Suami Tak Sepahit Mantan

Suami Tak Sepahit Mantan
11


__ADS_3

Anta berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali berhenti berjalan sambil melihat penampilannya yang menurutnya biasa saja, tapi kenapa? "ah.. apa karena kemeja yang aku pakek sekarang?"


"Aku takut tidur dengan nya, jika Tuan mesum tergoda gimana? oh.. no, big no!!!"


Anta semakin gelisah memikirkan cara agar Arav tak jadi tidur dengannya. Ia masih berjalan mondar-mandir dengan memikirkan solusi apa yang harus dilakukan.


Grep. Tubuh Anta dipeluk dari belakang.


Tubuh nya kaku tidak bisa digerakkan dengan mata melotot karena terkejut.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja" kata Arav dengan mata terpejam sambil menyandarkan dagu di bahu Anta.


"Kenapa gini sih? harusnya aku marah kan?" keluhnya karena berhati lemah liat orang memelas jadi kasihan akhirnya.


Lima menit kemudian Arav melepaskan pelukan menggendong Anta menuju ranjang. Anta melingkarkan tangan di leher Arav karena takut terjatuh.


Kenapa aku ngikut aja diperlakukan kayak gini?


"Bisa lepaskan saya Tuan?"


"Kenapa? kita ini suami-isteri Wulan.. aku gak akan nyakitin kamu!"


"Maaf.. bukankah pernikahan kita hanya sebatas kontrak Tuan?"


"Iya Wulan, aku salah.. telah mengabaikan mu dan tidak menerimamu waktu itu, maaf?" pintanya dengan raut muka tulus.


"Maaf? saya bisa memaafkan anda namun.. tidak dengan luka dalam hati dan kepercayaan saya yang telah hilang, itu tidak mudah." Anta menghela nafas sejenak lalu berkata "bukannya anda sudah punya kekasih? lantas kenapa sekarang memperlakukan saya seperti ini?"


Arav tersenyum "kamu tau dari mana?"


"Dari percakapan kalian" jawab reflek Anta lalu membekap kedua mulutnya dengan kedua tangan.


Aduh bisa ketahuan kalau ngintip waktu itu.. kenapa bisa keceplosan sih..


Arav menaikkan sebelah alisnya belum mengerti apa maksud Anta. "Apa maksudmu!"


"Maksudku.. ne nebak aja, kan anda meninggalkan saya setelah menikah dan mengucapkan janji suci juga dengan virtual jadi.. aku mikirnya pasti kamu punya kekasih ya kan?"


Arav memencet hidung Anta dengan gemas "ya aku punya kekasih dan itu kamu" katanya sambil memeluk Anta dengan erat.


"Tuan lepasin!"


"Enggak Anta, ayo tidur.!" sambil berjalan menuju ranjang dengan Anta berada dalam gendongan.

__ADS_1


"Kita Suami Isteri palsu gak seharusnya begini?"


Arav bernafas dengan kasar "kamu lupa perjanjian kita? mau ku hukum hem.."


Anta seketika terdiam karena teringat hukuman macam apa yang Arav maksudkan.


"Good girl" ucapnya dengan memejamkan mata tertidur dengan memeluk Anta dari belakang.


Anta berusaha lepas dari pelukan Arav. setelah melihat Arav tertidur dengan nyenyak ia kegirangan. Namun nyatanya.. setelah berusaha lepas dari pelukan Arav "tidur aja pelukannya erat banget! aish.." keluhnya. Anta akhirnya menyerah, lambat laun kelopak matanya terasa berat. Keduanya kembali tertidur bersama di ranjang yang sama pula.


**


Anta terbangun karena sinar matahari jatuh mengenai penglihatannya. Kelopak matanya mengerjap dan akhirnya terbuka.


"Sudah bangun?"


"Hah!" kagetnya lalu terduduk tiba-tiba terkejut karena Arav masih disisinya.


"Ini bukan malam pertama kita tidur di ranjang yang sama, kenapa kaget gitu sayang.."


Anta hanya terdiam saja, namun ketika matanya menangkap jam yang tergantung di dinding ia bergegas bangkit lalu berlari menuju kamar mandi.


Sebelum keluar kamar mandi kepalanya keluar melihat kiri kanan, akhirnya ia bernafas lega karena lupa bawa baju ganti sehingga hanya handuk pendek saja yang ia kenakan.


Kemudian ia keluar dengan handuk yang hanya menutupi gundukan atas dan setengah tubuhnya hingga setengah paha saja.


