Sugar Mamy

Sugar Mamy
Keresahan


__ADS_3

"Aku ingin Maria melakukannya untukku, dengan jaminan tanpa gagal" Luna mengetukkan jarinya beberapa kali. Seolah menungguku merespon.


"Aku ingin lebih tahu detail projeknya"


"Aku tidak perlu tahu detail kasusmu, jadi kita barter dengan seimbang... Bagaimana?"


Aku hanya terdiam, ada sisi yang meyakini bahwa Luna akan mengeruk keuntungan lebih dari yang aku perkiraan.


"Atau kembali ke tawaran pertama, kita liburan seperti dulu. As simple as that"


No way! Aku tidak menjual diriku lagi. Maria juga cukup lihai dalam bernegosiasi. Aku rasa kami cukup kompeten.


"Kamu Bisa kirim materi negosiasinya padaku. Aku akan berdiskusi dengan Maria"


" Nope! Maria hanya perlu datang. Akan aku kirim lokasi dan waktunya" Luna menuliskan sesuatu di atas tissue sebelum dia memberikannya pada pelayan dengan sebuah bisikan.


"Well... Sepertinya aku akan sibuk. Ada janji yang baru terkonfirmasi" Luna mengangkat kedua alisnya sambil mengarahkan pandangannya pada pria yang sedari tadi mendapat perhatiannya.


"Tissue tadi buat dia?"


"Yup.. I work Hard and I play hard"


Luna segera beranjak meninggalkanku sendiri yang termenung dalam keraguan akan kelanjutan keputusanku.


*****


"One negotiation without details"


Maria mengerutkan keningnya ketika aku menyampaikan hasil pertemuanku dan Luna hari ini.


"Kamu datang, bernegosiasi dan tanpa gagal" Aku melengkapi pernyataanku.


"Tanpa detail?" Maria memastikan apa yang baru saja di tangkap oleh pendengarannya.


Aku hanya mengangguk.


"Terlalu mudah, kamu yakin Luna tidak terlibat narkoba? "


"Aku pastikan tidak. Everything is fine kecuali narkoba. Karena hanya narkoba yang merusak otak dan mental. Sisanya merusak kesehatan" Begitulah kata luna padaku. "Dia lebih baik sakit badan dari pada jadi bodoh dan terbelakang"


" Hanya itu pilihannya?"


"Sebenarnya ada yang lain" Aku memilih terdiam sesaat " Dia ingin kami seperti dulu dengan liburan bersama, menurutmu?"


"Hanya negosiasi bisnis kan?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Aku menyetujuinya" Maria menjawab dengan mantap "aku tunggu Informasi lokasi dan waktunya"


"Yakin?"


Aku memastikan sekali lagi.


"Apakah aku ada pilihan lain? Aku juga tidak akan menjual suamiku demi anakku dan juga sebaliknya"


"Thank you Mar"


Seulas senyuman Maria nampak manis Dan Sedih. Apakah kami sama? Perasaan kami sama - sama sedang terbersit rasa khawatir.


****


Peluncuran produk Kecantikan Bhio Chemical berlangsung sangat meriah. Aku benar - benar beruntung mendapatkan Elena menjadi bagian perusahaan ku.


Kami memilih nama Bio beauty yang fokus meremajakan kulit. Seperti yang aku duga Elena dengan bangga memamerkan Kecantikannya Di usianya yang tidak lagi muda.


Tanpa ragu Elena mengundang hampir seluruh koneksinya yang lebih luas dari perkiraanku. Tentu saja Elena adalah pemilik saham pada setiap perusahaan kakek dan kerabat kakek lainnya. Lebih dari itu, rupanya Elena juga cukup dekat dengan para pesohor.


Kecantikan Elena mampu membuat Produk Kecantikan kami yang bernama Bio Beauty mendapat sambutan yang luar biasa. Seharusnya aku cukup puas, bangga Dan bahagia, sejauh ini keputusanku nampaknya tepat sasaran.


Tapi justru aku mulai merasa resah yang berkepanjangan Pada keputusanku yang lain, karena belum ada kabar juga dari Maria. Memang baru satu jam yang lalu negosiasi yang di minta luna berlangsung. Tapi perasaanku makin gelisah.


Aku masih berusaha bersabar dengan menunggu berita dari Roselyn Dan Adi yang turut serta dengan Maria Pada malam ini. Tapi sampai saat ini kedua handphone mereka malah sama sekali tidak menjawab panggilanku. Padahal masih aktive.


Aku tak Bisa menunggu dalam kebimbangan seperti ini.


Langkahku berlari cepat menuju parkiran dan segera mengendarai mobilku membelah kegelapan malam. Suara Pesta mulai meredup seiring berjaraknya dari ruang dengarku.


