
[System]
HAHAHAHAHA! SEBELUM KAMU MEMBANTAI SESEORANG kaMU HARUS TAU BAGAIMANA RASANYA Dibantai Terlebih DAHULU!
Mission 1: Karena kamu telah dikutuk, kamu dipaksa untuk membunuh dirimu sendiri sebanyak 1000x. (520/1000)
[Rewards:???]
Neraka adalah sesuatu hal yang tidak perlu dijelaskan betapa mengerikannya neraka itu, jauh dilubuk hati yang paling dalam. Setiap manusia memiliki rasa takut akan segala pembalasan yang akan mereka alami.
Karena setiap insan suatu saat pasti akan merenggang nyawa, entah bagaimana caranya atau bagaimana bentuknya. Hanya saja yang membedakan apakah Kematian itu memiliki sebuah arti.
Bagi sebagian orang kematian adalah sebuah cara untuk mereka lepas dari segala tanggung jawab yang mereka miliki, ada pula bagi sebagian orang kematian itu adalah hal yang sangat menakutkan karena ia tidak tau apa yang akan menanti dirinya ketika waktu itu datang.
Namun bagi Lee Ryou, kematian adalah hal yang paling ia benci. Lee Ryou memang memiliki hati yang baik, dan rela berkorban demi orang lain. Namun ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kematian oleh orang-orang yang ia sayangi suatu saat akan datang menghampiri mereka.
Kini kematian telah menghampiri dirinya, membakar jiwanya dengan teramat perih tanpa menyisakan satu titik yang ada.
Diujung neraka itu dirinya dibunuh dengan berbagai cara yang mengerikan, salah satunya adalah dengan dibakar, tenggelam, ditusuk, terjatuh dari ketinggian, dicekek, dipenggal dan lebih banyak lagi.
Setiap jenis kematian yang ia alami sangatlah mengerikan, namun dari beberapa kematian-kematian itu ada yang membekas hingga membuat dirinya berteriak ketakutan setiap kali ia melihatnya.
Salah satunya adalah ketika ia melihat pandangan kepalanya yang bergulir ditanah karena dipenggal itu sangat mengerikan, hingga setelah melihat kejadian itu ia mencakar wajahnya tanpa ia sadari.
Moment ketika ia mencoba menarik nafas didasar laut yang begitu dalam juga membuat ia sangat ketakutan. Setiap detik yang ia alami hanyalah rantaian sakit dan sesak yang tiada hentinya. Tidak ada seorangpun yang menyelamatkannya, tidak ada seorangpun yang akan menarik tangannya dari dasar laut tersebut.
Kesepian hingga nafas terakhir yang ia hembuskan membuat ia kehilangan semuanya.
Moment ketika ia terjatuh dari ketinggian juga sangat membekas dimemorinya, perasaan yang tidak tau bagaimana tubuhnya setelah terjatuh itu sangat membekas. Bagaimana dirinya yang Bersimbah darah serta anggota tubuhnya yang tercerai berai selagi ia merenggang nyawa.
Dan terakhir adalah ketika ia terbakar sambil menderita perlahan-lahan. Teriakan yang membahana karena rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan membuat dirinya menggila. Harapan untuk keluar dari rasa sakit itu hanya sebuah mimpi yang tak pernah ia dapatkan selagi tubuhnya yang perlahan menghitam.
Dineraka itu ia menghabiskan waktu yang sangat lama, karena setiap kali ia mati dengan berbagai cara yang sadis dan tak dapat dijelaskan ia juga melihat betapa mengerikannya neraka itu.
Disekelilingnya dipenuhi dengan orang-orang yang hina, mereka disiksa dengan sekeji-kejinya lalu mati dan hidup kembali sebagaimana rupa mereka pada awalnya.
Didalam benaknya yang terdalam, inikah takdirku? memilih opsi untuk membalaskan dendam kini berujung membuat dirinya akan tersiksa di api neraka selamanya.
Tidak ada yang menolong, tidak ada yang bersedia mendengar kisahnya. Karena disepanjang penjuru pandangan ia hanya melihat rintihan siksaan demi siksaan yang kelak akan ia alami juga.
Waktu berlalu hingga dirinya perlahan memudar, perasaan perih yang menemani sepinya hanya membuat dirinya semakin melayang lepas hingga melupakan dirinya yang dahulu.
Diujung neraka itu, perasaan yang ingin membalaskan dendam terhadap ketidak adilan dunia perlahan sirna. Kini wajahnya yang buruk rupa hanya ia pandang sebagai gemerlap kecil yang tidak berarti.
