
Pagi ini, aku sudah memulai kembali aktivitas bekerja, sama seperti enam tahun yang lalu. Setelah kemarin membuka semua kecurangan-kecurangan yang dilakukan Om Alex dan Om Bagas, beserta para kroni-kroninya. Kemarin itu juga, aku memerintahkan Ibu Dipta sebagai kepala HRD kantor pusat, yang sebelumnya di masa Om Alex dipindahkan ke bagian umum, untuk memecat orang-orang yang terlibat kecurangan di dalam Group Niskala ini, dan khusus Om Alex dan Om Bagas, aku sendiri yang menandatangani surat-surat pemecatannya.
Setiap perbuatan ada balasannya, dan mereka semua harus bertanggung jawab untuk itu. Semalam pun Tante Sartika menghubungiku, memintaku untuk mempertimbangkan, karena OmAlex dan Om Bagas itu masih terhitung kerabat dekat, tetapi dengan berat hati aku tidak bisa mengikuti keinginannya, dan tetap akan terus menempuh proses hukum dengan beberapa alasan yang juga sudah kujelaskan kepadanya, dan alhamdulillah Tante Sartika dapat mengerti dan memahami. Yang terpenting keluarga mereka akan terus kuperhatikan segala kebutuhan hidupnya.
Ruangan kantorku ini sudah banyak perubahan setelah Om Alex yang menempatinya. Semua isi furniture, hiasan dinding kantor, dan segala fasilitas kemudahan bekerja terpasang dengan kualitas terbaik.
Aku tidak mempermasalahkan jika uang yang mereka pakai untuk menunjang kemudahan dalam bekerja, tetapi tidak jika hanya untuk kepentingan pribadi. Bahkan yang kudengar dari Tante Sartika, Om Alex dan Om Bagas sudah menikah lagi, dan jarang ke rumah istri pertamanya untuk menemui anak atau pun cucunya. Sepertinya, uang-uang hasil kecurangan itu mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan istri-istri muda mereka.
Pagi menjelang siang ini, aku menunggu kedatangan Julius dan salah seorang pimpinan anak perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan arsitektur, Pak Hamdan. Ada hal penting yang ingin kudiskusikan dengan mereka berdua terkait dengan rencanaku untuk membangun rumah di atas bukit dekat Desa Cibungah, tanah milik perusahaan pengolahan daun teh, anak usaha dari Group Niskala.
Aku minta kepada Pak Hamdan bekerja sama dengan Julius, mengenai rencanaku ini, meminta semua bisa diselesaikan dalam waktu dua bulan. Julius sendiri yang akan mengurus ijin pembangunannya, dan selama ijin sedang diurus, pembangunan bisa terus berjalan. Pak Hamdan pun menyanggupi, sembari menjelaskan tentang tekhnis, biaya, tenaga kerja, semua kami bahas secara terperinci. Intinya, keinginanku membangun rumah di sana dalam tempo tiga bulan, mereka menyanggupinya.
"Julius, kamu tinggal dulu sebentar, ada yang ingin saya bicarakan."
"Baik, Pak," jawab Julius, sementara Pak Hamdan sudah keluar ruangan kerjaku terlebih dahulu.
"Aku mau kamu cari informasi menyangkut tentang nama tiga orang ini di perusahaan kita." Julius pun segera membaca nama-nama yang sudah kutulis dalam selembar kertas.
"Orang-orang ini kenapa, Pak? Mereka ada di perusahaan kita?" tanya Julius, merasa tidak mengenali nama-nama yang kutuliskan tersebut.
"Nama yang paling atas adalah penampung limbah di pabrik kita, dia berambisi ingin menjadi pemasok kardus, dan yang kedua hanya mandor perkebunan lapangan.
"Hubungan mereka dengan Bapak, apa? Kok Pak Riswan bisa kenal?"
"Yang berniat ingin menjadi pemasok itu adalah kakak dari istri saya, dan yang dua itu suami-suami dari adik-adik istri saya. Mereka pernah bercerita, bahwa sudah mengeluarkan uang untuk memberi sogokan, agar jabatan mereka dinaikan, dan yang satunya juga sudah memberikan sogokan agar terpilih menjadi suplier." Julius mengangguk, tanda mengerti.
"Kamu selidiki dulu, Yus, tetapi jika mereka sendiri yang bercerita, berarti mereka memang pelaku dari kecurangan. Saya ingin kamu bereskan pihak-pihak yang sudah mereka berikan sogokan, yang pasti orang dalam perusahaan kita," jelasku lagi.
