Stuck In Your Heart

Stuck In Your Heart
Tangisan Yenny (Bagian 1)


__ADS_3

Malam ini momen makan malam Isana begitu berkesan untuknya, pasalnya ini adalah kali pertama dia makan malam bersama dengan pujaan hatinya Evans.


"Huuff, kenyang sekali". Ucap Isana puas setelah selesai menghabiskan makanannya.


Sementara Evans sendiri sudah selesai makan sejak beberapa saat yang lalu.


"Kau sudah selesai makannya?". Tanya Evans


"Sudah kak, nasi gorengnya enak sekali, tau begitu aku tadi pesan dua porsi". Balas Isana dengan polosnya.


Evans terlihat menarik sedikit bibirnya menandakan rasa sedikit gemas dengan kepolosan wanita itu. Tidak bisa di pungkiri baru kali ini Evans menyadari betapa lugu dan polosnya Isana.


"Cuci tangan dulu kak di dapur". Ucap Isana yang lalu melengang ke dapur untuk segera mencuci tangannya.


Evans mengiyakan lalu mengikuti Isana dari belakang.


Sesampainya di dapur Isana terlebih dahulu mencuci tangannya sementara Evans berdiri di belakangnya menunggu wanita itu selesai.


"na na na na na". Entah kenapa Isana bersenandung ria sembari mencuci tangannya.


"hmph, lucu sekali dia". Evans terkekeh melihat tingkah laku Isana yang di rasanya lucu.


"Aku sudah selesai kak". Ucap Isana yang mengisyaratkan untuk Evans bergantian mencuci tangannya.


"Ya". Singkat Evans menanggapinya.


Setelah itu mereka Isana kembali ke ruang tamu yang tidak lama kemudian di susul oleh Evans.


Mereka berdua pun kembali duduk di kursi kayu panjang yang ada di sana. Mereka sedikit memberi jarak antara tubuh mereka.


Suasana sejenak hening, terlihat kembali ada kecanggungan di antara mereka berdua.


"Lebih baik aku pulang sekarang, ini sudah malam". Ucap Evans memecah keheningan. Karena memang waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam.


"I-iya kak". Dengan sedikit terbata-bata Isana mengiyakan.


"Yasudah kalau begitu, aku pulang dulu". Singkat Evans berucap.


Isana pun mengantar Evans sampai ke depan rumah. Hujan yang tadi turun dengan derasnya kini sudah mulai mereda dan hanya menyisakan gerimis kecil saja.


"Terima kasih ya kak". Ucap Isana sebelum Evans pergi dari situ. Evans hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua bola matanya sekali.


"Maaf seharian ini Isana sudah sangat merepotkan Kakak". Lanjut Isana.


Kali ini wajah Isana tampak sangat menyejukan bagi Evans. Seyuman tipis tampak terukir dari bibir manisnya, tatapan mata Isana pun terlihat sangat menyejukan, tampak raut wajah sedih Isana beberapa saat yang lalu sudah lenyap tak bersisa.


"Seperti pelangi yang hadir setelah hujan badai". Ucap Evans dalam hati seolah menyimpan sebuah makna yang dalam.


Evans merasa lega melihat Isana sudah lebih baik. Senyum tipis kembali terukir dari bibirnya.


Melihat itu wajah Isana memerah dan seketika itu pula dia membuang lirikannya ke sembarang arah.


"Tidak masalah". Ucap Evans singkat lalu segera melangkah menuju mobilnya.


Sementara Isana hanya bisa melihat laki-laki itu pergi dengan perasaan bahagia, walaupun ada rasa sedikit tidak rela. Dan pada akhirnya Evans pun meninggalkan Isana sendirian di rumahnya.


Beberapa saat kemudian Isana kembali masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya setelah mengunci pintu utama rumah itu.


Wanita itu merebahkan badannya di atas ranjang lalu memeluk guling yang ada disana Sambil memikirkan tentang perlakuan Evans seharian ini yang sangat baik padanya.


Semakin lama wanita itu memikirkan perlakuan Evans, perasaannya terasa semakin bahagia, Isana terus memeluk gulingnya dengan sangat erat lalu menenggelamkan wajahnya disana.


"Kak Evans!, kak Evans!, kak Evans!, aku cinta sama kamu kak!!!". Isana berteriak histeris dalam hatinya.


* * * *


Sementara itu setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya Evans sampai di rumahnya.


Rumah itu terlihat cukup besar, dikelilingi oleh pagar yang menjulang tinggi, desain modern minimalis seolah menyempurnakan keindahan bangunan rumah itu.


Evans melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya. Dia berniat langsung menuju ke kamarnya, namun ketika melewati ruang keluarga langkahnya terhenti karena di sapa oleh seseorang.


"Jam segini baru pulang". Ucap seseorang tersebut.


"Mama". Orang itu adalah mama Evans. Namanya Yenni.


