
Flashback hari pernikahan dan malam pertama pernikahan.
"Saya terima nikahnya Antakawulan bin Brama Alexander dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Bagaimana saksi sah.
Sah.
Sah.
Anta menetes kan air mata setelah kata sah ia dengar. Ia kini resmi menyandang status sebagai Istri dari Arav Ellworth Abelard.
Anta digiring memasuki mobil yang disediakan Suaminya. Ia dengan patuh masuk tanpa perlawanan apapun.
"Setelah ini kita tidak memiliki hubungan apapun lagi, kita hanyalah orang asing" kata Anta pada Brama yang tengah berdiri mengantarkan kepergian nya.
Anta masuk mobil dengan tanpa menunggu jawaban Brama.
Apa yang Brama lakukan padanya sungguh menyakiti hati Anta. Hati Anta benar-benar hancur ketika ia dinikahkan oleh Ayah nya untuk mendapatkan kekayaan dengan dalih untuk menyelamatkan nyawanya dan parahnya hingga sekarang Anta masih belum mengetahui seperti apa sosok suaminya.
Mobil melaju membelah jalan. Anta masih terdiam dengan pandangan mengarah ke lalu lalang jalan.
Pandangan nya kosong, tidak ada senyum kebahagiaan ia tak ubahnya seperti boneka yang melaksanakan peran saja.
Tak berselang lama mobil berhenti di kediaman yang nampak megah dengan arsitektur eropa. Anta turun setelah sopir membuka pintu mobil.
Pandangan Anta memindai setiap sudut bangunan yang akan ia tinggali. Namun tidak ada kekaguman yang ada hanyalah perasaan hampa memenuhi hatinya.
Ayah yang tega menukarnya dengan sejumlah kekayaan dan ditambah dengan pernikahan yang tidak dihadiri mempelai pria. Sangat menghancurkan hatinya.
Namun sebersit keinginan jika Suaminya menerimanya dan memperlakukan nya dengan baik sebagai Istri masih melekat dalam sanubarinya. Mengingat betapa mewahnya segala persiapan dan pengaturan istimewa yang ia dapatkan.
Anta berjalan menuju kamar dengan dipandu pelayan. Sesampainya di kamar para pelayan melepaskan semua atribut pengantin yang melekat padanya lalu mereka membantu Anta membersihkan diri.
Para pelayan mansion berdecak kagum melihat penampilan nyonya muda mereka yang sangat cantik. Mereka yang sesama perempuan saja terpesona apalagi kaum adam.
"Anda sangat cantik" celetuk salah satu pelayan pada Anta.
"Terimakasih" jawab Anta dengan diiringi senyum membuat pelayan semakin meleleh hatinya ketika melihatnya.
Setelah selesai membersihkan diri kini Anta tengah termenung dengan pandangan mengarah ke depan mansion yang ia tempati.
Nampak mobil tengah memasuki area mansion menuju tempat parkir. Pandangan Mata Anta mengikuti arah mobil, matanya semakin menajam kala melihat asisten Dante membuka pintu belakang mobil. Apa itu suamiku gumam Anta dalam hati, ia sungguh penasaran akan sosok suaminya yang kabarnya tua dan jelek itu.
Anta segera beranjak keluar kamar, pendengarannya menajam tatkala mendengar perkataan pelayan bahwa Tuan mereka telah kembali.
__ADS_1
"Apakah Tuan kalian telah kembali?" tanya Anta pada salah satu pelayan.
"Ya Nona dan Tun muda sekarang berada di ruang kerja mari saya antar anda kesana" jawabnya dengan antusias.
"Tidak perlu, tunjukkan saja dimana tempatnya" kata Anta.
"Dari sini Nona tinggal jalan lurus saja, tempatnya berada pada posisi paling ujung" jawab pelayan.
"Terimakasih" jawab Anta dengan senyum menghiasi bibirnya.
Anta segera beranjak pergi ke tempat yang ia tuju sedangkan para pelayan masih melihat kepergian Anta.
"Nona sungguh sangat cantik, setiap kali melihatnya aku selalu terpesona"
"Benar, apalagi Nona juga sangat baik pula. Benar-benar paket komplit Tuan bisa menikah dengannya"
"Ayo kita kembali bekerja sebelum dapat teguran"
Akhirnya mereka pergi dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Kedatangan Anta seperti magnet membuat suasana mansion yang sebelumnya dingin terasa hangat. Para pekerja merasa senang melayani Nona baru mereka.
Anta tiba di depan ruang kerja. Tangannya bergerak mengetuk pintu namun ia urungkan ketika ia mendengar percakapan didalam sana.
