
Disisi lain terdapat Nasyah yang tengah menikmati damainya suasana tanpa kebisingan, meskipun dia terlihat ceria, tapi itu hanya pada keluarga dan beberapa teman dekatnya. Dia tidak menyukai suasana berisik seperti pesta formal seperti itu, bukan hanya jamuan keluarga seperti ini saja dia bertingkah, bahwa kan ketika di dunia bekerja pun di seperti ini. setelah menyelesaikan tujuan ke jamuannya, dia akan mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya dari kerumunan.
Sekarang dia sangat menikmati suasana ini, dia tampak memasukkan kedua kakinya kedalam kolam, merendamnya seperti dia tengah mengizinkan suasana hatinya. Dia menutup kedua matanya, dia memang sangat jarang pulang ke rumah, sekali pulang pun hanya mampir sebentar sama halnya seperti sekarang. Dia kepikiran nanti malam hari mengemudi mobil untuk Ke kota.
Sementara di sisi lain, adik laki-laki nya rehan tengah sibuk mencarinya, dia menyelusi ruangan satu persatu dari padur, kamar halaman depan. Dia main mengeluh,
"Ini kakak kemana si...? kebiasaan yang merepotkan. Gua yakin nanti pasti suaminya bakal kerepotan gara-gara tingkahnya, di telpon malah nggak di angkat."
"(Berjalan masuk kedalam ruang tamu) Dapur udah, kamar udah, halaman depan juga nggak ada, ruang tamu udah pastinya nggak bakal ada, (bepikir) hmmm........ sepertinya halaman belakang yang belum. Ya gua ke sana aja, mana tahu di sana. Kalau nggak ada di sana, udah pasti tu wanita siluman belut di gudang. hahahahahahaha, masih si... dia kepikiran ke sana cuman menghingga orang-orang, (bicara pada diri sendiri) siapa yang tahu isi otak kakakku yang pintar dan sedikit gila itu kan? ya udah gua ke kolam benang deh"
Sementara ayahnya terus membawa ayah dan anak itu untuk terus berbicara agar mereka tidak terlalu mempertanyaankan kedatangan Nasyah, karena ayahnya tahu putri sulungnya itu akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk di temukan.
tidak memerlukan waktu yang lama, rehan telah sampai di kolam, ternyata sesuai dengan didugannya. Kakak tercinta sedang duduk dengan santai di tepi kolam. Tanpa dia memikir sekumpulan tengah pusing mencari keberadaan. Dia dengan tenang merendamkaki kakinya.
Rehan melangkah untuk mendekat, serentak diapun sadar dengan kehadiran seseorang. Membuka matanya, melihat ke arah sumber suara,
"Ternyata kamu (kembali memejamkan mata) "
"(Berjalan mendekat) nggak ada tempat yang lebih sulit lagi buat gua cari lu kak? "
"Memangnya ada apa? si Zila Nyuruh lu buat nyari gua"
"Bukan zila, tapi Baginda ayandah. (merebahkan diri ke kursi) Gua nggak tahu apa alasannya jadi bertanya"
"Dasar bocil"
"Lu yang bocil, setiap acara sembunyi terus. Gua yang susah lu, tahu? "
"Nggak (santai)"
"(Menyadari kakaknya tidak bergegas) Lu masih belum jalan kak? "
"Lu nggak kasih tahu gua alasnya apa. Lagian gua masih ragu yang nyuruh benaren ayah atau si Zila? (menganyun-anyun kakinya)"
"Lu telpon aja kalau nggak percaya, (mendekat) kalau mau di marahin ayah (tertawa)"
"Sepertinya ayah benaran manggil gua, tapi buat apa? (bicara dalam hati) (melihat ke arah adiknya"
__ADS_1
"(menyadari serangan datang) Gua udah bilang nggak, jadi tanya ke gua (membela diri)"
"(Diam)"
"(Bangun) Gua saranin mending kakak cepat temui ayah, Yaudah gua pergi dulu. Pesan telah di sampai (berjalan meninggalkan kolam"
"Yaudah mending gua ke tempat ayah dulu (berdiri) lu tungguin gua! . (membebaskan diri)"
"Tingkah masih kayak bocah, tapi umurnya sudah tak bisa di bohongi lagi, wajahnya yang seram bila marah itu tak bisa di sembunyikan. Entah pria ini akan tertarik sama kakakku yang ganas ni, (tertawa) apa dia akan beruntung atau masalah siak ya.....? (tertawa kecil"
"(melihat adiknya tertawa) lu ngetawain apa? "
"nggak papa. Gua cuman mikir, apa nanti gua udah nikah lu masih belum nikah gitu"
"(Menjeger telinga adiknya)"
"Aduh, aduh... sakit kak, sakit...... "
"Ngomong lagi, mulut lu gua jahit"
mereka berjalan ke arah ruang tamu, adiknya yang mencari keberadaan ayahnya. Dia tidak berniat untuk pergi sama sekali, dia penasaran bagaimana ekspresi kakaknya. Siapa yang akan mengirah wanita ini akan mempunyai adiak seperti rehan.
