
akhir² ini Dinda tidak seperti biasanya. setelah dia mengetahui akan dijodohkan, dia menjadi sangat muram. tapi ketika di depan para teman² nya, dia mampu menunjukkan senyum palsu nya. entah kenapa Dinda tidak mau berbagi kesedihan nya, walaupun itu pada teman akrab nya sekalipun.
*****
kantin
(Alfi) "Din" seru Alfi, yang melihat Dinda hanya melamun.
(Dinda) "Hem" tanpa menoleh
(Alfi) "Lu ngapa dah??" tanya Alfi
(Dinda) "gapapa" jawaban gajelas
(Alfi) "Halah semua cewe sama aja. bilang nya gapapa, padahal ada apa², entar kalau cowo nya diem. di bilang gak peka. semua cewe emang aneh. Ya gak Vin??" omel Alfi sambil menyenggol bahu Vino.
(Vino) "Hah ada apa??" tanya Vino polos
(Alfi) "dasar budeg. sia² tau gak ngmong sama Lu" dengus Alfi kesal
(Vino) "serius gue kagak denger?? Lu tadi emang ngmong apa???" tanya Vino jujur
Alfi hanya diam tanpa menjawab. di kantin hanya ada mereka bertiga, sedangkan yang lain belum sampai. "Mana sih Fika!" gumam Dinda. beberapa saat kemudian datanglah orang² Yang sedang ditunggu dinda, Fika langsung duduk di samping Dinda.
(Dinda) "Lu kemana aja sih lama banget" gerutu Dinda, Rizky yang baru datang pun duduk di meja yang sama,
(Rizky) "Gue ga kemana² kok" jawab Rizky GR
(Dinda) "yeeee... yang nanya Lu sapa?? orang ngmong sama Fika kok" balas Dinda.
__ADS_1
(Alfi) "Malu tuch...hahahah" ledek Alfi pada Rizky, Dandy dan Vino menahan tawanya. sedangkan Fika hanya senyum², Dinda hanya cuek saja. Rizky pun mulai memperhatikan Dinda dari atas sampai bawah, Dinda pun mengetahui nya, dan menatap tajam ke arah Rizky.
(Dinda) "ngapai sih ky ngeliatin gue kayak gitu banget. ada yang aneh ya!??" tanya Dinda kesal
(Rizky) "Lu udah sehat² aja kan" jawab Rizky sambil tersenyum, dan ingin membelai rambut panjang Dinda. tiba² langsung di tepis oleh Alfi, Rizky menatap tajam pada Alfi.
(Alfi) "tangan laknat jangan nyari² kesempatan" ucap Alfi membalas tatapan Rizky,
(Rizky) "gue cuma ngelus rambut doang somplak!!" jawab Rizky kesal. Alfi pun menatap malas pada Rizky. dan Yang lain hanya cuek saja, karena sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
(Dandy) "dari pada ngelus Dinda, lebih baik bang iky elus Dandy aja" ucap Dandy dengan gaya sok imutnya. yang lain menahan tawanya, sedangkan Rizky hanya menatap malas.
(Rizky) "Jibang" jawabnya singkat
(Dandy) "apaan tuh??" tanya Dandy yang memang tak tahu,
(Rizky) "jijik banget whahahahah!!" jawab Rizky sambil tertawa terbahak bahak. Dandy memanyunkan bibirnya. dan teman semeja nya ikut tertawa, termasuk Fika. padahal Fika adalah kategori manusia paling jarang tertawa. sedangkan Dinda hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
dirumah.
Dinda hanya melamun di kamar, Tok..Tok..Tok! suara di ambang pintu. Dinda pun segera membukakan pintu, dan mendapati ibunya sedang tersenyum, sambil menenteng paper bag. "Masuk bu. Eh mama..hehe" ucap Dinda. ibunya pun langsung duduk di tepi ranjang,
(Dinda) "ada apa ma? itu apa isinya??" tanya Dinda sambil menunjuk ke arah paper bag, Bu Sarah pun mengeluarkan isi nya. dan ternyata isinya adalah sebuah gaun biru laut, yang sangat cantik. Dinda menyerngitkan dahi nya, "Buat apa ma??" tanya Dinda lagi
(Bu Sarah) "Kamu pake ini malam ini, kita mau ke acara makan malam keluarga. mau bahas soal perjodohan mu" jawab Sarah sambil tersenyum.
(Dinda) "aku gak mau" mata nya memerah.
(Bu Sarah) "maaf nak, ini perintah dari papa mu. ibu ga bisa berbuat apa²" ucapnya sambil menitikkan air mata. Dinda pun tidak tega melihat ibu nya, yang dia sayangi menangis. Dinda menarik nafas, dan menyimpulkan senyum di bibirnya. walau hati nya hancur, tapi dia berusaha agar terlihat baik² saja, Dinda meraih gaun itu dari tangan ibu nya.
