Suami Yang Selalu Dihina

Suami Yang Selalu Dihina
Part 19. Tikus Tikus Kantor


__ADS_3

Meninggalkan Maharani sendiri yang masih menangis. Walaupun ada rasa tidak tega, tetapi tetap harus kulakukan. Aku tidak ingin membuka cela sedikit pun hingga membuat hatiku menjadi lemah dan gamang. Kesetiaan dan ketulusan cinta yang istriku berikan sungguh tak pantas jika kubalas dengan menduakan, bahkan di belakangnya sekalipun.


Ruang tamu keluarga kembali terlihat ramai, dan aku pun lebih mendekati. Om Alex, adik kedua papah ternyata yang datang, setelah dari saat Papah wafat hingga dimakamkan Om Alex tidak datang karena sedang berada di luar daerah. Terlihat dia masih berbincang-bincang dengan anggota keluarga yang lain.


Aku lantas menghampiri mereka semua. Om Alex sudah menoleh ke arahku, di jarak sekitar tiga meter lagi aku akan mendekat.


"Haii, Ris, kamu kemana saja?" tanyanya, sembari mendatangiku dan memeluk.


"Bertapa, Om, nyari ilmu," jawabku, mengajaknya bercanda. Om Alex tertawa. Om Bagas pun ikut mendekat.


"Maafkan, Om, yang tidak bisa menghadiri prosesi pemakaman papahmu," jelas, Om Alex.


"Tidak apa-apa, Om, Alhamdulillah banyak yang membantu," jawabku, lalu melanjutkan bicara.


"Terima kasih ya, Om, sudah menghandle perusahaan selama aku tidak ada dan papah sedang sakit," kataku, menatap ke wajah Om Alex dan Om Bagas.


"Tidak perlu berterima kasih Ris, ini, 'kan perusahaan keluarga, berarti tanggung jawab om juga," jawabnya, sambil sibuk melihat-lihat layar handphone-nya.


"Syukurlah, Om, dan sekarang Aries sudah kembali. Aries minta, Om Alex dan Om Bagas tetap membantu Aries untuk mengembangkan Group Niskala agar lebih besar lagi."


Raut wajah Om Alex dan Om Bagas terlihat berubah, setelah mendengar perkataanku.


"Sepertinya terbalik Ris, kami berdua yang sudah bekerja keras. Kamu yang seharusnya membantu kami untuk membuat Niskala group lebih besar lagi," bantah Om Alex atas perkataanku. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum saja mendengar ucapannya.


"Benar itu Ris. Sebagai adik-adik dari papahmu, kami juga punya hak untuk menggantikan posisinya, sebagai pimpinan perusahaan keluarga Wirahadi," jelas Om Bagas. Wirahadi adalah nama klan keluarga dari pihak papahku.


"Niskala group itu milik keluarga Kusumateja, Om, dan selamanya akan tetap begitu," sanggahku, atas klaim mereka berdua.


"Tidak bisa begitu, Ris. Jelas-jelas dari keluarga papahmu yang sudah kerja keras membantu membesarkan perusahaan induk ini menjadi besar dan terkenal," dalih Om Alex.


"Niskala group itu sudah ada sebelum Om berdua kerja di situ, bahkan sebelum papah menikahi mamah. Bisnis sudah dirintis saat kakek Yusuf Kusumateja belum menikah Om. saat Om berdua masuk pun, group Niskala sudah punya lebih dari lima perusahaan cabang," jelasku, mengingatkan tentang asal-usul mereka berdua bisa berada di perusahaan almarhum kakek.


"Tetap tidak bisa, Ris. Saat kamu tidak ada, kami berdua yang sudah bekerja keras buat perusahaan," sanggah Om Bagas.


"Bekerja keras apa, Om? Dari semenjak aries tinggali sampai saat ini, setahu aries tidak ada penambahan bidang usaha baru group Niskala. Semuanya masih sama seperti dulu," ucapku, menyampaikan fakta. Mereka berdua terdiam.


"Kita putuskan besok saja, saat rapat besar dengan pihak management dan stock holder," tentang Om Alex.


"Om, Niskala group ini perusahaan milik perseorangan, dan bukan milik umum semacam perusahaan go publik. Sebagian yang sudah dilepas sahamnya pun, 65% saham terbesar tetap milik Niskala, jadi tidak ada hubungannya dengan rapat management.


