Suami Tak Sepahit Mantan

Suami Tak Sepahit Mantan
08


__ADS_3

Dibelahan lain. Arav tengah berkutat di depan layar mendengarkan dengan seksama presentasi salah satu petinggi perusahaan.


Rahangnya mengeras karena keganjilan laporan yang di utarakan yang berakibat fatal pada perusahaan diambang kebangkrutan lantaran masalah internal perusahaan.


Brak! prang! Arav melempar laptop didepannya bahkan hampir mengenai pemapar yang menyampaikan data di depan.


"Saya tidak mau tau! besok bawa tikus-tikus yang menyebabkan kekacauan menghadap padaku!." katanya lalu beranjak pergi meninggalkan ruang rapat.


Para peserta rapat yang berada di dalam ruangan menggigil ketakutan.


Meskipun usia yang terbilang masih muda namun kekejamannya mampu membuat siapa saja bergidik ketakutan. Lantaran sepak terjangnya dalam dunia bisnis yang tak diragukan semua kalangan.


Kemarahan Arav semakin memuncak ditambah dengan sikap Istrinya yang sampai sekarang masih belum menerimanya dan memaafkan kesalahannya.


Dan berakibat pada para karyawan yang menjadi pelampiasan.


Kali pertama bagi Arav mendapati perusahaan yang ia pegang di ambang kebangkrutan.


Sebelum nya karena masalah dengan sang Kakek yang terus menerus mendesaknya untuk menikah, membuatnya uring-uringan lantaran sang kekasih belum diketahui dimana berada. Namun sekarang berbeda setelah ia menemukan gadis pujaannya yang ternyata adalah Istrinya sendiri hingga membuat perusahaan nya juga goyah karenanya.


Kala itu pernikahannya terjadi secara sembarangan pula berikut dengan calon Istrinya. Bahkan wajah sang gadis belum ia ketahui sama sekali begitu juga dengan identitas nya. Karena ia menganggapnya tidak penting sama sekali.


Semua terjadi secara mendadak karena kesehatan sang Kakek dan ancaman kematian yang dilontarkan Kakeknya yang membuat ia mengambil langkah impulsif yang secara kebetulan, Brama Alexander laki-laki yang menjadi mertuanya sekarang memiliki pinjaman yang tak sedikit padanya.


Dengan memanfaat kan hal itu ia meminta putrinya untuk dijadikan sebagai isteri sementara, sebagai pelunas hutang dan imbalan uang dengan jumlah fantastis tentunya dan itu bukan masalah bagi Arav.


Arav yang beranjak dari ruang kerja berjalan menuju kamar Anta. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya bahwa perusahaan yang berada di Amerika terjadi masalah serius disana. Membuatnya harus terbang menuju Amerika bahkan tanpa sempat bertemu dengan gadis yang sekarang menjadi Isterinya.


"Gak apa-apa juga kan? gak nemuin dia toh dia nikah sama gue juga juga ada imbalannya, demi uang pastinya." kata Arav kala itu.


Karena ketidakpedulian nya kini menyisakan rasa sesal dalam hati lantaran penolakan sang Istri padanya.


________


Keesokan harinya.


Anta terbangun dengan penuh semangat. Ia bergegas ke bawah untuk memasak. Namun ada yang berbeda kali ini karena makanan telah tertata di atas meja.


Anta yang melihat meja makan penuh dengan makanan langsung saja duduk dan memakan nya.


"Bik Pak Koki kemana? pagi sekali tumben sudah matang?" tanya Anta pada salah satu pelayan.


"Tengah malam, Pak Koki mendapat kabar bahwa Putrinya sakit oleh karena itu beliau masak lebih awal dan sekarang telah berangkat pulang."


"Ow.. begitu, semoga Putrinya cepat sembuh" doaku.


"Amin.." kata bibik ikut mendoakan.


"Ini kenapa manggilnya pada ngikut Pk Koki semua?" tanya Anta.


"Ya.. gak kenapa-kenapa Non?" kata salah satu pelayan dengan saling lempar senyum diantara rekan.


