
Pria itu nampaknya tidak menjawab lagi. Dan tentunya menuruti permintaan Maria.
Tubuhnya yang nampak tidak muda mulai keluar dengan perlahan. Diapun menarik nafas dalam - dalam. Dan....
Pria itu tidak asing untukku...
Mataku hampir tak percaya. Bahwa ayah luna yang sedang berdiri tegak dengan istriku.
Maria menghampiri pria tua itu Dan menyerahkan beberapa map setelah menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Itu ayah Luna bukan?"
Mas Aryo mengangguk "Jadwalnya susah sekali Di dapat. Dia dokter yang sangat sibuk"
Maria cukup punya nyali untuk menghadangnya Di tengah Jalan seperti saat ini. Apalagi di tengah malam.
"******
" Sudah lama kita tidak berjumpa " suara pak Lucas sepertinya tidak terlalu senang dengan pertemuannya yang di luar rencana.
Senyuman khas Maria me ngembang sempurna" Terimakasih atas waktunya "
Seorang bodyguard yang sedang berdiri Di sampingnya terdengar berdecih tak terima.
" Saya hanya menginginkan hak saya Dan tidak meminta lebih " Maria menyerahkan map yang sudah dipersiapkannya Di sisi kanannya.
Pak lucas menarik nafas dalam dalam Dan segera menghebuskannya dengan cepat. Matanya yang di bingkai dengan Lensa tipis rupanya masih sanggup dengan cermat mengamati Di bawah cahaya lampu Jalan.
"Sejelas ini" Desisnya.
"Saya tidak berniat mempersulit anda, Namun andai kan saya melangkah dengan jalur seharusnya. Saya khawatir itu membahayakan karir anda" Rayuan Maria selalu menghantam titik lemah lawannya tanpa kurang ajar.
Pak lucas menyerahkan kembali map Di tangannya. "Kamu pasti punya yang lain untuk aku tanda Tangani"
Maria mengangguk, jemarinya meraih cepat map dari pria tua itu Dan segera mengeluarkan map yang lain dari tasnya.
"Apakah persyaratan ini Bisa aku tawar?" Pria itu mencoba mencari cela.
" Mana mungkin saya berani mempersulit bapak. Hanya saja, apakah tidak terlalu berbahaya untuk kelangsungan karir kita Apabila tidak sesuai dengan yang saya sebutkan" Maria kembali menundukkan kepalanya.
"Dia satu - satunya putri ku.."
"Saya sudah memikirkannya" Maria mengeluarkan Sebuah kartu nama " mereka bersedia memberi jalur khusus untuk nona Luna Dan memberikan posisi Di salah satu pusat kesehatan mereka Di Ontario"
__ADS_1
"Hmm...." pak lucas meraih kartu itu dengan sedikit ragu "Kamu masih menjalin hubungan baik dengan keluarga hadinata?"
"Tentu saja Dan saya berencana untuk tidak pernah mengahirinya"
Pak Lucas memandangi Maria yang berdiri tegap Dan tenang serta dengan segura senyum bekunya.
"Anak - anak kecil itu Sungguh mencari mangsa yang salah" gerutunya.
"Mereka baru saja belajar, tugas kita yang lebih dewasa untuk mendisiplinkan tanpa memangkas masa depan mereka" Kata kata Maria terdengar bijak bila terlintas. Tapi tentu cukup mengancam bila memahami duduk perkara yang lebih dalam.
Pak. Lucas menarik nafas lagi dalam - dalam Dan menghebuskannya secara perlahan. Jemari keriputnya meraih bolpoin Di saku dalam jasnya. Dan segera dia membutuhkan tanda tangannya.
Kali ini dia dengan cepat menyerahkan map itu Pada Maria. Tanpa berpamitan beliau segera masuk ke dalam mobilnya.
Maria menundukkan kepalanya mengiring kepergian mobil marcedes hitam pekat itu.
*****
"Mau sedikit merayakan?" Senyum Maria tergurat puas.
Aku masih hampir tak percaya bahwa Maria Bisa membuat pak Lucas dengan cepat memberi keputusan.
"Sudah selesai? Kita tidak mengikuti beliau ke tempat tertentu?" tanyaku yang seolah belum tersadar dari pemandangan beberapa menit lalu.
"Kayaknya masih ada beberapa angkringan yang buka" Mas Aryo memasang kembali sabuk Pengaman.
"Angkringan? Kalian mau merayakan Di angkringan?" Aku kembali sulit percaya pendengaranku.
"Maria sangat menyukai STMJ" celetuk mas Aryo yang mulai menyalahkan kembali mesin mobil.
