TANPA RASA

TANPA RASA
Pulang Kampung


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa desakkan semakin keras juga. Untuk menduduki jabatan harus menikah itu dikarenakan aku sudah cukup umur dan terjun ke dunia kerja sudah lama. Orangtuaku masih rempong dengan persoalan pernikahan, akhir pekan ini beliau memintaku untuk menghadiri acara pertunangan adik perempuanku. Dengan sikap baik aku tak dapat menolaknya,


"Hallo bun?"


"Hallo Nasyah, kamu sibuk nggak akhir pekan ini? "


"Nggak juga bunda, memangnya ada apa bun?"


"Nggak..... bunda mau kamu pulang akhir pekan ini, di rumah sedang ada acara, Nasyah pulang ya... "


"Nasyah nggak janji ya bun, soalnya untuk sekarang akhir pekan memang kosong tapi nggak tahu juga kedepannya. Mana tahu nanti ada kerja dadakan yang mengharuskan nasyah disini."


"Iya nggak papa, yang penting nasyah pulang bentar aja..... soalnya ada hal penting"


"(Curiga) Memang ada hal apa bun? "


"Adikmu si Zila dia di lamar akhir pekan ini, masa kamu nggak pulang menghadiri acaranya."


"Oooo okeh bun, nanti nasyah kosongkan jadwal akhir pekan ini. "


"Iya, kalau gitu nasyah lanjut aja kerjanya, nanti bunda sampaikan ke zila bahwa nasyah mau datang, bunda yakin dia pasti senang. "


"Iya bun, Nasyah matikan ya bun. "


"Hhmmm" (mematikan telpon)


Setelah matikan telpon dari bundanya nasyah lansung menelpon asistennya bertanya apa ada jadwal akhir pekan ini, ternyata tidak ada. Jadi dia sudah berminat untuk pulang ke rumah bundanya.


"Hallo si"


" iya kak ada apa? "


" Akhir pekan ni jadwal aku kosongkan? "


"Sepertinya begitu kak, "


"Buat lihat perkembangan di kantor cabang kapan? "


"Ooo itu, Pekan besok kak. "


"Oo gitu, ya udah makasih ya... "


"Memangnya ada apa ya kak kalau boleh tahu? "


"Nggak masalah berat, aku mau pulkam akhir pekan ini, jadi aku mau pastikan jadwal dulu. "


"Ooo begitu ya kak, aku kira ada masalah atau memajukan jadwal"


"nggak kok, ya udah kamu lanjut kerja aja"


"iya kak (menutup telpon) "


Sementara di sisi lain, bundanya telah mematikan telponnya terlihat tersenyum. ayah Nasyah pun bertanya,


"Gimana bun, nasyah mau pulang? "


"Mau yah... Tapi bunda bohong sama dia. "


"Itu nggak bohong namanya, tapi bunda nggak menceritakan sepenuhnya. Kan besok lusa zila memang di lamar, jadi nggak salah dan selain kita menjodohkan putri sulung kita itu pada seorang pria, kalau dia suka nggak papa, kalau nggak suka ya nggak papa," (memutarkan badan istrinya yang terlihat sedih)


"Bunda jangan sedih, nasyah nggak bakal marah sama bunda.... dia tahu bunda melakukan ini kebaikkannya, kita nggak maksa dia, kita hanya mengenalkanya pada seorang pria. Lalu dimana salahnya kita? "


"Iya yah, tapi.. "


"Yakin sama ayah! dia anak siapa? anak kita kan, kita sudah melihat dia tumbuh desawa, kita bagaimana sifat dia, jadi bunda jangan sedih lagi"


"Meski itu yah..... karena bunda tahu putri kita sekeras batu itu, dia pasti bakal merajuk pada bunda, dia sudah bilang pada kita untuk tidak menjodohkan dia lagi. "


"Bunda, kita tidak memaksa dia, kita hanya memperkenalkannya saja, dia paham itu. "


"Bunda harap juga begitu yah...., tapi bunda nggak bakal jawab apa saat di bertanya nanti"


"Bunda jawab saja mereka tamu kita yang menghadiri acara zila, dia juga anak teman lama ayah."


"Tapi yah... "

__ADS_1


"ssstttt (menghentikan istri kannya berbicara) "


"Ayah nggak bunda bilang itu lagi, dia nasyah dan masih anak kita, kita punya tanggung jawab sampai berumah tangga."


"(mengangguk)"


Keesokan harinya (Akhir pekan)


Nasyah sudah pulang kerumah orang tua pada hari sabtu pada malamnya, paginya dia melihat tidak ada yang menjanggal dari acara tersebut, dia menyadari bahwa adiknya di dandan secantik mungkin dia pun menghampiri adik bungsunya itu,


"(berdiri di depan pintu kamar zila) Cieee....... ada bakal cepat nikah ni.. "


"kak nasyah, (kaget) (menghampiri kakaknya) kakak kapan sampai? "


"(berjalan masuk kedalam kamar) Tadi malam jam 1"


"(mendekati kakaknya) Itu bukan malam lagi kak, udah pagi, kayak biasa siang jadi malam, malam jadi siang"


"iya, cuman itu berlaku buat libur aja, kalau jam kerja gimana bisa gitu"


