
American Bar.
Arav diikuti asistennya menuju American Bar, Bar dan Lounge untuk kalangan elit. Arav memasuki ruang VIP dengan Dante bersamanya.
Rahang tegas dengan tubuh tinggi dan kekar membuat penampilannya mencolok. Kaum hawa berusaha membuat celah untuk mendekat namun tak ada yang benar-benar berani karena rumor yang beredar betapa kejamnya seorang Arab bahkan pada kaum hawa sekalipun.
Banyak kaum hawa melirik pandang sejak langkahnya memasuki Bar hingga ia memasuki ruang VIP.
Tidak banyak yang tau bahwa American Bar adalah miliknya. Arav mendirikan Bar dengan tujuan mengetahui segala pergerakan lawan bisnis yang sering menjadikan American Bar pilihan tempat mereka berbisnis.
Banyak informasi yang Arav kantongi lantaran Bar miliknya menjadi primadona pilihan mereka berbisnis.
Namun kedatangan nya berbeda kali ini.
Penjaga pintu membuka pintu dan membungkuk hormat pada Arav yang berjalan masuk kedalam ruangan.
Arav duduk di kursi kebesarannya disana "Adakah hal penting yang terjadi disini?" tanya Arav.
"Perusahaan Domani bersiap meluncurkan produk terbarunya yang kemungkinan akan meledakkan pasar" ucap pria paruh baya sambil menyodorkan bukti rekaman dan lembaran kertas pada Arav.
Arav memeriksanya. "Cari mati! Dante! retas data mereka dan hancurkan! beraninya mereka mencuri produk kita.. cari para penghianat dan habisi mereka!
"Baik Tuan muda" membungkuk memberi hormat berbalik pergi meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Dante. Arav meminum cairan merah dengan perlahan.
"Perlukah saya mencarikan wanita untuk menemani anda Tuan muda"
Arav melambaikan tangan "pergilah"
Dengan segera lelaki yang memberikan informasi beranjak pergi meninggalkan ruangan VIP menyisakan Arav disana sendirian.
Angannya melayang di hutan tengah malam. Arav berlari dari kejaran musuh yang berniat melenyapkannya. Dengan kondisi tubuh terluka pada kaki dan tangannya membuat pergerakannya kesulitan hingga ia terjatuh dalam air terjun.
Ia mengira ia akan mati dalam peristiwa itu. Namun Tuhan berkehendak lain. Tubuhnya yang terhanyut dalam pusaran air ditarik tangan ramping dan dibawa ke pinggiran sungai.
Gadis ia itu memberikan nafas buatan padanya setelah Arav tersadar ia mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki dan bahunya lalu merobek ujung gaun yang ia kenakan mencari tumbuhan herbal menggosokkannya dikedua tangan membalutnya dengan cekatan merobek ujung gaun yang dikenakannya pada luka ditubuhnya.
Semua hal yang dilakukan tak luput dari pengamatan Arav hingga helai rambut yang menutup mukanya tersibak oleh angin yang bertiup menerbangkannya hingga nampak lah mukanya yang sangat cantik dengan disinari rembulan malam.
Untuk pertama kalinya jantungnya berdebar dengan kencangnya.
"Tuan are you ok?" tanyanya.
__ADS_1
Arav mengangguk sebagai jawaban.
"Aku akan memapah mu menuju penginapan" katanya sambil membantu Arav berjalan menuju penginapan.
Pandangan Arav tak lepas dari wajah ayu yang nampak kesusahan menahan beban tubuhnya. Meskipun ia berusaha menahan beban agar tak memberatkannya namun luka ditubuhnya menyulitkan Arav untuk melakukannya.
Entah berapa lama dan jalan mana yang mereka lalui. Untuk pertama kalinya Arav tak mengingat itu sama sekali karena pandangan nya yang tak terlepas dari gadis yang tengah membantunya.
Untuk pertama kali ia bertindak ceroboh, seorang yang memiliki status yang tak biasa tentunya ini adalah kesalahan fatal percaya dengan orang asing bahkan mengendurkan kewaspadaan.
Keduanya berhenti di depan pintu. Gadis itu membuka pintu kamarnya lalu membawa Arav masuk ke dalam membaringkannya di ranjang.
Arav yang dalam kondisi tubuh dengan luka parah ditubuhnya akhirnya pingsan.
Keesokan harinya. Gadis muda tengah berjalan menuju lemari yang terletak disamping ranjang.
