Tak Sanggup Melupa

Tak Sanggup Melupa
Masih Mencintaimu


__ADS_3

Hari ini hari pertama Lona bekerja di Wiley Group, sebagai Dokter perusahaan.


Wiley Group adalah perusahaan terbesar no.1 se Asia, tidak heran jika banyak sekali fasilitas yang belum tentu ada di perusahaan lain.


Di Wiley Group memberikan fasilitas kesehatan, dengan menyediakan klinik didalam gedung Wiley Group dan memperkerjakan dokter-dokter terbaik, Wiley Group juga memberikan fasilitas catering untuk makan siang dan coffe break, dan masih banyak lagi fasilitas yang lain.


Tak heran banyak sekali orang yang berlomba-lomba ingin bekerja di Wiley Group, tentu saja tidak semudah itu, karena kriteria yang diperlukan untuk masuk ke Wiley Group cukup tinggi.


Lona baru saja memarkirkan mobilnya, ia keluar dari mobil dan melihat gedung yang menjulang tinggi, kantor pusat Wiley Group yang sekarang menjadi tempatnya bekerja.


"Aku sering melihat ini di TV, tentu saja beserta CEO nya", Lona menghembuskan nafasnya, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam gedung.


Kedatangan Lona cukup menarik perhatian, karena sebagian karyawan kantor mengenali Lona yang seorang youtuber dan selebgram.


Mereka menyapa dan mendekati Lona, belum lama mereka mengobrol, tiba-tiba mereka terdiam dan menundukan kepala serta memberi ucapan selamat pagi.


"Selamat pagi Tuan Willson", sapa karyawan-karyawan hampir bersamaan.


Willson hanya diam, bagi karyawan itu adalah hal biasa jika Tuan Willson tidak menjawab sapaan mereka.


Willson tetap berjalan dan melirik Lona sekilas. Lona hanya terdiam tanpa ekspresi, kemudian melihat kesembarang arah.


Semua karyawan berhamburan pergi menuju tempat masing-masing.


Lona mendekati meja receiptionist untuk menanyakan ruangan dr.Monica, kepala klinik di kantor pusat Wiley Group.


Setelah mengetahui ruangan klinik ada dilantai 7, ia segera menuju ke arah lift.


"Lonaaa"


Lona menoleh dan ternyata Jessica yang memanggilnya.


"Hai", sapa Lona.


"Udah tau ruangannya?", tanya Jeje.


"Udah, yuk", Lona menggandeng tangan Jeje.


Betapa kagetnya Lona saat melihat Willson masih didepan lift. Terlihat diatas pintu lift tertulis "Lift khusus petinggi perusahaan dan Dokter"


Lona melihat kearah lift disampingnya.


"Ah kenapa antri panjang banget sih".


Lona hampir mendekati lift sesaat setelah pintu lift terbuka, Willson dan Al segera memasuki lift.


Lona memperlambat jalannya, ia kelihatan bingung harus ikut masuk atau tidak. Sampai akhirnya Jessica berjalan cepat dan menarik tangan Lona untuk ikut masuk kedalam lift.


"Selamat Pagi Tuan", sapa Jessica dan Lona saat sudah masuk didalam lift.


Bagaimanapun juga Lona harus bersikap profesional jika berada didalam lingkungan kantor.


"Ternyata takdir mempertemukan kita kembali", batin Lona seteleh sekilas melirik orang yang sangat ia kenal dimasa lalunya berada didalam lift yang sama.


"Dia masih seperti dulu, masih cantik, bahkan terlihat lebih cantik jika dilihat dari jarak sedekat ini", Willson tersenyum sangat tipis, bahkan orang lainpun tidak akan tahu kalau ia sedang tersenyum.


Willson melirik Lona dari pantulan cermin yang ada di dinding lift, hatinya terasa pilu, ingin sekali memeluknya dan berkata MAAF.


Lift pun terbuka saat sudah berada dilantai 7, Lona dan Jeje keluar dari lift.


"Permisi Tuan", pamit Lona dan Jessica kepada Willson.


Lift menuju ke lantai 50, lantai teratas yaitu tempat dimana ruangan CEO berada.


Sesampainya diruangan Willson.


"Al, hubungi dr.Monic untuk memerintahkan DIA memeriksaku".

__ADS_1


"Baik Tuan".


Dilantai 7.


Setelah Lona dan Jeje bertemu dr.Monic diruangannya, mereka segera menuju keruangan mereka yang sudah disediakan.


Telepon meja kantor Lona berdering.


"Hallo dengan dr.Lona disini".


"Ya dr.Lona, bisa keruangan saya sekarang?", terdengar dr.Monic yang berbicara.


"Baik dr, saya segera keruangan dokter sekarang".


Diruangan dr.Monic.


"dr.Lona, tolong keruangan Tuan Willson untuk pemeriksaan kesehatan, Tuan Willson setiap pagi sebelum bekerja selalu melakukan pemeriksaan rutin untuk kesehatannya, tapi karena dr.Adam sedang melakukan perjalanan dinas, jadi kamu saja yang menggantikannya untuk sementara waktu ya".


Deg. Jantung Lona terasa lupa cara memompa darah yang benar. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga wajahnya terlihat pucat.


"dr.Lona?"


