
"Halona, maafkan aku, tolong maafkan aku", Willson tetap memeluk Lona dan mengelus-elus rambut panjangnya.
Lona hanya diam, Willson melepaskan pelukannya, menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat wajah Lona.
"Jangan menangis lagi Lon, aku mohon", Willson menghapus air mata yang keluar terus menerus dari mata indah Lona.
Lona menatap Willson, mereka saling memandang satu sama lain. Willson mengbelai lembut pipi Lona yang masih basah. Mereka saling mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu di danau itu, di kursi yang sekarang mereka duduki.
"Will", Lona memanggil willson dengan lembut, hampir tidak terdengar.
Willson meletakan jari telunjuknya didepan bibir Lona, berharap Lona tak berkata-kata lagi, karena sekarang Willson ingin mengatakan sesuatu kepada Lona.
Willson memegang kedua pipi Lona dan menatap matanya, "Halona, maukah kau memaafkanku? Aku masih sangat mencintaimu".
Lona tersenyum lalu mengeluarkan air matanya kembali, walaupun ia marah kepada Willson, tapi jauh didalam lubuk hatinya, ia juga sangat merindukan Will nya, ia juga masih sangat mencintai Willson. Kali ini ia menangis bahagia, sangat bahagia.
"Aku juga masih mencintaimu Will", jawab Lona.
"Apakah ini artinya kau menerimaku kembali? Kita pacaran lagi?", tanya Willson bertubi-tubi, karena ia tidak menyangka kalau Lona akan menjawab seperti itu, karena baginya Lona mau memaafkannya saja, ia sudah sangat bersyukur.
Lona mengangguk, "Ya, aku menerimamu kembali Will".
Willson sangat bahagia, ia memeluk Lona mencium pucuk kepala Lona.
Kemudian Willson melepas pelukannya dan menatap Lona, ia merapikan rambut Lona yang berantakan, menghapus air mata Lona kembali, sampai akhirnya ibu jarinya berhenti di bibir Lona, ia mengusap lembut bibir Lona dengan ibu jarinya, lalu mengangkat sedikit dagu Lona dan mencium bibir Lona dengan lembut. Lona sempat terkejut, tapi akhirnya ia mulai memejamkan matanya. Lona membalas ciuman Willson, lama mereka berciuman, mungkin karena mereka masih merindukan satu sama lain. Dan Willson pun mengakhiri ciumannya dengan mencium kembali pucuk kepala Lona, lalu memeluk tubuh Lona.
Mereka masih duduk di kursi didekat danau, Lona menyandarkan kepalanya di bahu Willson. Nampak Lona memejamkan matanya, ia merasa bersyukur karena dipersatukan kembali dengan orang yang sangat ia cintai.
"Will, boleh aku bertanya?", Lona masih menutup matanya.
"Hmm", jawab Willson sambil membelai rambut Lona.
"Kenapa dulu kau pergi begitu saja? Kau bahkan tidak berpamitan denganku", tanya Lona.
"Maafkan aku sayang, dulu aku terdesak oleh situasi yang mengharuskan aku untuk pergi ke Eropa dan melanjutkan sekolah disana".
Lona membuka matanya, lalu membenarkan posisi duduknya, menatap ke arah Willson.
"Kenapa?"
"Saat itu papa sedang sakit dan harus mendapatkan pengobatan di Eropa, aku harus menemani papa disana", jawab Willson
Lona menatap lurus ke arah depan, tepat menatap danau, "karena kau ingin menjadi penerus perusahaan papamu kan".
Willson terkejut dan menatap Lona,
"Lona", hanya itu yang bisa dikatakan oleh Willson.
"Aku sebenarnya sudah tahu alasanmu Will", Lona menatap Willson.
"Papamu memang sakit dan harus mendapatkan perawatan terbaik di Eropa, dan kau diminta papa mu untuk menemaninya disana, karena disana kau juga akan diajarkan tentang bisnis dan melanjutkan perusahaan papa mu, tapi untuk itu papa mu tidak mengizinkanmu memikirkan perempuan, dan kau meninggalkanku".
"Setidaknya dulu kau bisa berpamitan dan mengakhiri hubungan kita dulu will".
"Karena aku tidak tega melihat papa, makanya aku menurutinya, dan aku juga tidak mau mengakhiri hubungan kita".
"Dan juga karena ambisi mu yang ingin menjadi orang sukses", Lona memotong perkataan Willson.
