
Setelah nasyah berdandan, dia sama tidak melihat ada keanehan sama sekali dengan santainya berdandan secantik mungkin, karena dia berpikir ini adalah hari bahagia anak perempuannya. Tak lama dia pun keluar kamar dengan dandannya yang cantik adik laki-laki nya pun tak sabar ingin menggoda kakaknya
"Huuuuu, kayaknya kak nasyah nggak mau kalah sama kak zila ni.... "
"(Mendekati adiknya, lalu memukul) pukk"
"Sakit lo syah...."
"Makanya jaga tu mulut"
"Apa si..mukul orang aja, kan cuman bercanda"
"Iya... bercanda, kan lu bisa bilang gua cantikk, (memperagakan) aduhh cantiknya nasyah.... kan bisa?"
"Kan nggak seru jadi kalau kayak gitu"
"(menipuk lagi) Makanya gua pukul lu, setan kecil. "
"Kakak nasyah apa si... setan kecil, gua udah besar, (berbisik) malu kak, pacar gua datang jangan bikin malu gua kak"
"(Meledek) Ooooo pacar lu datang...., pas kalau gitu, gua permaluin ku (berlari)"
"(Mengejar kakaknya) KAKAK! "
"Kak, jangan gitu nanti di malu nggak mau lagi kesini"
"Trus masalahnya? "
"Ya... nggak ada"
"bmBaguslah (mencelengak-celengok keluar halaman)"
"Ooo iya gua lupa, kakak kan jomblo mana paham"
"Apa lu bilang? "
"JOMBLO"
"Awas lu ya.... (menjambak-jambak rambut adiknya) "
"Gua bilangan bunda ya.... "
"Bilangin aja gua nggak takut"
"BUNDA.... KAK NASYAH JAMBAK RAMBUT AKU BUNDA, auuu, sakit lo kak"
"Nggak peduli"
"Kak nasyah.... "
Keributan yang mereka buat mengundang perhatian sekumpulan orang, dari jauh terlihat seorang pemuda tampan yang sedang melihat kelakuan mereka. Dengan pandangan yang beralih sedikit pria masih melihat mereka dari awal sampai akhir, namun kedua orang itu tidak menyadarinya. Pria itu ter sedikit berpikir,
"Siapa wanita gila yang berkelahi dengan pria muda itu? " (bicara dalam hati)
"Apa dia tidak malu berkelahi, kalau di perhatian kan sepertinya perempuan itu bukan remaja lagi, tapi tingkah seperti remaja. apa mungkin dia adik dari perempuan yang aku nikahi? "
"(Memfokuskan pandangannya) dia sama sekali tidak memberi ampun pada pria, kasihan sekali"
Tak lama, ayah dari kedua anak yang berkelahi itu menghampiri mereka dengan sangat cepat nasyah lepaskan tangannya dari rambut adiknya, sementara anak laki-laki dengan cepat berdiri dan menundukkan kepala. Nasyah berdiri santai bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Namun ayahnya masa tetap melihat mereka, adik laki-lakinya suka ketakutan ayah akan marah begitupun dengan nasyah, tapi nasyah lebih memilih untuk pura-pura santai. Karena ayah mereka tidak sepatahpun lebih menakutkan dari pada bunda mereka.
"Aduhhh matilah gua, ayah kenapa nggak ngomong-ngomong ya.... " (kata Rehan dalam hati)
"Kayak mana ni, ayah kayak marah bangat, si bocah ni lagi pakai teriak segala. (kata nasyah dalam hati) "
"Ayah, kayaknya bunda ayah deh...? (menunjuk dengan mulut) iya kan han? (menginjak kaki rehan) "
"Iya yah, tadi sebenarnya rehan mau manggil ayah di suruh bunda"
"Tu kan yah.... bunda manggil ayah, emang bunda tadi bilang apa han? " (Pura-pura bertanya)"
"Bunda cuman bilang, suruh ayah ke tempat bunda"
"Oooo gitu...., ya udah. Ayah aku pergi ke bawah dulu yah, mau lihat si zila, udah siap apa belum? (melangkah untuk pergi) "
"Udah bohongnya nasyah?"
"Hehehehe ayah.... (mengarut kepala) "
"Sekarang kalian pisah, cari tempat masing-masing, dan jangan seperti tadi lagi"
"Iya ayah (kata rehan mengangguk meninggalkan ayahnya) "
"(Nasyah mengikuti adiknya) nasyah pergi dulu ayah..... Rehan! tungguin gua, (bersuara pelan"
Dengan cepat ayahnya mencegah,
"Nasyahhhh..... "
"Iya ayah...? " (berbalik badan, sementara rehan semakin cepat jalan nya karena takut di marah oleh ayahnya)
" (Asal bicara) Ketempat ibu yah. "
"Memangnya ini di mana? "
"Di belakang yahh (menunjuk) "
"Trus kenapa kamu masih ngikutin rehan? "
"Siapa bilang, nggak kok yah. Mungkin rehan yang sejalan dengan aku yah"
"Sejalan atau sengaja? kamu mah ganggu rehan lagi? (menekan) "
"Nggak yah (menundukkan kepala)"
"Lalu apa?"