Glek. Arav menelan saliva nya ketika handuk yang dikenakan gadis itu terjatuh hingga nampak lah tubuh bagian belakangnya yabg polos tanpa sehelai benang pun.
Jakun Arav naik turun, juniornya berdiri seketika. Untuk pertama kalinya Arav merasakan perasaan asing, ia ingin sekali menerkam tubuh indah yang terpampang didepannya. Namun dengan sekuat tenaga ia tahan.
Sebelum bertemu gadis penyelamat nya Arav tak pernah merasa bergairah meskipun ia disuguhi pemandangan telanjang, namun entah kenapa sekarang berbeda.
Arav kembali memejamkan mata ketika Wulan berbalik setelah selesai memakai pakaiannya. "Untungnya ia masih tidur" gumamnya dengan lirih sambil mengelus dada merasa aman.
Arav membuka matanya perlahan. "Ssh.." desisnya karena merasa nyeri pada bagian bahunya karena pergerakan yang tak ia sadari.
"Oh.. kamu sudah bangun Tuan?" sambil membantu Arav duduk dari tidurnya " hati-hati"
"Pfft.." tawa Wulan seketika membuat Arav bingung.
"Kenapa? ada yang salah?" tanya Arav dengan penasaran.
Wulan menggigit bibir bawahnya menahan tawa namun yang Wulan lakukan diartikan berbeda oleh Arav. Arav semakin bergairah.
"Maaf ya bukan maksudku menertawakan mu semalam aku tidak memperhatikan penampilan mu ternyata sangat lucu" kata Wulan.
Arav langsung melihat penampilannya, baju tidur wanita dengan ukuran besar melekat padanya "jail ya" kata Arav sambil mencubit hidung Wulan.
Wulan terkejut mendapatkan perlakuan demikian.
"Ah.. maaf aku reflek tadi" kata Arav takut membuat Wulan marah.
"Iya gak papa"
__ADS_1
"Arav" katanya pada Wulan "panggil aku Arav jangan Tuan"
"Wulan" katanya sambil menyodorkan tangan dan keduanya berjabat tangan.
Flash back of.
Kenangan kebersamaan antara dirinya dan gadis itu selalu berputar di kepalanya seperti kaset rusak tanpa terasa Arav entah berapa botol yang telah ia habiskan.
"Wulan.." panggil nya lagi "maafkan aku"
Kepala Arav jatuh diatas meja karena pengaruh alkohol yang diminumnya.
Tak berselang lama datang wanita mendekati Arav. Ia berjalan mendekat mengangkat tubuh Arav menuju kamar tidur yang berada disana.
"Aaa.." pekikan lantang tiba-tiba saja terdengar nyaring karena rasa sakit yang ia rasakan pada tubuhnya.
Arav mendorong tubuh wanita itu lalu mencekiknya. Ia yang tengah terpengaruh alkohol semakin brutal diluar kendali.
Pintu ruangan terbuka dari luar. Dante bergegas masuk berlari melepaskan cengkraman Arav sebelum ia menggila malam ini.
Seorang wanita adalah pantangan untuk Arav, ia akan menggila jika ada wanita didekatnya apalagi kondisinya tengah dalam pengaruh alkohol.
Dengan susah payah Dante melepaskan cengkraman tangan Arav, sebelum jatuh korban untuk kesekian kalinya.
Wanita-wanita malang yang mati sia-sia karena rasa tertarik mereka pada Arav bosnya entah sudah kesekian kali hal ini terjadi.
Wanita itu berlari keluar ruang VIP dengan ketakutan hingga terjatuh lalu bangkit berulang kali.
Dante mendesah berat melihat perawakan Arav yang tampan dengan mata terpejam yang tengah tertidur.
Dante melajukan kendaraannya menuju Mansion Arav.
Sesampainya di Mansion.
"Antarkan aku ke kamar Istriku" perintahnya.
Anta yang kebetulan keluar kamar melihat Dante yang memapah tubuh Suaminya.
"Nona.. Anta?" sapa Dante. "saya taruh Tuan Arav dikamar anda" katanya sambil nyelonong masuk kedalam kamar Anta.
Anta yang masih terdiam bergegas masuk mengikuti Dante yang telah menaruh Arav dikamar nya dan dengan secepat kilat Dante berlari meninggalkan keduanya.
"Hei..!" teriak Anta sambil menatap arah pintu dengan berlalunya Dante dari sana.
__ADS_1
"Gak Tuan gak asisten sama saja, menyebalkan" omelnya dengan marah.