Namun entah kenapa, walau dipenuhi keputusasaan ia selalu mengutarakan kata-kata untuk membalaskan dendam.
"Aku tidak perduli jika harus membusuk dineraka ini, Aku bersumpah akan membantai mereka."
"Jika dunia tidak adil, maka akulah yang akan mengadili dunia"
"Jika dunia harus terbakar diatas penderitaan, maka akulah yang akan memberikannya."
Waktu kerap berlalu, hingga pada akhirnya ia mencapai misi pertamanya.
[Mission 1 telah berhasil diselesaikan]
Rewards: Knife of the End.
Knife of The End
Pisau yang tidak akan bisa dihancurkan, dan memiliki kemampuan untuk berubah menjadi bentuk pedang yang diinginkan.
Setiap jiwa yang memiliki karma buruk akan mendapatkan rasa sakit 10x lipat dari biasanya jika tertebas oleh pisau ini.
Jika terbunuh dengan pisau ini, maka seseorang yang memiliki karma buruk akan ikut terbakar selamanya di neraka bersama penggunanya.
Skill : Passive "SOUL EATER!" : Memakan jiwa seseorang yang memiliki karma buruk lalu memberikan kemampuan fisik untuk penggunanya.
Melihat hal ini Lee Ryou hanya memberikan tatapan kosong dengan sedikit tersenyum.
"Setidaknya aku akan membawa mereka ke api neraka ini selamanya"
[System ]
Alert!
Sebelum kamu membunuh mereka! Rasakan DOSA Keji mereka dan Penyesalan MEREKA!
Mission 2: Karena kamu telah dikutuk, kamu dipaksa memakan 1jt bangkai tikus, 1jt belatung, dan 1jt daging berdarah.
Mungkin misi kedua inilah hal yang lebih berat yang akan dialamin Lee Ryou ketika berada di neraka, karena disetiap makanan busuk yang harus ia makan, dirinya dipaksa untuk memakan memori para orang yang tidak bersalah yang dibunuh dengan keji, lalu ia juga dipaksa untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah dengan tangan dan kakinya sendiri.
__ADS_1
Dengan kata lain itu adalah memori orang-orang yang tidak bersalah, dan juga memori orang-orang yang melakukan dosa.
Akibat kekejaman dineraka itu, ia terpaksa harus kembali mengulang dan mengulang hingga waktu yang tidak tau berapa lamanya didalam jurang neraka tersebut.
Yang ia tau, ia menjadi seseorang yang perlahan lupa akan siapa jati dirinya yang sebenarnya.
Mati, lalu dihidupkan kembali.
Bahagia, lalu tersakiti kembali.
Membunuh, lalu diadili dengan keji.
Menyesal, Namun terlambat hingga akhir yang tragis.
Setiap konten memori pada makanan yang harus ia makan merupakan sebuah siksaan yang mengerikan.
1 Tahun telah berlalu didunia.
Akhirnya, setelah sekian lama mendekam ditempat mengerikan itu, ia berhasil menyelesaikan misi yang telah diberikan kepadanya.
Terlihat jelas kini Lee Ryou bukanlah dirinya yang dahulu, tidak ada satu inchipun dari dirinya yang menyedihkan, seseorang yang lemah, penakut dan tidak berdaya. Tidak ada keraguan disetiap gesture dan gerakan ketika ia melangkah.
Langkahnya sunyi namun mengerikan, seperti seorang malaikat pencabut nyawa yang siap melakukan tugasnya tanpa pandang bulu.
"Noda darah... jantung yang tak berdetak. haaaa... Tampaknya aku benar-benar mati dan terpuruk kedalam neraka"
Lee Ryou lantas mengaktifkan kemampuannya yang ia dapatkan ketika menyelesaikan misi ke2 untuk mendeteksi keadaan sekitar. Kini segala yang bernafas dengan radius 100m dapat ia rasakan, dan kemampuan ini sangatlah berguna baginya.
Ia lantas memegang wajahnya, dan benar wajahnya yang buruk rupa itu tidak berubah sedikitpun.
Sejenak ia menarik nafas secara dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Apa yang harus ia lakukan tidak berubah sama sekali, dan apa yang ia inginkan juga tidak berubah sama sekali. Yaitu membawa petaka kepada orang-orang pendosa.
_____________________________
Disebuah kantor polisi, ada seorang kepala polisi sedang memarahin seorang polwan karena ia melakukan sebuah kesalahan.
"Ini apa!? berapa kali kubilang jangan sembarangan mendekati Mereka!!!"
