Sugar Mamy

Sugar Mamy
Sweet and Sour


__ADS_3

Aku masih tidak berkenan melepaskan tanganku yang masih melingkar di pinggang Maria. Sebuah senyum penuh arti merekah Di wajah mas. Ario yang menatap kami secara bergantian.


"Mar...?" Tanya Mas. Ario yang nampaknya mencoba mencari jawaban Pada Maria.


Kepala Maria segera bergerak yang aku tebak akan menghasilkan Sebuah gelengan. No way!!! We are couple.


Aku segera memindahkan tanganku untuk menarik kepala Maria bersandar di dadaku. Supaya gelengan itu tidak akan pernah terjadi.


"Yes... We are!!" Aku segera mewakili jawaban yang tertunda.


Maria ahirnya mendengus kesal dan membiarkan sikapku, tanpa membahasnya lagi.


"Sweet couple.." ucap mas. Ario ketika kami sampai di mobil.


Maria coba melepaskan diri dan mencoba ingin mengeluarkan suara yang aku duga pasti tidak aku inginkan.


Cup... Sebuah kecupan aku darat kan tanpa berfikir Panjang yang tentu saja membuat wajah Maria memerah Dan mata yang membara karena amarah.


"Resiko punya suami muda Mar!!!" mas. Ario terkekeh.


"Jangan lupa urus semuanya, cari tahu juga tentang hal lebih detail tentang keluarga Melissa, terutama assetnya Dan cari cela hukum yang bisa kita pegang. Hanya berjaga - jaga kalau mereka tidak melakukan janji mereka" Maria tak membuang waktu untuk membahas hasil tangkapannya hari ini, dengan tanpa menghiraukan ledekan Mas. Ario.


"Siap bos!!" Mas Ario menanggapi dengan wajah berbinar "Selanjutnya kalian mau kemana?"


"Pulang!!!" suara Maria cukup lantang.


"Pulang ke rumahmu itu tidak mungkin banyak wartawan Di sana"


"Tempatku" Aku ikut mengakukan pilihan ku kali ini.


"Tania... Bisa kita menjemputnya dulu" Maria seakan memohon... Bukankah itu anaknya?


"Aku sudah bilang.. Anthony tidak menginginkan Tania terlibat dengan Masalah media ini" Mas Ario menegaskan tentang hasil diskusi Di antara mereka yang terjadi tanpa sepengetahuanku.


"Turuti saja dahulu hingga situasi mereda, kamu tetap Bisa mengunjunginya Dan lagi pula mbak. Manda ada bersamanya... She will be OK"


Maria hanya diam dan mengalihkan pandangan ke arah langit lepas di luar jendela. Nafasnyapun terdengar Berat karena rasa kecewanya.


Aku baru ingat, aku belum mendengar suara Mami beberapa hari. Apakah dia juga sedang Sedih seperti Maria? Tapi aku enggan menelponnya karena rentetan pertanyaan konyol yang harus aku dengar Dan mungkin terpaksa aku jawab.

__ADS_1


******


Mas. Ario hanya mengantarku sampai basement, karena harus segera kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Kamu dekat banget sama Mas. Ario?" aku mencoba mencari sedikit cela untuk mengungkit tentang Nando dari jalur pertwmanam Maria yang aku baru sadar hampir tidak ada yang perempuan.


"Iya... Kami teman dari Sma, kami sudah seperti keluarga"


"Kami...?"


"Aku Dan semua keluarga Ario.. Semuanya"


Oh iya... Aku tidak pernah mendengar tentang keluarga Maria. Bukan hanya saudaranya, orang tuanyapun tidak pernah aku dengar. Bahkan saat kami menikah.


"Ayahku sudah meninggal.. Ibuku tinggal jauh Di kampung dengan adikku, aku cuma anak petani" jelas Maria yang sudah menebak pertanyaan selanjutnya.


Sisi keluarga memang sesuatu yang sangat sensitif untuk di bahas, apalagi kalau tidak sedang baik - baik saja. Seperti yang aku alami. Jadi aku cukup memutuskan untuk menu dahinya sampai sini.


"Berarti kamu juga cukup mengenal keluarga Nando" Aku mulai memasukkan nama yang aku tuju.


"Tidak semua pertemananku seperti itu... Hanya dengan Ario saja, untuk Nando..." Maria menggantungkan ucapannya, mungkin dia mulai sadar aku sedang...


"Aku lebih muda, lebih tampan dan sudah menikahimu aku tidak akan mudah menceraikanmu hanya karena Nando si anak Papi itu" tanpa sengaja aku jadi menggerutu.


