
Siang harinya, setelah menyelesaikan kuliah Syifa kembali ke kosan. Ia terkejut saat melihat teman-teman kosannya berdiri di depan kosan. Bahkan disana juga ada Ibu pemilik kosan itu.
Buru-buru Syifa mendekat, ia takut telah terjadi sesuatu.
"Ada apa Dit ? kenapa kalian kumpul disini ?" tanya Syifa melirik satu persatu teman-temannya.
"Kenapa kamu pulang kesini lagi Fa ? bukankah kamu sudah mendapatkan tempat baru ?" Dita balik bertanya.
"Hah" Syifa terkejut "Maksudnya bagaimana ?"
"Tadi ada tiga pria yang datang kesini, dua pria mengambil seluruh pakaianmu sementara satu nya menunggu di mobil, dia menjelaskan kalau kamu sudah tidak tinggal disini lagi. Katanya kamu sudah ada apartemen sendiri" jelas Bu Yanti pemilik kosan.
"Kenapa kamu terkejut Fa ? tidak mungkinkan kamu tidak tau hal ini ?" Dita menatap Syifa penuh selidik.
"Nanti aku jelaskan, aku harus pergi dulu" Setelah mengatakan itu Syifa sudah berlalu pergi dari kosannya. Menghentikan tukang ojek agar mengantarnya ke apartemen Varo, ia yakin pria itu yang melakukan semua ini.
Tapi kenapa... ?
Bukankah Varo tidak mencintainya ?, Syifa sendiri pun tidak mencintai Varo. Karena kata cinta sudah Syifa buang jauh-jauh semenjak perpisahannya dengan Alfin.
Sementara itu di perusahaan. Varo tengah berdiri di dekat kaca jendela, menatap gedung-gedung menjulang tinggi yang bisa di lihat dengan jelas.
Varo membalikan tubuhnya, saat mendengar pintu ruangan terbuka..
"Bagaimana ? apa kau sudah berhasil melakukan tugasmu ?" tanya Varo pada Rio asistennya.
"Sudah tuan, barang-barang Nona Syifa sudah ada di apartemen"
"Bagus" Varo tersenyum membuat Rio sedikit terkejut karena selama ini ia jarang sekali melihat pria itu tersenyum bahkan hampir tidak pernah.
"Ini beneran tuan Varo kan ? sungguh sebuah mukjizat karena saat ini tuan Varo bisa tersenyum lagi. Aku berjanji akan menjaga Nona Syifa agar bisa selalu bersama tuan Varo". batin Rio merasa lega.
"Lalu apa kau bertemu dengan Syifa tadi ?" Varo kembali bertanya.
"Tidak tuan, kata ibu kos nya nona Syifa sedang kuliah"
"Oh" Varo berjalan menuju tempat duduknya. "Kamu boleh kembali keruangan" pinta Varo pada Rio.
__ADS_1
"Baik tuan" Sebelum pergi Rio membungkukkan tubuhnya.
Kini di ruangan itu tinggal Varo sendiri, senyumnya kembali mengembang saat pikirannya tertuju pada Syifa, apalagi saat mengingat kalau sekarang ia bukan seorang duda lagi.
"Entah perasaan apa ini, yang jelas aku ingin menjaga mu" gumam Varo kemudian.
Setelah mendengar dari Rio kisah hidup Syifa membuat Varo tidak ingin melepaskan wanita itu. Kisah hidup Syifa sama dengan almarhum istrinya yang tersakiti karena mertua perempuan. Entah dorongan dari mana Varo ingin menebus kesalahannya pada almarhum sang istri dengan menjaga Syifa.
Saat Varo sedang asik dengan lamunannya, tiba-tiba pintu ruangan kembali di buka di susul dengan kehadiran Rio.
"Ada apa lagi ? apa kau sangat betah berada di ruangan ku ?" ucap Varo dengan nada kesal.
