Stuck In Your Heart

Stuck In Your Heart
Dian Piesesha


__ADS_3

Isana dan Evans sampai di salah satu warung makan yang menyediakan menu khas nasi goreng.


Warung makannya terlihat sangat sederhana dan tidak terlalu luas, tapi suasana di sana terasa nyaman dengan iringan musik dari sebuah speaker yang memang sengaja di pasang untuk sekedar menjadi penyejuk suasana. Selain itu jumlah pengunjung warung makan itu juga lumayan banyak.


Mereka berdua segera mencari meja kosong di area warung makan itu, dan tidak perlu waktu lama mereka pun menemukan sebuah meja denga kursi double seat. Tanpa fikir panjang kedua orang itu segera mendudukan badan mereka masing-masing. Terlihat mereka berdua duduk saling berhadap-hadapan.


"Tempatnya nyaman kak, aku suka". Isana memulai obrolan setelah mendudukan badannya di kursi.


Isana mencoba untuk sehati-hati mungkin mengobrol dengan laki-laki di depannya. Isana tidak ingin salah bicara dan menghancurkan momen berduaan dengan Evans yang bisa dibilang sangatlah langka. Selain itu sikap Evans yang saat itu entah bagaimana bisa sangat baik terhadap Isana membuat wanita itu semakin berhati-hati dengan perkataan ataupun perilakunya.


"Aku tidak boleh merusak momen ini!". Dalam hati Isana menyemangati dirinya sendiri.


"Ya". Singkat Evans menanggapi ucapan Isana beberapa saat yang lalu.


"Singkat, padat dan jelas, yang sabar Isana!, kamu sudah biasa dengan sikap dingin seperti itu!". Gumam isana dalam hati sembari menyabarkan dirinya.


Kali ini Isana mulai terdiam, dia tidak tau apa yang harus di lakukan sekarang, akhirnya dia memutuskan mengambil ponsel dari tas jinjing miliknya dan memainkan ponsel tersebut. Sekedar untuk menyita waktu di tengah kebingunggan yang kini melanda.


Sementara Evans terlihat sedang memanggil seorang pelayan yang ada di warung makan tersebut. Tidak selang waktu lama pelayan itu pun datang dan memberikan daftar menu kepada kedua orang itu. Isana dengan sigap menghentikan aktifitas bermain ponselnya sementara Evans menerima daftar menu yang di berikan oleh pelayan di warung itu.


"Kau pesan duluan saja". Datar Evans berucap pada Isana sambil memberikan lembaran daftar menu itu kepadanya.


Isana pun mengangguk dan menerima lembaran daftar menu yang di berikan oleh Evans. Dilihatnya daftar makanan yang hampir keseluruhannya di dominasi oleh menu nasi goreng dengan berbagai macam varian. Isana pun memilih menu makanan dan minuman yang paling murah supaya bisa menghemat uang. Bukan tanpa alasan, saat ini Isana belum mempunyai pekerjaan karena baru kembali dari Jerman, jadi wanita itu memutuskan untuk menghemat keuangannnya.


Pelayan di sana pun segera mencatat pesanan itu. Kemudian Isana memberikan lembaran daftar menu itu kepada Evans. Laki-laki itu menerimanya, tapi entah kenapa langsung mengembalikan lembaran daftar menu itu kepada pelayan di samping.


"Pesanan saya disamakan saja dengannya". Singkat Evans di iringi dengan lirikan ke arah wajah Isana. Pelayan itu pun paham dengan maksut dari pelanggannya itu.


Isana pun sedikitnya terheran dengan tingkah Evans yang barusan dilihatnya, namun wanita itu sama sekali tidak merespon.


"Baik mas, di tunggu sebentar ya". Ucap pelayan itu dengan sopan lalu beranjak pergi dari tempat itu. Sementara Isana dan Evans hanya mengangguk ringan pertanda mengiyakan.


Suasana kembali hening setelah itu. Isana binggung dengan apa yang harus di lakukannya sekarang. Akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali bermain-main dengan ponselnya. Begitu pula dengan Evans, laki-laki itu juga terlihat bermain-main dengan ponsel miliknya.


Sesekali Isana mencuri pandang ke arah Evans yang terlihat sangat serius dengan ponselnya.


"Sedang apa ya kak Evans, kelihatannya serius sekali, apa mungkin dia sedang sibuk dengan urusan bisnis. Ya, pasti seperti itu, kak Evans kan pengusaha". Isana mencoba menyimpulkan sendiri di dalam fikirannya.