"Pernikahan ini hanyalah sebuah status saja tak perlu kau anggap serius Dante, ketika aku menemukan kekasih hatiku yang hilang maka perceraian pasti akan terjadi. Kau kan tau pernikahan ini terjadi karena desakan Kakek ku?" kata seorang laki-laki muda yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Jangan bantah apa yang menjadi keputusanku Dante!" katanya dengan nada meninggi menandakan bahwa ia tengah marah.
Anta syok setelah mendengar apa yang laki-laki itu katakan. Tubuhnya merosot kebawah setelah mengetahui kenyataan pahit yang ia dengar keluar dari mulut laki-laki yang ia yakini adalah suaminya.
Bukan karena paras sang Suami yang membuat ia bersedih dan hancur berkeping-keping namun fakta bahwa ia hanyalah istri di atas kertas saja.
Sebelumnya ia sudah menerima mengikhlaskan takdir dan menerima pernikahan ini, Anta tak perduli bagaimana rupa paras sang suami namun takdir kembali mempermainkannya. Suaminya hanya menganggapnya sebagai Istri diatas kertas saja.
Dan faktanya Suaminya memiliki paras yang berbeda dengan rumor yang selama ini beredar. Suaminya sangatlah tampan.
Anta berusaha bangkit dengan susah payah. Fakta yang baru diketahuinya membuat tubuhnya seketika tak bertenaga.
Setelah bisa bangkit ia berjalan kembali menuju kamar menangis sesenggukan meratapi nasib buruk yang menghinggapinya hingga ia tertidur disana.
Mansion yang sebelumnya terasa hangat berubah menjadi dingin bahkan terkesan mencekam menakutkan.
Perubahan dalam mansion dirasakan seluruh penghuni disana begitu juga dengan Araf dan asistennya.
"Apakah kau merasa suasana Mansion ini berbeda Dante?"
__ADS_1
"Ya Tuan, entah kenapa Mansion terasa menakutkan" kata Dante dengan bulu kuduk merinding berdiri.
Arav melangkahkan kaki keluar Mansion diikuti Dante dibelakangnya. Keduanya keluar dengan tergesa-gesa karena ada hal penting yang harus keduanya atasi.
Tanpa berpamitan bahkan melihat Istrinya Arav pergi meninggalkan Mansion.
**
Keesokan harinya.
Anta terbangun dengan mata sembab. Ia mematut penampilan nya didepan kaca terlihat sangat berantakan.
Setelah menangis hingga ketiduran semalam hati Anta terasa lega dan ringan.
"Aku harus bangkit. Semangat Anta! rubah lah dirimu dan ayo cari kebahagiaan!" katanya menyemangati dirinya.
Anta berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri lalu berjalan keluar kamar menuju dapur. Suasana Mansion mencekam kini berubah menjadi hangat kembali sebagaimana suasana hati Anta kini.
Jam menunjukkan pukul lima pagi, langkahnya mengejutkan koki yang ada disana.
"Apa yang Anda butuhkan Nona?" tanya Koki dengan hormat.
"Tidak ada, saya hanya mau membuat sarapan" kata Anta dengan sopan dan senyum di bibirnya.
Seketika Koki terkejut ketika mendengar penuturan Anta, sangat jarang seorang Nona muda memasak bahkan tidak ada di jaman sekarang ini. Jangankan memasak menginjakkan kaki di dapur saja adalah sebuah keajaiban menurutnya.
"Jangan Nona ini adalah pekerjaan saya" kata Koki pada Anta.
"Siapa nama Anda Pak?" tanya Anta.
"Dimana Nona"
"Tidak setiap hari saya memasak, namun karena bosan bolehkah saya meminjam dapurnya?" pinta Anta.
Seketika Diman menjadi tak enak hati. Kenapa jadi Nona nya yang meminta izin padanya. Diman bingung menanggapi permintaan Anta.
Anta yang tak mendapat jawaban dari Diman berkata "Baiklah begini saja saya memasak dan anda cukup membantu saya selama memasak" kata Anta mutlak tanpa mau dibantah lagi.
Anta menggulung rambut mencepol nya diatas kepala memakai celemek lalu mulai memasak.
Ia memasak dengan cekatan bahkan Diman dibuat menganga melihat keahlian Anta dalam hal memasak makanan.
Nona muda sungguh luar biasa gumam Diman dalam hati.
Seketika berita Anta yang memasak di Mansion menjadi buah bibir disana apalagi kemampuan Anta yang luar biasa. Para pekerja yang mencicipi masakan Anta dibuat takjub akan rasanya.
__ADS_1
Mereka yang sebelumnya mengagumi Anta sekarang menjadi fans sejati Nona mereka.
Sedangkan yang menjadi buah bibir tak mengetahui apa pun. Dengan tenang ia keluar Mansion memulai hari yang ia rencanakan menuju Universitas untuk mendaftar disana dengan jurusan bidan sebagai tujuan.