Suami Dan Perselingkuhan

Suami Dan Perselingkuhan
perjodohan mendadak


__ADS_3

hari ini Dinda tidak masuk sekolah, karna badan nya masih kurang fit. Fika sudah mengabsenkan Dinda karena tidak bisa hadir hari ini. hari ini kerjaan Dinda hanya malas² an,


jam sudah menunjukkan pukul 10:45 , tapi tidak ada tanda² Dinda akan bangun. Tok..Tok...!!!! suara dari ambang pintu, Dinda masih tidak sadar. Bu Sarah mendengus kesal karena Dinda suka bangun siang, "Dinda bangun gak kamu!!" terdengar suara teriakan dari luar. Dinda yang kaget, sontak langsung langsung bangun dan cepat² ingin membuka pintu, alangkah sial nya. dia terpeleset di lantai karna buru² "OMG sakittttt........" teriak Dinda dari dalam. Bu Sarah yg masih di luar pintu pun kahwatir,


(Bu Sarah) "Buka Din..kamu kenapa" tanya Bu Sarah. Dinda berusaha bangkit, tapi kaki nya masih sangat ngilu, Dinda membuka pintu perlahan


(Dinda) "kenapa si Bu" ucap Dinda memelas, sambil memegang kakinya yang sakit.


(Bu Sarah) "kamu tuh kebiasaan bangun siang terus" omel Bu Sarah


(Dinda) "Bu liat deh aku lagi kesakitan, kok malah dimarahin sih" ucap Dinda lemas.


(Bu Sarah) "yaudah lain kali hati²" ucap Bu Sarah masih mengomeli,


(Dinda) "hmmmm"


(Bu Sarah) "nanti malam kamu siap² ya nak" ucap Bu Sarah sambil tersenyum. Dinda menyerngitkan dahi nya, "ada yang gek beres nih" bathin Dinda


(Dinda) "emang kenapa Bu??" tanya Dinda


(Bu Sarah) "ga usah banyak tanya. cepetan turun, papah kesayangan mu sudah pulang dari Bandung." ucap Bu Sarah meninggalkan Dinda yang masih bengong,


Dinda tidak mau ambil pusing, Dinda segera menutup pintu lagi, dan segera memasuki kamar mandi. Dinda mengisi air di bathtub sangat penuh, dan memasukkan langsung 1 botol pewangi tubuh, "Hahaha biar wangi nya parmanen" ucap Dinda berbicara sendiri,


sudah hampir 1 jam 40 menit, Dinda masih belum keluar dari kamar mandi. kebiasaan Dinda ketika mandi selalu menyenandungkan lagu dan berjoget santuy di bak mandi. Bu Sarah sudah tidak tahan lagi, karna Dinda sangat lama tidak turun² juga, dengan cepat Bu Sarah menaiki tangga menuju kamar Dinda. dan membuka pintu kamar Dinda yang ternyata tidak dikunci.


(Bu Sarah) "Dinda dimana kamu ha" teriak Bu Sarah. Dinda tidak mendengar nya, karna Dinda memasang headset di telinga, dengan volume yang sangat nyaring, sehingga suara Bu Sarah tak terdengar. Bu Sarah pun membuka pintu kamar mandi dan terkejut


(Bu Sarah) "Din cepetan turun, papah kesayangan mu sudah menunggu" ucap Bu Sarah tapi masih tidak di tanggapi Dinda. karena Dinda mendengarkan musik sambil memejamkan matanya.


(Bu Sarah) "Din kamu ini mandi, apa fashion show sih pake nyanyi segala" ucap Bu Sarah lagi sambil menahan tawanya, melihat tingkah Dinda. Dinda tersadar dan melihat ibunya, "kenapa Bu??" tanya Dinda, Bu Sarah tidak menjawab dan langsung meninggalkan kamar Dinda. Dinda segera membilas tubuh nya dengan air, dan keluar untuk siap² sarapan bersama orang tua Nya.


******


hari ini fahri juga tidak masuk untuk mengajar, karna orangtuanya ingin membicarakan sesuatu yang penting. Fahri pun Hanya menurut. ketika di meja makan'


(Helen) "nak..mama sama papa, mau membicarakan sesuatu hal yang penting" ucap Helen pada anaknya, Ya (Helen kusuma) adalah seorang ibu yang melahirkan Fahri,

__ADS_1


(Fahri) "ya ma bicarakan saja" ucap Fahri tanpa melihat, sambil meminum susu ditangannya.


(Kusuma) "kami ingin menjodohkan mu" ucap ucap Kusuma. (ayah Fahri) tanpa basa-basi. Fahri yang mendengar nya pun langsung tersedak, wajah nya memerah, Helen kahwatir pun menghampiri anaknya dan mengelus punggung Fahri,


(Fahri) "APA???" ucap Fahri frustasi, padahal selama ini Fahri menjauhi semua wanita cantik, yang mendekatinya. dan mengapa sekarang harus di jodohkan, Fahri bahkan tidak tau bagaimana wajah wanita yang akan di jodohkan dengan nya itu.


