Stuck In Your Heart

Stuck In Your Heart
Jatuh Semakin Dalam


__ADS_3

Sementara itu Evans masih dalam perjalanan mengantarkan Fenny pulang kerumahnya.


Sedari tadi tidak ada obrolan di antara keduanya. Fenny pun bosan dengan situasi itu, gadis itupun mencoba untuk membuka topik pembicaraan untuk mengurangi kebosanananya.


"Kak Evans".


"Ya". Jawab Evans singkat.


"Isana tambah cantik saja ya sekarang". Fenny membahas Isana di hadapan Evans. Sementara Evans terlihat tidak menanggapi dan fokus memandang ke depan.


"KAK!". Fenny berucap dengan keras karena merasa tidak di tanggapi oleh Evans.


"Tidak perlu teriak, aku belum tuli!". Ucap Evans yang kedengarannya sedikit kesal.


"Habisnya kak Evans cuek sekali". Gerutu Fenny. Evans masih menatap fokus ke depan dan tidak menggubris perkataan saudaranya itu.


"Astaga, kak Evans ini benar-benar menyebalkan! Aku tidak habis fikir, bagaimana bisa Isana memiliki perasaan kepada laki-laki semacam ini!". Gerutu Isana dalam hati.


Memikirkan hal tersebut kemudian timbul ide dalam benak Fenny untuk membahas sesuatu yang lebih mendalam lagi dengan Evans. Lebih tepatnya tentang perasaan Isana dan juga Evans.


"Kak" ucap Fenny dengan ragu.


"Apa lagi!". Ketus Evans.


Fenny sejenak terdiam, wanita itu masih ragu untuk membahas tentang perasaan Isana kepada Evans.


Akhirnya Fenny pun memberanikan diri, walaupun dia tau resikonya adalah memancing kemarahan Evans. Tapi demi sahabatnya dia rela menanggung resiko itu.


"Apa kak Evans membenci Isana?". Fenny berucap dengan hati-hati.


Evans sedikit melirik dengan tatapan tidak terbaca ke arah Fenny, namun itu tidak lama karena saat ini dia sedang menyetir mobil. Fenny pun menyadarinya.


"Mati akuuu!!!". Ucapnya dalam hati.


Fenny pasrah jika saat ini juga Evans melemparkannya dari dalam mobil.


"Kenapa kau bertanya seperti itu". Ucap Evans datar.


Sontak saja Fenny di buat kaget dengan reaksi Evans, tadinya dia menyangka kalau Evans akan marah besar namun justru sebaliknya, Evans tampak datar menanggapinya, bahkan cenderung terlihat santai.


Seolah menjadi angin sejuk, Fenny pun kembali memberanikan diri untuk menggali lebih dalam tentang isi hati Evans terhadap Isana.


"Kak, maaf sebelumnya". Fenny terdiam sejenak karena ragu.


"Katakan saja". Ucap Evans seolah meyakinkan Fenny. Wanita itu pun memberanikan diri.


"Mungkin ini terkesan tidak sopan, kak Evans tau kan kalau Isana sejak dulu suka sama kakak, bahkan Isana pernah beberapa kali mengutarakan perasaannya sama kak Evans". Fenny menelan ludah memperhatikan mimik wajah Evans. Dilihatnya Evans masih dengan wajah datar dan fokus kedepan. Melihat itu Fenny melanjutkan kembali bicaranya.


"Apa kakak tidak memiliki rasa sedikitpun kepada Isana, maksutku perasaan cinta". Fenny langsung membuang muka setelah mengatakan itu.


Suasana pun kembali hening, Evans terlihat kembali terdiam. Tiba-tiba saja suasana menjadi begitu mencekam untuk Fenny.


"Fix. Tamat sudah riwayatku!". Ucap Fenny dalam hatinya.


Evans mulai memikirkan jawaban atas pertanyaan Fenny barusan.


"Perasaanku terhadap Isana ya? Apa aku memiliki perasaan terhadapnya? Cinta? Aku sendiri juga tidak tau". Evans menerka-nerka sendiri di dalam fikirannya.


"Hanya karena aku tidak memiliki perasaan terhadapnya, bukan berarti aku benci pada Isana, Aku hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih, seperti hal nya aku yang menganggapmu sebagai saudariku". Jawab Evans setelah beberapa saat yang lalu terdiam.


Mendengar itu Fenny sedikit lega atas perkataan Evans,bTapi di sisi lain Fenny juga kecewa dengan jawaban saudara sepupunya itu yang di rasanya sangat tidak memuaskannya.


"Aku mengerti, tapi asal kakak tau saja, sampai saat ini perasaan Isana masih sama seperti dulu, tidak pernah berubah". Fenny berucap dengan lembut, seolah perkataan itu mewakili perasan Isana.


