
Rasa sesak merasuki rongga dada, bercampur dengan kesedihan dan pengharapan.
Kecewa atas sikap dan penolakan yang ditunjukkan Juragan Hasyim. Sedih melihat Risma dengan sebegitu kuatnya berupaya melawan keputusan bapaknya, hingga harus berakhir dengan tamparan untuknya. Berharap, aku dan Eneng dapat dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Langkah kakiku seperti mengambang, pikiranku hanya dipenuhi tentang Eneng. Seorang gadis desa yang belum lama mengenalku, tetapi yakin terhadapku. Berani mempertahankan keinginannya untuk tetap menikah denganku, walaupun harus melawan keputusan bapaknya. Hanya wanita yang benar-benar jatuh cinta yang berani seperti itu. Meyakini rasa yang ada di hati, jika aku memang pilihan yang tepat untuknya.
"Kamu tidak apa-apa, Wan?" tegur Ustaz Arief, saat kami berjalan bersisian, sementara Umi Hasanah sudah berjalan lebih dulu.
"Tidak apa-apa, Ustaz," jawabku pelan. Ustaz Arief terus menoleh ke arahku.
"Wan ... jika takdir sudah menggariskan Risma sebagai istrimu, sebagaimana pun sulitnya, dia akan tetap menjadi milikmu, begitupun sebaliknya. Banyak berdoa saja, Wan, semoga segala niat baikmu dipermudah Allah."
"Aamiin," ucapku lirih.
"Kamu sabar saja, yah," pesan Ustaz Arief, sembari menepuk-nepuk bahuku.
Iya, Ustaz, hanya itu memang yang bisa saya lakukan sekarang," jawabku, sudah sampai di depan pintu halaman rumah Ustaz Arief.
"Terima kasih ya, Ustaz, sudah berkenan menemani." Ustaz Arief hanya tersenyum, dan kami sudah sampai di jalan depan rumahnya.
"Mau mampir dulu tidak, Wan?" ajaknya, menawarkan aku untuk singgah ke rumahnya.
"Tidak usah Ustaz, terima kasih. Saya masih ada sedikit kerjaan untuk merapihkan rumah," jawabku, lalu pamit kepada Ustaz Arief untuk segera kembali ke rumah.
"Wan?" panggilnya lagi, saat kusudah sedikit menjauh.
"Ada apa, Ustaz?"
"Sesuatu yang kita anggap berharga memang sulit untuk didapatkan, dan pasti sangat bernilai. Seandainya jika kamu mampu mendapatkan, jangan dilepaskan. Jaga dan beri perhatian dengan segenap jiwa. Istri itu tergantung sikap dan perlakuan suaminya, Wan? " jelas Ustaz Arief. "Kamu paham, 'kan, maksud perkataan saya?"
"Insya Allah saya paham Ustaz," jawabku, lalu kembali melanjutkan langkah untuk pulang.
'Ucapan Ustadz Arief memang benar, bagaimana istri itu berperilaku tergantung sikap dan perlakuan pasangannya. Aku akan terus ingat itu.'
÷÷÷÷
Sudah lima hari berjalan, Risma tidak lagi kutemui datang ke kobong. Dari kabar yang kudengar, Juragan Hasyim melarangnya untuk mengaji lagi, menguncinya di kamar agar tidak lagi bisa bertemu denganku.
Pagi, selepas menjalankan Salat Duha, di saat sedang berdoa.
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari arah luar pintu musholla.
"Waalaikum salam." Aku pun segera mengakhiri berdoa, lalu bergegas menemui pemilik suara tersebut yang menunggu di depan teras musholla milik Ustaz Arief. Terkejut dan sama sekali tidak menyangka, melihat siapa yang datang menemuiku, langsung menghampiri dan mencium tangannya.
Sosok yang kuhormati terdiam sejenak, hembus angin mengibar lembut hijab kusam yang dipakainya. Pandangannya menatap kosong ke arah kobong, seperti menyimpan beban. Di sampingnya seperti membawa bungkusan besar di dalam kantong kresek berwarna hitam.
"Emak ingin bicara, Wan?" tuturnya pelan.
"Iya, Mak, silahkan," ujarku mempersilahkan, saat kami sudah duduk saling berhadapan.
"Bagaimana perasaanmu terhadap Risma, Wan, kamu benar-benar mencintai anak emak?" tanyanya, untuk mengetahui seperti apa perasaanku terhadap putrinya.
"Iya, Mak, Riswan benar-benar mencintai Risma," jawabku, penuh kesungguhan.
"Kamu mau berjanji sama emak, tidak akan menyia-nyiakan anak emak?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Riswan berjanji, Mak," jawabku lagi.
"Maksud emak menanyakan itu, karena jangan sampai nanti kamu menyia-nyiakan, apalagi menelantarkan anak emak," ucapnya, khawatir dengan keadaan putinya apabila nanti hanya aku permainkan.