"Mereka adalah Grup Kriminal yang berbahaya! aku memiliki bukti kok untuk menangkap mereka!"
"Bukti apa? ya ampun... jika bukti seperti ini bisa menghentikan mereka dengan mudah. Aku sebagai kepala polisi akan mundur dari jabatanku"
"Jika mereka menyakitimu, aku akan merasa bersalah. Mendiang ayahmu menitipkan dirimu untuk aku jaga dengan baik-baik."
"Ayahmu adalah sahabatku, dan aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.... Aku paham rasa keadilanmu itu sangatlah besar persis seperti ayahmu. Dan kamu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri."
"Tapi jangan pernah sembrono dalam mendekati mereka. Kamu tau kan kriminal seperti mereka memiliki backing dimana-mana?"
"Iya justru itu kita harus bertindak sekarang" Ujar Son Ye jin dengan bersikukuh
"Sudah... kamu keluar dari ruangan ini sekarang, dan kamu aku skor untuk seminggu. Kamu tidak boleh bertugas sampai masa hukumanmu jatuh tempo."
"T-tapi pa-"
"Tidak ada tapi-tapi, ini adalah keputusan final, kita memiliki agenda sendiri untuk menangkap kriminal seperti mereka. Sekarang keluar dari ruangan ini"
Yon se Jin hanya dapat terdiam dengan ekpresi kecewa. Ia adalah seorang polisi yang memiliki jiwa yang baik dan tulus. Ia selalu percaya bahwa kebaikan harus ditegakkan dan kejahatan harus dihentikan.
"Mengapa kepala polisi tidak paham akan apa yang ia pikirkan?" itulah pertanyaan Yon se Jin yang ada dibenaknya saat ini.
"Apa jangan-jangan ia pikir aku wanita lemah ya? aku kan dapat dengan mudah mengalahkan 3 penjahat sekaligus."
Yon se jin hanya bisa menghela nafasnya, lalu ia menggelengkan kepalanya sambil berbicara kepada dirinya sendiri " Yon se Jin, mari kita manfaatkan waktu ini untuk healing. yippiee!!"
Alih-alih diskor merasa sedih, Yon se Jin malah ingin memanfaatkan waktunya untuk berlibur ria di kota seoul yang indah ini.
"Bagaimana kalau aku ke taman dahulu?"
Ditaman yang bernama Eden, adalah taman yang indah namun memiliki pengunjung yang sepi. Mungkin karena tempatnya yang agak jauh dari pusat keramaian.
"Aaahhhh enak banget udaranya ditaman ini, pasti kepala polisi kira aku sedang depresi?"
"Seperti biasa taman ini sepi... tapi ini best spot banget buat foto-foto. Sayang sekali gak ada orang yang bisa fotoin aku."
"haahh... padahal jarang banget aku bisa foto pake baju dinas aku ditaman."
Son Ye Jin hanya bisa menghela nafas, bagaimanapun juga ia adalah seorang perempuan muda biasa. Tentunya hasrat untuk berfoto-foto adalah hal yang ingin dia lakukan. Namun ketika ia hendak mengurungkan niatnya untuk berfoto, dikejauhan ia melihat seorang pria yang sedang duduk menyendiri.
"Hmmm.. mungkin ini agak kurang sopan. Tapi kayaknya dia sendirian, jadi mungkin tidak masalah kali ya?"
Begitulah Son Ye Jin, ia yang memiliki watak ceria kerap merepotkan orang lain. Seorang polisi dituntut untuk tetap disiplin dalam menjalankan tugas, namun Son Ye Jin adalah orang yang berbeda. Hingga pada suatu hari orang-orang pernah berfikir ia hanya menggunakan costume cosplay.
__ADS_1
"Permisi.. Bisa minta tolong? saya mau foto disebelah san-"
Belum selesai Yon Se Jin berkata untuk meminta tolong, ketika pria tersebut memalingkan badan serta wajahnya alangkah terkejutnya Yon Se Jin melihat wajah dari pria tersebut.
Ia memiliki rupa yang mengerikan dan tatapan yang cukup berbahaya, bekas luka bakar yang sangat mengerikan itu membuat Yon Se Jin tercengang.
"Anuu... Aaa" Melihat hal ini Yon Se Jin mulai terbata-bata dalam tutur katanya.
Tampaknya, pria tersebut tidak perduli dengan keberadaan Yon Se Jin, ia berdiri lalu meninggalkan Yon Se Jin tanpa sepatah kata apapun. Membuat Yon se jin menjadi tidak enak karena telah mengusik orang tersebut.
