
Risma masih diam berdiri memandangi bangunan megah di depannya itu selepas turun dari kendaraan.
Rumah megah bercat putih bergaya Eropa, dengan dihiasi cahaya rembulan tergambar bulat dan gemerlap bintang-bintang malam, ternyata jauh lebih indah jika dilihat dari jarak sedekat ini.
Risma terpana, terlihat bingung untuk menjelaskan betapa bagusnya rumah yang Riswan buatkan untuk keluarga kecil mereka. Emak pun sama seperti Risma, sampai tak sanggup lagi untuk berkata-kata.
"Ayuk, Neng. Emak, kita masuk," ajak Riswan sembari menggenggam tangan Risma erat.
"Bang?" Risma bertanya kepada Riswan, tetapi matanya terus menatap ke arah rumah barunya tersebut dengan empat tiang besar bercorak sebagai penyangganya.
"Kenapa, Neng."
"I-ini benar rumah kita, Bang?" tanya Risma masih belum yakin, jika mereka akan tinggal di rumah sebagus dan sebesar ini, bahkan untuk sekedar bermimpi pun dia tidak pernah.
"Alhamdulillah, benar atuh, Neng," jawab Riswan sembari mengajak istrinya tersebut masuk, dan perempuan setia itu masih memandangi keadaan sekitar. Menggagumi keindahan taman beserta lampu-lampu hias yang sudah tertata dengan sedemikian rapih dan memesona.
Risma dan emak lantas mengikuti Riswan menaiki sekitar enam undakan tangga ber-marer untuk bisa sampai ke depan teras rumah. Mereka berdua berhenti, mencopot dan menenteng sandal miliknya.
"Neng, Mak, kenapa dibuka sandalnya, pakai saja," tegur Riswan sembari tersenyum geli.
"Nanti lantainya kotor, Bang," sergah Risma.
"Nggak apa-apa, Neng, nanti ada pekerja yang membersihkan jika kotor. Sudah, dipakai lagi sandalnya," ujar Riswan, berdiri satu undakan lebih tinggi dari Risma dan Emak, ragu-ragu mereka pun segera memakai kembali alas kakinya.
Setelah sampai di teras utama, terlihat sekitar 15 orang berseragam, yang sebagian besar wanita berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Bang, orang-orang ini siapa, Bang," bisik Risma pelan dekat telinga suaminya.
"Ini semua orang-orang yang bekerja di rumah kita, Neng," jelas Riswan.
"Ya, Allah, Bang ... banyak amat, eneng nanti kerja apa?"
"Ya, istri abang ini tidak usah kerja, semua pekerjaan rumah akan di handle oleh mereka semua." Riswan lantas menggenggam tangan istrinya itu untuk masuk, dan terlihat ke 15 orang yang berdiri berbaris berhadap-hadapan menunduk untuk memberi hormat kepada mereka semua.
Kepala pengurus rumah ini , Bude Ajeng yang membawahi para pekerja, memperkenalkan mereka kepada Risma dan emak satu-persatu.
Ada 10 pekerja wanita, dan 5 pekerja pria yang terlihat, dengan tugas dan pekerjaannya masing-masing. Justru Risma dan emak yang merasa canggung melihat mereka dengan santunnya memperkenalkan diri.
Risma dan emak kembali dibuat terkagum-kagum saat memasuki ruang utama rumah ini. Sementara Yuli dan Neti sudah berlarian ke sana-kemari diikuti oleh para pengasuhnya.
Sebuah lampu kristal besar nan indah menggantung di atas ruang utama, dengan sofa-sofa berwarna merah maroon menghiasi lantai marmer sebening air dengan furniture jati bercorak klasik, dan beberapa lukisan-lukisan besar terpasang di dinding ruangan.
Riswan lantas mengajak istri dan ibu mertuanya ke halaman belakang, dan kembali Risma dibuat tercengang. Sebuah kolam renang berukuran standar menghadap langsung ke arah gunung dan lembah di bawahnya, juga dengan hiasan tanaman-tanaman dan lampu taman di kiri dan kanannya.
"Ini istana, Bang," ucapnya, tanpa terpikirkan.
"Ini rumah ketulusan cinta, Neng. Rumah yang Abang persembahkan untuk Eneng dan anak-anak," jawab Riswan.
__ADS_1
"Eneng, bermimpi pun tidak, Bang, memiliki rumah sebagus ini." Terus memeluk sebelah tangan Riswan. Matanya menatap lurus ke arah pegunungan.
"Tidak bermimpi saja bisa terwujud, Neng, apalagi jika Eneng bermimpi," canda Riswan, sembari mencium lembut hijab istrinya.
