
Jika Syifa pikir kehidupan mantan suaminya bahagia, itu salah besar. Nyatanya pria itu begitu menderita dengan hidup yang ia jalani sekarang, ia layakan seperti boneka yang siap di bawah kemana-mana.
"Mau kemana lagi kamu ?." Tanya Mama Rini saat melihat menantunya sudah berpakaian rapih.
Citra berbalik, tatapannya begitu sinis saat menatap mertuanya "bukan urusan Mama" Jawab nya ketus.
"Tentu saja ini menjadi urusan saya, kamu itu istri anak saya, harusnya kamu urus suami kamu bukan malah keluyuran setiap hari."
"Ngurusin Mas Alfin ?" Citra tertawa mengejek "Dia aja gak pernah mau ngurusin aku, hampir setengah tahun pernikahan kami, tapi dia tidak pernah menyentuh aku sedikitpun." Teriak Citra menggema.
Mama Rini menutup mulutnya terkejut, ia tidak menyangka kalau Alfin belum pernah menyentuh Citra, pantas saja menantunya itu tak kunjung hamil padahal Mama Rini sudah begitu mendambakan seorang cucu.
"Mama tidak percaya dengan ucapan mu, anakku tidak mungkin seperti itu" Bantah Mama Rini.
"Terserah, aku pun tidak butuh kepercayaan Mama." Setelah mengatakan itu Citra langsung berlalu dari hadapan Mama Rini.
Teriakan demi teriakan Mama Rini tak di hiraukan oleh wanita cantik berbalut dress ketat itu, karena kini Citra sudah berada di ambang pintu utama.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Alfin menyaksikan semua itu. Pria itu berdiri di dekat tangga di lantai dua. Ada perasaan sakit yang tak bisa ia jelaskan sekarang.
Memang begitu kenyataannya, sampai saat ini ia belum pernah menyentuh Citra sedikitpun. Rasa cintanya pada Syifa lah yang membuatnya seperti ini.
Alfin meninggalkan tempatnya dan masuk kembali ke kamar, di buka ponselnya untuk melihat foto Syifa. Sebuah foto yang selalu ia simpan tanpa sepengetahuan Citra dan Mamanya.
"Kamu dimana Fa ?, aku ingin ketemu anak kita dan minta maaf sama kamu." Gumamnya dengan suara serak.
Enam bulan bukan waktu yang mudah untuk Alfin lewati, ia harus berjuang melawan semua rasa rindu dan rasa bersalahnya pada Syifa...
"Apa sekarang kamu udah dapat pengganti aku Fa ?." Kembali ia bergumam. Telapak tangannya ia letakkan didada saat merasakan sesak.
Dengan gerakan cepat Alfin menghapus buliran air mata yang mengalir di pipinya. Ia menoleh ketika pintu kamar terbuka. Nampak sang Mama sudah berdiri di ambang pintu.
"Fin, Mama mau bicara sama kamu." Ucap Mama Rini tanpa menatap mata Alfin yang sembab.
"Bicara apa lagi Ma ?."
__ADS_1
"Apa benar kalau kamu belum pernah menyentuh Citra ?."
Alfin menghela napas panjang, kakinya melangkah menuju balkon kamar. Mama Rini mengikuti langka kaki putranya.
"Jawab Mama, Fin !." Teriak Mama Rini.
"Iya." Jawab Alfin singkat.
"Kenapa kamu lakukan ini ?, kamu tidak mau ngasih Mama Cucu ?. Mama ini sudah tua Fin, mama ingin gendong Cucu."
Alfin tersenyum singkat. "Mama lupa dengan anak Alfin dan Syifa ?. Dia itu cucu Mama loh."
"Mama gak lupa Fin. Tapi dimana dia sekarang ?, kamu aja gak tau keberadaannya. Udah lah kamu lupain aja Syifa sama anaknya dan hidup bahagia sama Citra."
"Kebahagiaan ku udah hilang Ma sejak Syifa pergi, jadi sampai kapanpun aku gak mungkin bisa bahagia lagi, dan ini semua gara-gara Mama."
Mama Rini geram mendengar ucapan putranya, selama ini ia sudah melakukan berbagai cara supaya Alfin bisa melupakan Syifa dan anaknya. Namun nyatanya dari semua yang ia lakukan belum bisa membuat Alfin lupa.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Mama Rini pergi meninggalkan Alfin, namun dalam hati ia berkata.
"Jika kamu tidak mau menyentuh Citra, Mama yang akan turun tangan untuk membuatmu terlena walau hanya satu malam".