapat perlakuan dari Isana, tapi ada rasa sedikit malu darinya hingga gadis itu menyembunyikan tubuh kecilnya di balik badan ibunya.


Isana dan Tania pun cekikikan melihat kelakuan gadis manis nan menggemaskan itu.


Setelah puas berbasa-basi, Tania kemudian memberikan kunci kontrakan itu kepada Isana lalu meminta fotokopi kartu identitas miliknya. Isana yang sudah menyiapkannya pun langsung memberikan fotokopi kartu identitas yang di ambil dari dalam kopernya.


Mereka mengobrol ringan sebentar di depan teras rumah. Tidak lama setelah itu Tania berpamitan untuk segera pulang menuju ke rumahnya, Isana pun mengiyakan.


Isana membuka pintu rumah itu lalu masuk kedalam, rumahnya tampak sederhana sekali, hanya ada ruang tamunya dengan ukuran kecil sekitar 4x3, lalu 2 kamar yang dengan ukuran yang lebih kecil, satu dapur kecil yang di gabung dengan ruang makan dan juga 1 kamar mandi yang terletak di bagian paling pojok rumah itu.


Tidak ada komplain dari Isana, karena rumahnya yang sebelumnya pun tidak jauh berbeda walaupun masih jauh lebih bagus dan luas dari rumah kontrakannya sekarang.


Isana masuk ke dalam salah satu kamar yang sudah ditentukannya sebagai kamar utama. Disana ada satu lemari plastik, satu single bed dan sebuah meja kecil di samping tenpat tidur.


Kemudian Isana menata beberapa barang miliknya di kamar itu. Baju dia masukan ke dalam lemari plastik, lalu beberapa barang ditaruh di rak meja kecil.


Sampai Isana sejenak menghentikan aktifitasnya itu ketika mendapati sebuah bingkai foto yang memperlihatkan gambar seorang wanita muda yang masih sangat cantik bersama dengan ayah kesayangannya. Wanita itu adalah ibu dari Isana.


Isana sempat sejenak kefikiran dengan Aisyah, anak dari pemilik kontrakan yang kini di tinggalinya.


"Betapa beruntungnya gadis kecil itu". Ucap Isana lirih.


Seketika itu air mata mengalir dari dari pipi lembut Isana. Kesedihan meliputi wanita yang saat ini terlihat sangat lemah itu. Fikirannya di penuhi sosok seorang Ibu yang bahkan belum pernah di lihatnya secara langsung. Mendengar suaranya pun Isana belum pernah. Sungguh malang nasib wanita ini.


"Mama, Aku rindu.. Hiks.. Hiks".


Isana pun memeluk bingkai foto itu dengan erat di iringi dengan air mata kesedihan darinya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2