
Selepas dari pemakaman Mamah. Aku meminta Toni kembali ke rumah dahulu untuk mengambil beberapa barang dan surat-surat berharga. Lalu meminta dia mengantarkan aku ke sebuah bank pemerintah ternama untuk menyimpan surat-surat dan beberapa benda berharga ke dalam safety deposit box yang banyak tersedia di bank-bank besar. Kemudian mengajak Toni sebentar menikmati kopi di sebuah kedai kopi lokal yang tidak jauh dari lokasi bank.
"Ton, saya minta kunci mobilnya," pintaku, sembari menyeruput kopi hitam hangat.
"Baik, Pak." Toni lalu memberikan kunci tersebut, tepat di meja depanku.
"Mulai hari ini, kamu kembali kerja di kantor, Ton. Saya sudah hubungi Dipta, agar menyiapkan satu tempat buatmu di Sudirman," jelasku, lalu menyenderkan tubuh di kursi.
"Bapak sudah tidak butuh saya lagi?" tanyanya hati-hati. Yah, Toni ini sudah dari pertama mengikutiku, sejak saat almarhum Kakek mulai memintaku membantu untuk membesarkan bisnis keluarga Kusumateja. Selalu ikut kemanapun aku pergi.
"Saya ingin menepi Ton, menjauhi bisnis, juga mau belajar dan memahami tentang ilmu agama. Kasihan almarhumah Mamah, jika untuk mengirimkan doa pun saya tidak bisa," keluhku, lirih.
"Bapak merasa bersalah dengan almarhumah?" tanyanya pelan, dan aku mengangguk mengiyakan. Aku memang sudah bercerita kepada Toni, jika aku yang memaksa Mamah untuk tetap ikut memberikan kejutan buat Maharani.
"Seandainya aku tidak memaksa Mamah untuk tetap ikut, mungkin tidak akan seperti ini," keluhku lagi. Yah, aku lebih memilih untuk tidak mengetahui hubungan terlarang Maharani dan Papah, dibandingkan jika harus kehilangan Mamah selamanya.
"Jadi Bapak mau kemana?" Aku terdiam sesaat, menghela napas, dadaku masih terasa sesak.
"Belum tahu, Ton. Saya akan mengikuti kata hati saja."
Aku lalu berdiri, diikuti Toni. Menggenggam tangannya erat, sekaligus berterima kasih sudah menemaniku selama ini.
"Hati-hati, Pak. Kapan pun tenaga saya dibutuhkan, saya siap dipanggil kapan saja," ucapnya, lalu mulai pamit pergi menuju kantor pusat Sudirman.
Aku segera melajukan kendaraan menuju luar kota. Sebenarnya, aku sudah lama terpesona dengan satu tempat yang tidak terlalu jauh dari Jakarta. Saat melakukan pertemuan dengan kolega, dan melewati daerah itu. Daerah perbukitan dan pegunungan belakang pabrik teh, milik keluarga Kusumateja.
Aku sengaja tidak memasukkan kendaraanku ke dalam pabrik, lebih memilih ke sebuah motel dan memesan kamar buat seminggu ke depan selama berada di sini. Mulai menghubungi Julius, penanggung jawab tertinggi di pabrik pengolahan teh milikku ini, dan memintanya untuk menemuiku di lobby motel.
Tidak butuh waktu lama, Julius datang menemuiku. Menyalami, kemudian duduk bersama sembari berbincang. Setelah panjang lebar bicara tentang perusahaan, aku mulai menjelaskan tujuan utamaku datang ke desa ini.
"Saya harap, kamu bisa merahasiakan keberadaan saya di sini kepada siapapun."
"Baik, Pak."
"Saya ingin menetap di daerah ini, tidak tahu sampai berapa lama," jelasku. "Kamu cukup tahukan daerah sini?"
"Untuk wilayah sekitaran sini, alhamdulillah saya cukup paham, Pak," jelasnya.
"Saya butuh tempat yang tidak terlalu ramai, tidak padat dan berisik, ingin mencari ketenangan. Di mana kira-kira yang sekiranya tidak terlalu jauh dari pabrik ini?" Julius terdiam, berpikir sejenak.
"Ada Pak, di belakang pabrik teh milik Bapak. Perkampungan kecil yang dikelilingi oleh perkebunan teh milik kita. Tempatnya indah, penduduknya pun tidak terlalu banyak," jelas Julius.
"Di tempat itu, ada guru mengaji tidak, Yus?"
"Guru ngaji, Pak?" paras wajahnya terlihat bingung.
"Iya, Yus. Selama saya menepi dari rutinitas kerja, saya ingin belajar mengaji," jelasku. "Kenapa, tidak boleh?" tanyaku lagi, pura-pura tersinggung.
