
Maria memeriksa beberapa dokumen yang baru saja dikeluarkan dari brangkas yang terletak Di salah satu Bank ternama.
"Kamu membayar mahal hanya untuk menyimpan bukti kejatahatan Anthony?"
Maria menghentikan aktivitasnya Dan segera mengarahkan sepasang maniknya padaku. "Dia adalah ayah dari anakku terlepas apapun yang sudah terjadi Di antara kami"
"Teruuus, itu berarti kamu harus menutupi kesalahannya?" Aku sedang menerka dengan perasaan Maria yang aku rasa sedang pilih kasih "Bagaimana dengan anakku yang harus menyandang status cucu dari mantan kaki Tangan koruptor?"
"Tentu jelas berbeda" Maria menjawab tanpa dosa.
"Apa ya yang beda huh... Sama - sama kasus kejahatan" Aku mendengus kesal, karena aku rasa Maria lebih memperhatikan Tania Di banding Yodha "
" perhatikan ini baik - baik "Maria melepaskan jemarinya dari kumpulan kertas Dan mulai memutar posisinya menghadap padaku.
" Dari kasus ayahmu siapa yang dirugikan? "
"Rakyat" jawabku singkat.
"Dan kasus Anthony?"
Aku terdiam, karena aku belum tahu detail kasus ya.
"Hanya Aku, Dan dalam skala besarnya adalah perusahaanku" Maria menarik nafas dalam - dalam. " Namun sejauh ini orang yang dirugikan hanya aku saja, bahkan karyawanku juga tidak, mereka masih menerima gaji tiap bulan"
Maria benar.
"Sebagai korban aku memilih diam demi kebaikan anakku, apa itu salah?" segurat senyum kecut tergaris Halus Di bibir Maria "selama kamu miskin, kamu rupanya tidak belajar bagaimana dampak korupsi Pada rakyat" Maria hanya menggeleng Dan kembali memeriksa kertas yang masih belum tertata rapi di meja.
Dan sekali lagi aku harus menyadari, menjadi lebih muda ternyata harus menerima kalau kita memang belum begitu bijak, meski mungkin kadang kita lebih pintar.
*****
Salah satu hal yang tidask enak menikah dengan yang lebih tua adalah. Terkadang kita harus diam agar segala kebodohan kita tidak terbantah telak. Buat perempuan mungkin itu biasa, tapi untuk laki - laki? tentu saja tidak sama.
"Krrryuk" Dasar perut tidak mau kerja sama. Baru saja berniat untuk stay cool. Sudah ada yang protes.
"Lapar?"
Aku hanya melempar senyum dengan menunjukkan gigi terawat ku.
"Kita makan Di restaurant dekat kantor aja. It's OK?"
Di warteg juga OK klo udah kondisi sampai demo begini.
"Aku sih setuju Mar, tapi Kenapa harus restaurant ini?" Ternyata perasaanku juga mulai protes dengan pilihan Maria.
"Ada masalah?"
__ADS_1
"Jangan Pura - Pura nggak tahu deh"
Maria mendengus, "Aku bukan seperti wanita Pada umumnya, aku tidak Bisa mengingat jelas detail yang tidak penting"
"Maksudmu...?"
"Apapun dalam Pikiranmu aku pastikan tidak benar"
Aku hanya mampu berdecih.
"Ceviche dua Dan pomelo merinque dua" Maria memesan tanpa melihat menu "minumnya air putih satu Dan kamu?"
"Aku masih punya hak pilih?"
"OK.. Air putih dua ya mas" Balas Maria yang langsung Di arahkan Pada pelayan restaurant eropa itu.
"Ini restaurant favoritku, Ceviche nya paling enak. Semua dessertnya tanpa gula, hanya menggunakan perpaduan yang tepat dari buah - buahan. Kamu harus coba"
"Sebenarnya aku mau memilih Black squid risotto, tapi jd ingat Anthony"
Senyum beku Maria segera meledak.
"Jadi soal Anthony?" Maria menyelesaikan tawanya " Sorry sama sekali aku tidak mengarah ke sana, aku hanya ingin sedikit relax sebelum meeting dengan Aryo soal langkah legal ku"
"Benar..?"
Benar juga, Maria hanya terus maju Dan melangkah. Bahkan hingga saat ini sepertinya dia tidak memikirkan bagaimana kejadian kemaren. Dan dia juga belum berterima kasih padaku.
"Kamu mungkin telah melupakan sesuatu?"
"Soal apa?"
"Misalnya thank you?"
