
"Huaaaa..." Pagi telah datang, aku menguap sepuasnya Dan mencoba merentangkan kakiku.
Bruuuk..
"Auhh..." aku meringis merasakan badanku yang sakit karena baru saja jatuh dari sofa.
Aku baru ingat, aku memutuskan berbagi sofa dengan Maria semalam.
"Are you OK?"
Maria ikut terbangun karena keributan kecil yang aku timbulkan.
"Not Bad..!" jawabku sambil perlahan berdiri.
Wajah Maria masih nampak bingung dengan mata memicing.
"Sarapan yuk!!" Ajakku yang sedang memandang sosok Maria dengan posisi duduknya yang selaras dengan pahaku.
"Aku belum masak" wajah polos Maria memandangku.
Aku menarik nafas cepat, sebelum aku segera menarik tangannya yang masih belum sepenuhnya bertenaga.
"Sarapan kamu!" jawabku cepat
"Tapi aku mau cepet - cepet ketemu Tania"
"sarapan sambil mandi"
Maria berhenti protes, dan menerima dengan baik menu sarapan yang aku tawarkan.
Kami Berahir berendam Di bathup dengan posisi Saling berhadapan. Bentangan Busa Sabun menghampar Di antara kami, yang baru saja selesai sarapan.
Sepasang Manik Maria menatapku Sejenak dengan nafas yang belum tertata Namun Sejenak lainnya dia menutup keduanya Dan menggeleng cepat.
"Udah mulai naksir aku kan?"
Aku meniup Busa Sabun Di telapak Tanganku ke arah wajah Maria.
"Aku berminat, bukan berarti naksir"
Maria mengusap wajahnya dengan kasar.
"Terima kenyataan Mar! "
Aku berniat menghampiri Maria yang rupanya tidak ingin Di dekati lagi.
Maria mengangkat tubuhnya Dan beranjak tanpa berkata satu kalimat pun. Rambut panjangnya menjuntai basah Di sepanjang punggungnya.
__ADS_1
"Not bad View Mar..!" gumamku sendiri yang mulai tanpa sadar mengikuti Maria menari Di bawah shower.
"No.. Extra!" wajah Maria menatapku ketus,
Rupanya dia sudah mulai Bisa membaca otak ku lebih baik.
"Apakah masih penasaran hingga sejauh ini?"
Maria mulai mengancingkan kemeja ku dengan cekatan.
Pertanyaan Maria membuatku berfikir.
"Entahlah!!" Aku mengangkat wajah Maria dan mendarat kan Pada sepasang bibir dinginnya. "Mungkin aku ke tagihan.... Atau mungkin kamu yang mulai penasaran?"
Maria membuang muka Dan berjalan ke arah wardrobe. Bersamaan dengan sudut bibirku yang mulai mengembang.
" Tidak ada salahnya kamu mengakui, baik mauku atau maumu kita Bisa melakukannya bersama - sama kan " Aku melanjutkan menyampaikan pendapatku.
" No debate.. Har..!"
Maria mulai melepas bathrobenya Dan mengenakan pakaiannya satu per satu.
Pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kecanggungan Di antara kami rupanya mulai berjarak sempit.
" Peach dress, Di kotak warna putih paling bawah " Pekikku ketika Maria berencana memilih baju yang di kenakannya. "Aku membeli kan untukmu"
"No debate"
Aku membalas ucapan Maria.
*****
"Kamu sudah datang?" Anthony menyambut kami dengan penampilan yang cukup rapi. "Kenapa dia di sini?" kalimat selanjutnya seperti menggerutu tentang kehadiranku.
"Dia juga ayahnya.." jawaban Maria benar, suka atau nggak suka. Bahwa aku sekarang adalah ayah tiri Tania.
Maria memasuki kediaman Anthony dengan sangat tenang. Langkahnya bersenandung cukup rancak. Aku bisa pastikan Sepasang manik Anthony sedang mengejar bayangan Maria yang sedang bergerak ke arah halaman belakang, Di mana Tania berada.