"Iya dr, saya akan segera keruangan Tuan Willson". jawab dr.Lona.


"Baiklah kalau begitu, ruanganya ada dilantai 50".


"Baik doc, saya permisi dulu".


Lona kembali keruangannya untuk mengambil peralatan medisnya.


"Lon, lo sakit? Kok pucet banget sih", Jeje memegang kening Lona dengan punggung tangannya.


"Gak demam kok".


"Ya siapa bilang sakit", jawab Lona.


"Mau ngapain"


"dr.Monic minta gue untuk periksa kesehatan Tuan Willson"


"Serius? Wah enak banget periksa cowok ganteng", Jeje terkekeh.


Lona memutar bola matanya dan menggelengkan kepala, lalu berjalan menuju lift.


Sesampainya di lantai 50, Lona menghampiri meja seorang perempuan yang berada disebrang ruangan yang bertuliskan CEO.


"Permisi, saya dr.Lona"


"Silahkan dr.Lona, anda sudah ditunggu oleh Tuan Willson didalam", perempuan itu mengetuk pintu dan menunggu perintah dari dalam, lalu membukakan pintu untuk Lona.


Lona dan Willson bertatap mata sejenak, setelah pintu tertutup.


Lona tersadar, "maaf Tuan Willson, saya diperintahkan dr.Monic untuk memeriksa kesehatan anda".


Willson menghampiri Lona, tepat didepan Lona, ia memandang wajah Lona, Willson rindu, sangat rindu sekali. Kemudian Willson duduk di sofa.


"Sampai kapan kau akan terus berdiri disitu?", Willson melihat Lona yang mematung sedari tadi.


"Ah iya, maaf Tuan", Lona menghapiri Willson untuk duduk di sofa dan memulai memeriksanya.


Willson terus memandangi Lona. Lona sadar akan hal itu, tapi sebisa mungkin tidak ia hiraukan, walaupun sebenarnya Lona sedikit grogi.


"Kau terlihat pucat, apa kau sesenang ini bisa bertemu denganku lagi dr.Lona".


"Maaf Tuan, sebaiknya kita tidak membicarakan hal pribadi di kantor"


"Kenapa? Ini adalah kantorku"

__ADS_1


Lona hanya tersenyum.


"Bagaiman kabarmu Halona?"


"Bukankah anda selalu tau kabar saya Tuan", Lona menghentikan aktivitasnya dan menatap Willson.


Willson hanya diam.


Lona melanjutkan aktivitasnya kembali.


"Aku hanya ingin menjagamu", akhirnya Willson bersuara.


"Jangan buang-buang waktu anda Tuan", Lona masih melanjutkan aktivitasnya.


"Jangan memanggilku Tuan, panggil aku Will, bukankah kau suka memanggilnya?".


Lona tersenyum, "kita masih di lingkungan kantor".


Willson menjawab apapun yang ditanyakan oleh Lona perihal pemeriksaan.


"Ok sudah selesai, kesehatan anda sangat baik Tuan, anda pasti sering berolahraga dan memakan makanan sehat", Lona mulai mengemasi peralatan medisnya.


"Saya permisi dulu Tuan", tidak ada jawaban dari Willson.


Saat Lona bangkit dari duduknya dan ingin meninggalkan ruangan, tangan Willson memegang pergelangan tangan Lona.


Sontak Lona menoleh.


"Maaf Tuan, ini dikantor".


"Halona, duduklah sebentar".


"Maaf Tuan, tapi saya harus segera kembali ke ruangan saya"


Saat Lona mencoba melepaskan pegangan tangan Willson, tiba-tiba Willson menarik tangannya. Lona pun terjatuh dipangkuan Willson.


Lona terkejut, tatapan mata mereka bertemu. Lona juga merindukannya, ingin sekali ia memeluk Willson saat itu juga, tapi ia tahan.


Lona mencoba bangkit tapi Willson memeluknya erat.


"Beri aku waktu, biarkan seperti ini, sebentar saja, aku merindukan Halonaku".


"Tidak Tuan, saya tidak ada waktu, ini sungguh tidak sopan". Lona berusaha bangkit, tapi sia-sia, pelukan itu semakin erat, sampai ia bisa mencium aroma parfum Willson yang membuatnya tenang.


Perlahan pelukan itu merenggang.


"Halona, bukankah kita masih sepasang kekasih."


"Tidak lagi"


"Aku tidak pernah bilang kalau kita putus, kaupun sama".


"Tapi bagiku hubungan kita telah usai saat kamu meninggalkanku".


"Aku masih mencintaimu Halona"


Halona beranjak berdiri dari pangkuan Willson, dan berjalan sedikit menjauh.


"Semudah itu kau mengucap cinta? Semudah kamu meninggalkanku", Lona tersenyum sinis dan membawa peralatan medisnya, lalu meninggalkan ruangan Willson.


Willson masih terpaku, rasa penyesalan itu muncul kembali.


"Ini salahku", Willson menyandarkan kepalanya dan menutup matanya sejenak, lalu kembali ke meja kerjanya untuk menghubungi Al.


"Al, keruanganku sekarang". Setelah sambungan telepon itu tersambung.


**************************************

__ADS_1


Follow instagram aku ya @itsfelia


__ADS_2