"Maafkan saya tuan, saya mau mengabarkan kalau nona Syifa mengamuk di apartemen, nona Syifa ingin bertemu dengan tuan"
"Apa" Varo terkejut dan langsung berdiri dari duduknya. "Antarkan aku ke apartemen"
"Sekarang tuan ?" tanya Rio dengan bodohnya
"Tahun depan"
"Oh"
"Sekarang bodoh" kesal Varo pada Rio. Rasanya ia ingin menendang pria itu sampai pergi ke ujung dunia.
Sementara itu di apartemen, Syifa di pegang oleh kedua scurity. Syifa terus berontak untuk minta di lepaskan.
"Diam lah Nona ! atau tangan anda akan saya patahkan !" ancam scurity itu.
Syifa langsung terdiam, tapi tak ada yang menyangka kalau ucapan scurity itu di dengar oleh Varo. Pria itu berdiri tidak jauh dari sana.
"Berani kau melakukan itu, hidupmu akan saya patahkan dari sekarang" suara Varo menggema di udara membuat mereka semua menoleh.
Varo berjalan mendekat, dan menepis tangan kedua scurity itu agar melepaskan tangan Syifa.. Kemarahannya langsung memuncak saat melihat pergelangan tangan Syifa yang sudah berwarna merah.
Bug...
Bug....
__ADS_1
Tanpa semua orang duga Varo langsung memukul kedua scurity itu secara bergantian, membuat semua orang bingung dan bertanya-tanya.
"Tuan apa salah saya ? kenapa tuan memukul saya ?" salah satu scurity itu mengajukan pertanyaan.
"Diam !" bentak Varo "kalian pantas menerima semua ini karena sudah membuat tangan wanitaku terluka"
Deg..
Jantung Syifa berdetak sangat cepat, kata wanitaku yang di ucapkan Varo membuat perasaannya berbeda. Ada rasa bahagia yang Syifa rasakan. Tapi dengan cepat Syifa menepis semua itu.
"Maafkan kami tuan ! kami tidak tau kalau nona ini wanita kesayangan tuan"
Rio yang melihat kemarahan Varo, semakin yakin kalau pria itu mencintai Syifa.
"Tuan Varo benar-benar mulai membuka hatinya lagi, terima kasih nona Syifa karena sudah hadir di hidup tuan Varo". batin Rio.
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Varo langsung membawa Syifa memasuki apartemen, sementara Rio membubarkan semua orang yang masih berkerumun.
Rio juga memberi peringatan agar jangan ada orang yang membuat video atau sampai menyebarkan di sosial media.
"Lepaskan !" ucap Syifa menghempaskan tangan Varo yang sejak tadi menggenggam tangan nya, sekarang mereka berdua sudah memasuki apartemen.
Varo melepaskan tangan Syifa, ia berjalan dan duduk di sofa.
"Apa maksud mas Varo dengan membawa barang-barang ku kesini ? kan aku sudah bilang kalau aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini" kata Syifa yang kini sudah berdiri di dekat Varo.
Varo mendongakkan kepalanya, menatap wajah cantik Syifa dengan intens.
"Aku ingin pernikahan kita lanjut" balas Varo yakin.
"Tapi aku tidak mau"
"Kenapa ?"
"Kamu orang kaya dan aku yakin keluarga kamu tidak akan menyukaiku, pasti kalian akan menghina dan selalu menyiksaku" tubuh Syifa bergetar saat mengatakan itu, dan Varo dapat melihatnya. Ia yakin kalau Syifa memiliki trauma.
"Jadi tolong lepaskan aku !" mohon Syifa dengan suara bergetar.
__ADS_1
Varo mendekat, ia mengelus kepala Syifa dengan lembut karena saat ini wanita itu berjongkok di hadapan Varo. Sudut hati Varo terasa perih saat mendengar ucapan Syifa.
"Aku akan menjagamu, percayalah ! tidak akan ada orang yang bisa menyakiti kamu" ucap Varo meyakinkan