(Kusuma) "kamu tidak usah membantah!! , ini memang bukan perintah. tapi ini permohonan kami sebagai orang tua, kamu sudah cukup umur untuk menikah" tegas Kusuma


(Fahri) "tapi pah...apa papa ga kasihan sama aku, aku bahkan belum melihat wujud wanita itu, sempurna dan buruk nya" ucap Fahri lemas


(Kusuma) "kamu kalau mau punya pasangan. ga usah milih²" tegas Kusuma


(Fahri) "tapi pah"


(Kusuma) "tidak ada tapi². kamu ga kasihan sama kami, orang tuamu ini. kami sudah tidak muda lagi, kami ingin menimang cucu" ucap Kusuma dengan memasang wajah sedih nya. Fahri yang tak bisa membantah hanya diam dan mengangguk pelan. "Nasib ku..." tangis Fahri dalam hati. Fahri pun meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


Helen dan Kusuma saling memandang sesaat, mereka tertawa puas


(Helen) "akhirnya akting papa berhasil" ucap Helen sambil Tos dengan Kusuma, meraka sangat gembira karena sebentar lagi akan menimang cucu.


Fahri yang merasa kehausan, dia meninggalkan kamarnya, dan turun tangga menuju dapur. mulut Fahri menganga melihat kedua orang tua nya yang sedang berjoget, " Asekkkk serrr serrr yihaaa" ucap helan sambil berjoget seperti biduan dangdut. tak kalah dengan Kusuma yang berjoget dengan tangan nya melambai lambai ke atas. mereka berdua tersadar dengan kehadiran Fahri. segera berhenti, Fahri menahan tawanya melihat kelakuan absuard orang tua nya itu. Fahri pun jadi tak berselera lagi untuk minum, segera kembali ke kamar lagi. setelah bayangan Fahri sudah hilang, Kusma dan Helen saling memandang, dan saling menyalahkan.


(Helen) "papa sih" ucap Helen menyalahkan


(Kusuma) "mama juga tuh" tunjuk Kusuma yang tak mau kalah, mereka pun meninggalkan meja makan.


*****


malam hari


"aku pasrah" gumam Dinda sedih, yang sedang duduk di balkon kamarnya. dia tidak memperdulikan dingin nya malam yang menusuk tubuh nya. hujan begitu deras nya, di Sertai petir, dan gemuruh di langit yang gelap.


flash on****


Dinda segera menuruni tangga menuju meja makan, "papah...." teriak Dinda menghampiri papa nya


(Hendra) "iya nak" sambut Hendra sambil memeluk putrinya itu. (ayah Dinda)

__ADS_1


(Dinda) "Dinda kangen papa" ucap Dinda manja, Hendra pun melepaskan pelukan nya, mereka memulai sarapan. "ibu mana ya" tanya Dinda kepada ayahnya,


(Hendra) "panggil mama. jangan ibu" ucap Hendra.


(Dinda) "tapi Dinda udah biasa panggil ibu pah" jawab dinda.


(Hendra) "jangan di biasakan" tegas Hendra


(Dinda) "iya deh..mama mana pa??" tanya Dinda lagi.


(Hendra) "belanja keperluan sama Art" jawab Hendra.


(Dinda) "owh"


(Hendra) "nak papa mau bicara sesuatu yang penting, papa harap kamu tidak mengecewakan" ucap Hendra serius. sontak Dinda langsung menghentikan makannya, dan menatap ayah nya.


(Dinda) "emang ada apa" jawab Dinda dengan raut wajah khawatir,


(Hendra) "papa sudah memutuskan untuk menjodohkan mu, dengan anak dari teman papa" ucap Hendra. Bagai di sambar petir ketika mendengar nya, Dinda tak mampu bersuara. badan nya lemas.


(Dinda) "a..aku..harus menikah secepatnya ini" ucap Dinda terbata bata, matanya sudah memerah. tatapan nya kosong.


(Hendra) "maafkan papa, tapi ini sudah keputusan dari kami, teman papa dan keluarganya juga sudah setuju" timpal Hendra


(Dinda) "aku masih sekolah" ucap Dinda pelan


(Hendra) "papa tidak mau tau!! . pokoknya kamu tidak boleh membantah" tegas Hendra berlalu pergi dari meja makan.


hati Dinda sangat hancur, bagaimana mungkin? Dinda menikah di usia nya yang masih 16 tahun??, Dinda pun segera menuju ke kamarnya. dan menangis sejadi jadi nya..


malam itu hujan sangat deras mewakili suasan hati nya malam ini.


flash of****


Dinda masuk kedalam, dan menutup pintu balkon. dia berusaha memejamkan matanya namun tak mampu, dia masih menangisi takdir nya. ntah beberapa saat kemudia, Dinda terlelap karna kehabisan tenaga yang sejak tadi Hanya menangis,,


happy reading 🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2