
Menjelang senja, saat matahari hanya tinggal menyisakan sinar orange keemasan yang membias indah di ufuk barat tepi bumi.
Rumah megah ini masih sama seperti saat terakhirku tinggal di sini enam tahun yang lalu, tidak ada yang berubah dari bentuk dan juga penempatan furniture-furniture yang ada di dalamnya.
Sunyi, lengang, tanpa kebersamaan yang saling mengikat antara saudara yang satu dengan yang lainnya. Hanya para pekerja pengurus rumah yang terlihat ada, bahkan mungkin rumah ini seperti milik mereka sendiri, karena lebih banyak waktu yang mereka habiskan di rumah ini dibandingkan dengan pemilik rumah itu sendiri.
Aku memang merasa dibebani oleh tanggung jawab yang sangat besar. Saat ini bukan waktunya memikirkan diri sendiri. Ada puluhan ribu pekerja yang bergantung pendapatan di Niskala group. Itu dahulu yang akan aku prioritaskan. Keberlangsungan bisnis usaha group Niskala. Usaha warisan kakekku.
Tidak banyak waktuku hari ini. Selesai mandi langsung berencana menjenguk Papah di rumah sakit. Pria paruh baya yang dulu sangat kubenci, tetapi tidak bisa kupungkiri jika pernah terbersit rasa rindu ingin bertemu dengannya.
Toni, sopir yang merangkap pengawal pribadiku dulu, sudah kuminta untuk kembali bekerja bersama denganku lagi, dan saat ini kami berdua sedang menuju ke Rumah Sakit Omni tempat papah dikabarkan sedang dalam keadaan kritis.
"Bagaimana keadaan di Sudirman, Ton, siapa yang menggantikan posisi papah selama sakit?" tanyaku kepada Toni.
"Bukan hanya sebelum sakit, Pak, jauh sebelumnya pun Pak Alex yang sering mengambil alih keputusan strategis menyangkut bisnis perusahaan," jelasnya.
"Papahnya sendiri kemana?"
"Semenjak Pak Riswan pergi, beliau pun sudah jarang terlihat ke Sudirman, entah kemana. Jadi Pak Alex yang sering berada di kantor pusat. Bahkan sekarang, Pak Alex sudah mulai menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk menduduki tempat-tempat strategis di dalam Niskala group," jelas Toni, sembari sesekali menoleh ke arah kaca spion.
Om Alex, adik kandung papa, pamanku. Sedari dulu memang sudah sangat ambisius ingin menduduki jabatan-jabatan yang strategis di perusahaan, memanfaatkan hubungan persaudaraannya dengan papah. Lalu pelan-pelan ingin menguasainya.
"Kamu sendiri bagaimana Ton, sudah menikah?" tanyaku. Mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, sudah ada anak satu, Pak. Usia tiga tahun, Bapak sendiri bagaimana?"
"Anakku sudah dua malah, seandainya saudara-saudara istriku mau bersikap baik, sepertinya kehidupan kemarin lebih menenangkan buatku."
Sambil menghidupkan handphone baru yang kuminta pada Toni untuk membelikan sebelum dia ke rumahku, dan mulai memasukkan beberapa nomor yang kuanggap penting.
"Mohon hati-hati, Pak," ucap Toni.
"Maksudnya?" tanyaku, belum paham.
"Orang dalam kita menginformasikan, tidak lama lagi Pak Alex akan mengangkat dirinya sendiri sebagai Direktur menggantikan Pak Muchtar yang sakit-sakitan. Lewat dukungan orang-orangnya sendiri. Pak Riswan dianggap sudah tidak ada andil buat perusahaan. Mungkin, jika Pak Alex tahu nanti Pak Riswan datang, sepertinya dia pun bisa kena jantungan."
"Dipta masih ada di Sudirman, kan?"
"Masih, Pak. Hanya Buk Dipta sekarang mulai disingkirkan kebagian umum, orang-orang yang loyal kepada bapak dulu semua sudah diganti, bahkan sebagian ada yang dikeluarkan," jelas Toni.
