
Lampu tak kunjung menyala, membuat tubuh Syifa bergetar hebat. Dan ia merutuki kebodohannya karena ponselnya habis baterai.
"Hei tenanglah !, tidak akan ada apa-apa. Mungkin sebentar lagi lampunya menyala" ucap Varo dengan nada lembut, ia teringat dengan istrinya dulu yang begitu takut dengan kegelapan
"Aku takut. Hiks-hiks-hiks"
Tanpa sengaja Varo memeluk tubuh Syifa, supaya wanita itu berhenti ketakutan.
Tiba-tiba dari kejauhan, ada seseorang yang menyalahkan senter. Cahaya itu menyorot ke arah Varo dan Syifa.
"Kalian ngapain disini berdua ?" teriak salah satu pria yang tadi menyorotkan lampu senter ke arah Varo dan Syifa.
"Kami gak ngapa-ngapain pak, saya bekerja di kafe ini tapi karena hujan deras saya berteduh dulu" jelas Syifa. Yang langsung menjauhkan diri dari Varo
"Betul pak, kalau saya mobil saya mogok" sahut Varo.
"Alah kalian pasti ingin melakukan zina kan , ayo bapak-bapak kita bawa ke rumah pak Rt lalu kita nikahkan" balas bapak itu lagi
Sorakan dan tanda setuju dari warga lainnya membuta mata Varo membulat, masa iya ia akan di nikahkan dengan wanita yang tidak ia kenal hanya karena dirinya berteduh.
"Jangan asal tuduh pak, lagian kalian lihat kan kalau pakaian kami masih lengkap" kata Varo lagi.
"Sudah jangan banyak alasan, kalau bukan karena berbuat mesum buat apa kalian berdua disini, mana keadaan gelap lagi"
"Lah gimana gak gelap, orang mati lampu juga" gerutu Varo kesal
"Betul pak kata mas ini, tolong jangan tuduh kami yang macam-macam"sahut Syifa dengan nada bergetar.
__ADS_1
"Banyak alasan, ayo bapak-bapak bawa mereka !"
Warga itu langsung menyeret tubuh Varo dan Syifa menembus derasnya hujan, Varo dan Syifa berontak tapi tetap saja para warga itu tetap tidak memperdulikan penjelasan mereka.
Hingga saat tiba di rumah pak Rt, lampu baru menyalah. Seorang pria tegap yang memakai kaca mata menatap ke arah Varo dan Syifa yang saat ini sudah basah kuyup karena hujan.
"Kalian beneran tidak ngapa-ngapain disana ?" tanya pak Rt itu
"Betul pak, saya bekerja di kafe itu. Tadi saya mau pulang tapi karena hujan saya susah menemukan angkot" jawab Syifa sambil menangis.
"Lagian apa kalian tidak mengenal saya hah ?," bentak Varo menggema. Tapi para warga tidak memperdulikan ucapan Varo.
"Tapi mohon maaf ya, karena keputusan warga dan mereka melihat kalian berpelukan, maka dengan berat hati saya akan memihak para warga supaya menikahkan kalian"
Bola mata Varo membulat dengan sempurna. Yang benar saja ia di nikahkan dengan wanita asing. Dan yang paling memalukan lagi ia di nikahkan warga. Apa ini yang di sebut di gerebek.
"Saya tidak mau Pak, lagian saya gak kenal sama dia" kata Varo tetap menolak
*
Karena paksaan dan tak bisa menolak walau sudah menjelaskan semuanya. Varo dan Syifa tetap akan di nikahkan. Sekarang kedua orang yang tidak saling mengenal itu duduk bersebelahan dan di hadapan mereka ada seorang penghulu.
Sejak tadi air mata Syifa menetes dengan deras, kenapa kemalangan selalu menimpah hidupnya. Tidak kah ada sedikit kebahagiaan untuknya saat ini.
"Siapa nama ayah kamu ?" tanya Varo berbisik.
"Hairun Pratama" balas Syifa terisak.....
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Kanaya Syifa Pratama Binti Hairun Pratama, dengan mas kawin tersebut tunai"
Dengan sekali tarikan napas Varo berhasil mengucapkan ijab kabul, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya ikut menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa.
"Nah kan kalau sudah sah begini, silahkan kalau mau gelap-gelapan lagi" ujar warga tadi yang juga ikut menyaksikan pernikahan Varo dan Syifa.
Varo mengepalkan keduanya tangannya, kedua rahangnya mengeras menahan amarah. Seumur hidupnya ia tidak pernah memimpikan menikah karena paksaan warga.
"Brengsek" umpat Varo dalam hati.
*
Usia pernikahan paksa itu kini Varo dan Syifa menunggu di depan rumah pak Rt, tadi Varo sudah menghubungi Rio agar menjemput mereka. Hujan pun sudah reda.
Jika bagi orang lain kalau hujan itu adalah anugerah, beda dengan Varo karena kini ia menganggap hujan sebuah bencana untuknya.
Tidak berapa lama mobil Rio berhenti, saat turun dari mobil pria itu heran melihat banyak nya warga yang berkumpul disana. Dan yang lebih membuat Rio heran lagi adalah pakaian Varo sangat berbeda. Pria itu memakai kemeja putih tanpa di setrika dan celana dasar hitam yang sedikit kebesaran.
"Apa yang terjadi tuan ?" tanya Rio
"Nanti aku jelaskan, sekarang antarkan kami ke apartemen"
"Kami ?, maksud tuan semua orang ini ?"
"Ya enggak lah, saya dan istri saya"
"Hah, is-tri" Rio tergagap, perasaan tadi bos nya itu masih menyandang status duda, lalu kenapa sekarang Varo sudah menyebut istri. Begitu kira-kira yang ada di pikiran Rio.
__ADS_1
Sebelum Rio kembali berkata, Varo sudah menarik tangan Syifa untuk naik ke mobil. Mengabaikan teriakan warga yang mengatakan mereka berbuat mesum.
"Apa yang telah terjadi ?, kenapa warga disini kalau si bos berbuat mesum" batin Rio bingung.