"Bukti kepemilikan om, yang bisa membuktikan siapa yang berhak memimpin perusahaan induk ini," sergahku, kepada kedua adik dari papahku yang tetap ngotot ingin berusaha menguasai.


"Baik, kita buktikan saja besok di depan rapat management," tantang Om Alex lagi, tetap ngotot.


"Silahkan saja, Om. Sekalian saya mau ijin pamit pulang. Aku pun memilih untuk keluar dari rumah Tante Sartika, dan melihat Maharani terus saja memperhatikan aku dari sudut ruangan. Matanya terlihat sembab.


"Ayuk Ton, kita balik sekarang," ajakku kepada Toni, yang langsung bergegas menyiapkan kendaraan. Di tengah perjalanan pulang, aku minta Toni untuk menceritakan tentang permintaanku menyangkut orang-orang lama yang tersingkirkan di masa Om Alex menggantikan Papah.


"Saya sudah koordinasikan orang-orang loyal perusahaan yang disingkirkan Pak Alex dan Pak Bagas, Pak," jelas Toni.


"Terus bagaimana?"

__ADS_1


"Ada rahasia besar yang mereka sembunyikan, Pak?" ucap Toni. Sambil sesekali melihat ke kaca spion.


"Rahasia besar? Maksudnya?"


"Pak Kusno dan Bu Retno yang di bagian keuangan pusat disingkirkan karena menemukan adanya kecurangan pada keuangan perusahaan, Pak?"


"Kecurangan?"


"Iya, Pak. Ditemukan aliran transfer dana di luar prosedur resmi perusahaan, ke rekening milik Pak Alex dan Pak Bagas," jelas Toni.


"Masing-masing sebesar 15 dan 12 miliar, dan itu bertahap. Belum kebocoran-kebocoran yang lain, yang tidak jelas peruntukannya. Saat Pak Kusno menanyakan kejanggalan tersebut, justru malah disingkirkan dan sekarang Umar, orangnya Pak Alex yang menggantikan posisi Pak Kusno," jelas Toni lagi.


"Pak Kusno ada buktinya?" tanyaku.


"Ada Pak, kebetulan Pak Kusno sudah menyimpan semua bukti kecurangan itu ke dalam file pribadinya. Dia berharap Pak Aries bisa kembali ke perusahaan, dan Pak Kusno akan serahkan langsung kepada Bapak."


"Jika begitu, kita langsung ke rumah Pak Kusno saja," ujarku.


"Baik, Pak." Toni pun lebih mempercepat laju kendaraan.


Hanya sekitar 15 menit, kami pun sudah sampai ke Rumah Pak Kusno, yang ternyata sudah menunggu kedatanganku, selepas Toni mengiriminya pesan tentang keinginan aku yang akan ke rumahnya.


Pak Kusno menyambutku dengan sangat hangat, seorang pekerja senior yang sudah bergabung dengan Group Niskala di jaman Kakek mulai merintis usaha, justru malah disingkirkan karena menemukan kecurangan yang merugikan keuangan perusahaan.


Pak Kusno segera mengajakku masuk ke ruang tamu rumahnya. Sudah dia persiapkan juga segala jenis hidangan di atas meja. Beliau bilang, senang melihatku kembali ke perusahaan yang sudah dirintis kakek, karena jika tidak, sebesar apapun usaha yang dijalankan jika digrogoti dari dalam secara perlahan, maka lama kelamaan akan hancur.


"Ini Pak Aries, laporan kecurangan yang saya temukan saat itu, semua sudah saya print, dan ini tempat penyimpanan filenya," ucap Pak Kusno, sembari menyerahkan piranti penyimpan data/ discet-kepadaku. Aku mulai mengecek lembaran demi lembaran bukti-bukti kecurangan yang sudah dilakukan kedua om-ku tersebut.


"Beliau tidak terlibat, Pak, dan juga sudah tahu tentang kecurangan itu. Bu Sartika sama seperti saya Pak, berharap Pak Riswan untuk segera kembali ke Niskala," jelas Pak Kusno.


Aku letakkan lembaran-lembaran kertas-kertas bukti tersebut di atas meja sembari menghela nafas panjang, tidak menyangka bahwa paman-pamanku sendiri yang menjadi "Tikus" di perusahaan Niskala.


"Pak Kusno masih bersedia, kan kembali ke Niskala jika saya yang meminta?" tanyaku pada beliau.