"Tolong kamu kabari nanti mereka satu per-satu Ton. Bilang, saya sudah kembali aktif. Minta mereka untuk kumpulkan segala informasi dan data-data, juga siapa saja orang-orangnya Om Alex, buat saya pelajari nanti," ucapku, lalu teringat dengan keluarga kecilku.
'sedang apa keluarga kecilku'
Perkataan Toni kembali menyadarkanku dari memikirkan keluarga. "Baik Pak, secepatnya akan saya konsolidasikan orang-orang bapak."
Mobil yang aku tumpangi mulai memasuki area rumah sakit, dan ini adalah pertama kali aku akan kembali bertemu Papah setelah enam tahun aku menghilang.
Sebagian kerabat Papah yang ikut menunggu di rumah sakit terkaget-kaget dengan kedatanganku yang sudah menghilang cukup lama. Dari Papah pun sama dengan mamahku, kedua orangtuanya sudah tiada, hanya ada tiga adik-adik papah. Om Alex, Tante Sartika, dan Om Bagas. Semuanya bergantung dengan perusahaan peninggalan kakekku dari pihak mamah. Yusuf Kusumateja.
Hanya ada Tante Sartika dan Om Bagas yang sedang menunggu papah. Dengan ditemani beberapa orang cucu mereka. tidak terlihat ada Om Alex di situ.
"Ya, Allah, Aris, kamu kemana saja?" Tante Sartika menghambur ke arahku, dan aku tau dia tulus, sayang, dan perduli padaku. Om Bagas pun menghampiri juga memelukku. Pelukan dan sambutannya terasa hambar, seperti dipaksakan.
Dia sama dengan Om Alex, berambisi ingin menguasai group Niskala, yang notabene adalah milik klan Kusumateja, dan aku adalah pewaris satu-satunya.
"Kamu kemana saja, Ris?" tanya Tante Sartika lagi, matanya sudah berkaca-kaca.
"Ada hal yang harus saya selesaikan dahulu Tante, bagaimana dengan kondisi Papah?"
"Masih kritis Ris," jawab Om Bagas.
"Kamu kenapa tidak kasih kabar, bikin Tante khawatir selama bertahun-tahun," ucap Tante Sartika, sembari menghapus air matanya dengan tissue.
"Maafkan Aries Tante, Aries hanya butuh waktu untuk menepi," jawabku.
"Aries mau lihat Papah, Tan?"
"Sebentar ya, Ris, di dalam masih ada dokter yang sedang memeriksa kondisi papahmu," jelasnya.
Tidak beberapa lama, dokter dan Suster yang memeriksa kondisi kesehatan papah keluar dari ruang VVIP tempat papah dirawat, dan kami semua langsung menghampiri.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyaku.
"Mohon maaf, sampai saat ini beliau belum ada perubahan sama-sekali. Kami akan pantau terus 24 jam," jawabnya.
"Saya putranya, minta ijin masuk untuk melihat kondisinya."
"Boleh Pak, silakan. Nanti ke ruang sterilisasi dulu ya, pak, dan memakai pakaian yang sudah disiapkan pihak rumah-sakit. Masih di satu ruangan juga dengan Pak Muchtar di dalam, ada perawat yang menjaga di dalam," kata dokter pria paruh baya tersebut.
"Baik, Dok, terima kasih."
"Biar Tante temani ya, Ris?" pintanya.
"Baik Tante, sebaiknya kita langsung ke sana," jawabku, mulai mendekati ruang perawatan Papah, dengan diikuti oleh Tante Sartika.
Setelah melewati ruang sterilisasi dan memakai pakaian yang disediakan pihak rumah sakit, aku pun segera masuk ke ruangan tempat Papah di rawat.
Terdiam aku, tidak mampu lagi untuk mendekat. Air bening mengembang di kedua mata ini, dan langsung luruh perlahan.
'Benarkah ini papah' lirih suara bathinku.
Ya Allah, kondisinya sangat memprihatikan, dan aku sampai tidak mengenali. Sementara Tante Sartika sudah menangis terisak.
Papah yang dahulu bertubuh tinggi besar, kini hanya tinggal kulit berbalut tulang. Semua alat bantu yang dianggap mampu memperpanjang napasnya terpasang di tubuhnya. Dan baru kali ini aku merasa menyesal, kenapa baru bisa menemuinya dalam kondisi menyedihkan seperti ini.