"Mimpi eneng, hanya ingin bisa bersama Abang sampai tua. Menyaksikan anak cucu kita tumbuh besar dan dewasa, Bang. Itu saja eneng sudah sangat bahagia," ucapnya tulus, bercerita tentang impian terbaiknya.
"Ini bonus untuk kesetiaan dan ketulusan cintamu, istriku." Riswan lantas merengkuh Eneng erat ke dalam pelukannya, ditemani semilir angin pegunungan yang berembus lembut membelai kulit wajah, dan roda kehidupan mereka pun sudah berubah.
÷÷÷
Menjelang siang, keesokan harinya setelah acara perkenalan Riswan di pabrik pengolahan teh, suasana di rumah besar milik Juragan Hasyim mendadak ramai dan penuh kepanikan.
Juragan Hasyim yang hanya sendirian di rumah, karena istrinya Emak Sawiyah belum juga pulang, sejak terakhir pergi bersama Risma selepas acara di pabrik teh.
Semalaman itu dia benar-benar dibuat tidak bisa tidur. Tidak pernah menyangka bahwa menantu yang selama ini dianggapnya miskin, pemalas, dan pengangguran adalah orang terkaya nomor lima di negeri ini. Menantu yang sering dia hinakan, remehkan, dan tidak pernah dianggap keberadaannya, benar-benar telah membuat dia malu sendiri jika seandainya bertemu kembali dengan Riswan dan Risma, nantinya.
Ela dan Samsiah masih terduduk di ruang tamu rumah besar itu sembari menangis. Mereka mengadu kepada bapaknya bila suami-suami mereka, Tohir dan Gufron sudah diberhentikan dari tempat mereka bekerja di perusahaan teh milik Riswan pagi tadi, dengan alasan diketemukan indikasi penyuapan yang mereka lakukan untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi supaya diangkat untuk menjadi karyawan tetap.
"Pak, gimana ini Pak, mana sebentar lagi harus bayar kreditan motor, kulkas, handphone. Mau bayar dari mana jika Kang Tohir tidak lagi bekerja," keluh Ela, sembari menangis.
"Kang Gufron pun begitu, Pak? Dikeluarkan dari pekerjaan, padahal Samsiah baru saja pinjam duit sama rentenir buat sogokan dan sewa kios di dekat pabrik. Usaha belum mulai, malah Kang Gufron kena PHK."
"Suami kalian pastinya dapat itu uang pemberhentian?" tanya Juragan Hasyim kepada kedua anaknya, masih berdiri di depan pintu kamarnya yang berada di ruang tamu.
"Nggak dapat, Pak. Kang Tohir dan Kang Gufron itu walaupun mandor tetapi hanya tenaga harian lepas, bukan karyawan tetap. Kemarin itu, 'kan ngasih sogokon sama orang dalam biar diangkat jadi karyawan, Pak? Justru karena gara-gara nyogok mereka malah dikeluarkan," jelas Ela, sambil menghapus air matanya.
"Apa mungkin mereka dikeluarkan karena perintah si Riswan?" tanya Juragan Hasyim kepada kedua orang putrinya. Sesaat mereka saling bertatapan.
"Iya, Pak, harusnya Teh Risma itu minta sama suaminya agar Kang Tohir dan Kang Gufron diangkat jadi karyawan tetap, tetapi kok ini malah dipecat," ujar Samsiah, sembari menghapus air matanya.
"Teh Risma memang benar-benar tega. Nggak miskin nggak kaya, sama saudara nggak pernah mau akur," celetuk Ela.
"Iya, Teh Ela. Teh Risma itu seperti nggak sadar diri dengan kebaikan kita sama mereka dan anak-anaknya," ucap Samsiah.
"Jadi kita harus gimana, Pak? Nyari uang kemana buat bayar hutang-hutang." Ela benar-benar terlihat kebingungan.
"Ya mana bapak tahu, bapak juga lagi pusing. Emakmu saja dari semalam tidak pulang-pulang," keluh Hasyim.
"Pak, pinjami uang dulu buat bayar cicilan motor dan handphone, Pak," ucap Ela.
"Aku juga pinjamin, Pak. Sebentar lagi pembayaran hutang sudah jatuh tempo," rajuk Samsiah.
"Nggak ada, Bapak nggak punya duit!" sentak Juragan Hasyim. Tidak lama Amran masuk dengan wajah yang terlihat kesal, dan langsung melampiaskan kekesalannya di depan bapak dan kedua adiknya.
"Dasar kurang ajar! Sialan!!" umpatnya, entah pada siapa.
"Kamu kenapa, Mran, datang-datang langsung ngamuk-ngamuk nggak jelas," tegur Juragan Hasyim.