Anta melihat interaksi diam-diam mengeryit heran karena tingkah para pelayan yang aneh menurutnya. Tidak tau saja Anta, bahwa mereka semua meniru segala tindakan Anta karena katanya fans girl Nona mereka, namun para pekerja malu untuk mengakuinya.


"Sini semua.. ikut makan.. Anta gak akan bisa habis dengan makanan sebanyak ini" pintaku pada para pekerja disana."


"Jangan lah Nona ini tidak pantas" jawab mereka.

__ADS_1


"Tidak pantas apanya.. saya hanya sendiri di rumah, oleh karena nya ayo makan bersama. Kecuali jika nanti Tuan muda kalian telah kembali." bujuk ku pada para pelayan di sini.


"Ehem.." semua yang berada disana menoleh ke arah suara yang ternyata adalah Tuan mereka.


Arav merasa kesal sebenarnya lantaran Istrinya tidak pernah memperlakukan nya begitu hangat seperti para pekerja di Mansion Nya.


Dante menarik kuris mempersilahkan Arav duduk. Arav duduk di kursi sebelah Anta membungkuk mencium pipinya lalu melambaikan tangan dan semua orang pergi dari sana.


Mata Anta melotot marah.


"First kiss sayang.. masih marah?" tanyanya.


Anta terdiam dengan mulut manyun ke depan.


"Ambilkan aku makan sayang.. atau ku cium lagi sebagai hukuman?"


"Apa maksudmu?" tanya Anta dengan geram.


"Sesuai kontrak poin ke 4, apa kamu lupa?" kata Arav dengan senyum menyeringai.


Anta terdiam mengingat isi perjanjian pra-nikah sial umpat nya setelah mengingat isi perjanjian.


Dengan terpaksa ia melayani Arav makan. Arav makan dengan lahap makanan hasil masakan Istrinya, ia tersenyum senang lantaran bisa membuat patuh Istrinya ya.. meski dengan ancaman.


Melihat Anta yang masih marah dan tak mau makan Arav menyodorkan sendok menyuapi Anta dan kembali mengancamnya.


Alhasil keduanya sarapan bersama untuk pertama kalinya.


**


Setelah selesai sarapan Anta berangkat menuju Kampus dengan diantar sopir. Setibanya ia di kampus Anta bergegas memasuki ruangan dimana kelasnya berada.


Anta yang tak sengaja menoleh ke kanan terkejut dengan salah satu mahasiswa yang menatapnya dengan intens.


Ini kan petugas administrasi, apa kami sekelas kata Anta dalam hati. Anta kembali melihat ke depan dimana dosen nya tengah menjelaskan materi.


Tanpa sadar Anta kembali menoleh, sekali, dua kali, tiga kali dan entah berapa kali tapi petugas administrasi masih dengan posisi sama melihat ke arahnya.


"Aku kan risih tau" batin Anta lagi.


Entah sudah kesekian kali Anta berusaha positif thinking mungkin lehernya kesleo makanya liat sini terus dan berbagai alasan yang Anta pikir kan namun sama saja, akhirnya ia gak tahan juga.


"Dosennya di depan Pak? bukan di saya" kata Anta dengan berbisik.


"Tau kok" jawabnya dan membuat Anta semakin jengkel saja.


"Tau ah gelap" kata Anta pada dirinya sendiri dan melihat ke depan berusaha konsentrasi.


Biasanya gue tahan banting, ini kenapa diliatin satu orang aja bisa kayak gini gue, oleng. keluh Anta pada dirinya.


Satu jam akhirnya berlalu. Begitu juga dengan Pak Administrasi yang dari tadi terus mantengin Anta.


Anta keluar kelas menuju kantin. Perutnya terasa keroncongan lapar.


Sesampainya ia di depan kantin semua pandangan mengarah padanya membuat Anta heran "kenapa ini kok pada liatin aku" kata anta pada dirinya sendiri.


Dan akhirnya ia sadar ternyata pandangan semua orang sebetulnya tidak mengarah padanya tapi pada orang di belakangnya. Anta mendesah pelan lalu melanjutkan langkah menuju bangku kosong dan duduk disana.