"Ohh, maaf Pak, maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu," ujarnya, wajahnya sedikit kaget, takut sepertinya jika aku tersinggung. Julius terlihat sedang berusaha untuk mengingat-ingat.
"Ada Pak, ada. Di sana ada sebuah Kobong, tempat untuk belajar mengaji."
"Kobong?" tanyaku, terdengar aneh, karena aku belum pernah mendengar kata itu.
"Kobong itu semacam pesantren kecil, Pak. Pesantren sederhana yang bangunan tempat mengajinya lebih banyak berbentuk panggung terbuat dari bambu."
__ADS_1
"Bambu?" tanyaku meyakini.
"Iya Pak, bambu. Desa itu memang masih tradisional sekali. Walaupun akses listrik dan internet sudah masuk ke sana," jelas Julius.
"Kamu tahu siapa ustaz yang mengajar di Kobong tersebut?"
"Saya tidak kenal Pak, tetapi jika Bapak mau, saya bisa antar," ucap Julius, menawarkan diri.
"Jika di antar kamu, sebagian dari mereka pasti sudah ada yang mengenal kamu itu siapa. Sedangkan saya tidak ingin ada seorang pun di desa itu yang tahu saya ini siapa." Julius terdiam.
"Besok pagi, saya akan ke desa itu, tolong kamu siapkan motor second. Jangan yang baru yang bekas saja."
"Baik Pak, nanti saya sendiri yang akan mengantarkannya kemari, sore nanti.
"Baik, saya tunggu. Dan satu lagi, tidak boleh ada orang lain yang tahu keberadaan saya di desa ini," kataku lagi, kutekankan pada Julius. Dia pun mengiyakan.
"Oh, iya, Yus. Apa nama desa itu?"
"Desa Cibungah, Pak."
÷÷÷
Pagi-pagi sekali, di saat hawa dingin masih menyergap. Kabut dan embun masih menyelimuti perkebunan teh, aku sudah berada di desa Cibungah. Desa yang dikelilingi perbukitan, gunung, dan perkebunan teh.
Udaranya sejuk, airnya pun jernih langsung dari mata air pegunungan. Jalan desanya beraspal hitam. Terlihat para pekerja pemetik pucuk teh yang sebagian besar wanita berjalan berombongan, bertopi caping lebar dan membawa keranjang besar di belakang tubuhnya.
Matahari belum menampakkan cahayanya, motor bekas pemberian Julius sudah mulai memasuki batas desa, yang hanya berupa patok batu tanpa nama.
Kobong tempatku ingin belajar mengaji, lokasi pertama yang kucari. Akan tetapi karena aku tidak tahu tempatnya, aku hanya terdiam di sisi jalan. Letak rumah-rumah yang seperti bertingkat-tingkat karena kontur tanahnya yang menanjak, membuat aku kesulitan untuk mencari lokasi persisnya. Nama ustaz yang mengajarnya pun aku tidak tahu.
Sementara cuaca masih terlihat redup, hawa dinginnya begitu sangat menusuk.
"Wa-waalaikum salam," jawab salamku, sedikit gugup.
"Sedang mencari siapa, Bang? Dari tadi, saya perhatikan seperti orang kebingungan," tanya gadis itu, dan Sang Surya yang tadi bersembunyi mendadak hadir sinarnya. Hingga terlihat jelas wajah gadis itu dengan bias sinar mentari di belakang kepalanya, dan sejenak aku terpukau. Terdiam cukup lama.
"Bang?" tegur gadis berkulit putih itu mengagetkan.
"Ohh, itu, saya lagi nyari ...." Entah mengapa aku menjadi lupa, nama istilah dari pesantren sederhana. Kupaksakan untuk mengingat-ingat.
"Cari apa, Bang?" tanyanya lagi, dan aku benar-benar lupa.
"Saya lupa," jawabku jujur. Gadis itu terlihat mengernyitkan wajahnya, mungkin alasanku terdengar aneh olehnya.
"Duhh ... ko bisa lupa," ujar gadis itu sembari tertawa, dan semburat merah terlihat di wajahnya. Bibirnya merah alami, dan baris giginya terlihat rapih. Tertawanya pun terdengar merdu sekali.
'Lebih cantik dari Maharani' gumamku.
"Apa, Bang?" tanyanya lagi, mungkin suara gumamku sedikit terdengar di telinganya.
"Tidak, tidak apa-apa," jawabku cepat, aku dibuatnya menjadi serba salah. "Itu yang kamu pegang buku apa?" Paras wanita itu terlihat heran. Matanya memperhatikan aku.