"Dengan senang hati Pak Riswan, justru jika saya di rumah saja, badan saya jadi gampang sakit-sakitan," jelasnya sembari tertawa.


"Beneran, Bapak masih kuat untuk bekerja?" tanyaku lagi, melihat umurnya yang sudah hampir 60 tahun, tetapi aku sangat butuh kepintaran dan pengalamannya dalam mengelola keuangan perusahaan.


"Alhamdulillah masih kuat Pak Riswan, walaupun anak-anak dan cucu saya tidak senang saat saya dikeluarkan dengan uang PHK semaunya, tetapi saya mengingat jasa almarhum kakek Pak Riswan kepada saya dan keluarga. Sehingga saya mampu menyekolahkan anak hingga lulus kuliah sampai mandiri, maka saya tetap ingin mengabdi di Niskala hingga benar-benar saya tidak sanggup lagi," jelasnya, terlihat berkaca-kaca mata tuanya, dengan guratan keriput yang sudah kentara.


"Uang pensiun bapak, nanti akan saya bayarkan sesuai masa kerja, plus uang jasa. Dan jika bapak kembali ke Niskala lagi, bapak akan dibayar sebagai seorang tenaga ahli profesional, yang bapak sendiri nanti yang memutuskan, masih kuat bekerja lagi atau tidak," kataku, dan beliau terharu mendengarnya.


"Saya yakin Pak, di tangan Pak Riswan, dalam beberapa tahun kedepan, Niskala akan menjadi group usaha multinasional, yang sekarang menjadi tersendat karena pengelolaan perusahaan yang berantakan," ungkap Pak Kusno.


"Baik Pak Kusno, sekarang saya mohon pamit dahulu, dan saya juga akan menarik kembali pekerja-pekerja yang dulu loyal dengan perusahaan untuk bekerja kembali."


"Alhamdulillah, tolong Buk Retno juga ditarik kembali, Pak Riswan. Dia mampu buat menggantikan posisi saya nanti, jika saya benar-benar sudah tidak sanggup lagi," harapnya kepadaku, dan aku menyetujuinya.


"Jika begitu, bukti data-data ini saya bawa ya, Pak, sekalian dengan disket penyimpannya."


"Silahkan, Pak. Memang itu semua sengaja saya simpan rapih, sembari menunggu Bapak kembali," jawabnya. Aku pun segera ijin pamit untuk segera kembali ke rumah.

__ADS_1


"Ton, besok pagi antar aku ke tempat Bank yang dahulu saat kita terakhir bertemu, masih ingat, kan?" tanyaku, mengetest daya ingatnya.


"Ingatlah Pak, belum pikun saya," jawabnya sembari tertawa saat di dalam kendaraan. Yah, aku memang membutuhkan orang-orang yang loyal dan juga dapat kuandalkan, seperti Toni dan Pak kusno.


Pagi hari selepas dari bank, setelah mengambil hal-hal penting yang kusimpan di dalam deposit box selama enam tahun, yang kunci penyimpanannya kukubur di halaman belakang rumahku didesa.


Kantor pusat Niskala Group di Bilangan Sudirman mendadak gempar melihat kedatanganku setelah enam tahun terakhir tidak pernah lagi ke sana.


"Mister R" begitu julukan mereka di belakangku, yang itu juga kutahu dari Toni, sembari bercanda. Bos yang gila kerja, disiplin dan tanpa kompromi, begitu julukan mereka kepadaku.


Sebagian dari mereka terlihat senang, terutama yang sudah mengetahui tentang kecurangan-kecurangan yang sudah di lakukan Om Alex dan Om Bagas, dan siang ini juga rapat luar biasa para petinggi Niskala akan digelar.


Di meja rapat yang berbentuk bulat memanjang, semua kursi sudah penuh oleh para petinggi-petinggi perusahaan, yang sebagian aku tahu sebagai orang- orangnya Om Alex, dan dia dengan angkuhnya duduk di kursi pimpinan petinggi yang dulunya adalah tempat dudukku dan papah.


Om Alex yang menganggap dirinya sebagai pimpinan perusahaan mulai membuka rapat dengan sedikit berceramah tentang kemajuan perusahaan selama dipimpin olehnya, dan itu adalah sebuah kebohongan menurut data yang kuterima dari Toni pagi ini.


"Sekarang kita mulai saja, untuk menentukan siapa yang akan menggantikan almarhum Pak Muchtar, kakak saya dari keluarga Wirahadi."


