Sugar Mamy

Sugar Mamy
Negosiasi


__ADS_3

"Maria...."


"ya.. Honey" suara merdu itu terdengar lebih seperti ancaman.


Yup Maria memanggil ku honey ketika dia menginginkan hal darurat begini. Hal lain yang aku mengerti dari menjadi sugar Baby adalah, memiliki jantung cadangan.


Seorang lelaki berusia matang berkulit tanning Dan bertubuh atletis mulai nampak membelah barisan.


"Apa kabar Maria? Ayah sudah menunggumu" senyuman manis Di arahkan hanya ke Maria Dan tidak berbalik ke arahku atau Mas. Ario..


Apakah Maria special? Uhf.... Bukan saatnya cemburu. Aku harus lebih memikirkan kondisi Dan harga diriku yang tidak ingin berkurang saat ini.


Maria.... Resiko kamu tanggung...


"Apa kabar Har... Ternyata kamu memang tumbuh dengan cukup tampan" suara Berat ayah Melissa langsung menyambut kami ketika sampai di Sebuah lounge gedung ini.


"Terimakasih om... Ini berkat doa Om juga" jawabku dengan tatapan penuh percaya diri Dan jantung yang melaju bak kereta Api listrik.


"Silahkan duduk!"


"Kamu nampak lebih muda Maria!!" kali ini sapaan kepada Maria dengan penekanan penuh arti.


" mungkin rumor bahwa menikahi yang lebih muda akan mengurangi biaya botox adalah benar" Maria menunduk Sejenak dengan senyum manis.


"Jadi ini alasanmu menolak Melissa?" kalimat menusuk itu langsung menjadi pembuka sebelum aku bersiap.


"ehem...." aku mencoba mengulur waktu untuk menjawab, karena ketika kata terucap maka tidak ada Jalan kembali.


"Seandainya saya tahu.... Saya tidak akan lancang berada Di Sisi Harry"


Bagus... Maria melempar Batu Dan meninggalkanku sendiri....


"Namun ketika takdir bertindak kita juga tidak bisa menghindarinya, kecuali beberapa hal seperti berikut mungkin Bisa di bantu untuk di cegah." Maria langsung memotong basa - basi Dan ke inti masalah.

__ADS_1


Maria menyerahkan map yang belum aku ketahui isinya kepadaku, yang langsung aku sampaikan ke hadapan ayah Melissa tanpa membukanya lebih dulu.


" Aku rasa om akan bijak menyikapinya " suarakupun ikut menjadi lebih rendah Dan menekan.


Atmosphere jadi terasa seperti film mafia, setiap insan Di dalam ruang ini sama - sama menahan nafas mengamati Ayah Melissa yang terus mengernyitkan dahinya ketika membaca lembar - demi lembar.


" Memiliki suami tampan memang cukup memusingkan... Bukan Begitu Maria?" Ayah Melissa menutup Map Dan kembali meletakkannya Di atas meja. Matanya menatap lurus ke arah Maria tanpa berkedip.


"Lebih sulit ketika mereka tidak berstatus sebagai suami, saya hanya memudahkan untuk memperjelas batasannya dengan Sebuah pernikahan" keberanian Maria perlu aku acungin jempol.


"Jadi apa maumu?"


Sudut bibir Maria tertarik penuh ke arah pipinya.


"Sederhana saja..." Maria mulai melepaskan tangannya dariku Dan melipatnya Di depan Dadanya "Perijinan sekolah yang saya bangun untuk di bantu agar lancar. Ada banyak masa depan anak yang sudah saya janjikan untuk mendapatkan pendidikan gratis tergantung Di sana"


A... Apa... Cuma konsep amal?


"Saya rasa akan bagus untuk membantu program kampanye Anda. saya hanya minta untuk namanya masih sama Dan tidak berubah agar tidak merepotkan untuk mengulang processnya.... Kira.. Kira.."


Maria mulai manggut manggut Dan kembali menatap Ayah Melissa dengan senyum diplomatisnya.


