
Setelah di rasa cukup berbasa-basi Evans secara tiba-tiba mengambil koper milik Isana.
"Kak Evans! Mau di apakan koper milikku?". Isana sontak saja merasa kaget karena koper miliknya di ambil secara tiba-tiba oleh Evans.
Evans tidak menjawab justru berlalu menuju ke bagian belakang mobil, kemudian di bukanya pintu bagasi mobil bagian belakang lalu dia masukan koper milik Isana ke dalam bagasi mobil tersebut.
Inilah salah satu hal yang membuat Isana selalu merasa keheranan, terkadang Evans bersikap sangat dingin kepadanya, tapi ada saat dimana laki-laki itu bersikap sangat baik meskipun terkadang di tunjukan dengan cara semena-mena seperti kejadian barusan.
"Terima kasih kak Evans". Ucap Isana setelah tau maksut dari Evans yang mengambil koper miliknya tadi secara tiba-tiba.
"Cepat kalian masuk ke dalam mobil". Ketus Evans yang sudah berada di dalam mobil pada Isana dan Fenny.
Tanpa fikir panjang kedua wanita itu mengikuti Evans masuk ke dalam mobil. Isana dan Fenny duduk di belakang sementara Evans duduk di depan sendirian seperti seorang supir pribadi.
"Aku seperti supir pribadi mereka saja!". Keluh Evans di dalam hati.
Meskipun sedikit kesal namun Evans tidak begitu peduli, Evans pun segera melajukan kendaraannya keluar area bandara.
"Kak Evans, kita makan siang dulu ya, aku lapar". Ajak Fenny pada saudaranya itu.
"Makan di rumah saja, setelah ini aku ada keperluan di Cafe". Evans menolak ajakan Fenny.
"Kalau begitu sekalian saja kita makan di Cafe nya kak Evans". Pinta Fenny lagi.
Evans sejenak diam, mempertimbangkan permintaan dari saudari sepupunya itu.
"Baiklah". Ucap Evans singkat.
"Tapi gratis kan kak?". Ucap Fenny memelas.
"YA!". Ketus Evans mengiyakan permintaan Fenny.
"Marah ya kak, ikhlas ngak nih?". Goda Fenny.
Mendengar itu Evans melirik ke kaca spion mobil. Matanya menatap tajam ke arah Fenny, seolah menandakan ketidak sukaan dengan bercandaanya.
Fenny menyadari tatapan itu langsung diam tanpa kata, dia sadar sudah memancing kekesalan Evans.
Isana yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan kedua orang itu pun tersenyum lirih seolah mengejek Fenny yang barusan di bungkam hanya dengan tatapan Evans.
Isana mendekatkan kepalanya ke telinga Fenny.
"Rasain tuh, hihihi". Bisik Isana.
"Ish! Apaan sih!". Ucap Fenny menanggapi bisikan Isana yang seolah mengejek dirinya.
Isana pun tersenyum lebar penuh kepuasan.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka bertiga di sebuah Cafe yang cukup luas dengan konsep kekinian. Kelihatanya Cafe itu memang sengaja di desain untuk anak-anak muda.
Setelah keluar dari mobil mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam Cafe itu.
Baru saja masuk Isana di buat kagum dengan desain interior dan furniture di cafe itu. Desain dalamnya tampak unik dengan dengan mayoritas furniture nya terbuat dari kayu, seolah menampilkan kesan elegan.
Suasana di Cafe itu pun terlihat cukup ramai dengan kebanyakan pelanggannya adalah para anak-anak muda. Terlihat juga beberapa pegawai kantoran yang berada disana. Malkum saja, saat itu memang tepat pada waktu jam makan siang.
"Pesan saja sesuka kalian, aku ada meeting sekarang, kalau sudah selesai nanti aku kabari". Setelah mengatakan itu Evans langsung pergi meninggalkan Isana dan Fenny yang terlihat celingak-celinguk mencari tempat duduk yang masih kosong.
Isana dan Fenny pun mengiyakan dan bergegas menuju ke sebuah meja yang terlihat masih kosong. Mereka pun mendudukan tubuh mereka di kursi dan segera memanggil pelayan di sana.
