Sugar Mamy

Sugar Mamy
Rasa cemburu


__ADS_3

Serius kamu nggak selingkuh dari aku?


Maria masih menanyakan hal yang sama lagi ketika kami akan tidur.


"Harus berapa kali aku bilang enggak? lagi pula selingkuh itu merugikanku dari sisi pria"


"kok Bisa, bukannya itu malah jadi ajang kejantanan"


" Sorry... Aku nggak termasuk, I choose become bussines Man bukan cassanova, satu wanita saja sudah cukup penuh untykku.." aku mencoba meyakinkan Maria tentang pemikiranku yang sudah mulai dewasa. "Hanya memiliki kamu saja, aku sudah tidak punya waktu untuk sekedar nongkrong sama Dion... Eh sekali nongkrong sudah di curigai selingkuh.. Ckck"


Wajah Maria tertekuk "Sorry... Maybe I just too sensitive"


Kayaknya, hormone perempuan Maria naik berkali - kali lipat saat hamil.


" Menurutmu apakah ada Kemungkinan Elena juga membayar Dion " tiba - tiba Sebuah prasangka muncul dari bibir Maria yang biasanya malas membahas hal receh seperti ini.


Tapi... Benar juga, pantesan Dion lumayan punya uang." Ah... Dia cantik, dia Bisa dapat siapa saja yang dia mau "Aku menyanggah Pikiranku sendiri." Tidur Mar... Besok banyak pekerjaan Di kantor " Aku memutuskan obrolan yang sanggup menganggu ketenanganku.


" Bukankah ibumu satu - satunya anak perempuan dari keluarganya? " Maria mendengung lagi, tanpa memperdulikan usahaku.


" Huh... Elena itu anak Di luar pernikahan, tapi Di rawat Dan Di akui oleh keluarga kakek.... Ibunya dulu super model Pada jamannya.. Makanya cantik "


" Oh...! "


" Tidur.. Yuk..!! "


" Hmmm..... Har!! Kamu sukanya cewek langsing ya..? "


Ah.. Pertanyaan jebakan ini aku paling malas.


" Selera aja! "


Maria yang sedang di depan cermin menegangkan kedua pipinya yang memang nampak membuat. Sekilas kami Saling bertatap dalam bayangan cermin.


" Kali ini berat badan ku naiknya drastis" Suara Maria terdengar mirip dengan keluhan.


"Berarti anak kita lebih sehat dari Tania" Aku menjawab sekenanya.


"Mungkin juga, aku makannya banyak banget"


Aku tersenyum miring, wanita selalu saja bingung soal timbangan. "Lagi pula hamil juga sementara, nanti balik lagi" Maria mungkin lupa soal kehamilannya.


Aku menggelengkan kepalaku Dan bersiap mengistirahatkan Pikiranku dengan menutup mata.


"Iya sih..." Suara Maria terdengar lirih seiring dengan langkahnya yang perlahan bergabung denganku ke tempat tidur.


Sebagai pria, aku selalu merasa terjebak ketika perempuan mulai berkomentar tentang penampilan.


Kami para pria memang peduli dengan penampilan, tapi urusan pasangan kami juga sadar kami memilih dengan perasaan. Semua  wanita pasti Bisa kurus atau gemuk, kami Bisa menunggu, tidak masalah. Tapi kami malas terjebak dalam pertanyaan fisik yang cenderung menjebak.

__ADS_1


Aku membuka mataku Sejenak Dan menoleh ke arah Maria. Sepasang tangannya segera bergerak menutup maniknya yang rupanya telah terpana ke arahku beberapa saat.


"Aku tampan kan?"


Maria hanya diam dengan kelopak mata yang perlahan terbuka.


"Aku sudah mengakui ya dari dulu bukan"


Aku merubah posisiku untuk miring menghadap ke arahnya. Mengamati Sejenak wajah Maria yang seakan memiliki maksud...


"Lagi pengen..." tebakku random


Wajahnya memerah seketika, tubuhnyapun langsung beralih membelakangiku.


"Aku gendut banget" gerutunya "Good night!! "


Sejenak suasana hening.


Huuuu... Mar.. Mar.. Tinggal bilang iya aja susah.


"belum tidur kan?" aku memeluk tubuh Maria yang memang lebih lebar saat ini.


"on progress.."


" hmm... Klo begitu masih Bisa kan?"


