Sugar Mamy

Sugar Mamy
Kemenangan


__ADS_3

"Oh ya? buktikan kalau kamu wanita bukan betina"


Maria menyambut tantanganku tanpa ragu. Malam itu kami bertarung sengit, antara amarah, hasrat dan juga pertarungan sisi dominant kami.


Masing - masing dari kami berusaha membuat yang lain terkapar dan menyerah tanpa syarat. Tapi bukan hanya Maria yang penuh adrenalin, aku sudah pasti. Sekian lama menunggu wanita satu ini mengerti, bahwa posisi pemimpin dalam urusan satu ini tidak akan pernah aku lepas. I deserve to be serve.


*****


Nafas kami sama - sama seakan sudah terurai. Dan tentu saja aku masih sanggup menduduki tubuh Maria.


Dengan dada yang naik turun aku meraih benda pipih canggih milikku yang terselip di antara bantal.


Tanpa permisi aku segera mengambil gambar Maria yang terkapar dalam kondisi polos dan penuh peluh.


"You look lovely Mar" Aku menunjukkan beberapa gambar yang aku ambil.


"Hapus.." Maria mencoba meraih dengan sisa tenaganya.


"No Way!! Ini reward ku.. Aku menang" jawabku yang kemudian melempar handphone itu ke meja nakas. Sebelum ahirnya aku merebahkan tubuhku di sampingnya.


Aku meletakkan telapak tanganku di wajah ranumnya.


"Mar... Kamu perlu tahu satu hal.. yang tidak perlu membuatmu cemburu" Ucapku lirih. Aku meniup Sejenak wajah kekalahannya. "Wanitamu adalah yang terbaik" salah satu ujung bibirku kutarik ke atas


Harusnya aku mengetahuinya lebih awal, bahwa Maria mampu menampungku dengan penuh.


Maria menepis tanganku dengan kasar. Membuatku andrenalinku terpatik sekali lagi. Dan sekali lagi... "Yang ini Mar.."


Dan aku melakukannya sekali lagi.


****


Ternyata pagi telah menyapa dengan cukup cerah. Satu set sarapan lengkap telah tersaji di atas meja makan tanpa tuannya.


"Ibu di mana Yul?" Tanyaku pada Yulia yang sedang menyuapi Yodha.


"Sudah berangkat Pak"


"Oh.. Tapi mobilnya masih ada"


"Tadi naik taksi"


"Oh.. OK.."


Entah Kenapa aku jadi kehilangan nafsu makanku seketika. Ini baru pertama kali aku sarapan tanpa Maria. Kami hampir tak pernah terpisah kecuali saat kami bekerja.


Aku menyapukan pandangan pada sekeliling rumah yang terasa sedikit sunyi.


"Ibu nggak pesan apa - apa untuk saya?"


"Katanya bapak jangan lupa sarapan"


Aku hanya manggut - manggut sejenak.


"Kamu kalau lagi berdua saja sama Yodha di rumah perasaannya gmn?"


" Nggak ada masalah sih pak, mungkin malah lebih nyaman soalnya, kadang saya takut ganggu klo Yodha mulai teriak atau nangis"

__ADS_1


"Dia anak saya, klo nangis nggak ada masalah"


Yulia tertawa sesaat "Maaf, soalnya banyak bapak yang kadang ngerasa ke ganggu kalau anaknya nangis. Saya jadi ngerasa bersalah"


"itu nggak berlaku buat saya" Aku tersenyum datar. "Sarapan ini buat kamu saja saya langsung mau berangkat kerja.. Oh ya, nanti lukman dateng buat urus kebun, tolong sampaikan agar tanaman ibu di pupuk hari ini. Pupuknya di rak belakang, tapi bagian atas"


"Baik pak..." jawab Yulia sambil menyuapkan sekali lagi sendok bubur Pisang di tangannya.


"Oh iya, sama minta tolong lukman juga untuk cuci mobil ibuk"


"Baik pak"


"Sebelum berangkat, saya mau gendong Yodha keliling halaman, kalau belum mandi nggak usah di mandi in dulu"


"Sudah kok Pak.."


"Good.."


Maria mungkin masih sakit hati soal kemaren. Dasar wanita, adonannya tidak jauh beda, klo ngambek susah mencairnya.


*****


"Kok mukamu kayak tertekan gitu" Dion menyambutku segera di lobby kantor.


Aku mengamati Dion sesaat "Kok mukamu jadi renyah? Udah kriuk mulu nih" Godaku yang mengalihkan bahasan tentangku.


"Kind of" Sepasang bibir Dion bergerak perlahan melebar.


