
"Tunggu." Ucap Syifa saat melihat Rio hendak beranjak pergi lagi.
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu ?." Tanya Rio sembari menatap Syifa.
"Emmm, boleh aku tau kenapa Mas Varo bersikap seperti itu pada Mama nya ?."
Rio terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Syifa, ia bingung haruskah ia menceritakan semuanya pada Syifa bagaimana kisah masa lalu Varo.
"Kalau mas Rio tidak mau cerita tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa." Kembali Syifa berkata, ia merasa terlalu lancang untuk mengetahui kisah masa lalu sang suami, mengingat hubungan mereka baru saja terjalin.
Terdengar tarikan napas panjang dari Rio, pria itu pun berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
"Mungkin memang nona Syifa harus tau bagaimana masa lalu tuan Varo" Ucap Rio membuat Syifa berjalan mendekat. Wanita cantik itupun ikut duduk di sofa yang berada di seberang Rio.
"Dulu pernikahan Tuan Varo dengan Nona Bianca tidak mendapat restu dari nyonya Firda. Hingga setiap hari Nona Bianca di siksa oleh Nyonya dan tanpa sepengetahuan tuan Varo."
Rio mulai bercerita, pandangannya lurus kedepan seolah-olah sedang mengingat kembali kisah hidup Varo saat itu.
"Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan nyonya Firda akhirnya Nona Bianca bunuh diri dengan cara menggantung tubuhnya di balkon kamar."
Syifa menutupi mulutnya karena terkejut mendengar cerita itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan sang suami saat itu.
"Tuan Varo terpukul dan hancur, disaat kematian nona Bianca, dia juga mengetahui semuanya melalui secarik kertas yang di tulis nona Bianca."
"Dari sana Tuan Varo begitu membenci Nyonya Firda hingga memutuskan keluar dari rumah utama dan membeli apartemen ini. Tuan Varo sangat mencintai nona Bianca jadi sangat sulit baginya menerima kenyataan itu."
"Makanya tadi saat tau kalau Nyonya Firda kesini, tuan langsung pulang. Ia khawatir dengan nona, beliau tidak ingin sesuatu terjadi pada nona."
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Syifa menetes begitu saja, bukan karena mendengar cerita tentang Bianca tapi saat mendengar kalau Varo takut terjadi sesuatu pada dirinya.
Entah kenapa ada perasaan hangat yang Syifa rasakan. Ada secarik kebahagiaan yang tiba-tiba muncul di hatinya. Apa mungkin saat ini Varo mencintainya.
Ah, Syifa tidak ingin terlalu berharap lebih, ia tidak ingin perasaannya sama seperti dulu lagi saat ia mencintai Alfin.
"Tolong jaga tuan Varo, nona !. Karena sekarang setelah bertemu anda, tuan Varo sudah kembali ceria" Ucap Rio sembari beranjak dari duduknya.
Syifa tak menjawab, ia masih mencerna ucapan Rio barusan.
Menjaga Varo ?..
Haruskah ia mempertahankan pernikahan paksa ini ?..
*
*
*
Ceklek..
Ketika pintu terbuka hal pertama yang Syifa lihat adalah sosok sang suami yang sedang memakai baju, sepertinya pria itu baru saja selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.
"Mau istirahat ?." Tanya Varo dengan suara lembut.
Syifa tak menjawab apapun, matanya terus menatap wajah sang suami.
__ADS_1
"Terima kasih karena peduli padaku, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku." Ucap Syifa, kepalanya menunduk.
Usai memakai baju, Varo segera berjalan mendekati istrinya.
"Aku suamimu, sudah sepantasnya aku mengkhawatirkan kamu."
Kepala Syifa terangkat, kembali memberanikan diri menatap wajah sang suami.
"Pernikahan kita di selenggarakan karena terpaksa mas, tapi selama ini kamu bersikap baik padaku. Apa mas tidak ada niat untuk mengakhiri pernikahan ini ?"
"Pernikahan kita memang di adakan karena sebuah keterpaksaan, tapi sedikitpun aku tidak ada niat untuk menceraikan kamu, dengar !. Setelah kata SAH terucap oleh saksi malam itu, aku memiliki tanggung jawab padamu yang akan aku pertanggung jawabkan pada tuhan di akhirat nanti".
Seketika air mata Syifa menetes dengan deras. Ia tidak menyangka Varo begitu tulus menjalani pernikahan paksa ini. Padahal ia hanyalah seorang janda yang berasal dari desa.
"Tapi mas kan tidak mencintaiku, bagaimana bisa mas bisa seiklas itu menerima pernikahan ini ?." Ucap Syifa dengan suara serak karena menahan tangis.
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dan terbukti sekarang aku sudah mencintaimu" Kedua tangan Varo meraih tangan Syifa.
"Aku ingin kamu mau jadi istri terakhir ku, jika kamu belum bisa mencintaiku, biarkan aku berusaha untuk menumbuhkan rasa itu." Ungkap Varo dengan setulus hati.
Tangan Syifa bergetar, detak jantungnya berdetak begitu cepat. Entah apa yang ia rasakan saat ini, terharu bercampur bahagia pastinya.
"Makasih mas, makasih atas semuanya. Aku akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu"
Bibir Varo langsung melengkung membentuk senyuman, ia begitu bahagia mendengar ucapan Syifa barusan.
"Jadi kamu mau menjalani rumah tanggan kita ini ?." Tanya Varo.
__ADS_1
Dengan malu-malu, Syifa menganggukan kepalanya. Dan lagi-lagi Syifa tersenyum.
"Terima kasih sayang, aku berjanji akan menjagamu dan membuatmu selalu bahagia." Tanpa menunggu jawaban Syifa, Ia langsung memeluk tubuh Syifa dengan erat.