Setelah beberapa saat, seorang pelayan pun datang menghampiri mereka dan memberikan daftar menu kepada kedua wanita itu. Tidak perlu waktu lama pelayan itu pun pergi setelah mencatat pesanan dari Isana dan Fenny.
"Tempatnya bagus ya Fen". Ucap Isana mengagumi tempat itu.
Fenny hanya mengangguk mengiyakan perkataan sahabatnya.
"Jadi kak Evans kerja disini?". Tanya Isana.
__ADS_1
"Iya, kak Evans kerja di sini". Jawab Fenny singkat.
Isana mengangguk kemudian bertanya lagi kepada Fenny.
"Kerja di bagian apa kak Evans?".
"Bagian nyuruh-nyuruh alias Boss". Celetuk Fenny.
Mendengar itu Isana sedikit kaget, tidak menyangka bahwa Cafe yang di datanginya itu adalah milik Evans.
"Jadi Cafe ini punya kak Evans". Isana kembali memperjelas.
"Iya". Ucap Fenny singkat.
"Kak Evans hebat sekali, masih muda tapi sudah bisa membangun usaha seperti ini". Dalam benak Isana memuji Evans.
Isana mulai merasa minder dengan Evans yang sudah bisa sukses di usianya yang masih sangat muda. Isana merasa masih belum ada yang bisa di banggakan pada dirinya. Isana memang lulusan dari luar negeri, tapi itupun bukan dari universitas yang terkenal.
Sebenarnya alasan utama Isana kuliah di Jerman adalah karena ayahnya yang di pindah tugaskan oleh perusahaan tempat ayahnya bekerja. Isana sempat bersikukuh ingin tetap tinggal di Indonesia, tapi pada akhirnya Isana tidak tega membiarkan ayahnya hidup sendirian disana. Sementara di Indonesia Isana sama sekali tidak memiliki sanak saudara satupun.
Isana sejak kecil memang tidak memiliki Ibu, atau lebih tepatnya Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Sedangkan ayahnya memutuskan untuk tidak mau menikah lagi karena alasan masih sangat mencintai mendiang istrinya.
Isana termenung, memikirkan kehidupannya yang terasa tidak setara dengan Evans. Evans memang terlahir dari keluarga kaya raya, kedua orang tuanya memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Sementara Isana hanya seorang anak dari pegawai kantoran biasa. Bisa kuliah di luar negeripun Isana juga harus kerja paruh waktu untuk sekedar memenuhi kebutuhannya sendiri.
Isana semakin merenung merasa harapan untuk bisa mendapatkan hati Evans terasa semakin berat.
"Kamu kenapa lagi Isana?". Fenny menyadari raut wajah Isana yang kembali berubah.
Isana memandang lirih ke arah Fenny.
"Fen..".
"Iya Isana, kamu kenapa, Cerita sama aku". Fenny mencoba menggali lebih dalam tentang suasana hati Isana saat ini.
"Kamu tau kan aku dari dulu suka sama kak Evans". Fenny mengangguk, lalu Isana kembali melanjutkan bicaranya.
Fenny merasa Iba dengan temannya tersebut.
"Isana dengarkan aku". Fenny memandang Isana lalu memegang tangan Isana erat, Isana pun membalas tatapan itu.
"Cinta itu tidak memandang status sosial, mau kamu gelandangan sekalipun jika kalian saling mencintai, hal itu tidak akan jadi penghalang". Fenny mencoba memberi semangat kepada temannya itu.
"Tapi Fen, kalau hanya aku saja yang memiliki perasaan itu sementara kak Evans tidak bagaimana? Selama ini aku sudah mencoba meluluhkan hatinya, tapi dia tetap saja bersikap dingin padaku". Mata Isana mulai berkaca-kaca mengatakan itu.
"Isana.. ". Fenny merasa semakin iba, dia juga tidak tau apa yang harus di lakukannya. Apalagi Fenny sadar tentang kenyataan bahwa sikap dingin Evans kepada Isana melebihi sikap dinginnya terhadao orang lain.
Fenny diam tanpa kata. Isana mulai melepaskan genggaman tangan Fenny.
