
Setelah asisten Arav pergi. Dengan terpaksa Anta melepas sepatu dan dasi yang masih dipakai suaminya.
"Tidak mungkinkan aku membantunya membersihkan tubuh serta mengganti baju" kata Anta lalu membalikkan tubuhnya untuk tidur di sofa.
Namun baru satu langkah grep tubuhnya ditarik dan dipeluk dalam dekapan Arav "kya!!!" pekiknya.
Arav tersenyum kegirangan dalam hati dengan masih berpura-pura tertidur dengan memejamkan mata.
"Tidur aja bisa mesum" kesal Anta sambil bergerak melepaskan diri dari pelukan Arav, namun tidak bisa.
Waktu berlalu kelopak mata yang terbuka terasa berat dan akhirnya tertidur dalam pelukan Suaminya.
**
Keesokan harinya. Anta terbangun sendirian. di kamarnya "eh.. dimana dia?" entah kemana perginya sang Suami yang biasanya sulit disingkirkan tapi ini dengan sendirinya menghilang.
Ah.. kenapa mikirin dia sih.. gumamnya lalu beranjak menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Anta telah siap dan bergegas berjalan menuju area parkir.
"Lama nunggunya Pak Jono?"
"Lumayan Non cantik sampek lumutan ini hehe"
Anta segera masuk ke dalam mobil sambil duduk di jok belakang.
"Santai aja Non.. saya setia nungguin" katanya dengan tangan sibuk mengoprasikan mobil.
Mobil melaju di jalan raya.
Tak berselang lama mobil berhenti di perkampungan Durian. Anta turun dan diikuti Pak Jono.
"Mari Non saya antar ke rumah Mak Siti"
"Ya Pak" jawab Anta
Setelah melalui gang sempit Anta dan Pak Jono telah sampai di rumah Mak Siti.
"Selamat pagi" sapa Anta dengan menangkupkan tangan di depan dada.
"Selamat pagi Neng Cantik"
"Saya Anta"
"Saya Mak Siti Neng Can, silahkan"
__ADS_1
Beberapa Ibu-ibu yang kebetulan ada di rumah Mak Siti ikut serta duduk karena penasaran. "Eleh-eleh cantik tenan.. calon mantu ya Mak?" tanya mereka penasaran.
"Hus.. ngaco, tapi kalau Neng nya mau ya Mak seneng banget"
"Maunya Mak iki" obrol mereka.
Anta yang mendengarkan para Ibu-ibu ikut tersenyum saja.
"Kenalin ini Neng Can alias Neng Anta yang saya ceritakan tadi, kedatangan nya untuk mencari para penjahit, jadi Neng Anta ini bakal jadi bos kita"
"Walah.. udah cantik pinter pisan, mantu idaman ini" kata salah satu Ibu-ibu dengan mata berbinar.
"Sebaiknya Ibu-ibu jangan ngarep ya.." sela Pak Joko "Neng Can ini Istri dari Tuan muda pewaris Group Abelard" kata Pak Joko dengan berapi-api karena tidak terima Istri majikannya bakal di taksir orang.
"Walah.. belum berjuang udah kalah telak ini, saingannya berat gak kuat gak selevel" para Ibu-ibu yang semula bersemangat karena ada niatan menjadikan Anta mantu gagal sudah.
"Iya.. cantik begini pantes Tuan muda Abelard kepinyut to Mak"
"Hus.. ini pada kenapa? semangat banget cari mantunya.. belum tentu juga Neng Can mau sama anak kita kan? Ayo kita bahas kerjaan aja! yang pasti-pasti aja" kata Mak Siti mengingat kan.
"Namanya juga usaha.. ya kan ibuk-ibuk"
Dan di angguki sama yang lainnya
Para Ibu-ibu melihat gambar desain dan mereka manggut-manggut mengerti.
Anta mengeluarkan pola kertas dan kain yang telah dipotong beserta contoh baju yang telah jadi. Anta menjelaskan dengan sabar. Lalu memilih mereka berdasarkan keahlian masing-masing dalam penempatan kerja di bidangnya.