"Maafkan saya yang telah menggangu waktu anda!" Yon se Jin berkata sambil sedikit membungkukkan badannya.
Ketika sosok orang tersebut mulai menghilang dari pandangan Yon Se Jin, ia merasa sedikit rumit.
"haahh... nanti aja deh foto-fotonya. Mending pulang" lirih Yon se Jin karena mulai tidak mood karena kejadian tadi.
Keesokan harinya.
"Hari baru semangat baru!"
Hari ini adalah hari Yon Se Jin akan healing di pusat perbelanjaan, setelah itu ia akan makan di restoran kesukaannya yaitu Gluttine. Schedule yang ia siapkan sangatlah sempurna.
"Me Time yang sangat sempurna!"
Hari berlalu dengan cepat, ia yang berbelanja melakukan perawatan dan lain-lain seharian dipusat perbelanjaan tidak menyangka waktu telah menunjukkan pukul 7 malam.
Dengan mobilnya ia bergegas menuju Gluttine restoran kesukaannya.
Sesampainya disana, ketika ia hendak memarkirkan mobilnya. Ia melihat seseorang yang mencurigakan.
"Pria itu?? apa dia mau maling"
Gerak gerik yang diberikan pria tersebut cukup mencurigakan, pria itu menoleh ke kiri dan kekanan untuk memastikan keadaan sekitar.
Namun tiba-tiba ada seseorang pria yang datang dari kejauhan mendatangi orang yang mencurigakan tersebut.
Sontak orang tersebut mengurungkan niatnya untuk melakukan kejahatan, dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Tampaknya melihat hal ini Yon Se Jin, mulai bertanya-tanya siapakah laki-laki tersebut? Karena kesan yang diberikan laki-laki itu sangat membekas dimemorinya, dan tampaknya dia adalah pria yang sama, pria yang duduk seorang diri disebuah taman yang memiliki luka bakar yang sangat serius.
Yon Se Jin mulai berfikir bahwa pria tersebut mungkin memiliki koneksi kejahatan yang sangat berbahaya, dan tampaknya Yon Se Jin mulai tertarik untuk membuntuti pria tersebut.
"Walaupun aku lagi di skor, bukan berarti aku dilarang untuk semua hal bukan?" Seketika itu Yon Se Jin bertekad untuk mengkuak siapa laki-laki tersebut.
Waktu berlalu.
Sudah 3 jam ia membuntuti pria itu dan tampaknya pria tersebut tidak memiliki tujuan apa-apa. Yon se jin mulai kecewa karena ia hanya menghabiskan waktu berharganya.
Namun seketika! disebuah gedung berwarna merah terdapat asap yang mengepul ke langit. Tampakny gedung tersebut sedang terbakar hebat hingga api cepat sekali merayap keseluruh penjuru gedung itu.
Melihat hal ini Yon Se Jin tampak kaget dan langsung mencoba menghubungi pusat layanan darurat.
"Telah terjadi kebakaran hebat, mohon bantuannya dengan segera!" ucap Yon Se Jin.
Setelah itu, Yon Se Jin bergegas untuk memeriksa keadaan sekitar. dan tampaknya ada seseorang ibu-ibu yang sedang menangis berteriak minta tolong.
"Tolongg!!! Anak saya masih didalam!!!! Seseorang Tolong!"
Mendengar hal ini Yon Se Jin hanya bisa terkejut karena api yang membakar gedung tersebut membesar terlalu cepat. Sangat tidak normal seakan-akan disengaja. Untuk menolong anaknya mungkin akan mengorbankan nyawa dalam pelaksanaannya. Ini sangat berbahaya!
Ketika Yon Se Jin telah bertekad dan hendak memasuki gedung tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang mendahuluinya.
"Pria itu!?" Ucap Yon se Jin menghentikan langkah kakinya.
Selang beberapa menit kemudian, pria tersebut keluar dari gedung terbakar tersebut sambil membawa sang anak yang sedang menangis.
Ketika sang anak melihat ibunya, sang anak langsung bergegas memeluk ibunya.
"ibu!!!! Ibu!!!!"
Yon Se jin lega melihat sang anak baik-baik saja, ia tersenyum bahagia karena melihat moment ini.
Lantas ia bergegas mencari sang pria tersebut dan ingin memberikan apresiasi terdalamnya.
Namun, sang pria tidak terlihat dimanapun. Ia menghilang bak ditelan malam yang sunyi, tidak ada sedikitpun aura keberadaannya.
"Siapakah ia sebenarnya?" ucap Son ye jin.
______________________________________
Ch.3 Konflik.
__ADS_1