"Mama belum tidur?". Lanjutnya


Yenny tidak menjawab pertanyaan anak laki-lakinya itu. Wanita itu justru memandangi pakain Evans yang terlihat basah.


Yenny merasa sedikit kawatir melihat kondisi anaknya seperti itu.


"Pakaianmu kenapa basah begini? Lalu kenapa jam segini baru pulang? Kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang? Kamu baik-baik saja kan?!". Karena kawatir Yenny memberondong Evans dengan pertanyaan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Satu-satu ma, Evans jadi binggung jawabnya, anakmu ini baik-baik saja". Evans menanggapi.


"Pakaian kamu kenapa basah begini?!". Ucap Yenny dengan nada sedikit dinaikan.


"Ini ma, tadi Evans.. ". Belum selesai dengan bicaranya Yenny memotong perkataannya.


"Sudah, ganti baju dulu setelah itu jelaskan sama mama".


Evans mengiyakan perintah ibunya dan langsung bergegas mengganti pakaian di kamarnya.


Tidak selang lama Evans kembali menemui Ibunya di ruang keluarga, Yenny terlihat duduk di sofa sembari membaca sebuah buku.


Melihat anaknya sudah kembali Yenny menyuruh Evans untuk duduk di sampingnya, tidak ada penolakan dari Evans.


Yenny mengelus rambut Evans dengan penuh kasih sayang, merekapun mulai mengobrol.


"Sekarang jelaskan sama mama".


Evans sejenak terdiam, dia binggung dari mana harus memulai ceritanya.


"Kenapa diam?". Tanya Yenny sedikit Curiga.


"Bagaimana menjelaskannya ya, ceritanya panjang ma". Evans sedikit ragu untuk menceritakannya.


"Ceritakan saja, mama mendengarkan". Ucap Yenny lembut sembari mengelus kepala Evans. Yenny melihat keraguan pada diri Evans, dia pun sedikit curiga tentang apa yang di alamai anaknya hari ini.


Keraguan Evans sebenarnya bukan tanpa alasan, karena hal ini menyangkut Isana.


Karena dari yang diketahuinya, Yenny sejak dulu tidak begitu suka dengan Isana. Alasannya sudah jelas, karena ulah wanita itu anaknya sempat hampir kehilangan nyawanya. Evans adalah anak semata wayang Yenny, karena itulah wanita itu sangat menyayanginya.


Evans termenung mengingat-ingat saat dimana dia menolong wanita itu yang hampir tertabrak mobil karena kecerobohannya.


"Evans". Ucap Yenny yang seketika mengambil perhatian Evans.


"Ma..". Evans terlihat masih ragu, laki-laki itu menoleh ke arah ibunya untuk memastikan sesuatu, ibunya pun mengangguk disertai senyuman tipi di bibirnya, mengisyaratkan pada anaknya untuk tidak ragu.


"Tadi Evans bertemu dengan Isana". Ucap Evans mengawalai ceritanya.


Mendengar nama itu entah kenapa Yenny memalingkan wajahnya.


"Sudah kuduga reaksi mama pasti akan seperti ini setiap kali aku menyebut nama Isana". Gumam Evans.


Evans mencoba memaksa melihat ke arah wajah ibunya. Wajah ibunya terlihat sedikit murung.


"Mama, aku tau Mama tidak suka dengan Isana karena kejadian waktu itu, tapi semuanya sudah berlalu, lihatlah sekarang Evans baik-baik saja, dia tidak salah apa-apa". Panjang lebar Evans mencoba meyakinkan ibunya.


Entah kenapa Evans mencoba memberi pembelaan kepada Isana.


Mendengarkan ucapan itu, Yenny menoleh ke arah Evans. Wajahnya terlihat masih murung.


"Evans". Sejenak Yenny terdiam untuk mengeluas pipi anaknya itu, lalu dia melanjutkan kembali bicaranya.


"Kamu salah paham nak, Mama bukannya tidak suka dengan wanita itu, hanya saja.. ". Belum selesai dengan kata-katanya Evans justru memotong perkataan Ibunya.


"Mama tidak membenci Isana?". Tanya Evans.


Entah kenapa mendengar Ibunya mengatakan itu Evans merasa senang.


Yenny menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Evans. Jujur saja Evans tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh ibunya. Tapi melihat gestur yang di tunjukan oleh Yenny Evans merasa sedikit yakin.


"Lalu kenapa selama ini Mama selalu kelihatan murung ketika mendengar nama Isana?". Tanya Evans.


Evans sangat penasaran akan jawaban dari Ibu yang sangat disayanginya itu.


"Kalian berdua belum tidur".


Belum sempat mendengar jawaban dari Ibunya tiba-tiba saja ada seaeorang yang menyapa mereka berdua. Ibu dan anak itu pun menoleh ke arah orang tersebut.


"Papa".


"Sayang".


Ucap Evans dan Yenny namun dengan dua panggilan yang berbeda.