Bagaimana pun Anta mengambil para Ibu-ibu yang kebanyakan dari mereka sudah tidak diterima lagi bekerja dimana-mana, karena lanjut usia. Sedangkan mereka membutuhkan penghasilan untuk kebutuhan ekonomi keluarga mereka. Dan terlebih lagi pekerjaan yang Anta tawarkan bisa mereka kerjakan di rumah masing-masing sehingga lebih efisien tentunya.
Setelah semua selesai. Anta dengan dibantu Pak Jono mengeluarkan bahan dan alat. Dan kerja akan dimulai keesokan harinya.
Anta sangat bersyukur, usaha yang dulu dirintisnya semakin berkembang dan membutuhkan tambahan karyawan. Usaha yang ia jadikan penopang hidup saja.. kala itu, lantaran statusnya sebagai Istri yang tak jelas nasibnya kini, usaha tersebut semakin berkembang.
Semburat warna merah nampak di langit sebelah barat. Anta dan Pak Joko berpamitan pulang sebelum langit berubah menjadi gelap.
Para Ibu-ibu mengantar kepergian Anta hingga badan mobil tak terlihat lagi oleh pandangan mata mereka.
Sesampainya di rumah Anta berjalan menuju kamar mandi, tak lama kemudian ia selesai, berjalan keluar memeriksa handphone yang berada diatas nakas.
Ada sepuluh pesan dan lima belas mise call. Satu pesan dari Nenek dan dua mise call sedangkan delapan pesan dan empat belas panggilan dari nomer tak dikenal.
Anta menekan tombol hijau.
"Halo sayang.." sapa seseorang yang nampak di layar handphone.
__ADS_1
"Halo Nek.. Anta kangeeeeen"
"Makanya pulang, gimana kabarnya cucu tercintanya Nenek"
"Baik Nek"
"Anta belum bisa mengunjungi Nenek untuk saat ini maaf ya Nek.."
"Iya" jawab Nenek dengan raut muka di buat-buat seolah sedih namun langsung berubah dengan tawa membahana "hahaha"
"Ih.. Nenek mah" kata Anta dengan bibir manyun.
Deru suara mobil terdengar dari arah luar gawat ini.. Tuan mesum sudah pulang jangan sampai mereka ngobrol kayak waktu itu.
"Nek.. Anta mau kebelakang dulu ya.. kebelet ini.."
Tut. Tanpa menunggu jawaban Anta mematikan panggilan telp nya.
Anta menyembunyikan handphone di belakang tubuhnya dengan tubuh mematung berdiri menghadap pintu.
Tubuhnya terasa kaku karena Arav sudah sampai di depannya.
"Suamimu ini baru pulang kok gak di sambut sayang.. malah diam" sambil memencet hidung Anta.
"Apaan!" memukul tangan Arav "kita gak sedekat itu ya.. jangan pegang-pegang"
"Gak dekat ya?" Arav menyerahkan tas kerja pada asistennya, tangannya bergerak menggulung kedua lengan kemeja melambaikan tangan sebagai perintah meninggalkan Mansion lalu mencondongkan tubuh sambil berkata "gak dekat kok nyambut nya gini.." mengarahkan tangan mengelus perlahan paha Anta yang terlihat menggoda.
"Kya!!! plak!" pekik Anta sambil memukul Arav berlari menuju kamarnya "brak!!" bunyi pintu terbanting dengan keras.
"Hahaha" tawa Arav berjalan santai menuju kamar Anta Istrinya.
"Kriet" Arav membuka pintu kamar Anta.
"Mau apa Tuan kemari? anda tidak amnesia kan? kamar Tuan kan ada disebelah" sambil menunjuk posisi letak kamar Arav.
"Enggak!"
"Ini kamar saya lo Tuan?"
"Tau kok, makanya aku kesini.. Istri aku kan disini" sambil melepas dasi dan kancing baju satu persatu.
"Jangan macam-macam ya!" sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Arav berjalan melangkah maju sedangkan Anta memejamkan mata ketika posisi keduanya tinggal sejengkal saja. Namun setelah menunggu lama, em gak ada reaksi dari Arav ya.. gumamnya dalam hati lalu membuka mata dan ternyata tidak ada siapa-siapa disana namun, terdengar gemericik air mengalir sebagai tanda bahwa Arav tengah mandi.
__ADS_1