" Hanya itu? "


" Tentu tidak...! Semua yang sudah terencana tentang pemberitaan juga Di hentikan. Saya yakin Melissa enggan untuk meminta maaf Di publik Dan saya tidak membutuhkannya. Jadi.." Maria menggantung ucapannya Sejenak "saya rasa Melissa harus vaccum selama satu tahun dari profesinya sekarang Dan saya yakin dia tidak akan kelaparan karena hal itu"


Ayah Melissa tertawa berderai, entah memang lucu atau Di buat - buat, tapi sudut matanya sempat sedikit Berair.


"Tiga... Minggu..itu batas waktunya?" dia meyakinkan Maria sekali lagi.


Maria mengangguk pasti, Tangannya segera menengadah ke arah Mas. Ario yang di ikuti Sebuah Map berwarna biru mendarat di Tangan Maria. Sejenak dia mengintip isinya Dan segera menyerahkannya kepada Ayah Melissa.


Aku hanya sanggup tetap menegakkan sedikit daguku Dan memandang lurus Di mana tinta Di bubuhkan. Berpura - Pura keren kadang sulit ketika kamu memiliki bakat keren otomatis. Karena Pada saat seperti ini tombol otomatis itu seperti musnah Dan aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya secara manual.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa aku tawar" Ayah Melissa meringues penuh arti "Kamu tidak pernah berubah" sebuah nafas panjang terhembus dari wajah yang cukup matang itu Dan Sebuah pandangan dj lemparkan Pada pria berkulit Tanning yang ternyata bernama Nando....


"Sebaiknya kamu mulai cari kandidat baru, menunggu Maria itu hal yang sia - sia" lanjutnya dengan senyum penuh arti.


Nah...!!! Benar dugaanku lelaki yang bernama Nando itu naksir Maria.


" Saya juga Akan mendukung sepenuhnya untuk Nando Dan tolong jangan sungkan mengundang kami saat pernikahan telah tiba" jawaban Maria cukup ringan Dan santai.


"ya... Ya.. Terimakasih Mar" nada datar terdengar mulai kurang ramah.


" kalau begitu.. Kami pamit dulu, semoga kampanye hari ini akan lancar" salah satu kaki Maria menekan kaki kananku.


"Terimakasih Om atas kerja samanya" Aku segera berdiri dan mengulurkan Tanganku. Yang tentu Di sambut baik.


"Apakah aku Bisa titip Salam Pada ayahmu Harry!!?"


Ini adalah ledekan yang cukup jelas, aku yakin beliau tahu aku dan Papi benar - benar sedang tidak berkomunikasi. Sebuah senyum aku sajikan berharap aku nampak cukup bahagia


"Tetap Bisa. Hanya mungkin agak terlambat sampai tujuan"


Aku coba membuat lelucon yang tidak lucu hanya berharap bapak Tua ini segera melepas genggamannya.


"Ehem!!! " Maria berdehem pendek yang berhasil membuat Tanganku terbebas.


Aku meraih kembali Tangan Maria Dan melingkarkannya di lenganku. Dan kami melangkah lurus.... Keluar ruangan Dan berhenti Di depan Lift.


Uhf... Aku membuang nafas pendek. Mencoba menata mood untuk lebih tenang. Namuuun....


Hmmm.... Sebuah bayangan Nando nampak terpantul Di pintu lift yang masih tertutup. Langkahnya cukup lebar searah dengan di mana kami berada. Sejenak aku melirik Maria di Sisiku yang rupanya sedang memandangku dengan senyum yang mungkin sebagai perwakilan kata "Good Job?"


Langkah Nando nampak makin mendekat..


No way...!! No drama...

__ADS_1


Aku menarik tengkuk Maria Dan memanggut sepasang bibirnya yang berubah dari senyum ke expresi terkejut. Aku ingin menunjukkan Pada Nando bahwa langkahnya mendekati kami harus berahir. Aku tak menghentikan aksiku hingga perlahan tubuh Nando nampak berputar Dan berjalan berlawanan arah.


"Good bye.. She is my wife.. Case closed!!"


__ADS_2