"Tapi aku gendut Har.." suara Maria terdengar sedikit merengek.


"Apa iya?" Maria memutar tubuhnya menghadapku.


"Harga dirimu itu agak diskon" jawabku jujur sambil tersenyum.


Maria tak mampu menahan senyum malu yang terukir Di antara pipi chubbynya.


Maria selalu tidak mengerti bahwa kepuasanku terbesar saat bercinta dengannya adalah menaklukkan sifat superiornya.


" Kalau kamu penuh hormon gini lebih menarik" Aku mengusap sepasang bibirnya. "Karena kamu menyerahkan diri tanpa syarat" Jawabku akan kerutan kening Maria.


"CK.. Kamu tuh suka banget ngejek aku."


"Aku ini jujur.."


Sepasang bibir kami segera bertaut.


"Mau rebahan aja atau lebih? "


Maria hanya mengatupkan sepasang bibirnya dengan manik menatapku secara konstan.


"Pegang headbed yang kuat ya" pintaku yang sudah mulai faham secara telepati kode Maria.

__ADS_1


Tanpa berkata - kata, Maria langsung menuruti pintaku. Hanya ahirnya namaku yang di sebutkannya berkali - kali.


****


"Apakah masih sulit bertemu dengan Tania?"


Maria mengangguk "Kasus ayahmu membuat hubungaku dan Anthony lebih tidak baik" Maria memijit pelipisnya. "Aku ini ibunya"


Sudah lebih dari sepekan kami tidak bertemu dengan Tania, semua Serba Di batasi. Anthony memang kelewatan, satu sisiku merasa bahwa Sebenarnya Anthony memiliki dendam tertentu terhadap Maria. Entah mengapa dia selalu suka membuat masalah dengannya.


"Selama kamu mengenal Anthony.. Apakah dia sering menyiksa emosimu?"


"Aku tidak perhatikan" jawab Maria seakan tak mau peduli.


"karena aku mengira bahwa Anthony lebih suka mengusikmu dari Pada peduli Pada Renata"


Maria terdiam Dan mengalihkan tmaniknya padaku.


"Apa Renata mengalami hal yang sama denganku"


"Sampai sekarang belum ada kabar kehamilan dari Renata Dan wajah Anthony sangat jarang tampil Di social medianya"


"bukan patokan.."


", tapi...renata penggila social media semuanya jelas Di sana, termasuk kebersamaanya bersama Tania"


Maria menunduk. "Apakah kamu kira Anthony ada dendam padaku?"


"Aku tidak menghakimi hanya coba menganalisa"


Maria menghela nafas panjang" Aku tidak mengenal Anthony sebagai pengecut, yang membalas dendan secara terselubung, tapi.... " Maria menggantung ucapannya" Mungkin aku memang salah "


" Eh... Aku tidak membahas ini untuk membuatmu merendahkan diri.. "Bicara dengan ibu hamil memang bukan hal yang mudah." Coba analisa hubungan kalian sepanjang pernikahan, apakah ada hal yang masih mengganjal supaya mungkin kita Bisa menemukan alternative Di sana "


" Kami selalu bermasalah... Tapi hanya hal kecil atau cuma urusan soal kapan punya anak Dan..." Maria menerawang Sejenak" Soal perceraian... Anthony sempat tidak setuju"


"Huh...." aku mendengus kesal.


Aku sudah menduga, Anthony Sebenarnya jatuh cinta Pada Maria. Tapi dia terlalu gengsi untuk mrngakuinya. Mungkin ini berhubungan dengan sifat Maria yang cukup superior Dan Egoisme lelaki Pada Anthony yang enggan mengalah. Padahal meski tidak mudah menaklukkan Maria, tapi bukan berarti tidak mungkin. Contohnya aku sudah melakukannya.


Aku menghampiri Maria Dan memanggut sepasang bibirnya "Masalahnya you choose to leave him.." tegasku.


"We are agree about that..!! " Maria tidak percaya dengan ucapanku. " Bukankah dia sudah berencana menikah dengan Renata? Di antara kami tidak ada yang tersisa"


"Mungkin Renata hanya lah alat, untuk membuatmu kembali.... Bukankah kamu bilang dia mulai sering mengunjungimu dam Tania setelah mereka bertunangan?"


" Do you think so?"


"Could be..." jawabku sambil meneguk kopi Panas yang di sajikan Maria untukku.

__ADS_1



__ADS_2