"Saat ini aku belum berminat untuk menjalin hubungan apapun dengan wanita, bukan tanpa alasan, aku hanya belum menemukan seseorang yang bisa menarik perhatianku". Panjang lebar Evans menjelaskan kepada Fenny.

__ADS_1


Fenny tertegun, baru kali ini dia mendengar Evans mengutarakan tentang masalah perasaan di hadapannya. Hati Fenny juga mulai lega, karena secara tidak langsung perkataan laki-laki itu seolah masih memberi sedikit harapan bagi temannya Isana.


"Apa benar pria ini kak Evans yang selama ini aku kenal, tidak ku sangka dia bisa seterbuka ini padaku". Ucap Fenny dalam hati.


"Berarti jika Isana bisa melakukannya, bisa membuat kakak tertarik, kak Evans mau membuka hati untuknya!". Ucap Fenny dengan girangannya.


"Entahlah, aku tidak suka tipe wanita agresif seperti dia, terkadang aku bahkan merasa risih di buatnya".


"Sial!!! Kenapa denganku". Umpat Evans dalam hati. Dia tidak habis fikir bisa berbicara terang-terangan seperti itu di hadapan Fenny.


"Jadi Isana masih punya kesempatan kan Kak". Fenny kembali mencoba meyakinkan perkataan Evans beberapa saat yang lalu.


Kali ini Evans diam tidak menanggapi.


"Kak Evans!". Fenny memanggil Evans sembari mengoyang-goyang tangan laki-laki itu.


Tiba-tiba saja Evans menghentikan mobilnya, hal itu sontak saja membuat Fenny sedikit binggung sekaligus was-was. Takut jika Evans mulai tidak nyaman dengan dirinya yang terlalu dalam menggali urusan pribadinya.


"Sudah sampai". Ucap Evans.


"Maksutnya kak?". Fenny binggung dengan ucapan Evans barusan.


Evans mendengus kasar yang membuat Fenny merasa sedikit kuwatir jika Evans benar-benar kesal dengannya. Dan benar saja, Evans.


"Kita sudah sampai rumahmu, turun sekarang!". Ucap Evans dengan penuh dengan nada tinggi, terlihar raut wajah kekesalan menyelimuti laki-laki itu.


Fenny pun di buat ngeri akan hal itu, lalu dia pun menyadari jika saat ini mobil itu sudah sampai di depan rumahnya. Akhirnya wanita itu paham dengan maksut dari ucapan Evans barusan.


"I - iya kak, Fenny turun". Nyali Fenny menciut, wanita itu pun langsung mengikuti perintah Evans untuk turun dari mobil itu.


Setelah itu Evans pun langsung tancap gas dari tempat itu.


Sementara Fenny tarlihat masih berdiri sambil memikirkan sesuatu.


"Kak Evans tidak sedingin yang aku kira, ternyata dia memiliki sisi lain dalam dirinya yang belum aku ketahui". Fikirnya.


* * * *


Sementara itu di rumah Isana.


Waktu menunju pukul delapan malam, Isana terlihat sedang bersiap-siap untuk untuk keluar rumah untuk makan malam.


Biasanya Isana lebih suka masak sendiri, tetapi karena hari ini wanita itu baru saja pindah dan menempati rumah itu, tentu saja Isana belum sempat berbelanja keperluan dapur.


Tidak berselang lama Isana pun selesai bersiap-siap dan langsung keluar dari rumah itu. Isana melihat langit yang malam yang gelap. Kelihatannya malam itu sedang mendung. Namun Isana tidak begitu menggubris, yang ada di fikirannya saat ini hanya bagaimana agar kebutuhan perutnya untuk malam ini terpenuhi.


Karena sudah sangat lapar, wanita itu berjalan menyusuri jalanan kompleks sekitaran rumahnya, berharap menemukan warung makan di sekitaran sana.


Sudah sekitar 15 menit Isana menyusuri kompleks itu tapi belum satu pun warung makan ataupun restoran yang dia temukan. Akhirnya Isana memutuskan untuk mencari taksi untuk menuju ke tempat yang lebih ramai. Beharap bisa menemukan apa yang dia cari.


Beberapa kali Isana mencoba mencegat taksi di pinggir jalan tapi entah kenapa tidak ada satupun dari mobil taksi itu yang berhenti untuk menghampirinya.


"Kenapa tidak ada satupun taksi yang mau berhenti". Keluh Isana.


Tes.. Tes.. Tes..


Tiba-tiba saja tanpa di duga cuaca mulai gerimis dan secara cepat gerimis itu pun mengundang hujan yang cukup lebat.


Isana yang sedari tadi mematung di pinggir jalan pun melenggang mencari tempat berteduh. Wanita itu meneduhkan dirinya di sebuah halte bus yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


Terlihat pakaian yang dikenakannya sedikit basah karena hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.


"Ya tuhan apalagi ini, cuma mau cari makan saja semenyebalkan ini". Isana menggerutu kesal.


