TANPA RASA

TANPA RASA
Mereka menipuku


__ADS_3

Nasyah mulai merasa apa yang di beritahu oleh kedua adik tidak benar, dia menyadari mereka mentertawakan sesuatu namun dirinya tidak boleh tahu. Dia merasa kesal namun kondisi tidak memperbolehkan dia untuk memberikan pelajaran kepada kedua adiknya itu.


Orang tua Raka mulai memperkenalkan raka pada keluarga Nasyah, awalnya dia masih menyambut pria itu dengan senyum yang hangat dan lembut. Tapi semua berupa pada saat kata yang tidak dia suka keluar dari mulut orang-orang.


"Nak nasyah, ini anak paman dan bibi (menunjuk ke arah Rika dan Raka)"


"(Sangat santun menyapa Rika) Hallo adik kecil..... Namanya siapa? kalau kak namanya nasyah. (mengulurkan tangannya) "


"(Tersenyum) Hallo kak nasyah, namaku Rika, Rika suka kak nasyah"


"(Bahagia) (membelai wajah Rika) Ohh iya..... baguslah, kak juga suka sama Rika"


"Kalau gitu kak nasyah mau doang jadi kak ipar Rika? (memegang tangan nasyah)"


"(Kaget) pertanyaan macam apa ini, kenapa menudingkan pertanyaan seperti ini (bicara dalam hati)"


Nasyah belum juga menyadari keanehan dari pertanyaan Rika, sementara kedua adiknya tadi sudah berpikir bahwa kakaknya akan lansung tahu. Mereka berdua sudah kaget setengah mati, begitu dengan kedua orangtuanya nasyah.


"Oo iya kak, kenalin (menarik tangan kakaknya) ini kakak aku namanya kak Raka...."


Nasyah tetap menyalami Raka walaupun dia sedikit merasa canggung dengan perkataan Rika tadi.


"(Mengulurkan tangan) Hallo aku Nasyah"


"(Cuek) Aku Raka (berjabat tangan)"


"Gimana kak Nasyah? kakak aku pria tampan kan? "


Nasyah terdiam seribu bahasa, raut wajahnya sedikit mulai berubah. Dia merasa tidak nyaman lagi berada pada lingkaran itu.


"Kenapa kak nasyah diam? (sedih) kak nasyah nggak suka sama kak raka ya..... "


Mama Raka lansung menyela perkataan Rika


"Rika, jangan ngomong gitu."


Rikapun lansung diam dengan wajah di teguk.


"Nasyah, paman dengar kamu sedang sibuk bekerja ya...? " (kata pak kris)

__ADS_1


"Iya paman, makanya nasyah sangat jarang melihat bunda sama ayah"


"Nggak papa, itu malahan bagus. Tapi sebagai seorang kamu juga harus jaga kesehatan, jangan terlalu memaksakan diri"


"Iya paman, terimakasih atas saranya" (menganggukan kepala)


"Kamu sudah punya pasangan? (tanya mama Raka)"


"(tersenyum lembut) Nasyah belum pikiran ke sana tante"


"Kenapa? Zila aja sudah di pinang sama sebagai kakaknya belum"


Raut wajah Nasyah mulai berubah, Namun di masih terlihat tenang.


"Mungkin jodoh Zila di pertemukan lebih cepat dari nasyah tante"


"Kamu ini sama kayak anak tante, di tanyakan pertanyaan seperti ini jawabanya jodohnya belum lahir. Apa jangan-jangan kalian jodoh. (tertawa)"


Nasyah lansung menyadari maksud dari pertemuan ini, dia menatap ke arah orangtuanya, namun orang tua terlihat menghindari pandangannya. Mereka terlihat tidak mengetahui apa-apa. Lalu dia memutar matanya untuk melihat ke arah kedua adiknya. Mereka terlihat pura-pura bodoh.


"(Memundukkan kepala) Jadi cuman gua doang yang nggak tahu masalah ini? pantasan dari tadi ada yang aneh, jadi maksud pembicaraan tadi, ini?"


"hahahahahah mbak ini bisa aja (kata bunda Nasyah)"


"(Bicara dalam hati) Bunda jangan ngomong lagi, wajah kak Nasyah udah merah tu, gua yakin, nanti gua pasti bakal jadi ondel-ondel pregel. (memegang erat tangan Jastin) "


"Paman, tante... Nasyah merasa nggak enak badan, jadi Nasyah izin undur diri"


"Eeeeee kenapa cepat sekali perginya, ini Raka anak tante, disini nggak yang kenal siapa pun, tolong kamu ajak dia ngobrol ya... "


"Tapi tante..... (dia memberikan kode kepada rehan)"


"Rika sini akak rehan ajak jalan-jalan"


"Ayo kak"


Rehan melarikan diri, begitu dengan Zila.


"Kak jastin, kayaknya itu yang nyari kak (menunjuk ke arah sekumpulan tamu)"

__ADS_1


Jastin pun dengan polos melihat ke arah yang di tunjuk oleh Zila, Zila mulai menyadri bahwa jasti tidak menangkap yang dia berikan jadi dia lansung menarik jasti untuk pergi.


"Itu kak (menunjuk)"


"Yang masa Zila (melihat) "


"(Kesal) Iiii kak jastin ni, paman, tante, kita menyambut dulu ya tante"


"Iya silahkan" (kata pak kris)


"Oo iya mbak, kita sebaiknya sebelah deh, biar aku kenalkan dengan teman-teman ku yang lain (berjalan meninggalkan kedua anak mereka)"


"(Mengikuti) iya mbak"


"Pak Jaya, aku rasa kita sudah tidak berkumpul dengan teman yang lain. Mari kita sapa mereka"


"Ayo pak, aku juga sangat berbincang dengan mereka, Ooo iya, Raka! kalau ada apa-apa bilang saja sama Nasyah ya...? "


"(mengangukkan kepalanya) iya paman"


Nasyah masih terlihat tenang,


"(Memberikan jalan) Ayo pak Kris"


Padahal di dalam hati nasyah sudah sangat geram dengan tindakan keluarganya. Dia masuk ke perangkap mereka, sementara kedua orang mereka pun meninggalkan mereka berdua. Dia benar tak bisa menahanya lagi,


"(Tenang) Anda mengetahuinya kan? "


"Maksudnya? "


"(Berubah) Tidak perlu pura-pura bodoh atau tuli disini."


"(Bicara dalam hati) Cukup menyejutkan, ternyata dia juga menyimpan karakter ini dalam dirinya"


"(Melihat kearah Raka) Kenapa diam? "


"(Tidak merespon)"


"Sangat konyol! (Tersenyum sinis)"

__ADS_1


Nasyahpun meninggalkan Raka sendiri disana, dia pergi dengan amarahnya. Raka tidak marah atau merasa kesal dengan tindakan nasyah, malahan dia tersenyum.


__ADS_2