
Al mengetuk pintu dan memasuki ruangan Willson.
Saat dia baru saja menutup pintu, Willson melemparkan sebuah pulpen kearahnya.
Untung saja Al dengan cepat menangkapnya.
"Dasar bodoh", teriakan Willson memenuhi ruangannya.
"Maaf Tuan, apa saya melakukan kesalahan?"
Willson segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Al. Dengan geram Willson menarik kerah Al dan membenturkan tubuhnya ke tembok.
"Kau tidak tau kesalahanmu?".
Al masih kebingungan dan terus berpikir.
"Apa ini tentang nona Lona, tuan?".
"Kenapa Lona bisa tau kalau aku selama ini mengawasinya?".
Seketika Al teringat Adrian.
"Maafkan saya tuan, saya akan mengurusnya".
Willson melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah kemeja Al.
"Pergilah", Willson kembali ke meja kerjanya.
Diruangan Al, Al mencoba menghubungi Adrian untuk bertemu di restoran yang sama saat dulu ia bertemu dengan Adrian.
Kali ini Adrian yang lebih dulu sampai di restoran, ia terlihat senang, firasatnya mengatakan ada hal yang ingin Willson dan Al ketahui.
Adrian meneguk kopi yang tadi ia pesan, terlihat Al datang dan menuju ke arah mejanya.
"Silahkan duduk tuan Al, anda ingin memesan apa?"
"Tidak perlu".
__ADS_1
"Apa kau yang memberitahu nona Lona jika tuan Willson mengawasinya?".
Adrian tersenyum, "menurut anda?".
Al mencoba mengartikan senyuman Adrian, ia merasa bukan Adrian yang memberi tau nona Lona.
"Jika bukan anda, lalu siapa yang memberi tahu nona Lona?", Al sangat penasaran.
"Hahahahaha", Adrian tidak bisa menahan ketawanya, benar saja tebakannya bahwa Willson dan Al sedang mencari tau sesuatu.
"Aku kira kau sekertaris yang sempurna, ternyata ada juga yang tidak kau ketahui", Adrian tersenyum sinis.
Adrian memanggil pelayan dan membayar tagihannya. Ia lalu berdiri, "Bekerjalah lebih keras lagi tuan Al". Adrian pergi meninggalkan restoran itu.
Al masih mematung dikursinya, ia memanggil pelayan untuk memesan kopi.
"Apa yang dimaksud oleh Adrian?" , Al dibuat semakin penasaran.
Setelah meminum kopi dan membayarnya, Al kembali ke kantor.
Al menghubungi bodyguard yang menjaga Lona saat di Amerika, untuk datang ke kantor dan menemuinya.
"Apa ada kendala saat kau menjaga nona Lona di Amerika?", tanya Al.
"Tidak tuan".
"Apakah nona Lona mengetahui keberadaanmu?"
"Saya pikir tidak tuan, kalau nona Lona tahu, mungkin nona Lona sudah memerintahkan bodyguard bayangannya untuk menangkap saya"
"Apa ada yang ingin kau katakan lagi?", tanya Al.
Bodyguard nampak ragu ingin mengatakannya. "Saya sering kehilangan jejak nona Lona tuan, tapi dalam beberapa detik saya sudah bisa menemukannya kembali".
"Ok, kau sudah boleh pergi".
"Permisi tuan".
__ADS_1
Al menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, ia memijat pelipisnya.
"Ah membuatku sakit kepala saja".
"Nona Lona mengetahuinya, tapi ia membiarkannya".
"Tapi kenapa?"
Al turun ke lantai 7 dan menemui Lona, mereka mengobrol di cafe terdekat, karena sudah waktunya jam istirahat.
"Bagaimana hari pertamamu disini nona Lona?", Al membuka percakapan setelah menghabiskan makanannya.
"Hmm biasa saja, mungkin karena belum terbiasa".
"Sepertinya bukan hanya itu yang ingin anda tanyakan tuan Al", Lona menatap Al dan tersenyum.
"Ya, apa ada yang pernah mengikuti anda sewaktu di Amerika?"
Lona mempertegak tubuhnya, "itu tidak mungkin".
Al tersenyum tipis.
"Karena bodyguard yang anda kirim telah bekerja dengan sangat baik", Lona melanjutkan perkataannya.
Senyum Al seketika sirna.
"Dari mana anda mengetahuinya nona? Apakah Adrian yang memberi tahu?".
"Ohya? Adrian juga tahu?" tanya Lona.
"Drama macam apa ini", keluh Al.
"Jika anda sudah tahu, kenapa anda tidak menangkapnya, nona?"
"Untuk apa? Dia bukan penculik".
************************************
__ADS_1
Follow aku ya di instagram @itsfelia