Ya, orang tersebut bernama Gian, ayah Evans sekaligus suami dari Yenny.


Yenny langsung melangkah menuju suaminya dan memberi pelukan kepadanya, sementara Evans terlihat datar-datar saja.


"Sudah pulang sayang". Yenny menyambut suaminya itu dengan lembut.


"Kamu bilang baru akan pulang lusa, kenapa sekarang sudah di rumah?". Lanjut Yenny sambil menanyakan kepulangan Suaminya.


"Aku tidak bisa lama-lama jauh dari istriku tercinta ini". Goda Gian sambil menarik pinggang Yenny mendekat ke tubuhnya.

__ADS_1


Wajah Yenny seketika memerah karena malu, di cubitnya perut suaminya itu.


"Awww! Sakit sayang". Keluh Gian.


"Habisnya kamu menggodaku terus". Ketus Yenny


Untuk beberapa saat kedua pasang suami istri itu terlihat sibuk dengan saling dengan kemesraannya.


"Apa-apaan mereka bermesraan di depan anaknya sendiri". Gerutu Evans dalam hatinya.


"EHEM!". Evans berdehem usil kepada kedua orang tuanya.


Seketika mendengar deheman itu, Yenny berusaha melepas tangan suaminga yang sedari tadi mengikat di pinggangnya. Namun Gian terlihat tidak membiarkannya. Laki-laki itu sungguh sangat merindukan Istrinya.


"Kalau iri segeralah menikah". Gian justru menggoda anaknya Evans sambil memperat genggaman tangan di pinggang Yenny.


Evans menggelangkan kepalanya, tidak menyangka ayahnya justru bereaksi menggodanya seperti itu.


"Ah sudahlah, aku mengantuk!". Ketus Evans dan langsung di iringi langkah kaki menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua di rumah itu.


Gian cekikikan melihat reaksi dari anaknya, sementara Yenny, wajahnya terlihat seperti kepiting rebus.


* * * *


Beberapa saat kemudian di kamar Yenny dan gian.


Gian kelihatan sudah tertidur membelakangi Yenny yang kini tengah terduduk di sisi samping tempat tidur di kamar itu.


Yenny terlihat mencari sesuatu dari nakas di samping tempat tidurnya. Sedikit lama dia mencari-cari sesuatu itu sampai akhirnya ditemukanlah barang yang dia cari.


Sebuah bingkai foto yang berukuran setara sebuah tablet. Yenny memandangi foto itu dengan seksama dalam waktu yang lama. Raut wajahnya pun seketika berubah sendu melihat gambar seseorang di foto itu.


Tanpa wanita itu sadari ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya. Orang itu adalah Gian suaminya. Ternyata laki-laki itu sedari tadi hanya berpura-pura tidur.


"Kenapa belum tidur". Ucap Gian yang sontak mengagetkan Yenny yang sedang termenung memandangi bingkai foto di tangannya. Namun wanita itu tidak menanggapinya.


Gian kemudian mendudukan badannya di samping Yenny. Di lihatnya Yenny yang tengah menatap sendu ke arah bingkai foto yang sedang pegangnya.


Dilihat oleh Gian dari bingkai foto tersebut gambar dua orang wanita yang masih sangat muda dan cantik. Terlihat salah satu dari wanita itu tengah menggedong seorang bayi kecil di dadanya.


"Kau masih menyimpan foto itu". Ucap Gian datar.


Yenny hanya mengangguk sekali menanggapi suaminya itu.


Seolah mengerti dengan kondisi istrinya, Gian kemudian menarik kepala istrinya lalu meletakannya di dada bidang miliknya, sesekali Gian mengelus rambut halus istrinya.


Seolah mendapat ketenangan dari suaminya, Yenny pun mulai berbicara sendiri.


"Ini semua salahku". Sejenak Yenny terdiam kemudian melanjutkan bicaranya "jika bukan karena diriku, mungkin Desi masih... ".


Belum selesai Yenny dengan bicaranya, Gian justru memotongnya.


"Jangan menyalahkan dirimu. Semua itu adalah kecelakaan, semua itu terjadi karena sudah menjadi suratan takdir".


"Tapi gara-gara aku gadis itu... Hiks.. Hiks ". Kata-kata Yenny terhenti ketika bulir-bulir air menetes dari kedua bola matanya.


"Yenny, Sudah cukup, gadis itu baik-baik saja sekarang, kau jangan bersedih lagi, aku tidak sanggup melihat mu selalu menyalahkan diri atas kejadian itu". Ucap Gian yang saat ini sudah memeluk erat istrinya itu.


Mendapati perlakuan itu Yenny pun semakin sesenggukan.


Sangat lama Yenny menangis dalam pelukan suaminya, sampai akhirnya wanita itu kelelahan dan membaringkan tubunya diatas dada bidang suaminya.


.


.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf ya kalau banyak kesalah penulisan. Males bener mau koreksinya 😅.


__ADS_2