__ADS_1
"Amran sudah tidak boleh menampung sampah pabrik, Pak? Uang besar yang Amran kasih buat orang dalam agar bisa jadi supplier kardus pun hangus. Karena Pak Umar kepala gudang di sana yang menerima uangnya pun hari ini diberhentikan," dengkus Amran, sembari tangannya memukul-mukul tembok buat melampiaskan kejengkelannya.
"Malah cicilan mobil truk dan motor sebentar lagi harus dibayar. Sementara pemasukan tidak ada," keluhnya, sambil *******-***** rambutnya.
"Pinjaman Amran duit, Pak? Buat bayar cicilan mobil." Belum juga Juragan Hasyim menjawab,
Ela dan Samsiah sudah mengajukan protes.
"Enak saja Kang Amran main serobot, Ela dulu yang butuh pinjaman."
"Samsiah dulu lah, kan Samsiah yang datang ke rumah Bapak duluan," sergah si bungsu dari Juragan Hasyim.
"Tapi, 'kan Teh Ela yang bicara duluan!" selanya, tidak mau kalah.
"Kalian berdua tuh butuhnya sedikit. Akang yang butuh banyak!" bentak Amran kepada kedua orang adiknya tersebut.
"Samsiah jika tidak bisa bayar, bunganya semakin besar Kang!" Samsiah pun tidak mau mengalah kepada kedua orang kakaknya.
"Ela juga sama butuhnya! Bisa-bisa motor dan barang-barang kreditan yang lain ditarik jika nggak bisa dibayar!"
Amran, Ela, dan Samsiah, saling berteriak beradu argumen. Keributan di antara mereka berdua tidak dapat lagi dielakkan. Juragan Hasyim berdiri terdiam di depan pintu kamarnya, tidak menyangka anak-anaknya akan ribut-ribut seperti ini.
"Kang Amran, 'kan sudah tidak ngangkut limbah pabrik lagi? Jual saja mobil truknya atau alihkan ke orang lain," sindir Ela.
"Kamu saja yang jual barang-barang kreditan dan motor kamu? Jika mobil truk itu buat dipakai usaha, bukan buat senang-senang!" sentak Amran kepada Ela.
"Allaaahh ... memang dari dahulu Kang Amran paling serakah!" bentak Ela kepada Amran. Pikiran kalut dan pusing membuat mereka masing-masing saling emosi.
"Jangan asal main tuduh, yah."
Plakkk ....!
"Amran ....!" Juragan Hasyim berteriak menggelegar, melihat Amran menampar adiknya Ela yang berteriak kesakitan, langsung lari keluar rumah sembari menangis.
"Kamu juga mau ditampar!" ancam Amran sembari menunjuk-nunjuk Samsiah, tidak dia hiraukan teriakan dari bapaknya, pikirannya benar-benar sedang kalut.
Samsiah langsung terdiam ketakutan.
"Seenaknya saja kamu Amran, langsung main tampar dengan adikmu." Juragan Hasyim menarik kaos yang dipakai Amran.
"Si Ela mulutnya kurang ajar, Pak!" teriaknya membela diri, sambil menepis kasar tangan Juragan Hasyim dari kaosnya.
Tidak beberapa lama, Ela kembali datang bersama suaminya Tohir dengan tergesa-gesa dan penuh amarah. Sepertinya dia mengadu kepada suaminya itu tentang perlakuan Amran kepadanya. Tohir dulunya adalah kawan sepermainan Amran.
Para tetangga mulai ramai berkerumun karena mendengar keributan dan suara-suara teriakan dari dalam rumah Juragan Hasyim.
Tidak lagi banyak bicara, Tohir langsung menyerang dan memukul Amran. Amran yang sempat terjatuh kembali melakukan perlawanan, bahkan sampai mereka bergulat di lantai. Bapak dengan Tenaga tuanya tidak sanggup untuk memisahkan, sementara Ela dan Samsiah berteriak-teriak ketakutan.
__ADS_1
Tetangga yang mulai ramai berkerumun sebagian masuk untuk melerai dan memisahkan. Caci maki dan kata-kata ancaman keluar dari mulut mereka berdua yang sedang dikendalikan emosi.
Ketakutan akan kemiskinan membuat mereka jadi kalap hingga menghilangkan akal sehat. Harta yang dijadikan tujuan utama. Hingga di saat tujuan utama itu dianggap akan menghilang, maka segala akal sehat dan hati nurani pun ikut lenyap. Dan juga karena harta, banyak ikatan persaudaraan yang terlepas karenanya. Saudara yang mampu, terkadang merasa lebih tinggi derajatnya dari saudara yang tidak berpunya.