"Aku sangat menyukai juga hati ayam yang di goreng kering" lanjut Maria.
"Tapi itu..." aku ragu apakah aku bisa satu selera dengan mereka.
"Kalau makan cukup konsen sama makanannya jangan berfikir yang aneh - aneh" Maria meluncurkan pandangan yang menggoda ke arahku.
Yang membuatku ahirnya cukup mengangguk Dan mengikuti, perayaan ala mereka.
*****
Ini bukan makan malam pertama antara aku, Maria, Mami Dan Papi. Tapi sepertinya bahwa Papi akan tidak membuat masalah, meski sepertinya akan berlawanan dengan Mami.
"Aku dengar Luna akan segera melanjutkan sekolah lagi ke New York" Ayah membuka dengan topik yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Aku jadi rindu kata basa basi yang dulu aku benci. Setidaknya itu Bisa membuat peredam sebelum kata tajam menghujam.
"Saya rasa itu adalah pilihan yang terbaik untuk Luna, dia masih muda Dan cantik serta sangat cerdas" Maria menanggapi dengan sangat santai Dan luwes.
Mami masih terdiam tanpa kata, wajahnya nampak tidak senang.
"meski Tania bukan cucu anda secara langsung, saya harap untuk me dapat dukungan penuh untuk mebawanya kembali bersama saya. Mengingat.. saya rasa menjadi anak satu - satunya Di rumah pasti cukup kesepian"
Papi mengangguk rupanya sangat faham. Ucapan Maria kata - perkata. "Aku akan menyelesaikannya paling ahir Pertengahan Minggu depan"
"Saya yakin anda cukup piawai menempati janji" Papi Dan Maria Saling mengangkat gelas Dan meneguk minuman masing - masing. Yang jelas aku ikuti meski sepertinya ada beberapa hal yang tidak begitu aku pahami.
"Ulang tahunmu yang ke...." Mami Pura - Pura berfikir " yang hampir tiga puluh tahun sudah sebentar lagi kan Har?" Mami tertawa ramah dan meneguk kembali minuman Di gelasnya.
"Kalau tidak salah ulang tahun Maria juga tidak lama lagi, meski ulang tahunmu sudah hampir kepala empat" Mami melempar senyum datar ke Maria "Tapi tanggal lahir kalian cukup dekat, bagaimana kalau Di rayakan bersama?"
Mami benar - benar beracun. Sesuai pepatah cantik itu beracun. Mami rupanya mewakili pepatah itu. Untungnya yang di hadapinya adalah Maria.
"Terimakasih banyak Mami, tapi sayangnya saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya sendiri. Jadi saya tidak punya cukup Persiapan untuk itu" Maria menjawab tenang, seraya menyambut hidangan pembuka yang baru saja hadir di meja kami.
"Seperti profesi kita Pada umumnya, susah sekali memasukkan jadwal secara mendadak. Benar begitu kan pak Raja?" Pandangan Maria seketika lurus ke arah papi.
"Panggil saya Papi, Mar" Papi mulai menarik nafas Dan memandangi kami secara bergantian "Kamu adalah istri Harry Dan juga ibu dari cucuku" Papi Mengangguk anggukkan kepalanya sebelum ahirnya iya mulai memasukkan sesuap appetiser.
"Papi...!!" Mami memekik tertahan, "Dia sama sekali tidak berlatar belakang bagus. Apalagi usianya yang tidak muda"
Papi menelan paksa makanan Di mulutnya "Hidangan utama malam inj adalah Troufle" Papi menatapku yang masih belum mengeluarkan satu katapun.
"Aku memilihnya sendiri sebagai simbol bergabungnya dia dalam keluarga kita" Lanjut Papi.
"Hah.. Maria? Dengan Troufle?" Mami mengeluh tak rela.
(Troufle \= salah satu jamur termahal Di dunia. Rata - rata Di jual per box kecil denga harga sekitar 100jt)
"Kamu tahu Kenapa aku memilih Troufle Mar?" Pertanyaan Papi seperti suara orang yang tidak begitu rela dengan kekalahannya tapi Bisa menerima denga. Tangan terbuka.
Sejenak kedua manik Maria mengerjap.
"Karena langka Dan mahal" jawabku tanpa ragu.
Maria tertawa kecil "Karena Troufle tumbuh dengan menghisap sari semua tumbuhan Di sekitarnya?" Maria melempar Tanya dengan ringan. "dengan asal usul yang sulit diterka"
Papi tertawa lepas. "Kamu memang pintar Mar"
__ADS_1
Sekali lagi ayag mertua Dan menantunya itu mengangkat gelas mereka Dan meneguknya secara bersamaan.