"Cuman sejalan doang yah (menciut)"
" Kamu pergi ke tempat zila, bantu dia "
"(Dengan cepat meninggalkan ayah)"
"Eeee jangan sampai ayah dengar kamu jahili zila"
"Siap komandan laksanakan (memperagakan memberi hormat)."
Nasyah pergi meninggalkan ayahnya dan berjalan ke arah kamar zila, ayah yang melihat tingkah anak perempuan yang sudah tua namun seperti anak kecil itu hanya mampu menggeleng-geleng kepala. tak dapat mengatakan apapun lagi, karena dia bukan gadis kecil lagi yang harus nyiyir menegurnya. Bahkan saat ketahuan oleh ayahnya dia masih bertingkah seperti anak kecil tertangkap basah oleh orangtua melakukan kesalahan, serta beralih seperti tidak terjadi apa-apa. Kedua orang tuanya sedikit bingung dengan pemikiran anak ini.
__ADS_1
Sementara itu, pemuda tampan ini masih mengawasi kejadian itu, serta melihat semua tingga wanita itu. Dia penasaran den wajah wanita yang tertangkap basah itu, bahkan ayahnya tidak terlihat marah padanya sementara dia sudah seperti orang maling. Pria tampan itu berkata,
"Apa dia akan di marahi?, eeeee sepertinya tidak, dia sepertinya mencoba mengalihkan perhatian ayahnya. Dasar bocah...." (senyum kecil)
Tiba-tiba pria itu menurunkan pandangan nya, untuk menyapa beberapa orang yang menyambut kehadirannya. Tak lupa juga menyalami para tetua yang hadir di acara itu, dia juga membawa adik kecilnya yang selalu berada di dekatnya, kecuali saat bekerja barulah mereka terpisahkan.
"Lebih baik kamu cari teman disini, dari pada di samping kakakmu terus (kata ibu pria tampan)"
"Nggak mau, aku nggak kenal mereka... lagian mereka juga nggak kenal aku" (balas adiknya manja)"
"Kamu ini....."
"(Memotong) Ibu.... biarin aja, lagian dia juga nggak ada teman di sini, nggak papa Rika ada di samping aku" (membelai lembut adiknya)"
"Makasih kak Raka" (tersenyum)
Pria tampan itu membelai adiknya dengan lembut, tak sengaja melihat ke arah nasyah. dia masih melihat nasyah yang di nasehati ayahnya. Dia juga tersenyum dengan tingkah nasyah. Tanpa di sadarinya, teman baiknya yang akan bertunangan itu sudah menyenggol nya.
"Melihat apa lu? "
"Ahh, nggak ada (berpaling)"
"(Mencelingak-celibguk) Lihat apaan si..?"
" (Santai) nggak lihat apa-apa"
"masa? "
"(Diam dan meninggalkan temannya)
"Woi bujang lapuk, (mengejarnya) lu ninggalin gua? "
"(Tidak peduli dan terus berjalan) "
"Woii, lu dengar nggak"
"(ketus) nggak! "
Adiknya di samping tertawa terkakah-kakah melihat sikap kakaknya. Melihat di tertawakan oleh anak kecil Jastin merasa sedikit kesal dan mengacak-axak rambut adiknya raka.
"Anak kecil jangan ketawa lagi, sudah tahu kamu punya kakak seperti batu gunung, masih aja ketawa"
"Ya salah sendiri, siapa suruh kak Jastin kepo? "
"Ahhh, kakak adik sama aja"
"Namanya juga adik kakak ya sama lah"
"(Kesal) Kalian!, eeee..... ini hari bahagiaku bisa nggak jaga moodku gitu, seharusnya sebagai orang yang beruntung hari ini, aku disanjung, dan juga nggak mengundang emosiku kan? "
"Ku rasa hari ini bukan hari bahagia kak jastin sendiri deh,"
"(Kaget) Maksudnya? "
"Itu karennnnnnan kakkkmmm (dibungkam)"
"(Membungkam mulut adiknya) nggak ada, dia cuman asal ngomong. (pergi meninggalkan jastin) "
"Eeee kalian mau kemana? (mencoba mengejar namun sayangnya raka tidak peduli dengan panggilan jastin) Woiii Raka! Raka! Gunung himalaya! Woii beruang salju?"
__ADS_1
Raka masih tidak peduli kemudian memberi kode untuk jastin tidak mengejarnya. Jastin yang paham lansung diam dan hanya bisa berteriak saja.