
Lona dan Al kembali ke kantor setelah mereka menyudahi obrolan mereka.
Al segera menuju ke ruangan Willson dan menceritakan semua yang ia ketahui.
Willson menghela nafas.
"Sejak kapan dia mengetahuinya?"
"Sepertinya sudah sejak lama tuan, sebelum nona pergi ke Amerika. Karena nona Lona terlihat sangat santai dan terbiasa, bahkan Adrian saja baru mengetahuinya 1 minggu setelah nona Luna tinggal di Amerika".
"Menurutmu aku harus bagaimana Al?"
"Sebaiknya anda menghentikan penjagaan untuk nona Lona tuan, lagi pula nona sudah kembali ke Indonesia, dan bodyguard bayangan nona Lona sendiri juga ada lebih dari 1. Ini untuk kenyamanan nona Lona karena nona sudah mengetahuinya dari awal".
"Kau benar juga, hmm ya sudah lah, mau bagaimana lagi".
Al kembali ke ruangannya.
"Aku merasa ada sesuatu hal yang besar yang tidak aku ketahui".
"Ah aku ini sebenarnya sekertaris pribadi atau sekertaris percintaan", Al menggelengkan kepalanya.
Keesokan harinya Lona berangkat kerja menggunakan dress berwarna baby pink, hiasan makeup yang tipis membuatnya sangat cantik dan anggun seperti biasanya.
Dia masih menjadi pusat perhatian di Wiley Group, tak sedikit yang memanggilnya Dokter Cantik jika berpapasan dengannya.
Lona melewati ruangan dokter Adam, dan melihat ruangannya masih kosong.
"Aku berharap dr.Adam datang, jadi aku tidak perlu ke ruangan Will lagi".
"Tapi sepertinya tidak mungkin, kemarin sebelum pulang, dr.Monic sudah memberi tahu kalau aku yang akan menggantikan dr.Adam selama seminggu".
__ADS_1
Lona dan Jessica terlihat sedang menikmati kopi dan sandwich di pantry.
"Lon, keruangan tuan Willson jam berapa?", tanya Jeje.
"15 menit lagi", Lona melirik jam tangannya.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, ada dokter wanita yang sedang memperhatikan Lona.
Lona membawa peralatan medisnya dan berjalan menuju ruangan CEO.
"Si mbaknya kemana ya?", Lona melihat meja disebrang ruangan CEO kosong.
"Sudahlah, aku langsung ketuk saja pintunya".
Saat ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka.
"Sekertaris Al, apa tuan Willson ada didalam?", tanya Lona dengan senyuman ramahnya.
Didalam ruangan.
"Pagi tuan Willson".
"Pagi Halona", Willson tersenyum menyambut Lona.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat ramah sekali, biasanya dia tidak pernah menjawab sapaan karyawan", Lona mengerutkan keningnya.
Willson sudah duduk di sofa seperti kemarin, Lona siap untuk memeriksanya.
"dr.Lona, dadaku sakit".
"Coba saya periksa dulu ya".
__ADS_1
"Detak jantung anda normal, apa yang anda rasakan?", lanjut Lona.
"Nyeri, ya nyeri sekali"
"Apa anda salah makan, tuan?"
"Tidak", Willson menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya.
"Apa anda terjatuh?"
"Ya, aku jatuh", Willson membuka matanya dan menatap ke arah Lona.
"Hah, jatuh dari mana? Apa itu lebam? Biar aku obati", Lona terlihat sangat khawatir hingga tidak sadar ia sudah melonggarkan dasi dan melepas beberapa kancing kemeja Willson.
Willson memegang erat tangan Lona dan meletakannya di dada Willson.
"Disini, disini Halona"
"Aku jatuh, aku jatuh cinta padamu", Willson tersenyum.
Lona menarik tariknya dan memukul dada Willson.
"Aw aw, sakit tau Lon", Willson masih menahan tawanya.
"Gak lucu", lalu Lona melipat tangan didadanya.
"Cie yang khawatir", kali ini Willson tidak bisa menahan tawanya lagi, ia terkekeh.
Lona masih cemberut dan menatap Willson yang masih terkekeh.
Sampai akhirnya ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman yang tipis.
__ADS_1