
Semuanya bermula pada kata terpaksa dan sampai akhir pun masih terpaksa, tidak ada yang namanya benar-benar cinta, yang ada pura-pura cinta. Entah sejauh mana dia mencintaiku, sangat sulit untuk ku membeda mana yang cinta dan hawa nafsu. Di kendalikan bukanlah aku, aku terbiasa bebas tidak ada rantai yang mengikat ku, senang tiada mengepas sayap setiap hari.
Kebebasan ku berlansung sekian tahun, tapi pada akhirnya ada waktunya untuk berada dalam kandang kendali yang mungkin tak dapat aku hindari lagi, selain orangtua, usia juga lagi menjadi permasalahan dalam secuwil masalah ini. Benar tak dapat ku pungkiri, hidup ini memang berpasangan-pasangan, tapi apa yang akan didapatkan dalam hubungan pasang, harta? tanpa dia aku sudah mendapat kaget yang aku inginkan, jabatan aku telah mencapai posisi yang ku inginkan.
lalu apa? Anak?, aku tinggal adopsi anak di panti asuhan tanpa harus membuang energi untuk malam yang panjang.
Keluarga? aku sudah punya. Ayah, Ibu, adik semua aku sudah punya, lalu apa yang kurang?
katakanlah?
kenapa kedua orangtuaku masih memaksaku untuk menikah, semuanya sudah aku miliki, akan lebih baik jika aku tidak menikah, semuanya dapat aku lakukan tanpa ada larangan dan pantangan. Tak harus pusing memikirkan ada yang salah dan marah padaku.
Pada saat usia ku sudah mencapai 25 tahun, kedua orangtuaku bahkan nyinyir di hadapanku untuk menikah, tak bisa lepas gendang telinga dari teriak menikah dari mereka. Bukan menanyakan keadaan fisik tetapi pukulan mental yang mereka berikan setiap kali menelpon. Menanyakan laki2 seperti yang aku mau, seakan semua ini gamang untuk aku lewati sebagai pemula cinta. Untung mereka beberapa tahun ini tidak berada dekat denganku, jika itu terjadi tak bisa dipastikan berapa banyak pria yang akan menaiki tangga rumahku, mengotori lantai rumah yang setiap hari di bersihkan bi Ijah. Masalahnya gaji bi Ija aku yang bayar, mereka dengan seenaknya mengotori lantai rumah, akan nggak ada otak.
Permasalahan ini berlarut-larut hingga menjadi bongkahan batu besar dalam karirku. Pada usia 26 hanya aku wanita yang di kantorku yang masih lajang, katanya pria yang ku anggap rekan kerja dan teman curhat itu naksir aku, tapi aku tak pernah percaya dengan hal itu, dia tahu bagaimana aku sangat benci dengan hubungan seperti itu. Bahkan sahabat lebih tinggi dari itu. Teman ku yang cantik rupawan itu juga pernah bilang padaku,
"Dari pada pusing cari calon suami, kenapa nggak sama tetangga aja, kan lebih jelas dan juga udah nampak wujudnya, tahu bebet bobotnya,"
"Kalau ngomong sih gampang sis, cuman lu kan tahu gua nggak pernah anggap lebih dia jika sudah memegang kedudukan sebelumnya. Aku bukan tipe orang yang suka lewat batas. "
"Tapi kau nyamankan sama dia?, "
"Iya nyaman, tapi nyaman dalam kategori teman "
__ADS_1
"Selalu bilang teman, tapi dia nggak nganggap lu sebagai teman say"
"Dari mana lu tahu, dia aja nggak pernah ngomong ke gua"
"Hei Nasyah, buka tu mata, seluruh dunia tahu, dunia bintang, dunia ghoib, dunia alam sadar, dunia kerja apa lagi?..... dunia dunia lah, pokoknya tahu kalau dia suka sama lu syah, "
"Gua nggak percaya, dia aja bilang ke gua di naksir cewek, tapi ceweknya susah di deketin"
"Nah.... itu ... itu dia kasih tahu lu.... itu kode cipnya syah, dia kasih kode ke lu, bahwasannya dia suka sama lu, gitu"
" Kok gua nggak rasa omongan dia itu buat gua, gua ngarasa dia tu cuman cerita masalah percintaannya dia yang sedikit rumit."
"Dan lu dengan bodohnya kasih saran ke dia? "
"Goblok, (memukul kepala nasyah) "
"Sakitt.... kok lu kasar? "
"ya iya lah, secara tidak lansung lu kasih lampu hijau ke dia, dan sekarang lu bilang nggak tahu, dengan gampangnya lu menyematin dia. "
"(beralih posisi) gimana gua nggak emosi coba, itu dia minta saran ke lu, buat dia cari celah"
"(emosi) Ya gua mana tahu..... "
__ADS_1
"Dan dia ada nggak memperlakukan lu seperti yang lu saranin? "
"Gimana gua tahu sis, kan cewek yang taksir bukan gua. "
"Gua citak juga palo lu syah, maksud gua tu ada nggak di mulai berubah sikapnya ke lu, sedikit manis atau gimana gitu? "
"Hmmmmm.... nggak sih, biasa aja"
"(Dengan tatapan mematikan)...... "
"ya... maksud gua tu, kayak apa dia biasanya ya.. kayak gitu, nggak ada yang berubah masih sama. (meyakinkan)"
"Emang saran yang lu kasih itu apa sih syah? "
"Gua bilang, sabar ya..... suatu saat cewek tu pasti bakal tahu dengan ketulusan lu ke dia, semangat terus jangan menyerah (memperagaakan), Gitu? emang ada yang salah? "
" Nggak ada yang salah dari omongan lu, cuman salahnya dia terlalu nggak berani menghadapi kerasnya hati lu, Tuhan terlalu ngasih lu hati yang kayak batu, itu aja. No koment! "
Aku sesaat binggung dengan obrolan singkat itu, tak pernah terpikirkan oleh ku bahwa rekan kerja terbaik itu menaruh rasa yang dalam untukku. Aku kebingungan kenapa dia bisa suka? dan apakah itu benar?
Kenapa dia tak pernah menyatakan ini padaku? apa dia takut aku akan marah padanya?,
Pertanyaan bodoh itu yang bertebangan di otak ku, ribuan pertanyaan yang datang dan satu jawab nya mematikan pertanyaan ini, "Mungkin tidak benar, bisa jadi mereka yang hobi menjodohkan kami. lagian kamu sudah bersahabat lebih dari 3 tahun. Udah kayak saudara. "
__ADS_1
Mati sudah pertanyaan itu dalam sekejap, dan aku kembali sibuk dengan kerjaku lagi. sementara temanku yang suka gosip itu sudah keluar dari ruanganku karena kesal.