
Acara prosesi pernikahan yang akan segera dimulai kembali tertunda karena kedatangan calon Ibu mertuaku. Risma, calon istriku sembari terisak kembali berdiri, mencium dan memeluk ibu kandungnya yang sudah basah dengan air mata. Aku pun ikut berdiri menyambut beliau, lalu mencium punggung tangannya. Suasana haru mengawali prosesi Ijab Qobul ini.
"Maafkan, Risma ya, Mak, sudah banyak merepotkan, ikhlaskan Risma untuk berumah tangga, ya, Mak," ucapnya sembari terisak.
"Emak ikhlas, Risma, emak ikhlas ... jadi istri yang berbakti, ya, Ris, jangan hanya mau menerima yang baiknya saja, Risma juga harus mau menerima kekurangannya. Jaga aib dan martabat suamimu, seperti kamu menutupi aibmu sendiri." Petuah Emak kepada Risma, anak perempuannya yang paling besar.
Emak lantas membimbing Risma untuk kembali ke tempatnya semula, dengan Emak ikut menyaksikan tepat di belakang putrinya.
Ujung jilbabnya, dia jadikan alat untuk menghapus lelehan air matanya, pengantinku pun begitu, masih menahan tangis terisak-isak. Kebahagiaan dan kesedihan, hadir dalam waktu yang bersamaan.
"Bisa kita mulai?" tanya penghulu yang akan menikahkan aku, setelah keadaan sedikit lebih tenang.
"Silahkan, Ustaz," jawab Ustaz Arief kepada si penghulu yang kawan se-almamaternya saat pesantren dulu.
"Baik, silahkan wali nikah untuk menggenggam tangan calon mempelai pria," ucap penghulu kepada Kang Darman, dan aku mulai merasa tegang, keringat dingin menyerang. Kang Darman lalu menggenggam tanganku.
"Silahkan, ikuti saya," kata penghulu kepada Kang Darman.
"Baik, Pak," jawab Kang Darman. Lalu si penghulu mulai membacakan doa, dan meminta Kang Darman mengikuti ucapannya.
Aura kesakralan pengesahan pernikahan mulai menguasai seisi ruangan dalam musholla ini. Suasana jadi terasa hening.
"Saudara Riswan bin Muchtar. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Risma Wulandari binti Hasyim, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas seberat tiga gram. TUNAI!"
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA RISMA WULANDARI BINTI HASYIM DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SALAT DAN PERHIASAN EMAS SEBERAT TIGA GRAM DIBAYAR TUNAI."
"Bagaimana para saksi?" tanya si penghulu..
"Sah ... sah!" Suara dari saksi-saksi yang mendengar dan ikut menyaksikan Ijab Qabul.
"Baraqallah." Wajah-wajah kelegaan terlihat. Hidupku sekarang tidak lagi sama. Aku mungkin belum menjadi imam yang baik dalam ilmu agama, tetapi aku akan berusaha untuk itu, dan mulai pagi menjelang siang ini, Eneng sudah resmi menjadi istriku.
Selepas penutup doa yang dibacakan Ustaz Arief, Eneng dengan didampingi Umi Hasanah mendatangiku, sembari mencium tanganku, berucap pelan penuh keharuan.
"Jika aku nanti berbuat kesalahan, tegur dan ingatkan Neng, ya, Bang." Air matanya membasahi tanganku. Kubisikan ucapan lembut di telinga istriku.
"Istri adalah pendamping, Neng, adanya di sisi, bukan di atas bukan juga di bawah. Kewajibannya juga untuk mengingatkan, takut-takut jika nanti abang salah jalan." Lalu kukecup lembut keningnya.
"Silahkan, Riswan, kalau mau langsung di bawa pulang juga boleh," canda Ustaz Arief, sebagian yang menyaksikan ikut menggoda. Semburat merah nampak di wajah istriku, tersipu malu.
Aku dan istriku lalu memohon restu kepada Emak, Kang Darman, dan kepada semua yang ikut menghadiri. Aura kebahagiaan dan kelegaan tergambar jelas di raut wajah istriku.
"Kurang ajar! Kalian tidak menghargaiku sama sekali!"
Juragan Hasyim berdiri tepat di depan pintu masuk musholla sembari bertolak pinggang dengan wajah memerah dan mata yang melotot sedang menunjukkan amarah. Amran berdiri di belakangnya.
"Bapak ...," ucap istriku lirih.
"Siapa yang merencanakan ini semua, akan saya tuntut, lihat saja nanti!" ucapnya, masih dengan nada yang keras dan penuh amarah.