"Senyummu menjawab segalanya..." Aku terkekeh "nggak ada kerja rodi kan?"


"Iya nih... Aneh ya.. Urusan kayak gitu, ternyata kadang serasa kerja rodi klo udah nikah"


"ciee... Yang pengalaman"


Kami berdiri melewatkan lift yang baru saja terbuka kembali tertutup. Dengan Raut wajah yang berbeda. Dion nampak sumringah dan aku nampak suram.


"Ah ngelamun kita nih... Kelewatan Deh"


Kami tertawa bersama "Konsentrasi ya kali ini" Aku mengingatkan diriku sendiri.


"Ya... Ya. Ckckck" Dion menyahutku dengan suara riangnya.


"Ting..."


Kali ini kami serempak memasuki lift.


"Uhf... Apakah kerjaan lagi banyak banget Har?" Rupanya Dion menebak kesuraman wajahku karena pekerjaan yang bertumpuk.


"Nggak salah sih, kamu banyak nunda kerjaan sebelumnya" Keluhku bercanda "Kali ini situasi udah fresh kan?"


"Much better... Cuma, kata Elena aku akan menjabat jadi vice direktur Di Bio chemical"


"Wow... Great, Elena sudah setuju rupanya" Aku tersenyum lebar.


"Sebenarnya aku ini naik jabatan tapi Kenapa aku sedikit merasa terbuang" ratap Dion sambil memicingkan sepasang maniknya padaku.


"Kemungkinan dua - duanya, negosiasi dengan Elena seperti itu. Aku harus rela, demi kebahagiaan sahabatku tersayang"

__ADS_1


"Klise..." ledek Dion sambil mengarahkan kepalan tangannya ke pundakku.


"Ting.." pintu lift sudah terbuka


"Kamu langsung ke ruanganku saja, kita perlu diskusi sedikit" Aku berjalan mendahului Dion.


****


"Jadi aku tetap melapor ke kamu setiap hari?" Dion sedikit heran dengan system kerja yang aku buat untuknya.


"Selain cantik, istrimu itu paling pintar menghabiskan uang. Aku tidak mau perusahaanku bangkrut karenanya"


"Tapi bagaimanapun dia adalah directornya"


"secara tertulis iya, kita perlu icon Kecantikan yang baik bukan hanya iklan tapi dalam keseharian. Aku tidak Bisa menemukan yang lebih baik dari pada Elena"


Dion mengangguk setuju.


"Sebelum kita menarget pasar luar, kita harus membuat internal kita meyakini product ini secara alamiah. Tanpa di jelaskan atau di rayu"


"Otakmu lebih encer ahir - ahir ini"


Aku tertawa akan pujian Dion "Kamu saja yang tidak pernah teliti dengan pekerjaan" Aku menyodorkan laptopku yang menampilkan presentasiku tentang Bio Chemicals "Aku sudah merencanakannya dari awal"


"Ah.." Dion menggaruk pelipisnya.


"Kerjalah yang bagus, apapun pilihanmu bersama atau tidak bersama Elena. Pastikan kamu punya harga yang cukup di pertimbangkan"


"Yeah... Menikah dengan wanita matang tidak seindah saat berpacaran" Dion menghembuskan nafas kasar.


****


"Oh God..!!"


Maria mengagetkanku ketika aku baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya yang beku itu menatapku tak bergeming dengan surainya yang terurai.


"See..?? Aku lebih mirip hantu dari pada malaikat" Maria menggulung rambutnya dan menyatukannya dengan pencil."Aku akui aku kalah, tapi aku benar - benar tidak bisa menggoda"


Aku memperhatikn lagi Maria dari ujung hingga bawah. Dan aku menarik nafas dalam dalam. "Aku cuma mau kamu bersedia bukan Ahli" Aku segera mengalungkankan handuk basahku ke lehernya "


" Iiih... Basah ini "


" Iya aku tahu " Aku mengamati Maria yang mulai memegangi kedua sisi handuk di kanan dan kiri" Coba kamu kerucutin bibir kamu "Aku mempraktekkan apa yang aku maksud.


" Fungsinya apa? "


" Itu menandakan kamu minta dicium "


" Kamu tidak pernah melakukan itu " Maria menarik kedua telingaku dan segera memanggutku.


" Wuah... Itu benar, rupanya kamu memang lebih suka yang sedikit kasar"


"Itu yang kamu lakukan kemaren padaku"


"yeah... That's true"


Maria menyunggingkan senyumnya dan segera memutar badannya.

__ADS_1


"Eits...!" Aku menarik kerahnya."bukankah seharusnya kamu belajar klo masih belum Bisa?"


__ADS_2