Setelah menyimpulkan secaran sepihak, Isana memutuskan untuk tidak menganggu urusan Evans. Namun tetap saja, sesekali Isana masih mencuri pandang ke arah laki-laki itu. Isana sungguh tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Jarang-jarang Evans bersikap baik seperti ini kepadanya.


Isana mulai bosan, sampai kemudian perhatiannya teralihkan oleh sebuah lagu yang terdengar dari sebuah speaker aktif yang terpasang di salah satu sudut warung makan itu.


Sebuah tembang klasik dari salah satu penyanyi bernama Dian Piesesha yang berjudul "Tak Ingin sendiri". seketika perasaan Isana berubah ketika mendengarkan lantunan lagu itu, tampak raut wajah penuh kesedihan darinya. Entah apa yang membuatnya seperti itu.


Isana mendengarkan lantunan lagu itu dengan seksama. Sesekali tanpa wanita itu sadari, dia ikut bersenandung menirukan lirik lagunya.


.


.


.


***Aku masih seperti yang dulu


Menunggumu sampai akhir hidupku


Kesetiaanku tak luntur hatipun rela berkorban


Demi keutuhan kau dan aku


Biarkanlah aku memiliki


Semua cinta yang ada dihatimu


Apapun kan kuberikan cinta dan kerinduan


Untukmu dambaan hatiku


Malam ini tak ingin aku sendiri

__ADS_1


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih kau sayang


Aku masih seperti yang dulu


Menunggumu sampai akhir hidupku


Kesetiaanku tak luntur hatipun rela berkorban


Demi keutuhan kau dan aku


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih kau sayang


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih kau sayang


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu***


.


.


.


Disisi lain sedari tadi tanpa di sadari oleh Isana, ternyata Evans terus memandanginya.


"Kenapa dengan wanita ini, sejak mendengar lagu tadi, raut wajahnya terlihat sedih, lalu sekarang tiba-tiba saja dia menangis". Ucap Evans dalam benaknya.


"Apa mungkin karena lagu barusan?". Evans mulai menyimpulkan.


Kemudian Evans mulai mengingat-ingat lirik lagunya. biarpun lagu lawas, sedikit banyak Evans tau karena memang lagu ini belakangan tengah viral di kalangan anak muda jaman sekarang.


Lirik lagunya seolah menggambarkan seseorang yang tengah mendambakan cintanya yang ingin sekali terbalaskan.


Evans lalu teringat tentang perkataan Fenny tadi siang yang mengatakan bahwa Isana masih sangat mencintai dirinya dan mengharap suatu saat nanti dia mau membalas perasaannya.


"Apa karena itu dia menangis?". Dalam benaknya Evans mencoba menyimpulkan sendiri.


Namun Evans tidak ingin menyimpulkan secara sepihak, lalu laki-laki itu memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Isana.


"Isana". Ucap Evans pelan yang sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Isana. Evans pun kembali memanggil wanita itu, namun kali ini nadanya sedikit di tinggikan "ISANA".


Isana yang sedari tadinya menangis memandang kosong kesembarang arah, kini menolehkan wajahnya kepada Evans.


"Iya". Ucap Isana datar. Tatapan Isana tampak kosong, sementara itu raut wajah Isana seolah menggambarkan bahwa dirinya sendiri tidak menyadari bahwa sedang meneteskan air mata. Dan memang begitu kenyataannya.


"Apa dia tidak sadar sedang menangis". Gumam Evans.


"Kenapa kamu menangis?". Tanya Evans.


Mendengar pertanyaan Evans, seketika Isana tersadar bahwa dirinya tengah menangis. Isana benar-benar terbawa perasaan sampai tidak sadar akan hal itu.


Tiba-tiba Isana berdiri lalu berlari kecil meninggalkan warung makan itu tanpa mempedulikan Evans yang masih duduk dikursi. Isana melesat menembus derasnya hujan pada malam itu.

__ADS_1


Wanita itu terlihat berjalan tak tentu arah, bahkan tidak memperdulikan hujan deras yang kini membasahi tubuh serta pakaian yang dikenakannya. Entah apa yang membuat isana bisa senekat itu.


Isana terus melangkahkan kakinya sampai akhirnya langkah kaki itu terhenti ketika tangannya ditahan oleh seseorang. Wanita itu pun menatap ke arah orang yang menahannya.


"Evans". Ucapnya lirih, kemudian menundukan kepalanya. Air matanya tersamarkan oleh air hujan.


