
Pegunungan, perbukitan, dan hamparan kebun-kebun teh mengelilingi Desa Cibungah ini. Udara sejuk dan angin semilir sedikit menentramkan hatiku yang sedang gelisah, tetapi tetap tidak mengurangi debaran dada yang mengiringi derap langkah kami menuju ke rumah orang tua Risma.
Kekhawatiran akan adanya penolakan dari orang tua gadis yang kusuka, terutama tentang sikap bapaknya yang banyak tuntutan setiap kali ada pria yang berniat ingin meminang putrinya. Akan tetapi itu semua tidak menyurutkan niatku untuk tetap mempersuntingnya. Langkah kami bertiga sudah sampai di depan teras rumah keluarga besar Risma, dan jantungku semakin berdebar keras.
"Assalamualaikum." Salam kedatangan terlontar dari mulut Ustaz Arief.
"Waalaikum salam." Emak datang menyambut dengan ditemani Risma, dan ... gadis lugu itu berdandan, cantik sekali. Dandanan yang sederhana, tanpa warna-warna yang berkesan berani. Paras wajahnya semakin terlihat lembut, senyuman termanis dia lemparkan untukku, lalu dia tersipu malu. Ternyata bidadari nyata adanya.
"Mari masuk Ustaz, Umi, Riswan, mari silahkan masuk," ucap Emak, mempersilahkan kepada kami semua, tamu-tamunya untuk segera masuk.
"Terima kasih, Teh," jawab Umi Hasanah. Kami bertiga langsung masuk, dan dipersilahkan untuk duduk di karpet yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Mohon maaf, Ustaz. Tamu malah harus duduk di bawah, mohon dimaklum saja yah, tidak ada kursi," jelas Emak, sembari meminta Risma untuk menyiapkan minuman dan hidangan untuk kami yang baru datang.
"Tidak apa-apa, Teh, seperti baru kenal saja," jawab Umi Hasanah.
"Mohon maaf, Teh Sawiyah. Kang Hasyimnya ada?" tanya Ustaz Arief, menanyakan keberadaan ayahnya Risma.
"Oh, iya, Ustaz, itu adiknya Risma, Ela, sedang memanggil bapaknya."
"Ada hal penting yang ingin kami sampaikan, tetapi sebaiknya kami menunggu Kang Hasyim dahulu," ungkap Ustaz Arief.
Tidak beberapa lama, Risma kembali ke ruang tamu dengan membawa hidangan kue-kue basah, dan teh hangat. Wajahnya menunduk saja, sesekali mencuri pandang kepadaku sembari tersipu malu. Bidadari desa yang cantik.
"Silahkan Ustaz, Umi, Riswan, dicobain itu kue-kuenya. Risma yang buat sendiri," jelas Emak, dan gadis yang mau kulamar itu kembali tertunduk.
"Risma memang pandai membuat kue?" tanya Umi Hasanah, sembari mengambil satu kue dan lalu mencobanya.
"Masya Allah ... benar Abi, Riswan, enak sekali kue buatannya," puji istri dari Ustaz Arief tersebut. Ustaz dan aku pun mengambil dan mencicipi kue buatan Risma, dan memang enak. Enak sekali.
"Enak, Neng," pujiku jujur, Ustaz Arief pun bilang seperti itu. semakin malu-malu saja Risma kelihatannya.
"Terima kasih, Ustaz, Bang Riswan," jawab Risma. Senyum tidak lepas dari bibir ranumnya.
"Alhamdulillah, Ustaz, jika untuk urusan masak, Risma sudah bisa diandalkan," puji Emak kepada putrinya itu.
"Berarti sudah siap untuk dinikahi, ya," celetuk Ustaz Arief. Tidak ada yang menjawab, hanya kami tertawa bersamaan. Rona kebahagiaan terlihat jelas dari wajah gadis yang sering membuatku ingin selalu bertemu.
"Eh, Arief, Hasanah, tumben ini main ke rumah," ucap Juragan Hasyim, bapaknya Risma, baru saja tiba, dan langsung duduk di depan kami semua. Setelah sebelumnya kami saling bersalaman.
"Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Rief main ke rumah?" tanya Juragan Hasyim, kepada Ustaz Arief sambil menyalakan rokok kreteknya.
"Begini Kang. Kunjungan kami ke rumah Akang adalah dengan maksud baik. Ingin melamar putri Akang yang bernama Risma, buat pria yang ada di samping saya ini, namanya Riswan," jelas Ustaz Arief.
__ADS_1
"Riswan ini adalah murid saya di pesantren, datang merantau karena ingin belajar ilmu agama. Sekarang menetap di desa kita, dan dia juga yatim piatu."
Bapaknya Risma memperhatikan aku dengan sorot matanya yang tajam, tanpa senyum sama sekali. Sembari mengisap dan mengembuskan asap rokoknya kasar.
"Silahkan saja, asal mampu memenuhi keinginan saya," jawabnya datar saja, terkesan acuh, lalu tatapannya beralih ke Ustaz Arief.
"Tidak perlu ditanyakan dulu dengan Rismanya, Kang?" tanya Ustaz Arief.
"Saya yang kasih keputusan di sini, Risma hanya mengikuti apa kata saya," jawabnya ketus. Risma terlihat pucat, melihat ke arahku lalu kembali menunduk.
"Kamu punya apa buat melamar anak saya?" tanyanya kepadaku. Aku terdiam sesaat, dari cara bicara dan sikapnya, ada kesan keangkuhan dan meremehkan orang di dalam diri Juragan Hasyim.
"Walaupun kecil, saya sudah punya rumah yang baru saja saya beli dari Ustaz Arief, Pak," jawabku menjelaskan, sambil menatap matanya.
"Rumah yang lama kosong dekat perkebunan itu?" tanyanya lagi.
"Benar, Pak?"
"Itu sih bukan rumah, lebih mirip kandang kambing," sindirnya tajam. Wajah Ustaz Arief dan Umi Hasanah terlihat tidak nyaman mendengar perkataan Juragan Hasyim, begitupun dengan Risma dan Emak.
"Hanya itu kemampuan saya, Pak," jawabku pelan.
"Kamu mau bawain uang berapa buat putri saya?" tanyanya lagi, masih dengan nada dan mimik wajah yang pongah dan merendahkan. Aku menoleh ke arah Ustaz Arief di sampingku.
"Uang segitu tidak cukup untuk melamar Risma. Saya minta 30 juta dan satu unit motor baru."
"Astagfirullah." Ustaz Arief sampai beristighfar mendengar permintaan Juragan Hasyim. Emak diam saja, sementara Risma matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
"Maaf Kang, syarat dari Akang dirasa seperti sangat memberatkan. Setahu saya, untuk ukuran desa kita, bawaan sepuluh juta saja sudah termasuk besar," jelas Ustaz Arief.
"Saya jangan di samain dong dengan warga desa yang lain," ucapnya pongah.
"Kamu, 'kan tahu sendiri, Rief. Jika semua warga desa sini memanggil saya juragan." Lalu membuang puntung rokok sembarangan.
"Bagaimana, kamu sanggup tidak?" tanyanya kepadaku. Aku terdiam sembari berpikir. Bukan soal uang yang Juragan Hasyim minta, beribu-ribu kali lipat dari jumlah yang dia minta pun aku masih sanggup untuk memenuhi keinginannya. Namun itu sama saja aku bisa membongkar jati diriku yang sebenarnya. Sedangkan dengan Ustaz Arief aku bilang, hanya punya uang 15 juta dari sisa tabunganku.
"Maaf, Pak, jika untuk memenuhi apa yang Bapak minta, terus terang saya tidak sanggup," jawabku pelan. "Kesanggupan saya hanya yang saya bilang tadi."
"Iya, Kang, jika Rismanya sendiri sudah bersedia, kenapa harus dipersulit, Kang?" tegur Ustaz Arief, beliau pun sepertinya sudah mulai jengkel melihat sikap bapaknya Risma yang terasa menyebalkan.
"Eh, Arief, tidak ada yang mempersulit dan tidak juga memaksa. Jika tidak sanggup memenuhi syarat-syarat dari saya, ya tidak apa-apa. Lamaran saya tolak!"