" Terserah...!!" Maria mulai acuh "Dengar baik - baik! Aku cuma menjelaskan sekali Dan jangan mengungkit lagi, aku.... Tidak suka obrolan sampah"


"OK!!"


"Aku hanya bekerja sama dengannya untuk transportasi tambang pasir miliknya Dan interior boutique villanya Di Bali, kami makan malam dua kali Dan That's it, nothing else" suara Maria cukup lugas "Kalau ada kepentingan lain dari sisi Nando, itu urusan dia dan bukan urusanku"


"Hanya... Itu..."


"Case Closed" Maria menegaskan statementnya "Buka pintunya.. Aku lelah"


"Hmmm.." aku segera memencet kode sandi Dan membukakan pintu Apartemenku tanpa bersuara lagi.


Maria menghambur ke dalam tanpa menoleh padaku. Tubuh kecilnya Di hempaskan begitu saja di sofa ruang tamu ku. Jemari rampingnya dengan cepat melepas sepatu Dan mulai menghapus riasannya dengan tissue make up dari tasnya. Langkah Maria yang berirama Sejenak seperti tidak pernah ada.


Aku mulai duduk Dan hanya mengamati Maria yang berjalan ke sana kemari dengan kaki telanjangnya tanpa bersuara.

__ADS_1


Segelas air putih bersih dingin sudah tersaji Di depanku beberapa menit kemudian. Diiringi jemarinya yang melepas coat dari badanku. Dan kemudian dia kembali lagi dengan potongan buah segar. Suara gemuruh air mendidih pun mulai aku dengar perlahan. Aku rasa Maria mulai memasak sesuatu dari isi kulkasku, Namun Sejenak aku mendapatinya berlari kecil menuju kamar mandi...


Masak Air memang tidak akan gosong... Tapi kalau di tinggal mandi Bisa beda cerita..


Aku memutuskan menghampiri dapur setelah meneguk segelas air dingin yang Maria sajikan, beserta satu potongan ke mulutku. Namun baru saja aku sampai...


"Eiits...!" Maria menyentuh pundakku memintaku menggeser tubuhku dari sisi kompor.


Dengan masih berkostum bathrub Dan rambut yang masih terbungkus handuk, Maria mulai mengangkat potongan fillet Ayam Dan memasukkannya ke dalam panci. Jemarinya cukup lihai memotong satu persatu Bahan makanan yang sudah di jejernya lebih dulu.


"Kamu sudah Mandi?" Aku penasaran dengan bau Harum dari tubuhnya yang aku rasa kurang dari sepuluh menit bersemayam Di kamar mandi.


"Flash Bath.." jawabnya singkat tanpa melihatku.


" Kamu mau bathtub atau shower? Mau aku siapin airnya? Hangat atau dingin?"


Aku hanya menyunggingkan senyum ku mencoba memunguti keheranan ku akan Maria yang serasa bukan Maria yang beberapa jam sebelumnya.


" A... Ku... Shower saja" jawabku setengah sadar.


"OK.." Maria beranjak setelah memasukkan garam. Dan keluar dengan bathrub Di Tangan kiri Dan beberapa lembar pakaian ku Di Sisi lainnya.


"Selesaikan mandimu sebelum makanannya dingin" suara Maria terdengar merdu Dan membuatku berspekulasi lain.


Mungkin kah Maria sedang kerasukan jin penunggu Apartmentku. Kata Maria apartment ini sudah lama kosong sebelum aku tinggalin. Jangan - jangan jin penunggunya naksir aku lagi. Hiiii... Aku merasa bergidik...


"Maaf... Boleh aku Tanya siapa namamu?" tanyaku ketika sampai di meja makan yang sudah tersaji dua mangkok sup ayam yang masih mengepul.


Dahi Maria mengernyit sesaat sebelum kata berikutnya muncul "Tentu saja Maria... Apa kau lupa dengan istrimu sendiri?"


tuh kan... Maria tidak pernah cerewet, biasanya dia hanya menjawab seperlunya.


"Bagaimana... Baju yang aku pilihkan Cocok?"


"ehem..." Aku mengangguk cepat dengan kadar keheranan yang masih belum berkurang.


" Supnya di makan... Semoga rasanya cukup enak" Suara Maria kali ini lebih mirip dengan rayuan putri duyung Di tengah samudra pasifik, merdu tapi penuh misteri.


Aku hanya mengangguk sambil menunggu Maria menelan sup Di Mulutnya. Hanya sekedar berjaga - jaga, kita tidak pernah tahu bila tiba tiba aku akan berpindah alam saat usai memakan sup yang nampak menggoda ini.

__ADS_1


__ADS_2