Perlahan, aku mulai mendekati sisi ranjang tidurnya. Suara alat pendeteksi detak jantung satu-satunya yang terdengar di ruangan ini. Nafasnya sudah tersengal-sengal, terlihat tua sekali.
'kenapa bisa jadi seperti ini, Pah' lirihku dalam hati.
Kusentuh pelan jemarinya, dingin, tidak merespons sama sekali. Kembali kutatap lekat wajah tulang berbalut kulit tersebut, dan air mataku jatuh.
"Pah ... Riswan pulang, Pah," bisikku pelan dekat telinganya. Tante Sartika terisak-isak, baru kali ini dia melihat langsung keadaan kakak tertuanya itu.
"Mas, ini anak Mas sudah pulang."
Suara Tante Sartika terdengar parau, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Riswan minta maaf, Pah." Sembari terus kugengam jemari tangannya, dan papah mulai merespons. Jari-jari tangannya terasa bergerak lamban.
Bulir bening terlihat di sudut matanya.
"Bangun Pah, ini Riswan datang."
Suara mesin pendeteksi detak jantung mulai terdengar berirama.
Kuhapus lembut bulir air di sudut mata tuanya, dengan perasaan hati yang sangat bersalah.
"Riswan sudah memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan Papah. Maafkan Riswan juga ya, Pah?" Ada sedikit tarikan pada ujung bibirnya, seperti ingin tersenyum, sudut matanya masih basah.
"Asshaduallah illahailallah waashaduanna Muhammaddarrasullallah."
Kubisikan pelan di telinga papah berulang-ulang, nafasnya mulai tersengal-sengal, sembari jemari tanganku mengusap lembut ujung rambutnya. Bersandar pada tepi ranjang tidur, dan suara alat itu lantas terdengar datar.
'Selamat jalan, Pah, semoga tenang di alam sana, kita semua hanya tinggal menunggu waktu saja' ucapku dalam diam.
"Innalillahi wainnailaihi rodziunn."
Aku tahu, papah sudah "hilang" air mata ini kembali jatuh membasahi punggung tangannya, saat aku menciumnya untuk yang terakhir kali.
Tante Sartika terlihat panik, berlari ke luar ruang perawatan untuk memberi tahu suster jaga. Tidak menunggu lama, Dokter dan Perawat juga datang, mereka langsung memeriksa kondisi papah.
Aku berdiri lantas berjalan keluar ruangan perawatan Papah. Om Bagas bergegas mendekati, dan aku hanya menggeleng tanpa bersuara, Dia tahu maksudnya, terdiam menunduk tidak lagi bicara.
Kupanggil Toni yang memilih untuk duduk menyendiri di pojok bangku tunggu.
"Papah sudah meninggal, Ton," ucapku lirih.
"Innalilahi wainnailaihi rodziunn."
"Tolong kamu urus semua, Ton," ucapku pelan.
"Siap, Pak." Toni lantas menghubungi nomor orang-orang yang bisa membantunya, dan aku memilih untuk pergi mencari musholla di area rumah sakit, menjalankan Salat Isya, berwudlu dan berdoa agar perasaanku menjadi lebih tenang, juga untuk mendoakan almarhum papah dan mamah.
__ADS_1
Lingkungan tempat aku dan papah tinggal dirasa tidak cukup memungkinkan, dikarenakan faktor lingkungan sekitar yang mayoritas non muslim jika ingin diadakan acara tahlilan selama seminggu kedepan, agak sedikit kesulitan mencari orang-orang yang ingin ikut hadir untuk mendoakan. Jadi diputuskan untuk dilakukan di rumah Tante Sartika saja, dari acara prosesi pemandian hingga pemberangkatan jenazah.
Selesai acara tahlil hari pertama di rumah Tante Sartika, aku memutuskan untuk menyendiri di taman samping rumahnya.
Taman kecil dengan kolam ikan yang diapit dua buah lampu taman berbentuk bulat.
Terbayangkan kondisi Papah yang sangat menyedihkan, entah apa yang terjadi di enam tahun terakhir selama aku tidak lagi bertemu dengannya.