Aku masih diam. Orang-orangnya mulai sibuk mencari muka di dalam rapat tersebut, sembari menyanjung Om Alex sebagai pimpinan selanjutnya di Niskala group yang mampu membuat induk perusahaan ini menjadi lebih besar dan ternama. Dan mereka pun secara aklamasi memilih Om Alex sebagai pengganti papah, sedangkan sebagian kecil orang-orang yang loyal terhadap papah memilih untuk abstain, dan mereka berdua, Om Alex dan Om Bagas tersenyum penuh kemenangan.


Setelah kurasa cukup bagi mereka untuk berbicara, sekarang giliranku yang hanya akan bermain dengan bukti-bukti kongkrit, setelah sebelumnya kuminta Pak Kusno dan Bu Retno untuk ikut masuk ke dalam ruang rapat. Om Alex serta Om Bagas mulai terlihat pucat.


"Sekarang giliran saya yang bicara. Mungkin sebagian dari kalian yang sudah bekerja lama di sini sudah mengenal siapa saya," kataku jelas menatap ke arah semua peserta rapat.


"Pemilihan suara yang dilakukan tidaklah sah, di karena, 'kan sudah salah dalam menentukan siapa pemilik perusahaan ini yang sebenarnya." Sembari aku mengambil satu map bukti di dalam tasku.


"Ini adalah akte pendirian perusahaan." Map tersebut lantas kubuka dan kutunjukan kepada para peserta rapat.


"Di sini jelas terbukti, dengan tanda tangan bermaterai bahwa perusahaan Niskala di dirikan oleh Yusuf Kusumateja, kakek saya dari pihak ibu, disaksikan di depan notaris, dan bukan atas nama Wirahadi." Ruang rapat menjadi hening.


"Bukti kedua," kataku. "Ini adalah surat wasiat dari almarhum kakek, dan juga ditanda tangani oleh almarhum papah, mamah, saya dan dua orang pengacara kakek yang tertulis jelas bahwa saya, Chairiswan Kusumateja, pewaris tunggal group Niskala ini." Sambil kutunjukan bukti surat wasiat itu yang keduanya kusimpan selama ini di dalam safety deposit box.


Om Alex, Om Bagas, dan para pendukungnya semakin tidak bisa bicara. Aku lalu meminta Toni untuk masuk sembari membawa seorang pengacara perusahaan.


"Dan ini bukti ketiga. Bukti-bukti kecurangan yang sudah dilakukan Om Alex, Om Bagas, serta para kroninya terhadap keuangan perusahaan tanpa peruntukan yang jelas di saat papah masih memimpin." Lantas kuberikan copy-an Bundelan kertas-kertas kepada para peserta rapat, yang semalam diberikan pak kusno.


"Om Alex dan Om Bagas, punya bukti apa?" tanyaku kepada mereka berdua, dan mereka benar-benar sudah terlihat pucat.


"Ini adalah Pak Setya, beliau adalah pengacara kakek sekaligus pengacara perusahaan. Beliau sudah saya perintahkan untuk melaporkan dan mengusut kecurangan ini ke pihak kepolisian." Sembari kuperkenalkan Pak Setya yang mengangguk, mengiyakan.


Jadi sekarang sudah jelas. Siapa yang berhak menjadi pimpinan di group Niskala ini. Dan sampai bertemu di pengadilan," kataku, sambil ingin keluar dari ruang pertemuan.


"Ris, Aris! Semua bisa dibicarakan, Ris!" Suara Om Alex sedikit berteriak, dan ruangan itu mendadak ricuh dan ramai.


"Pastikan semua proses hukum tetap berjalan, Pak," ucapku sambil jalan kepada Pak Setya.


"Baik, Pak. Akan saya pastikan pihak-pihak yang terlibat kecurangan akan masuk bui," jelas Pak Setya.


"Pak Kusno dan Bu Retno sudah mulai bisa bekerja lagi ya," ucapku kepada mereka berdua di depan pintu lift.


"Baik Pak, terima kasih," jawab mereka berdua hampir bersamaan.

__ADS_1


Kecurangan dan kejahatan tetap harus diusut secara tuntas dan transparan, walaupun yang terlibat masih terdapat hubungan kekerabatan. Namun akan kupastikan, keluarga mereka tidak akan terlantar dan kelaparan. Aku yang akan memenuhi semua kebutuhan keluarga mereka.


__ADS_2