__ADS_1
(Dinda) "haha ibu kok nangis sih, iya aku pake kok." ucap Dinda dengan tawa yang di buat², Bu Sarah merasa lega, dan mengelus pelan pipi putrinya itu.
(Bu Sarah) "berdandan lah yang cantik malam ini hahaha" canda Sarah sambil menghapus sisa air matanya. Dinda tak kuasa menahan haru nya dan beralih memeluk ibunya,
(Dinda) "ya Bu..eh mama. Dinda bakal dandan cantik, tapi gimana ya ma..kalau ternyata calon suami Dinda nanti" ucap Dinda terputus, Sarah sudah tau apa yang di maksud putrinya itu.
(Bu Sarah) "ibu denger, putra tuan Kusuma itu sangat tampan nak" ucap Sarah sambil mengelus pelan rambut anaknya. Dinda pun masih galau, apakah yang dikatakan ibunya itu benar adanya, atau sebaliknya. Dinda melepaskan pelukannya, dan menatap penuh arti pada ibunya.
(Dinda) "apakah keluarga mereka bernama kusuma???" tanya Dinda serius
(Bu Sarah) "bukan nak. ayah mu bilang mereka adalah kelurga Chandraguna" jelas Sarah. Dinda pun tersentak kaget, "chandraguna" gumam Dinda
(Dinda) "owhh"
****
malam harinya.
Dinda dirumah, hanya dengan asisten rumah tangga. karna kedua orangtuanya sudah duluan di kediaman Chandraguna "kenapa gak keluarga mereka aja sih! yang datang ke sini!!" ucap Dinda kesal. sambil memakai gaun nya dengan perasaan penuh emosi.
(Dinda) "Gaun sialan!! kenapa sempit gini sih!! aduh...Ya tuhan..sesak banget gue. Bik Inah.. tolongin Gue dong" teriak Dinda kesal. Bik Inah pun segera menghampiri Dinda di kamar, dan mendapati Dinda sedang mencabik cabik gaun nya dengan kesal, "Bik gimana nih huhu..." ucap Dinda putus asa. bik Inah hanya tersenyum,
(Dinda) "hei bik gimana dong ni..kok malah senyum²" ucap Dinda lemas, bik Inah pun mulai membantu, dan beberapa saat kemudian. gaun nya sudah terpasang. Dinda pun heran, mengapa dia tidak bisa memasangnya, sedangkan bik Inah hanya butuh waktu 5 menit untuk membantu. "udah bisa non" jawab bik Inah sopan. Dinda pun meminta bik Inah untuk membuatkannya minuman dingin,
Dinda mulai memoles make up, dan menatap dirinya di cermin. "Apa gue dandan menor aja ya..biar tu kelurga Chandraguna ilfil bhahahahah" tawa Dinda sambil menahan sakit hatinya. bik Inah pun masuk membawa minuman yang diminta oleh Dinda, bik Inah hampir menjatuhkan gelas di tangannya. karna kaget melihat wajah Dinda "Busettt si non Dinda saya kira tadi setan" gumam bik Inah dalam hati, sambil menahan tawanya. Dinda pun melirik bik Inah sekilas dan langsung mengambil gelas di tangan bik Inah,
(Dinda) "segerrr" ucap Dinda setelah mengabiskan minuman nya. bi Inah pun permisi pamit, dan ketika di dapur bi Inah tak bisa lagi menahan tawanya, dan langsung tertawa terbahak bahak. sambil memegang perutnya yang kram karena tertawa.
di dalam kamar, Dinda sudah merenungi. "kalau gue dandan gini, ntar yang ada orang tua gue malu???.... Aaaaaaaaa tidak" Dinda segera mencuci wajah nya, dia kembali menghadapi cermin rias nya. Dinda menghapus sisa make up tebal yang dia pakai tadi menggunakan micellar, "ni muka udah di cuci tapi masih nempel aja sisa tadi" gerutu Dinda.
__ADS_1
seperti biasa, Dinda menggunakan fondation khusus untuk kulit glow. memakai sedikit maskara dan eyeliner, tak lupa softlens berawana hitam seperti mata boneka, Dinda memilih softlens no 4 yang besar. dan nampak lah di cermin sebuah wajah yang sangat cantik, dan mata boneka, dengan hidung yang mancung tanpa makeup buatan, lipstik berwarna merah muda.
Dinda pun berdiri dan beranjak ke cermin besar yang ada di kamarnya, Dinda memutar mutar tubuh nya di cermin, sambil tersenyum. "sempurna" Gumam Dinda