Dari awal semuanya tidak benar, aku dan Maria tidak bersalah. Kami sama sekali tidak pernah berselingkuh. Namun kami dalam Jalan buntu untuk membuktikan itu, sayang sekali. Seharusnya aku tidak menyetujui melibatkan luna bukan?


Pemilihan tanggal Dan jam, seharusnya masuk dalam kecurigaanku. Aku sangat berharap semua Sungguh hanya keresahan ku semata.


Tapi sulit...Sejuta pikiran buruk merasuki pikiranku, setelah jawaban yang tidak lazim keluar dari pihak tempat Maria berada.


'Maaf hari ini semuanya sedang full book'


Bisnis sebesar apa yang bisa membooking seluruh gedung seperti itu. Orang tua luna akan menjauh dari hal yang berhubungan dengan tindak melanggar hukum.


"Kenapa Sepi?" Aku menggebrak ke meja receptionist. Wajahnya mendadak pucat melihat kedatanganku.


"A.. I.. Anu.." Receptionist itu hanya terbata tak sanggup menjawabku.


"Ruangan berapa?"


"I.. I.. Itu" receptionist masih bersikap sama.

__ADS_1


"Saya datang dengan tim penyidik" Mas Ariopun tiba - tiba muncul di belakangku. Tentu saja, dia bersama timnya, sesuai permintaanku.


"Nomor 102 Dan 103" Ahirnya receptionist itu menjawab dengan lengkap. Aku segera berlari menuju ruangan yang di maksud.


"Aku cari Maria, mas Ario geledah ruang yang lain. Untuk segala kemungkinan"


Mas Ario segera mengikuti pintaku dengan sigap.


Salah satu hal yang harusnya tidak boleh aku lupa adalah kenekatan luna. Dan itu adalah alasan terbesar Kenapa kami tidak mungkin kembali. Luna menjebakku terlibat dalam kasus narkoba Dan pemerkosaan. Untungnya, aku memang tidak pernah memakai barang haram itu Dan tidak pernah ditemukan dnaku Pada korban. Saat itu rencana luna tidak begitu rapi. Karena terburu - Buru.


Alasannya Luna melakukan sangat sederhana, Aku berniat mengumumkan hubungan kami Pada keluargaku dan merubahnya untuk menjadi lebih serius, Atau aku akan mengahirinya.


Dan Luna Sungguh berusaha menghancurkanku. Karena dia tidak menginginkan keduanya.


Damn!!! Roselyn dan Ady rupanya sudah teler dan tak sadarkan diri Di room102. Maria tidak mungkin meminum alkohol. Sama sekali tidak ada bekas perlawanan. Gelas pecah atau semacamnya. Tapi Kenapa Maria tidak ada, dia bukan tipe murahan.


Brak!!!!


Aku membuka room 103 yang ternyata terkunci dengan cara paksa.


Wajah Maria yang merah dengan penuh air mata sedang tergeletak tengkurap di lantai. Tangannya mencoba menggapai apa saja yang ada di depannya. Sementara satu ujung kakinya sedang di pegang erat oleh....


"Nando???"


Aku memanggil nama itu dengat reffleks. Sungguh kenyataan yang di luar otakku. Yang benar saja, Kenapa harus dia.


Aku segera menendang dengan sekuat tenaga lelaki yang nampaknya dibawah pengaruh obat. Peduli setan dengan status Dan latar belakangnya.


Mulutnya meracau ketika tangannya otomatis mengelap sudut bibirnya yang retak karena ulahku.


Aku segera menarik Maria dengan busana yang sudah tak berbentuk. Giginya menggertak menahan berbagi perasaan yang bercampur aduk.


"Is OK!" Aku segera melepas jasku untuk menutup tubuhnya, sulit bagiku untuk menyenangkannya karena aku juga tidak dalam kondisi tenang.


Aku melepas kemejaku untuk membungkus sepasang pahanya. "Everything OK" Aku membisikkan satu kata lagi setelah melihat bahwa ****** ***** Maria masih nampak utuh. Namun beberapa cakaran masih nampak segar Di kedua sisi pahanya. Namun setidaknya ada lega dalam hatiku.


"Kamu baik - baik saja Mar?" Mas Ario segera menghambur ke arahku untuk memastikan keadaan Maria.


"She is fine"


"Aku sudah memastikan untuk mengambil semua cctv hari ini. Polisi juga akan segera datang.


" Oh iya, Adi Dan Roselyn Bisa tinggal Di apartmentku malam ini. Orang tua mereka pasti khawatir kalau mereka pulang dengan keadaan seperti itu "Aku melemparkan kunci apartment dari dalam dompetku." Jangan lupa kita perlu kesaksian mereka "


" Nando sepertinya dalam kondisi tidak normal "Desis mas Aryo. Sebelum kedua orang dari Tim Mas Aryo Segera membawa Nando yang sedang di luar kendali keluar ruangan.


" Kamu urus Maria aku urus sisanya "

__ADS_1


__ADS_2