"Insya Allah, Mak, Riswan berjanji tidak akan menyia-nyiakan Risma, apalagi sampai menelantarkannya.
"Emak pantas khawatir, Wan. Apalagi Riswan hanya orang perantauan di desa ini. Emak takut jika nanti kamu akan meninggalkan Risma begitu saja," jelasnya.
"Iya Mak, Riswan maklum dengan kekhawatiran yang Emak rasakan. Mungkin jika Riswan berada di posisi emak, Riswan pun akan khawatir juga seperti Emak. Tetapi sekali lagi Riswan berjanji, akan berbuat sebaik dan sekuat mungkin untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kami nanti jika Riswan dan Risma jadi menikah," jelasku, panjang lebar. Emak kembali menatap wajahku dalam.
"Emak hanya tidak rela, Wan, jika segala pengorbanan yang sudah anak emak lakukan malah akan berakhir dengan kekecewaan." Sembari menyerahkan kantong kresek besar kepadaku.
"Ini apa, Mak?" tanyaku.
"Simpan ini Wan, sebagian baju-baju Risma, taruh di rumahmu. Esok pagi persiapkan pernikahanmu, carikan juga wali nikah untuknya, karena kemungkinan besar, Bapak dan Amran abangnya tidak akan mau melakukannya."
"Maksudnya, Mak?"
"Setiap hari bapaknya Risma pasti akan mengunjungi dan mengawasi sawah kami, emak akan biarkan Risma untuk lari menemuimu di sini. Menikahlah dulu, setelah selesai baru kamu urus surat-suratnya secara resmi. Emak tidak tega melihat Risma hanya menangis saja di dalam kamar." Mulai mengalir air matanya, lalu mengusapnya cepat.
"Anak emak yang di Jakarta pun, Darman, semalam sudah tahu tentang rencana ini saat dia menelepon. Dia mendukung setelah emak ceritakan tentang kondisi adiknya, tetapi dia sendiri tidak bisa menjanjikan jika bisa datang. Makanya emak minta sama Riswan untuk mencarikan wali nikah buat besok."
"Kerabat Bapak di mana, Mak?"
"Bapak tidak punya saudara laki-laki, Wan, kampung kelahirannya sekitar dua kilometer ke arah kanan depan pabrik pengolahan teh, Desa Sekar Wangi, jelas Emak.
"Kenapa Emak mau lakukan ini buat Riswan, Mak?" tanyaku hati-hati. Emak terdiam, terlihat jelas jika beliau menyimpan kesedihan bathin.
"Karena Risma tidak pernah seperti sekarang ini sebelumnya, Wan. Tidak mau makan, sering menangis, emak akan merasa sangat berdosa jika terjadi sesuatu terhadapnya," ucap Emak, sembari menghapus air matanya dengan ujung jilbab kusamnya.
Aku tertegun, tidak menyangka cinta Eneng sudah sedalam itu terhadapku, sembari berjanji di dalam hati, akan menjadi suami yang mampu menjaga hati dan perasaannya.
"Jika begitu emak pulang dulu, Wan, persiapkan segalanya besok. Jika kalian sudah menikah, Bapak tidak akan bisa berbuat apa-apa."
"Baik, Mak," jawabku, sembari mencium tangannya.
"Dan satu lagi Wan, kemungkinan emak pun tidak bisa hadir dalam pernikahanmu besok pagi."
Emak langsung pergi, tidak lagi memberikan kesempatan aku untuk kembali bicara atau pun bertanya. Aku terus memandangi tubuh Emak yang perlahan menghilang di kejauhan. Tidak beberapa lama.
"Assalamualaikum, Ris,"
"Waalaikum salam." Salam dan kedatangan Ustaz Arief sedikit mengejutkan.
"Tadinya saya ingin menemani kemari, tetapi saat melihat ada emaknya Neng Risma, jadi saya urungkan," ucap Ustaz Arief.
"Itu bungkusan apa, Ris?" tanya Ustaz Arief.
"Ini sebagian dari baju-baju Risma, Ustaz, disuruh Emak agar disimpan di rumah saya," jawabku, lalu aku mulai menceritakan apa saja yang aku bicarakan dengan Emak kepada Ustaz Arief, termasuk tentang rencana menikah besok pagi, juga tentang wali nikah, termasuk meminta pendapat beliau tentang rencana menikah siri terlebih dahulu dengan kondisi Risma seperti sekarang ini.
"Sepertinya usia Risma sudah lebih dari 21 tahun, jadi ijin dari orang tua sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Setuju atau pun tidak, si anak tetap bisa melakukan pernikahan asal sudah memenuhi syarat sah nikah," jelas Ustaz Arief, menarik nafas sebentar, lalu kembali melanjutkan.