"Mas Aries." Sebuah panggilan lembut menyadarkan aku dari lamunan, dan aku masih mengenal suara itu.
"Maharani?"
"Iya, Mas Aries, ini aku." Berhijab hitam-hitam, wajahnya lebih bercahaya, sepertinya sengaja mendatangiku di sisi rumah Tante Sartika.
"Sedang ada di sini, Ran?" tanyaku, mulai merasa tidak nyaman.
"Kamu kok tahu, aku berada di sini? tanyaku lagi.
"Tante Sartika yang memberi tahu aku, Mas, dan aku pun sengaja ingin menemuimu," jelas Maharani.
"Menemuiku, buat apa?" tanyaku, kembali mengalihkan pandangan ke arah kolam.
"Aku ingin meminta maaf atas masa lalu kita, Mas," jelasnya, pelan.
"Aku sudah melupakannya," jawabku singkat.
"Tetapi aku tetap harus meminta maaf, Mas," desaknya, terdengar seperti menahan tangis.
"Aku sudah memaafkanmu, Ran, percayalah ... Aku sudah memaafkanmu," jelasku lagi. Suasana kembali terasa hening. Maharani memang terlihat berbeda sekarang, dia sudah memakai hijab.
"Kamu menghilang kemana, Mas? Aku benar-benar merasa berdosa," sesalnya.
Aku menoleh sesaat ke arahnya, lantas kembali berucap.
"Ada hikmah dibalik kejadian kelam masa lalu, dan aku sudah mendapatkan manfaatnya, juga penggantinya."
"Aku pun begitu, Mas. Peristiwa menjijikkan itu pada akhirnya mampu menyadarkan dan merubah hidupku," jelas Maharani. Kami berdua memandang ke arah yang sama, pancuran kolam ikan.
"Alhamdulillah, jika seperti itu," jawabku, lalu berdiri dari kursi taman hendak kembali ke ruang utama. Tidak nyaman rasanya berduaan dengan perempuan yang bukan mahram-ku.
"Mas?"
"Kenapa, Ran?" jawabku. Sesaat setelah melewati belakang tubuhnya.
"Ijinkan aku untuk menebus semua dosa-dosaku, Mas," ucapnya pelan. Membuatku berhenti melangkah.
"Maksudnya apa, Ran?" tanyaku, tidak mengerti akan maksud ucapannya.
"Ijinkan aku mengabdi kepadamu, Mas," pintanya. Aku semakin tidak mengerti apa maksudnya.
"Mengabdi apa maksudnya, Ran?" tanyaku lagi.
"Jadikan aku istrimu, Mas," ucapnya, lalu mulai menangis, membuatku terperangah dibuatnya.
"Tidak mungkin, Ran, aku sudah mempunyai istri dan dua orang anak," jelasku kepada Maharani, memberikan dia pengertian.
"Aku tetap bersedia, Mas. Ijinkan aku mengabdi kepadamu."
"Maafkan aku, Rani. Aku yang tidak bisa," jawabku lagi, mulai ingin menjauhinya. Langkahku terhenti saat lengan bajuku direnggutnya.
"Bantu aku untuk menghilangkan rasa bersalah di hatiku, Mas ... aku mohon kepadamu," ucapnya memohon, mulai terisak-isak.
"Jika ingin menghilangkan rasa bersalah dalam hatimu, tidak harus seperti itu? Aku pun sudah memaafkan semuanya. Jadi lupakan saja, semua sudah kuanggap selesai," tegasku, menepis pelan pegangan tangannya di lengan bajuku.
"Jadi budakmu pun aku ikhlas, Mas," mohonnya tersedu, tetap memaksa.
"Aku yang tidak ikhlas untuk mendua, Rani. Aku tidak mungkin menyakiti hati istriku. Pergilah, kisah tentang kita sudah terkubur mati."
Aku lalu meninggalkan Maharani seorang diri di sisi taman samping rumah dekat pinggir kolam, dalam suasana hening dan tenang. Hanya suara isak tangisnya yang terdengar.
'Permintaan yang tidak mungkin akan
__ADS_1
ku-qabulkan, karena pasti akan menyakiti hati enengku'