"Ah..." Maria tersenyum lelah "Terimakasih banyak untuk usahamu, hari itu begitu mengerikan"
Ahirnya dia sadar juga, kalau aku sudah berjasa.
"Aku tidak pernah membayangkan itu terjadi padaku" Maria menarik nafas dalam - dalam "Tidak ada yang cukup menarik secara umum, tidak paras atau bentuk yang menggoda"
"Tapi kamu tahu Nando menyukaimu bukan?"
Maria mengangguk santai tanpa me pertimbangan perasaanku "Dia pernah mengantakannya"
"Jadi..."
"Ceviche nya..." potong waiter yang baru saja datang untuk pesanan kami. "Dan ini pomelo merinque"
__ADS_1
Aku memilih diam Dan membiarkan waiter itu menyelesaikan tugasnya Di meja kami.
"Jadi kemungkinan dia menyerangmu ketika hanya berduaan, bukan hal yang aneh"
"Jangan menganggap semua lelaki seperti teman - temanmu" Nada Maria seolah membela Nando. " kalau melihat sifatnya dia tidak akan melakukan hal serendah itu, bukankah semalam dia di bawah pengaruh obat - obat an?"
Itu benar, andai kan Nando mau berbuat mesum dia juga tidak akan memilih korban seperti Maria. Lihat saja orang lain pasti masih menang is Dan trauma. Tapi Maria sudah mulai berkobsultasi dengan pengacara.
" kejadian kemarin, kerugiannya bisa berlipat Pada keluarga Nando. Mengingat ayahnya yang seorang politikus" Jelas Maria sambil mulai memasukkan irisan tipis tuna Dan semangka ke dalam mulutnya.
"semua politikus pasti berambisi jadi yang paling nomor satu Pada ahirnya, tapi ketika berita ini terexpose. Mimpi itu akan menguap begitu saja" Maria menyuapkan ke arahku makanan yang sama.
"Enakkan?" Tanyanya dengan senyum manis " kebanyakan menu Ceviche menggunakan buah nanas, tapi Di restaurant ini mereka memilih semangka. Secara biaya pembuatan tentu lebih murah. Tapi rasanya menjadi lebih mahal"
"Sebagai orang kampung selera makanmu Di luar dugaan"
"Kita hanya berhubungan dengan Luna, tapi Berahir dengan Nando" Maria tertawa sinis. "Para wanita itu benar - benar tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu" Maria kembali menyuapkan makanan kepadaku.
"Jadi aku harus bagaimana? Dengan ancaman yang cukup serius ini?"
Aku segera menelan cepat makanan Di mulutku meski belum terkunyah sempurna.
"Tetap... Seperti sekarang, jangan menyerah" Aku menggenggam Tangan Maria yang mulai meletakkan garpunya.
Aku tidak Bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Maria melepasku. Para perempuan itu pasti menggangguku tanpa ampun.
Ah... Kenapa aku jadi merasa terancam.
"Dari awal, aku tidak bermaksud menceraikanmu. Tapi aku selalu berfikir bahwa suatu saat kamu yang menceraikanku karena salah satu dari mereka"
"Kamu sedang mengungkapkan perasaanmu padaku?"
"Apa Bisa di hitung seperti itu?" Maria mengarahkan pandangan pada jemari kami yang masih bertaut. "Aku sudah sangat biasa denganmu Di sisi ku"
Kedua sudur bibirku tertarik sempurna seiring dengan jemari Maria yang kutarik mendekat ke arah wajahku. Tanpa ragu aku mendaratkan kecupanku.
"Kita temui mas Aryo segera, aku ingin masalah ini segera selesai" para wanita termasuk mami sudah sangat membuatku muak.
"Tapi... Kita masih Bisa makan dulu bukan?" Maria menahanku "Energiku tidak tersisa banyak"
AH.. iya.. Aku mengingat Pada bagaimana peristiwa semalam Berahir.
*****
"Sayang sekali cctv Di gedung semuanya mati hari itu. Alasannya karena ada pemeliharaan " Mas Aryo memijit pelipisnya "Anehnya cctv baru menyala ketika kalian sudah di lantai tempat room kalian berada "
" Dan semua hidangan sudah di sediakan, termasuk minuman Dan makanan" Maria melanjutkan.
__ADS_1
"Kenapa hanya kamu Dan Nando yang ada Di ruangan itu" Aku mulai mengungkapkan ke tidak nyamananku. Mendapati Maria dengan kakak Melissa yang jelas - jelas menaruh hati pada istriku berduaan.