Sedangkan Anta yang tengah bergegas berganti pakaian tidak menyadari jika Arav tengah melihatnya.


"Kamu goda aku ya.. sayang?" Arav beranjak berjalan mendekati Anta yang tengah mengancingkan bajunya.


"Kya!!!" pekiknya karena terkejut luar biasa. "Ti ti dak, kamu kenapa bisa disini!" tanya Anta dengan terbata gugup luar biasa, "lepasin pelukannya! saya buru-buru ini, please!" mohonnya dengan mata berbinar penuh harap.


"Ok tapi gak gratis ya.. harus ada imbalannya karena sudah godain aku tapi gak tanggung jawab"


"Ok!" kata Anta menyetujui agar urusan selesai segera pikirnya.


Anta duduk di depan cermin, menyisir rambut, setelah selesai ia pergi keluar. Dan Arav dengan seksama mengamati segala perilaku Anta dengan posisi berdiri bersandar di dinding dengan posisi tangan bersedekap di dada.


"Ingat janjimu!" kata Arav memperingati.


"Ya" jawabnya sambil berlari keluar kamar meninggalkan Arav sendirian disana.


Arav yang mengenakan baju tidur kimono berlari mengejar Anta lantaran sadar jika baju yang dikenakan Istrinya mengundang bahaya.

__ADS_1


Tinggi badan yang berbeda akhirnya Arav berhasil mengejar Anta. Ia meraih tangan Anta sehingga keduanya berdiri dengan berhadapan "apa kamu kuliah mengenakan pakaian seperti ini?"


"Ya" jawab Anta "Anda kan tau jika pakaian ku hilang semua" sindirnya pada Arav yang pastinya, pelaku utama hilangnya seluruh pakaian nya.


"Ah.. lupa aku kalau pakaian butut Wulan aku buang semua, pantas aja dari tadi yang ia kenakan adalah kemeja punyaku, aku kira ia sengaja godain aku dengan memakai kemeja ku" rutuk Arav dalam hati.


Anta mengenakan kemeja Arav, sebagai pelengkap ia memakai sabuk mutiara di pinggangnya ditambah rambutnya yang ia cepol ke atas.


"Sudah kubilang bahwa aku tergoda dengan penampilanmu" meraih pinggang Anta dan menggerakkan tangan satunya mengelus paha Anta.


"Arav!!! bajingan kamu!! sambil memukul-mukul tubuh Arav dengan kedua tangan dan langsung memanggil nama bukan Tuan seperti biasanya.


"Kamu mau keluar dengan pakaian seperti ini ha.. mau godain siapa?!!"


"Terserah aku mau apa! aku bukan Istrimu Arav!!!"


"Kamu Istriku, sampai kapan pun kamu Istriku!!!


"Aku tidak mau!!!


"Apa!!!, katakan sekali lagi Wulan!"


"Aku tidak mau menjadi Istrimu!!!"


"Kyaa!!!" pekik Anta karena tubuhnya terangkat ke atas dibopong Arav menuju kamarnya. Arav melempar tubuh Anta ke ranjang dengan kasar "brak-brak!!!"bunyi pukulan mengenai dinding atas ranjang hingga tangan Arav berdarah.


Anta yang melihat perilaku Arav semakin takut "hiks" tangisnya.


Arav tersadar setelah mendengar kan isak tangis Istrinya. Ia berjalan mendekati Anta "jangan dekat-dekat" kata Anta dengan nada ketakutan.


Arav yang melihat ketakutan Anta pada dirinya hatinya berdenyut nyeri. Lalu menarik Anta memeluknya dengan erat meskipun ia memberontak minta dilepaskan.


"Maaf.. maaf.." katanya.


Arav melepaskan pelukannya setelah tidak ada penolakan Anta yang menandakan ia telah tenang.


Pandangan Anta yang mengarah ke bawah tanpa sengaja melihat darah yang mengalir pada luka Arav. Anta berdiri dan pergi namun segera kembali dengan kotak p3k di tangannya.


Dengan cekatan ia membersihkan, mengobati dan terakhir membalut luka Arav.


Arav tersenyum melihatnya "terimakasih" ucapnya.


Anta tersenyum dengan menatap wajah Arav untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Pertengkaran hebat keduanya nampaknya mengikis jarak diantara keduanya. Arav melihat sikap Anta yang sedikit berubah padanya. Ia bahagia karena menyadari perubahan Anta Istrinya.


"Sudah" kata Anta sambil


__ADS_2