"Baik, Pak, siap," jawabnya.
"Jangan ditindak dulu Yus, tunggu sampai saya perintahkan kapan akan dieksekusi, dan selama itu berjalan, kamu bisa suruh orang untuk memantau mereka," pintaku.
__ADS_1
"Satu lagi, Yus, pastikan rencana pembangunan rumah di atas bukit itu selesai dalam waktu tiga bulan."
"Baik, Pak." Aku pun mempersilahkan Julius untuk keluar dari ruanganku.
'Rumah di atas bukit akan menjadi rumah terbaik untuk keluarga kecilku' ingin bathinku.
2 bulan waktu berjalan sembari menunggu rumah di atas bukit selesai. Aktivitas kerja kuhabiskan dengan melakukan kunjungan-kunjungan dan konsolidasi ke anak-anak perusahaan di bawah naungan Niskala group di seluruh Indonesia.
Melakukan kunjungan mendadak tanpa pemberitahuan, ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, dan ternyata masih banyak hal-hal yang menghambat sehingga perusahaan sulit berkembang. Termasuk oknum-oknum management yang berlaku semaunya hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Semua habis kusingkirkan, dan menggantinya dengan yang lebih kompeten, profesional, dan jujur. Sehingga terkadang butuh waktu berhari-hari di daerah tersebut untuk memperbaiki itu semua.
Waktu terus berjalan, tidak terasa besok adalah acara penyambutanku ke perusahaan pengolahan teh yang tidak jauh dari desa tempat tinggal keluarga kecilku. Rumah di atas bukit pun sudah selesai dibangun. Rasa rindu ingin secepatnya bertemu dengan orang-orang yang sangat kucintai, Istriku Eneng, dan kedua anakku Yuli dan Neti.
Sebuah Event Organizer yang biasa mengadakan event-event besar, kuminta bantuannya untuk mensetting sebuah acara kejutan penyambutan kehadiranku di sana.
Aku memang ingin menyiapkan kejutan kepada semua yang hadir, terutama kepada istriku dan keluarga besarnya, tentang siapa jati diriku yang sebenarnya.
Secara detail mereka atur alur acara penyambutanku nanti, termasuk ide memakaikan kembali pakaian lusuh saat aku terakhir kali bertemu dengan keluarga besar Eneng, saat kedatangan Kang Darman. Karena memang sebelumnya, aku ceritakan semua tentang masa penyamaran jati diriku yang sebenarnya di desa itu, hingga perlakuan bapak mertua juga saudara-saudara istriku yang lainnya, dan mereka merasa exited mendengar kisah menghilangnya pewaris kerajaan bisnis Niskala group.
Kemeriahan acara sudah digelar. Dari kejauhan aku melihat istriku, wanita yang paling kucintai, hanya diam termangu saat sebagian besar yang hadir berjoget-joget mengikuti alunan musik dangdut yang sengaja kuminta diisi penyanyi-penyanyi terkenal ibukota.
Apakah nanti dia akan marah dan benci kepadaku karena pergi menghilang tanpa memberi kabar? Jika untuk keluarga istriku, aku sudah bisa memperkirakan perlakuan mereka nanti. Mungkinkah Eneng juga sudah terpengaruh oleh bapak dan saudara-saudaranya.
Pertunjukan hiburan musik baru saja selesai. Acara rekayasa penyambutan pemilik perusahaan akan segera dimulai.
"Pak Riswan, silahkan menghampiri keluarga," ucap ketua panitia penyambutan dari event organizer yang sudah kusewa, dan dadaku semakin berdetak kencang, takut semua berjalan di luar rencana yang kupikirkan.
Perlahan-lahan, aku mulai mendekati istri dan anak-anakku, yang sedang duduk terdiam dan hanya menyaksikan keriuhan.
"Neng ...," ucapku pelan, memanggilnya dengan nama kesayanganku. Istri dan anak-anakku langsung menoleh, raut keterkejutan terpancar dari paras wajahnya, bibirnya terlihat bergetar saat ingin berucap.
"Bang Riswan ...." Air bening terlihat mengembang di matanya, dan tanpa ada rasa malu di depan ratusan undangan warga dan para pekerja, Eneng lantas memelukku erat sembari menangis terisak.