"Risma menerima!"
__ADS_1
Gadis itu membalas cepat ucapan bapaknya, dan itu membuat aku terhenyak, begitupun Ustaz Arief dan Umi Hasanah. Wajah Juragan Hasyim terlihat marah.
"Kamu jangan mau dihargai murah!" sentak Juragan Hasyim penuh emosi.
"Risma ini siapa, sih, Pak ...," ucapnya, sembari terisak.
"Risma ini hanya orang desa, pendidikan pun hanya sampai kelas menengah pertama. Bapak memang ingin agar Risma tidak menikah seumur hidup," ujarnya lirih. Air mata sudah membasahi pipinya, sedangkan Emak hanya diam saja.
"Nikah tidaknya kamu itu terserah keputusan bapak!" Masih keras Juragan Hasyim menolak.
"Risma sudah dewasa, Pak. Risma sudah berhak untuk memutuskan apa yang terbaik buat Risma sendiri," jawabnya, dan kami hanya terdiam menyaksikan perdebatan antara Ayah dan putrinya.
"Jangan-jangan kamu sudah dipelet ya, sama dia!" ucapnya keras, sembari menunjuk ke arahku. Dan aku terkejut dituduh seperti itu.
"Ini bukan tentang Bang Riswan, Pak? Bapak yang keterlaluan. Seolah-olah sedang menjual anak!" Risma akhirnya mulai bersuara kencang.
Plakk! ... "Lancang mulut kamu!" bentaknya. Tamparan Juragan Hasyim mendarat keras di pipi anak gadisnya sendiri. Risma pun menjerit kesakitan.
"Astagfirullah, Kang, jangan sekasar itu, Kang," ucap Ustaz Arief. Tidak menyangka jika Juragan Hasyim akan bertindak sekasar itu kepada putrinya sendiri.
"Diam kau Arief, kamu tidak berhak ikut campur urusan saya!" Juragan Hasyim benar-benar terbakar amarah. Risma menangis dipelukan Emak. Juragan Hasyim benar-benar sangat keterlaluan.
"Selama ini Risma selalu diam dan menurut apa kata Bapak, walaupun beberapa kali Bapak menolak lamaran orang yang datang. Tapi kali ini, Risma tidak akan mengikuti kemauan Bapak. Risma tetap akan menikah dengan Bang Riswan," jelasnya terisak-isak.
"Silahkan saja, tidak akan aku bersedia menjadi walimu, begitupun dengan Amran kakakmu. Akan kularang dia. Biar macam perempuan buangan sana kau menikah tanpa wali!"
Ustaz Arief sepertinya menyadari jika situasi dalam keadaan yang tidak memungkinkan, menyentuh lututku, memberikan tanda untuk meninggalkan rumah Risma.
"Jika begitu, kami permisi dulu Kang," pamit Ustaz Arief.
"Ya, sudah, pergi sana. Kehadiran kalian membuat aku dan anakku bertengkar saja," jawabnya ketus, mengindahkan jabat tangan Ustaz Arief, dan langsung masuk keruangan dalam.
"Jika begitu, kami pamit dahulu, Teh, Neng Risma," ucap Ustaz Arief, lalu mulai berdiri, diikuti istrinya dan aku. Sementara Risma masih menangis di pelukan Emak.
"Bang ....?" panggil Risma lirih. Aku yang berjalan paling belakang berhenti, dan menengok kepadanya.
"Kita akan tetap menikah Bang, Eneng janji sama, Abang." Matanya memandangku penuh harap, masih berkaca-kaca, kelopak matanya sudah terlihat memerah.
"Abang akan menunggu Eneng datang, kita akan menikah di Kobong."
"Eneng pasti datang, Bang ... eneng pasti datang," ucapnya dengan wajah berlinang air mata. Janjinya kepadaku dengan tatapan mata yang sudah terlihat sembab.
Dan aku pun meninggalkan tempat kediaman gadis pujaanku dengan hati yang sakit. Karena penolakan yang tidak berdasar dari Juragan Hasyim.
__ADS_1