Willson meraih tangan Lona, "Halona, maafkan aku, aku tahu aku salah, maafkan aku".
Lagi-lagi Lona tersenyum, "sudahlah tidak apa-apa, tapi jangan ulangi lagi kesalahan yang sama, atau aku akan benar-benar pergi".
"Baiklah tuan putri", Willson mencium punggung tangan Lona.
"Tapi dari mana kau tau?", lanjut Willson.
"Itu tidak penting, yuk kita pulang, hari sudah mulai petang", ajak Lona, lalu Lona beranjak berdiri.
Willson mengikuti Lona, dan dari belakang, Willson memegang pinggang Lona dan memutar badan Lona ke arah belakang. Tepat sekali wajah Lona berhadapan dengan Willson, hanya berjarak beberapa centi saja.
Willson masih memegang pinggang Lona dan mengeratkan untuk lebih mendekat.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku nona Halona?", mata Willson terlihat tegas menatap Lona.
__ADS_1
Lona terdiam sesaat, "kau ini bicara apa, tentu saja tidak", jawab Lona sambil mencubit pelan hidung Willson.
Willson makin mengeratkan pelukannya dan mendekatkan wajahnya, "kau yakin nona?"
Lona mengangguk lalu mencium bibir Willson sekilas. Willson pun tersenyum, dan melupakan kecurigaannya, karena hatinya sedang berbunga-bunga.
"Mari kita pulang", ajak Willson.
Merekapun berjalan beriringan dan bergandengan tangan menuju ke arah mobil yang sedang terparkir.
***
Didalam mobil Al tersenyum melihat Tuan nya sedang bersama pujaan hatinya.
"Anda harus berbahagia tuan".
Merekapun sudah didalam mobil dan Al melajukan mobilnya.
Mereka pun sampai di depan apartemen Lona.
"Makasih Will, aku turun dulu ya", kata Lona.
"Apa kamu tidak menawariku untuk mampir?", tanya Willson.
Lona tertawa pelan, "kapan-kapan ya, lebih baik kamu segera pulang dan istirahat".
"Hmm, baiklah"
"Bye", Lona ingin membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba tangan Willson menahannya.
"Apa hanya seperti itu? Tidak ada ciuman sayang?", Willson tersenyum licik.
"Will, ada Sekertaris Al".
"Al", panggil Willson.
"Baik tuan", jawab Al, lalu ia membuka pintu dan keluar dari mobil, lalu menutup pintu mobil kembali, ia menghadap membelakangi mobil.
"Ah nasib-nasib", kata Al didalam hatinya.
Willson menarik pelan dagu Lona karena ia semakin gemas dengan manyunan bibirnya.
"Kelihatannya kau tak sabar ingin ku cium".
"Hah, kata siapa", Lona merasa gugup.
"Aku keluar dulu, bye Will", lanjut Lona.
Willson segera menarik Lona dan mendekatkan tubuhnya, lalu perlahan mencium singkat bibir Lona.
"Nanti segera mandi dan istirahat ya", kata Willson.
"Iya, kamu juga ya".
Lona pun keluar dari mobil.
"Sekertaris Al, terimakasih dan hati-hati di jalan ya".
"Baik nona", jawab Al.
Lona berjalan dan memasuki gedung apartemennya. Mobil Willson segera meninggalkan kawasan apartemen setelah Lona sudah memasuki gedung apartemen.
***
Sesampainya Lona di dalam apartemennya, ia segera membersihkan diri, lalu ia mendapatkan notif dari nomor tidak dikenal.
"Sayang, besok aku jemput ya, karena mobilmu kan masih ada di kantor". ~Willson.
Ternyata itu pesan dari Willson.
"Dari mana dia mendapatkan nomorku, aku bahkan lupa bertukar nomor handphone"
"Ah bodoh sekali aku ini, aku kan kerja di perusahaannya, pasti dia dengan mudah mendapatkan nomorku", lanjut Lona.
__ADS_1
Lona mulai menulis pesan kepada Willson.
"Tidak perlu Will, aku tidak enak dengan karyawan lain, biar Adrian saja yang mengantarkanku besok". ~Lona.
"TIDAK". ~Willson.
"Kalau naik taksi bagaimana?". ~Lona.
"TIDAK". ~Willson.
"Please" . ~Lona.