Evans menatap wanita itu dengan iba, namun di sisi lain dalam fikiran Evans masih menyisakan tanda tanya besar akan penyebab dari tangisan wanita didepannya itu.


"Jangan menatapku, kumohon jangan menatapku". Ucap Isana dengan suara yang hampir tidak terdengar karena saking lirihnya.


"Kau ini kenapa menangis? kenapa pergi ke tengah hujan seperti ini?". Tanya Evans dengan penuh penekanan. Sementara tangannya masih memegang erat tangan Isana.


Wanita itu masih sesenggukan dan sesekali mencoba melepaskan genggaman tangan Evans. Tapi Evans sama sekali tidak melepaskannya.


"kau ini kenapa? Katakan padaku". Tanya Evans dengan sedikit memaksa supaya Isana mengatakan alasannya.


"Hiks.. Hiks.. A - Aku malu menangis didepanmu". Ucap Isana dengab masih sesenggukan.


Evans merasa tidak puas dengan jawaban itu yang di rasanya tidak masuk akal. Laki-laki itu kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Isana, Kita teman bukan, kalau kau punya masalah katakan padaku". Kali ini Evans berucap dengan lembut.


Mendengar Evans berucap dengan lembut, Isana pun merasa kesedihannya sedikit mereda. Wanita itu kini merasa sedikit lebih tenang.


Evans yang menyadari itu kembali membujuk Isana agar mau mencurahkan kesedihannya.


"Apa semua ini karena diriku?". Evans membuang egonya dan memberanikan diri. Seolah dia merasa kesedihan Isana itu di sebabkan oleh dirinya yang selama ini tidak membalas perasaan cinta Isana. Wanita membalasnya dengan menggelengkan kepala yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa patah kata.


"A - Aku merindukan mamaku". Isana menyampaikan kalimat itu dengan nada berat.


Mendengar Isana menyebut ibunya, Evans teringat satu hal, dulu Fenny pernah bercerita kalau ibu Isana meninggal dunia ketika melahirkan dirinya. Mengetahui hal itu membuat Evans semakin menatap wanita itu dengan Iba.


Isana semakin tertunduk hingga rambut basahnya menutupi bagian matanya. Hujan pun turun semakin deras. Menyadari itu Evans mencoba bersikap baik dengan menarik tubuh Isana ke sebuah emperan ruko yang sudah tutup untuk sekedar berteduh. Isana tidak menolak hal itu dan hanya pasrah saja.


Evans sedikit lega karena bukan dirinyalah penyebab kesedihan Isana, di lain sisi laki-laki itu masih penasaran kenapa Isana sampai melakukan tindakan semacam ini yang di rasa Evans sedikit berlebihan. Tapi tetap saja Evans tidak sampai hati untuk mengutarakannya.


"Lagu itu mengingatkan ku pada mama". Tiba-tiba saja kalimat itu telontar dari mulut Isana. Wanita itu mencoba terlihat tegar. Sejenak dia menahan tangisnya. Sementara Evans hanya diam mendengarkan karena di rasa kalimat itu masih menggantung. Isanapun kembali melanjutkan bicaranya.


"Ayahku pernah bilang, mama sangat suka dengan lagu itu, karena itulah aku menangis". Dengan nada beratIsana mengutarakan alasannya kepada Evans.


Seketika mengutarakan alasannya itu, Isana tak kuasa lagi membendung tangisnya, dia pun kembali menangis sesengukan.


Evans kembali menatap iba pada wanita didepannya. Laki-laki itu tidak tau harus berbuat apa dalam situasi seperti ini.


Akhirnya Evans membuang jauh ego dan sikap dinginnya. Ditariknya tubuh wanita rapuh itu ke dalam dekapannya.


Isana sangat kaget mendapati Evans yang tiba-tiba merengkuh tubuh mungilnya ke dalam dekapannya. Tangisannya seketika terhenti.


Jantung Isana berdetak tidak karuan mendapati tubuhnya di peluk oleh pujaan hatinya itu, wajahnya pun memerah, perasaannya menjadi tidak karuan.


"Menangislah sepuasmu". Ucap Evans dengan lembut.


Mendengar ucapan itu, Isana seketika sadar jika Evans memberikan memeluknya untuk menenangkan dirinya. Wanita itu pun kini tanpa segan membalas pelukan Evans.


Isana memeluk Evans dengan sangat erat, dia merasa mendapatkan ketenenangan dan kenyamanan tersendiri dari pelukan itu.


Evans sesekali mengelus rambut Isana yang sudah basar terguyur hujan. Wanita itu kini merengek seperti seorang bayi.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2