Tanpa segan Aku menyusul Maria Dan meraih pinggang rampingnya tanpa melepaskannya Hingga..
"Mamiiiii..... Look..!!!" Suara Tania menggema penuh semangat matanya berbinar menunjukkan sepasang kelinci yang sedang sibuk memakan sayuran dari tangannya.
"Oh... So cute" senyum Maria tampak sangat lebar Di iringi ayu an langkahnya yang menjadi lebih cepat memotong jaraknya dengan Tania.
Akupun tak mau kalah untuk segera mengelus sepasang kelinci berwarna putih berbelang caramel.
"Who's the name?"
__ADS_1
"Tata and Nana" jawab Tania tanpa mengurangi senyuman Di wajahnya.
Di sini kah hati Maria berada, selain dengannya wajah Maria hanya seperti template. Tapi dengan Tania, Maria terasa seperti manusia. Dia tertawa, tersenyum Dan juga cemberut. Matanya juga bekerling, melotot Dan kadang menyipit.
"Om...?"
"You can call him Papa if you want"
"Not that so fast Mar" Antonio sudah berada Di antara kami. Menaikkan temperature emosi Di antara kami.
"Aku hanya bilang if you want not you are must" suara Maria terasa kering.
"But.. Still not that fast"
"Bagaimanapun kami sudah menikah. Posisi Harry adalah ayah tiri Dan berhak Di panggil Papa" Maria mulai mencoba memperjelas situasinya.
"Masalahnya,... Kamu itu selalu bossy Dan tidak mau berdiskusi" Anthony mulai meninggikan suaranya.
"karena aku bukan orang plin plan, aku tahu yang aku mau Dan mampu bertanggung jawab dengan keputusanku" Maria mulai menekankan suaranya.
Mataku mulai menegang mengamati sepasang mantan suami istri yang sedang di hadapanku ini. Mbak manda dengan sigap menangani Tania yang mulai menyanyikan Sebuah Lagu. Menggendong Tania Dan perlahan mengambil jarak.
Akupun mulai berdiri, menyaksikan alasan ku harus mengubur rasa cemburuku Pada Anthony.
"Bisa kah... Kita tidak membahasnya sekarang, aku sudah seminggu tidak bertemu dengannya" Maria yang selalu tenang Kini penuh emosi Dan mulai memohon.
"Harusnya kamu lebih takut tidak bisa melihatnya selama ya." jawaban Anthony seperti ancaman.
Maria menengadahkan wajahnya, menahan bulir bening yang sudah mulai memenuhi bingkai matanya.
Ini bukan masalah nada atau emosi Anthony. Tapi lebih pada Anthony sedang memulai mencoba membuat Maria terlihat tidak baik Di depan Tania.
Aku segera memasang badanku Di antara mereka berdua, membiarkan wajah Maria meringkuk Di dadaku menumpahkan Air mata yang aku yakin tak Di inginkannya saat ini.
"Kita pulang....!" bisikku yang merasa bahwa tidak baik untuk Tania bila suasana ini lebih lama Di sekitarnya.
Maria hanya diam mencoba menahan isaknya. Hingga....
"Manda....!!" panggilnya dengan suara lembut yang tak pernah aku dengar sebelumnya.
Mbak. Mandapun segera menggendong Tania Dan menyerahkan Pada Maria.
"Mami need to go... Something go wrong" bisik Maria Pada putrinya.
"Manda... Chocolate untuk kalian aku taruh Di meja teras, jangan lupa Di ambil" lanjutnya sambil menyerahkan kembali Tania ke Tangan Mbak Manda.
Mbak. Mandapun seolah mengerti Dan langsung kembali mengambil jarak Di antara Kami.
__ADS_1
Tanpa berpamitan Pada Anthony, aku dan Maria segera meninggalkan rumahnya. Meninggalkan rindu yang belum tuntas untuk tersampaikan.