__ADS_1


"Pak.. jangan duduk disini" kata Anta.


"Jangan panggil Pak dong tik, kesannya udah tua ini"


"Biarin.. Anda juga panggil saya Tik"


"Ok ok perkenalkan namaku Briant Tik cantik" sambil mengulurkan tangan.


Anta melihat uluran tangan Briant namun ia tetap aja diam.


Briant yang dicuekin lagi-lagi terkekeh pelan "Hahaha.. gue dicuekin lagi" katanya sambil meniup tangan "fiuh.." lalu memasukkan dalam saku celana.


"Pak bakso sama es teh satu" kata Anta berusaha tak memperdulikan Laki-laki didepannya.


"Sekalian aku juga ya Tik?" kata Briant sok dekat.


"Gak! gue gak punya duit" jawab Anta.


"Hah.. tiap hari naik mobil mewah masak gak punya uang Tik? pelit amat dah" protes Briant dengan muka melas kayak orang butuh sumbangan.


"Mobil nebeng Pak, gratisan Mah, itu aslinya miskin ini.. aduh kenapa gue jawab sih dari tadi" kata Anta kesal pada dirinya sendiri.


"Hahaha.." tawa Briant, membuat seluruh kantin tambah merhatiin keduanya.


Hah.. Anta menghela nafas kesal dan gak tau harus gimana ngadepin cowok bebal didepannya.


Tak berapa lama pesanan mereka datang. Pelayan meletakkan bakso didepan keduanya. Anta melihat waktu pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya lalu segera makan dengan cepat.


"Kalau makan pelan-pelan Tik, belepotan kan?" kata Briant sambil mengusap pipi Anta yang terkena saus bakso.


Anta terdiam terkejut karena ini pertama kalinya ada yang memegang pipinya, beda gender lagi orangnya.


"Ah.. ya makasih" lalu lanjut makan bakso dengan cepat tentunya.


Briant yang melihat cara makan Anta yang tak ada anggun-anggunnya tercengang. Ni anak benar-benar deh.. gak jaga image banget makannya, apalagi tadi gue pegang pipinya gak terpesona, apa pesona gue udah luntur ya.. dengan pandangan masih melihat Anta.


Sedangkan yang jadi pikiran malah khawatir dengan janjinya pada laki-laki lain seorang sopir udah tua pula. Aduh.. Pak Jono pasti lama nunggu ni.. kata Anta dalam hati sambil melirik jarum jam yang terus berputar sambil makan secepat yang ia bisa.


Selesai makan Anta meninggalkan uang diatas meja berlari secepat kilat menuju area parkir kampus nya.


Briant yang melihatnya ditinggal begitu saja terbengong sambil memandang punggung Anta hingga tak terlihat lagi.


"Hai bro.." sapa seseorang yang baru datang berjalan mendekati Briant "mangsa baru?" tanyanya sambil duduk disamping Briant dan diikuti beberapa teman Briant.


Briant terdiam lalu tersenyum dengan tangan bergerak mengaduk bakso "sepertinya gue bakal nemu sesuatu yang menarik"


"Cewek tadi.. Anta kan maksud mu?" tanya teman Briant.


"Yap.." jawab Briant sambil tersenyum menyeringai.


"Gue ikut main, jika lo berhasil maka motor terbaru gue buat lo, gimana?" kata Rian


"Deal" jawab Briant "mereka saksinya" katanya sambil nunjuk ke enam temannya yang tengah duduk bersamanya.


"Tidak sah!"


Semua yang duduk bersama Briant menoleh ke arah suara.

__ADS_1


"Tidak sah!" ulangnya lagi mendekat, menarik kerah baju Briant dan berkata "benar kan Pak? udah ketahuan orang nya" kata Anta dengan senyum menghiasi bibirnya melepaskan cengkraman mengambil tasnya yang tertinggal lalu berbalik pergi meninggalkan kantin.


Seketika semua penghuni kantin tercengang.


__ADS_2