"Begini saja, biar orangku besok yang akan menjemputmu". ~Willson.
"Ok Will". ~Lona.
***
Keesokan paginya, benar saja, Lona dijemput oleh seorang supir wanita kepercayaan keluarga Wiley. Untung Lona memintanya untuk datang lebih pagi, jadi suasana kantor masih sepi. Lona hanya tidak ingin ada gosib-gosib yang tidak enak didengar di lingkungan kantor, karena statusnya adalah karyawan atau lebih tepatnya dokter di Wiley Group.
Sesampainya di kantor Lona meminta supir untuk meninggalkannya, karena nanti dia akan pulang dengan mobilnya sendiri.
Lona terlihat sedang bermain game di ruangannya, sambil menunggu kedatangan Jessica. Tapi ada ketukan di pintunya.
"Permisi, apa saya boleh masuk?" kata wanita itu.
"Ya silahkan masuk dr.Anes", ternyata itu adalah dr.Anes, dokter yang bekerja juga di Wiley Group. Apa kalian masih ingat dengan sesosok dokter wanita yang memperhatikan Halona di pantry beberapa hari lalu?. Ya dr.Anes orangnya.
Halona merasa heran dengan kedatangan dr.Anes, karena Lona tahu sepertinya dr.Anes tidak menyukainya semenjak kedatangannya di Wiley Group. Maka dari itu, dia tidak terlalu dekat dengan dr.Anes, karena dia tidak mau terlibat masalah dengannya.
dr.Anes pun masuk dan duduk berhadapan dengan Lona, hanya berbatasan dengan sebuah meja kerja Lona.
"dr.Anes tumben sekali datang kemari, ada yang bisa saya bantu?", kata Lona
"Tidak ada, saya hanya ingin mengobrol saja, kebetulan tadi saat saya sampai di kantor, saya melihat mobil anda sudah ada di parkiran, tapi tidak lama ada mobil datang dan anda turun dari mobil tersebut". dr.Anes terlihat sangat penasaran sekali.
"Oh itu, kemarin saya ada keperluan, jadi terpaksa meninggalkan mobil saya di kantor", jawab Lona, "ah sial, pakai acara ketahuan segala sih", lanjut Lona dalam hatinya.
"dr.Lona ada keperluan apa dengan Tuan Willson?"
"Waduh gawat sepertinya dia kemarin juga memergoki ku saat masuk ke dalam mobil Will, aku harus jawab apa ya Tuhan".
Belum sempat Lona menjawab, tiba-tiba...
"Lonaaaa, hallo, kok tumben sih udah datang", beruntunglah Jessica datang disaat yang tepat.
"Hai Je", Lona melambaikan tangannya.
"Ada dr.Anes juga, pagi dr.Anes", sapa Jessica .
"Pagi dr.Jessica, kalau begitu saya permisi dulu ya dr.Jessica dan dr.Lona", jawab dr.Anes.
"dr.Anes kita ngopi bareng yuk di pantry", ajak Jessica.
"Maaf dr.Jessica, mungkin lain kali saja, terimakasih atas tawarannya, saya permisi dulu", jawab dr.Anes.
dr.Anes sudah pergi meninggalkan ruangan mereka.
"Je udah yuk kita ke pantry, lu bawa apaan?", tanya Lona.
"Nih gue bawa kopi oleh-oleh dr paman gue, kita cobain yuk", ajak Jeje lalu menggandeng tangan Lona menuju ke pantry.
Sesampainya di pantry, mereka menikmati kopi yang dibawa oleh Jessica dan masing-masing sepotong roti yang dibagi oleh Lona.
"Lon, tadi ngapain dia datang ke ruangan kita?", ujar jessica sambil berbisik-bisik disuasana pantry yang masih sepi, hanya ada mereka berdua.
"Tar aja gue ceritain ya, disini tembokpun punya telinga", jawab Lona yang juga berbisik-bisik.
***
Sudah waktunya pulang kantor, Lona dan Jessica bersiap-siap untuk pulang. Malam ini Jessica akan bermalam di apartemen Lona. Menagih janji Lona untuk menceritakan tentang tadi pagi. Karena menurut mereka tempat yang aman untuk bercerita memang hanya didalam rumah tempat mereka tinggal. Apalagi kalau ini adalah hal yang sangat rahasia.
###############################
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya, dan beri aku like juga biar aku makin semangat nulis..
Follow aku di instagram @itsfelia