__ADS_1
"Sabar, Pak ... sabar, tidak baik teriak-teriak di dalam rumah ibadah," ucap Kang Darman mencoba menenangkan, sembari mendekati Juragan Hasyim, Bapak kandungnya.
"Kamu juga sama saja Darman, bersekongkol di belakang bapak!" sentaknya, sembari menunjuk ke arah Darman.
"Mana si Sawiyah! Dasar istri tidak bisa menjaga amanah suami," sindirnya kepada Emak. Suasana di dalam musholla menjadi ricuh.
"Ini bukan salah Emak, Risma sendiri yang memilih Bang Riswan!" Istriku ikut menyentak, tidak terima jika Emak yang disalahkan.
Juragan Hasyim masih bertolak pinggang.
"Bapak mau menuntut apa? Dan atas dasar apa? Risma usianya sudah di atas 21 tahun, dia sudah berhak menentukan sendiri pilihannya," jelas Kang Darman, dengan tenang.
"Justru bapak yang mempersulit Risma, untuk mendapatkan jodohnya," ucap Kang Darman lagi.
"Kamu tidak usah ikut campur Darman!" bentak Bapak.
"Darman berhak ikut campur, Pak? Risma adik kandung Darman!" jawab Kang Darman juga dengan nada yang keras, sepertinya beliau pun mulai terpancing emosi.
"Sudah-sudah, lebih baik kita bicarakan dengan baik-baik. Kang Hasyim, lagipula pernikahan sudah terjadi, dan tidak mungkin dibatalkan," jelas Ustaz Arief. Mencoba menengahi.
Juragan Hasyim terdiam, tetapi wajahnya masih terlihat geram. Matanya masih terlihat nyalang.
"Jelas-jelasan kalian semua salah, berani-beraninya melangkahi saya." Egois sekali memang Bapak mertuaku itu, selalu merasa dirinya yang paling benar.
"Itu karena Bapak mempersulit Bang Riswan, dengan permintaan yang tidak masuk di akal," jawab istriku, sedikit lebih kugenggam tangan kami berdua, memberikan tanda.
"Sudah Neng, sabar," bisikku pelan.
"Nanti dulu, tidak semudah itu dia bisa menjadi menantuku, permintaanku saja dia tidak menyanggupi," sindirnya, menatapku dengan senyum yang sinis.
"Permintaan Bapak terlalu berlebihan, Pak. Emak sudah ceritakan semua, uang yang dibawakan Riswan itu sudah cukup besar buat ukuran desa kita," jelas Darman, melihat bapaknya yang masih keras pada kemauannya.
"Usaha, dong. Memangnya dia gak mikir apa, berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan buat mengurus dan membesarkan si Risma dari dia kecil hingga sekarang, lalu dihargai murah. Enak saja!" Istriku kembali terisak.
"Maafkan Bapak ya, Bang," ucapnya lemah.
"Sabar ya, Neng, mungkin beliau masih kaget, abang juga tidak apa-apa, 'kan," jawabku, membesarkan hatinya.
Ustaz Arief sepertinya tidak tahan juga untuk tidak ikut bicara, karena mungkin beliau berpikir, jika ucapan Juragan Hasyim ini bisa menyesatkan bagi orang yang tidak paham.
"Mengurus, merawat, dan mendidik anak itu sudah kewajiban orang tua Kang, masa dibangkit-bangkit," seru Ustaz Arief.
"Nanti pun, jika kita yang sudah tua, siapa lagi yang akan merawat kita, jika bukan anak, Kang?"
Bapaknya Risma terlihat cemberut, mendengar perkataan Ustaz Arief, yang dia sendiri tidak pernah mau memanggil dengan panggilan ustaz, karena merasa umurnya jauh lebih tua.
"Mana uang 15 juta yang kau bilang buat melamar anakku, sini berikan," ucapnya memaksa, dan tanpa malu-malu. Tatapannya tajam ke arahku. Sementara Kang Darman, Ustaz Arief, dan sebagian yang hadir hanya menggeleng-gelengkan kepala, tanpa berucap apa-apa.
"Jangan Bang, jangan diberikan, kasihkan ke Emak saja," bisik istriku.
__ADS_1
"Biarlah, Neng, yang penting nanti Bapak mau menerima pernikahan kita, dan sudi menganggap abang sebagai menantunya," ucapku pelan.
"Mana uangnya, jangan-jangan kamu cuma nipu lagi, padahal tidak punya uang," sindirnya tajam. Ustaz Arief dan Kang Darman terdengar beristighfar mendengar ucapan Bapak.
"Baik Pak, sebentar, akan saya ambilkan," jawabku, lalu mengambil tas kecil yang sengaja tadi kusimpan di ruang imam salat. Mengambil uang di dalamnya yang memang sudah kusiapkan buat bawaan Eneng, lalu menyerahkannya pada Bapak mertuaku, dan dengan cepat dia langsung merampasnya.