Hujan pun kian deras di iringi angin yang dingin yang cukup menusuk tulang wanita yang berpostur tubuh kecil itu. Isana mulai menggigil du buatnya. Tangan di silangkan melingkari dadanya. Sesekali wanita itu menggosokan kedua tangannya. Mulut isana pun mulai gemetaran karen kedinginan.

__ADS_1


"Dingin sekali". Keluhnya.


Isana memang tidak mengenakan jaket kala itu, dia hanya mengenakan setelan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana jeans ketat berwarna biru dongker. Kakinya pun hanya beralaskan sendal selip, karena pada awalnya Isana memang hanya berniat mencari makan di dekar area rumahnya saja, tapi sayang sekali wanita itu tidak menemukan apa yang di inginkan.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil melaju dengan pelan dan kemudian melewati Isana yang sedang duduk mengigil di kursi halte bus itu. Isana tidak terlalu mempedulikannya.


Belum jauh mobil itu melaju melewati Isana, tiba-tiba mobil itu berhenti tidak jauh dari posisi Isana. Mobil itu kemudian secara perlahan mundur sampai di depan halte. Isana pun menatap penuh tanya ke arah mobil yang kini berhenti tepat di depannya.


Perlahan kaca mobil itu terbuka memperlihatkan sosok seseorang dari dalam mobil tersebut. Isana membulatkan matanya melihat sosok orang di dalam mobil itu.


"Kak Evans". Ucap Isana dengan nada sedikit tinggi.


"Masuk". Ucap Evans singkat.


Isana pun sempat ragu, tapi mendapati dirinya yang tengah mengigil kedingan membuat keraguannya seketika lenyap. Isana lekas memasukan dirinya ke dalam mobil itu lalu duduk tepat di samping Evans. wanita itu merasa sedikit canggung dengan situasi sekarang. Sementara Evans tampak memperhatikan Isana dengan seksama.


Terlihat wanita di sampingnya itu sedikit mengigil dan tertunduk sembari melingkarkan kedua tangannya ke tubuh kecilnya. Evans menyadari Isana tengah kedinginan.


Evans melapas sweter yang sedari tadi di kenakannya lalu menyelimutkannya ke tubuh Isana.


Sontak saja Isana terkejut akan perlakuan Evans. Matanya membulat menatap ke arahnya, mulutnya sedikit terbuka.


"Ka - Kak Evans". Ucap Isaan lirih dengan masih terus memanadangi wajah Evans yang dilihatnya tetap datar-datat saja.


"Kau kedinginan?". Tanya Evans yang langsung mendapatkan anggukan dari Isana. Kemudian Evans melanjutkan bicaranya. "Pakai saja".


"Terima kasih kak". Senyuman terukir dari bibir manis Isana. Isana merasa sangat bahagia di perlakukan seperti ini oleh Evans. Jantungnya berdetak tidak karuan. Nafasnya pun terasa semakin tidak teratur.


"Kau kenapa keluar hujan-hujanan begini?". Tanya Evans penasaran.


"Tadi aku mau cari makan malam kak, eh malah hujan, jadi aku berteduh di halte bus". Jawab Isana


"Jadi kau belum makan". Evans kembali bertanya dan di balas dengan gelengan kepala Isana dengan maksut mengiyakan pertanyaan Evans.


"Kasihan juga dia". Ucap Evans dalam hati. Laki-laki itu merasa iba dengan wanita disebelahnya.


"Kau mau makan apa biar aku yang antar". Ucap Evans.


Isana kembali di buat terkekeh dengan sifat baik Evans. Isana merasa tidak enak hati untuk menanggapi ataupun mengiyakan tawaran itu. tapi di sisi lain, saat ini dia benar-benar sangat lapar. Namun Isana tetap saja masih merasa ragu untuk mengiyakan tawaran Evans.


"Kamu suka nasi goreng?". Ucap Evans yang menyadari keragu-raguan Isana.


Mendengar ucapan barusan Isana pun membuang jauh rasa tidak enak dan keraguannya.


"Su - suka kak". Ucap Isana dengan terbata-bata.


"Baiklah kalau begitu, aku tau tempat yang menjual nasi goreng enak di sekitaran sini".


Isana mulai merasa nyaman dengan situasinya.


"Terima kasih kak". Ucap Isana dengan senyuman merekah pada bibirnya. Wanita itu merasa sangat bahagia dengan perlakuan Evans yang kali ini terasa sangat perhatian.


"Kalau sikap mu seperti ini, bagaimana bisa aku tidak jatuh semakin dalam kak Evans". Ucap Isana dalam hatinya.


Sementara Evans sedikit beberapa kali sedikit mencuri pandang kepasa Isana.


"Dia terlihat berbeda dari yang sebelumnya, lebih kalem". Evans menilai-nilai kepribadian Isana yang di rasanya cukup berubah setelah beberapa tahun tidak bertemu.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2