"Apa aku harus belajar untuk membunuh perasaan ini". Ucapnya Isana lirih.
Fenny tertunduk, dia binggung harus bagaimana menanggapi ucapan Isana. Sebenarnya dia berharap Evans bisa membuka hatinya kepada Isana tapi bagaimanapun jika berkaitan dengan masalah hati tentu tidak bisa di paksakan.
Mereka berdua kini terdiam satu sama lain.
"Permisi". Tiba-tiba seseorang memecah keterdiaman itu.
Seorang laki-laki asing tampak menghampiri Isana dan Fenny.
"Henry!". Ucap Isana dihadapan laki-laki itu.
"Isana!, sudah kuduga kamu memang benar-benar Isana". Ucap laki-laki itu.
"Kamu benar Henry!". Isana kembali meyakinkan kembali.
"Ya, ini aku Henry, teman kuliahmu dulu". Ucap laki-laki itu.
"Astaga, kamu kenapa bisa disini?". Tanya Isana.
__ADS_1
"Aku kebetulan sedang makan siang disini". Jawabnya.
"Sejak kapan kamu di Indonesia?". Tanya Isana.
"Sekitar satu bulanan". Jawab Henry.
Henry adalah teman kuliah Isana sewaktu mengenyam pendidikan di Jerman. Henry sendiri adalah orang asli Indonesia namun sejak kecil dia tinggal di Jerman karena kedua orang tuanya bekerja disana. Wajahnya blasteran antara Jerman dan Indonesia. Ayahnya wagra asli Jerman sementara ibunya orang asli Indonesia.
Fenny terlihat penasaran melihat Isana dan laki-laki itu yang sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain.
"EHEM". Fenny berdeham karena merasa di abaikan.
"Eh, maaf Fen, Ini teman kuliahku di Jerman, namanya Henry dan Henry ini sahabatku Fenny". Isana mengetahui maksut Fenny lalu dengan tanggap saling memperkenalkan kedua orang itu.
"Hi Fenny, salam kenal ya". Ucap Henry dengan senyuman ramah.
"Salam kenal juga Henry". Balas Fenny sedikit tersipu melihat senyuman Henry yang di rasanya sangat manis itu.
"Kamu temannya Isana?". Tanya Henry.
"Bukan cuma teman, kami ini sahabat!". Jawab Fenny dengan meyakinkan membuat Isana merasa senang mendengarnya.
Setelah itu Henry kembali mengalihkan pandangannya ke arah Isana.
"Boleh aku duduk di sebelahmu". Henry meminta izin untuk duduk di kursi kosong di samping Isana.
"Oh iya Henry silahkan". Ucap Isana.
Laki-laki itu segera mendudukan tubuhnya di kursi bersebelahan dengan Isana.
"Tidak kusangka, kita bisa bertemu disini". Ucap Henry sambil memandang ke arah Isana.
"Aku juga". Tanggap Isana dengan singkat tanpa menatap laki-laki itu.
Henry terlihat sedikit kecewa dengan tanggapan Isana yang ala kadarnya.
"Tidak terlihat dekat, pasti mereka berdua tidak terlalu akrab". Fenny menyimpulkan sediri di dalam fikirannya.
Mereka berdua memang tidak terlalu akrab. Selama di Jerman Isana hanya fokus kepada pendidikannya, dia tidak banyak memiliki teman di sana dan kalaupun berteman dengan seseorang pasti hanya sebatas teman biasa tidak lebih.
Henry lalu mengalihkan obrolannya pada Fenny. Wanita itu pun menanggapinya dengan senang hati.
Untuk beberapa saat mereka berdua saling mengobrol, sementara Isana terlihat tidak terlalu peduli dan justru sibuk menghabiskan makanannya.
Dari kejauhan tampak seorang laki-laki memperhatikan ke arah ketiga orang itu. Laki-laki itu adalah Evans.
Evans melihat ke arah laki-laki yang kini duduk di samping Isana. Evans melirik laki-laki yang tengah duduk di samping Isana itu dengan tatapan tajam.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya kalau banyak typo, males mau koreksinya 😂