__ADS_1
"Aku rindu, Bang ...," ucapnya, terus saja memelukku erat. Ternyata istriku adalah perempuan yang luar biasa cintanya terhadapku. Penerimaannya atas kehidupan miskinku benar-benar secara ikhlas dan tulus, tidak terpengaruh oleh ucapan Bapak dan saudara-saudaranya yang lain. Dia memang perempuan yang Allah pilihkan untukku.
Hinaan dan nyinyiran terhadapku masih saja terlontar dari mulut Bapak dan saudara-saudaranya yang lain. Sepertinya menghina dan merendahkan aku adalah hobby yang menyenangkan buat mereka. Eneng ingin mengajakku pulang saja, dia kasihan melihat aku selalu disindir dan dihina Bapak dan saudara-saudaranya. Namun aku memintanya untuk bersabar, karena ada kejutan besar untuknya dan keluarga besarnya.
Kejutan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidupnya.
Benar saja, tubuh istriku gemetar, saat namaku disebutkan. Apalagi ketika para bodyguard menghampiri dan memintaku untuk naik ke atas panggung. Air matanya terus mengalir, dia pasti tidak pernah menyangka. Jika aku suaminya, yang selalu direndahkan dan diremehkan keluarganya, terkecuali emak, adalah pewaris dari kerajaan bisnis Kusumateja, salah satu pemilik perusahaan di mana saudara-saudaranya yang sombong dan congkak itu bekerja.
Kuperhatikan wajah Bapak dan saudara-saudaranya pucat tertunduk malu, saat kutatap tajam mereka satu persatu. Hanya emak yang masih menatapku langsung dengan penuh bulir air mata di pipinya.
'Roda kehidupanmu sudah berputar, istriku sayang. Sekarang saatnya memberikan mereka pelajaran, bukan karena dendam, tetapi biar mereka sadar, jika menilai seseorang itu bukan hanya dengan pandangan.'
Kuberikan istriku kesempatan untuk berbicara di depan ratusan atau mungkin ribuan pasang mata yang memadati aula pertemuan ini. Gemetaran dia pada awalnya, tetapi entah apa yang membuatnya menjadi percaya diri, walaupun kedua matanya masih terlihat bening air mengembang di sana.
Ribuan mata terpukau mendengar sambutan kata darinya. Istriku yang dalam sambutannya menyebut dirinya sebagai perempuan kampung yang hanya berpendidikan sampai sekolah menengah pertama, ternyata bisa tampil memukau di depan ribuan mata yang menyaksikan. Tepuk tangan bergemuruh mengiringi setelah selesai dia tampil dengan segala kesederhanaannya.
Terlihat, jika orang-orang yang selama ini selalu menghina dan merendahkan kami, menunduk penuh rasa malu dan tidak berani menatap kami secara langsung. Kenyataan yang sudah menghinakan mereka. Belum ada hitungan menit, sebelumnya kata-kata menusuk dan menyakitkan keluar dari mulut mereka, dan sekarang mereka terbungkam tak mampu lagi untuk berbicara.
Wanita yang luar biasa. Mengagungkan cinta dan kesetiaan sebagai prinsip hidupnya. Aku yang banyak belajar darinya, teringat akan ucapannya.
"Tidak apa-apa kita dihina karena miskin, asal bukan harga diri kita yang dihinakan. Jika semuanya mereka injak, apa lagi yang bisa eneng banggakan dari suami sendiri, Bang."
"Jangan malu mempunyai istri perempuan kampung macam Eneng, ya, Bang," bisiknya dekat telingaku. Kutatap mesra istriku tercinta.
"Abang rela kehilangan segalanya, asal jangan abang kehilangan Eneng." Dan kata-kata itu jujur keluar dari dalam lubuk hatiku.
'Kehidupan keluarga kecil kita sekarang sudah berubah istriku, Sayang. Tidak akan ada lagi orang yang berani menghina dan merendahkan kita. Ujianmu nanti adalah sanjungan, pujian, dan kepura-puraan dari orang-orang yang ingin memanfaatkan dan mendekatimu.'
'Setiap masa, akan ada ujiannya sendiri. Dan Diuji dengan kekayaan akan jauh lebih sulit daripada kemiskinan. Karena sering membuat kita sombong, lupa bersyukur dan terlena oleh kemewahan, tanggung jawab di akhirat pun akan jauh lebih besar. Semoga kamu mampu melewatinya istriku.'
Eneng masih memelukku sembari memandangi keindahan rumah kami nan megah di atas bukit.
__ADS_1
÷÷÷
Part tega akan dimulai di bab berikutnya terima kasih kepada pembaca atas penghargaannya sampai sejauh ini.