"Dasar perempuan bodoh kau Risma, mau saja dihargai murah," gerutunya, lalu langsung pergi keluar musholla dengan membawa uang 15 juta yang tadi kuberikan, dan Amran kembali mengikuti di belakangnya. Dan mertuaku Masih terus menggerutu.
Kang Darman lantas mendekatiku, berbicara pelan kepadaku.
"Riswan, aku titip adikku Risma. Jaga dan sayangi dia dengan sepenuh hatimu, tunaikan tanggung jawabmu sebagaimana tadi dikatakan penghulu sebelum prosesi Ijab Qobul. Pernikahan itu suci, Wan, ibadah terpanjang, maka jalani dengan kesabaran dan keikhlasan," pesan Kang Darman, yang menurut cerita Eneng, pernah ikut mondok pesantren di Sukabumi.
"Iya, Kang, Insya Allah, Riswan akan selalu ingat pesan Akang," jawabku. Kang Darman lalu memelukku, dibisikkan pelan di telingaku.
"Jika kamu menyakiti hati, apalagi tubuhnya, akan kucari keberadaanmu di manapun kamu berada. Adikku sudah berani menentang Bapak karenamu. Cintai dia dengan sepenuh hati dan jiwamu."
Aku mengangguk, sembari menatap dalam Kakak tertua dari istriku ini. Sebuah janji di hati yang tidak terucap di bibir. Jika aku akan menjaga hati dan perasaannya.
"Titip anak emak ya, Wan. Emak percaya, Riswan bisa menjadi suami yang baik untuk Risma," ucap beliau pelan.
Kang Darman lalu ijin pamit untuk kembali ke Jakarta, begitupun Emak, hendak kembali pulang ke rumah. Sedangkan aku dan Eneng mampir terlebih dahulu ke rumah Ustaz Arief, untuk menerima beberapa ucapan selamat dari para tetangga sekitaran kobong.
Selepas Salat Juhur di musholla kobong, aku dan Eneng mulai kembali ke rumah kami. Rumah kecil nan sederhana yang kubeli dengan Ustaz Arief. Berlantaikan semen hitam, separuh tembok dan bilik bambu.
Berdiri terdiam saling menggenggam menatap rumah kecil itu bersamaan. Hembus angin khas pegunungan yang sejuk membelai kulit dengan manja, terasa kelembutan mengusap lembut seluruh kulit wajah.
"Maafkan akang ya, Neng, hanya mampu menyediakan rumah kecil ini untuk tempat tinggal kita, tidak seperti rumah Bapak," ucapku pelan, tatapanku masih ke arah rumah.
"Rumah yang abang siapkan itu cukup jika untuk tidur dan beristirahat, Bang. Rumah yang sebenarnya itu ada di hati kita. Semewah apa pun rumah kita, jika hati kita selalu risau dan gundah, apalagi jika jauh dari Allah, rumah sebesar apa pun bisa seperti penjara." Menoleh kearahku, lalu bersandar di bahu, tubuhnya memeluk satu tanganku.
"Bagaimana, Neng, duit abang sudah habis semua," keluhku, ingin menguji istriku dengan kesusahan. Eneng menatapku lembut, senyumnya mengembang.
"Jangan khianati cinta eneng, Bang. Itu saja yang eneng minta," ucapnya.
'Suatu saat, rumah gubuk ini hanya tinggal kenangan, Neng' janjiku dalam hati.
Sembari saling menggenggam, kami pun mulai memasuki rumah kecil nan sederhana milik kami berdua.
"Rumah akan terasa luas dan nyaman, Bang, jika hati kita lapang dalam menerima ketentuan Tuhan," bisik istriku lagi, sembari tersenyum, manis sekali.
÷÷÷
Kembali Ke Masa Kini
"Bos ... Bos, bangun, Bos, kita sudah sampai di dalam jalan kompleks tempat bos tinggal."
Panggilan sopir yang mengantarku sedikit membuatku tergagap, saat mobil yang mengantarku dari pabrik, yang semua sudah disiapkan Julius sudah sampai di tempat tinggalku yang dulu.
"Rumah yang itu, ya," ucapku, sembari menunjuk ke salah satu rumah yang sudah terlihat dari dalam mobil.
__ADS_1
"Subhanallah, megah banget, Bos, di tempat saya ini bisa buat satu RT," pujinya. Mobil mulai memasuki gerbang besar halaman depan rumah.
"Masuk saja, bilang dengan penjaga. mister R, sudah kembali pulang."