"Abang bukan orang Islam?" tanyanya.
Setahuku keluargaku Islam. Kami ikut berlebaran, tetapi memang tidak ada nilai-nilai keagamaan dalam rumah besar kami.
__ADS_1
Sedari TK hingga SMA, aku sekolah di yayasan Katholik yang terbilang ternama di Jakarta. Walaupun SMA, tetapi murid-muridnya hanya khusus lelaki semua. Di rumah besar kami pun penghuninya tidak ada yang ibadah, karena lingkungan perumahan elit tempat aku tinggal dikelilingi mayoritas etnis Tionghoa. Dan kakekku sepertinya penganut kepercayaan, begitupun Mamah. Kolom agama kupikir hanya supaya terisi saja.
"Sebentar," jawabku, sembari mengambil kartu pengenal, dan melihat kolom agama. Bukannya aku tidak tahu, hanya saja aku bingung, yang katanya salat dan puasa ramadhan pun tidak pernah.
"Di KTP aku Islam sih," jawabku, dan gadis itu wajahnya semakin terlihat heran.
"Buku yang kamu pegang itu apa?" tanyaku lagi, karena memang aku benar-benar tidak tahu.
Masih dengan sedikit heran, gadis itu tetap menjawab pertanyaanku.
"Ini kitab suci Al-quran, buat mengaji," jawab gadis yang belum kuketahui namanya itu, dan aku langsung teringat.
"Oh iya, saya baru ingat. Saya sedang mencari tempat untuk belajar mengaji. Apa itu namanya?" tanyaku.
"Kobong."
"Iya, itu, Kobong," ujarku, membenarkan ucapannya.
"Beneran, sedang mencari Kobong dan ingin belajar mengaji?" Aku hanya mengangguk membenarkan.
"Jika begitu bareng saja, saya pun ingin pergi mengaji pagi di Kobong," jelasnya.
"Jauh tidak?" tanyaku.
"Itu, pondok bambu itu kobongnya," jawabnya, sembari menunjuk ke arah rumah pondok berbentuk panggung, berada di sisi bukit, lebih di atas rumah-rumah yang lain.
"Motorku bagaimana?"
Tinggal saja, insya Allah di desa ini aman," jawab gadis itu yakin, sembari melangkah, dan aku pun mengikuti berjalan di sampingnya.
"Oh iya, itu nama pengajarnya siapa?" tanyaku.
"Ustaz, nya?"
"Iya, ustaz-nya."
"Ustaz yang mengajar namanya Ustaz Arief, sedangkan saya mengaji sama istrinya," jelasnya lagi.
"Oh, iya, sampai lupa. Nama kamu siapa?" tanyaku, sembari menyodorkan tangan.
Gadis itu menoleh ke arahku yang berjalan sejajar di sisinya. Matanya yang bulat menatapku dengan kilau binar terlihat memancar, jantungku berdebar lebih cepat.
"Terserah Abang mau panggil saya apa," jawabnya, tanpa menyambut uluran tanganku. Dibiarkannya tanganku menggantung di udara, dengan malu hati, kutarik tanganku kembali.
"Rumah kamu tidak jauh dari sini?" tanyaku lagi. Tetapi pertanyaanku sepertinya diabaikan olehnya.
"Kobong buat lelaki yang itu, sedangkan buat perempuan yang itu," ucap gadis berhijab itu sembari menunjuk rumah panggung itu satu persatu, yang terpisah oleh bangunan rumah di tengahnya.
"Yang tengah itu rumah ustaz-nya, Ustaz Arief. Abang langsung saja ke sana," ujar gadis itu, yang sampai sekarang belum kuketahui namanya.
"Tidak keberatan, 'kan, jika saya meminta tolong kamu untuk mengantar saya ke rumah Ustaz Arief," pintaku kepadanya. Kami berhenti sesaat, Sekitar 10 meter dari tiga bangunan tadi. Mata gadis itu kembali menatap sedikit tajam ke arahku.
"Macam anak kecil saja minta diantar," sindirnya cepat, lalu melangkah ke sisi kanan tempat Kobong perempuan mengaji, tanpa menoleh lagi.
Dari cara menjawabnya terdengar ketus sekali, dan aku jadi tertawa sendiri. Karena biasanya, orang yang sedikit takut bila ingin bertemu dan berbicara denganku, sekarang justru malah aku yang minta ditemani.
__ADS_1
'Aku dianggap anak kecil' Hatiku tertawa geli sendiri mengingat ucapan gadis desa tersebut, lalu mulai mendekati bangunan di tengah-tengah kobong, untuk menemui Ustaz Arief.
Demi agar bisa mendoa 'kan Mamah, aku ingin belajar mengaji.