Ketika dia melengkahkan kakinya ke dalam ruang tamu, wanita konyol yang bersama adiknya tadi berubah menjadi wanita desawanyang penuhi krismatik dan percaya diri yang tinggi. Dia berjalan elegan ke arah ayahnya. Tidak tahu sejak kapan bundanya sudah berada di antara perkumpulan itu, dari tadi ayah yang terus mencuri pandang untuk mencari keberadaan putrinya. Kini dia telah melihat putri sulungnya berjalan dengan senyum yang lembar sambil di gandeng oleh putranya tunggalnya.
Betapa bahagianya dia, kecemaran yang dari tadi telah mengelilingi kepalanya. Siapa yang kira bukan hanya Rehan yang penasaran dengan respon dari kakaknya, tampaknya Zika juga kepo dengan itu. Namun dia hanya dari jauh memperhatikannya, hingga kakaknya telah sampai tepat di posisi ayah,
"(Rehan menyapa)Ayah, paman, bibi, kakak"
Nasyah hanya melukiskan senyum yang indah diwajah untuk menyapa mereka. Sampai saat ini dia belum menyadari ada hal lain, tapi dia tidak lupa juga bersalam dengan mereka.
"(Ayah Nasyah) Nah, ini mereka. Pak kris ini Putri sulung dan ini putra tinggal ku (memperkenalkan)"
"(Bersalaman) Hallo paman, Hallo bibi (Nasyah lalu di ikuti oleh rehan)"
"(Pak kris dan istrinya merasa melihatnya)"
"(Istri pak kris) Cantik putrimu ya mbak?"
__ADS_1
"(Pak kris) Ya, iyalah... siapa dulu bundanya (bercanda) "
"Tapi putranya nggak mau kalah juga pa? (istri pak kris)"
"iya ma.... tapi belum bisa ngalahin ketampanku tentunya (tertawa)
Semua orang menyambut canda dengan tawa yang bahagia kecuali Nasyah, dia hanya tersenyum di luar tapi dalam hatinya berkata lain. Zila yang rasa penasaran semakin besar, mulai mengajak Jastin untuk bergabung ke dalam obrolan yang berlangsung tak jauh dari mereka. Dia menggandeng Jastin ke sana. Zila menyapa teman orangtuanya sopan,
"Ayah, bunda (berjalan mendekat)"
"Zila, sini nak"
"Hallo paman, hallo bibi (bersalam)"
"Ooo jadi ini yang menjadi bintang hari ini (kata istri pak kris)"
Zila menyambut sanjungan itu dengan senyuman. Nasyah masih terlihat santai dengan keadaan yang ada dihadapannya. Beda hal dengan kedua adiknya, mereka seperti tengah berbicara dengan saluran bathin. Rehan yang melihat ke arah Zila memberikan signal, mereka hanya bicara melalui tatapan.
"Kak zila pasti mau melihat pertunjukkan juga ya.. ? (kata rehan)"
"Tentunya, emang lu doang yang penasaran gua juga. apa kak Nasyah belum tahu?" (kata Zila)
"Belum"
"Masa sih? "
"Iya! ayah sama bunda nggak ngebolin gua kasih tahu kak Nasyah"
"(menahan tawa) Pantasan gua masih bisa lihatnya, coba lu lihat ekspresi bodohnya? "
"Gua juga tahu dari tadi, (menahan tawa)"
Nasyah mulai menyadari keanehan kedua adiknya itu, dia merasa merek membicarakan sesuatu, dia pun memulai menyela pembicara dengan memberikan ekspresi m bertanya,
"Apa yang kalian bicara (berbicara melalui tatap)"
kedua adiknya lansung mengatakan tidak ada apa-apa, rehan memberikan signal yang menyatakan dia tengah membicarakan tunangan Zila yang terlihat seperti orang saat di bawah dalam pembicara keluarga seperti ini. Untuk menjaga wibawanya dia hanya dapat mengantuk saja. Sementara kedua adiknya merasa puas dengan membohongi kakinya, serta wajah belum beraksi apa-apa. Pada saat itu juga mereka membayang wajah yang terlihat seperti bicara ini sebentar lagi akan berubah menjadi siluman yang menakutkan. Mereka benar-benar saling membayangkan itu, dengan bersamaan juga menahan tawa.
__ADS_1