"Syarat sah nikah sendiri, ada mempelai pria dan wanita, ada wali nikah, dua orang saksi, mahar, ijab dan qobul, jika itu semua sudah terpenuhi, maka boleh dilakukan pernikahan," jelas beliau lagi.
"Maharnya sudah kamu siapkan, Ris?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah Ustaz, saat datang melamar waktu itu, semua sudah saya persiapkan, mas kawin pun sudah ada," jelasku.
"Alhamdulillah, biar saya yang akan menjadi wali nikah dari Risma, sementara yang menikahkan, kawan saya saat pesantren dulu, insya Allah dia bersedia," ucap Ustaz Arief.
"Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih ya Ustaz, sudah mau membantu saya sampai sejauh ini," kataku.
"Sama-sama, Ris, sekarang kamu persiapkan buat rencana besok, masalah hidangan seadanya biar Umi nanti yang menyiapkan. Semoga Allah mudahkan segala niat baikmu, Ris," ucap Ustaz Arief, mendoakan.
"Aamiin"
÷÷÷
Jam sembilan pagi, musholla yang rencananya akan digelar pernikahan antara aku dan Risma, sudah terlihat beberapa orang yang berkumpul. Tidak dalam jumlah banyak, karena memang dilakukan dalam keadaan darurat.
Aku sudah berpakaian rapih, dengan menggunakan kemeja putih dan peci hitam, sementara kehadiran Risma belum juga terlihat. Kawan dekat Ustaz Arief yang akan menikahkan pun baru saja hadir, dan langsung menuju musholla. Perencanaan benar-benar dilakukan secara mendadak dan darurat.
Berjalan beberapa menit, Risma belum juga terlihat di musholla. Aku, dan semua yang ikut menghadiri terlihat sudah gelisah. Disergap rasa takut, jika Risma tidak jadi datang.
Terdengar seperti suara sedikit ramai dari teras musholla, Aku pun menoleh cepat ke arah pintu masuk, dan terlihat Risma datang dengan dipandu oleh Umi Hasanah. Semua serba putih, dari hijab hingga gaun yang dikenakan. Cantik memesona, dengan sapuan makeup yang natural pada wajahnya.
Masuk dengan wajah menunduk. Demi Tuhan, aku terpesona. Sepertinya Umi Hasanah sengaja merahasiakan ini kepadaku. Pantas saja jika Ustaz Arief terlihat tenang-tenang saja.
Aku mulai duduk berhadap-hadapan dengan penghulu, juga saksi-saksi di sisi kiri dan kanan. Ustaz Arief yang akan menjadi wali nikah Risma. Dari sudut mataku, calon pengantinku mulai terlihat menangis, dia sibuk menghapus air yang menggenangi kelopak matanya. Sepertinya, dengan ketidakhadiran satu pun anggota keluarganya, itu yang menjadi penyebab kesedihannya.
"Bagaimana, saksi-saksi sudah ada?" tanya Bapak penghulu.
"Sudah, sudah ada," jawab Ustaz Arief.
"Mas kawinnya sudah disiapkan?" tanya penghulu kepadaku.
"Sudah, Pak," jawabku cepat.
"Tolong dikeluarkan," ujar beliau. Lalu aku segera mengeluarkan cincin emas seberat tiga gram dan seperangkat alat salat.
"Sepertinya semua sudah siap. Untuk wali nikah pihak perempuan?" tanya beliau lagi, dan Ustaz Arief yang rencananya akan menjadi wali
lantas berucap
"Sa--"
"Saya yang akan menjadi wali nikahnya, Pak!" suara cepat memotong ucapan Ustaz Arief terdengar dari pintu masuk musholla, dan membuat kami semua menoleh ke arahnya.
"Kang Darman!" Suara calon pengantinku berteriak, saat melihat siapa yang datang dan bersedia menjadi walinya.
Pengantinku menangis terisak, berdiri lantas memeluk pria bernama Darman tersebut. Mereka saling bertangisan. Pria itu pun menangis, tetapi disempatkan untuk menghapus buliran air mata di pipi calon istriku. Umi Hasanah dan beberapa santri wanita yang menyaksikannya pun ikut menangis.
"Terima kasih, Kang, terima kasih," ucap si calon mempelai sembari terisak-isak, dan Kang Darman langsung berjalan mendekati kami, jemarinya pun sibuk mengapus genangan air di matanya, dan duduk tepat di sampingku sembari berucap
"Saya Darman, Kakak Kandung dari calon mempelai. Biar saya sendiri yang akan menikahkan adik saya dengan pria pilihan hatinya."
"Baik, jika begitu acara pengucapan Ijab dan Qobul sudah bisa dilakukan," ucap Penghulu.
"Assalamualaikum." Suara salam kembali terdengar dari pintu masuk musholla. Sekali lagi kami semua menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
"Emakkk ...." Calon mempelaiku semakin terisak.
__ADS_1