"ya.. sama aja, masih kak nasyah yang lama kan? "


"Hmmmm (merebahkan diri di tempat tidur)"


"Kak"


"Iya, kakak udah lihat anak teman ayah belum? "


"Belum (santai) memangnya kenapa? kamu dilamar sama anak teman ayah? "


"Ya nggak lah, orang dilamar sama pacar sendiri kok, emangnya kakak sampai sekarang nggak mau pacaran"


"Buat apa pacaran, kan belum tahu juga dia jodoh kita, mending santai gini enakkan? "


"huhuuuuuu Kalau jomblo ma emang sering ngomong gitu, sekali pacaran lansung bucin minta ampun"


"Emang aku pernah bucin? "


"Gimana mau bucin punya pacar aja nggak"


"Tapi benaran belum ketemu sama anak teman ayah kak? (tiba-tiba mendekatkan wajahnya)"


"(Mendorong wajah adiknya dengan lembut) aku udah bilang belum, ya belum. Dasar bocah"


"Kakak serius? "


"Dua rias malahan"?


" haaaaaa (mengela nafas) sayang sekali, katanya dia tampan kakak, putih, perkasa dan kaya lagi kakak (antusias) masa kak belum ketemu dia sih... "


"Bocah ingusan, aku bilang belum berarti ya belum, Emangnya ada apa kamu tanya dia?


Jangan bilang kamu nyesal bertunangan dengan pacar kamu, dan kamu mau beralih hati? "


"Kakak pikir aku segila itu apa? tunangan ku itu pria tertampan sejagat raya, makanya aku penasaran, apa benar pria itu bisa mengalahkan tunangan ku yang dermawan itu? "


"Kalau jawabanya iya, bagaimana? "


"Ya nggak papa, (berpikir) tapi aku kasihan sama dia"


"Kasihan kenapa? "


"Dia tampan tapi nggak punya pacar, artinya kan sama nggak laku kakak? "


"(******* mulut adiknya) "


"Aduh kak, sakitt.... (melepaskan tangan kakaknya) "


"Kalau ngomong itu mikir dulu, jadi kamu kira kakakmu ini nggak laku juga gitu? "


"ya... gitu deh"


"(sekali lagi ******* mulut adiknya) "


"KAKAK! sakit lo aa.. "

__ADS_1


"Biarin, biar tu bibir sadar diri kalau ngomong"


"emang kenyataan gitu kan? "


"masih ngeles lagi"


"(berjalan menjauh dari kakaknya) Lagian kakak kenapa marah, yang aku bilang nggak laku kan dia, emang kakak siapanya bisa marah gitu? (mengejek) atau diam-diam kaka sudah dia ya..? atau kakak udah pacaran dia? (berputar badan) Wawa aku bakal punya ipar taman nihh... "


"Enak aja kalau ngomong, kau sumbat tu mulut? "


"Weekkkk, coba aja kalau bisa"


Karena kesal mendengar ejekan adiknya, nasyah punya tak henti mengejar adiknya, mereka berdua saling bercanda seperti masa kecil dulu, sering ribut tapi tidak terlalu serius. Tiba-tiba bunda mereka membuka pintu dan melihat tingkah anak, mereka berdua terpena dengan kedatangan bundanya, saling memandangi dan mendadak saling berpelukan.


"Aduh zila, kaka cantik bangat lo hari ini (mencubit wajah adiak dengan keras, sementara wajah melihatnya senyum yang menyeramkan) "


"Iya kak makasih, kalau kau terus mencubit pipiku, aku yakin besok pagi aku akan operasi plastik"


"(melepaskan cubitanya) Ini tanda sayang dari kakak lo, kok kamu bilang gitu, (sambil menghelus pipi adiknya)


" Iya kak, tapi ku rasa kau tak perlu juga mencubit ku"


"(berdiri menatap kedua anaknya) Kalian sudah selesai dengan sandiwara kalian? "


mereke berdiri dan saling melepaskan pegangannya


"Udah gedek gini sama saja kayak bocah, kalau dekat berantem, kalau jauh saling rindu. Kalian gimana sih? "


"(Zila menjawab) kakak tu bun mulai cubit wajah aku"


"Enak aja, kamu yang mulai duluan kok, (menunjuk) Zila bun, Zila duluan yang cari gara-gara."


"(tiba-tiba rehan menyahut) Alasan itu bun, mereka kan emang sering berantem bun, udah pada gedek nggak ada otak lu,"


"(Serentak) Diam lu capung) "


"Rehan! Kamu jangan ikutan, pergi teman ayah sana"


"Iya bunda (berlalu pergi dan tak lupa menjulurkan lidah untuk kedua kakaknya itu"


jadi dengan santai dia mengikuti perkataan bundanya


Sementara dia perempuan muda itu masih dalam keadaan diam, tak berani lagi berkata,


"Kenapa kalian masih diam saja? "


"Bunda kan lagi marah " jawab zila


"(menggeleng-geleng kepala) kalian bukan usia remaja lagi, yang satu sudah mau dilamar, yang satu lagi seharus sudah punya anak. Masih saja bertingkah seperti remaja"


"(mengenggol adiknya) "


"(melihat ke arah kakaknya) Apa? (berbisik)"


"Nasyah... jangan bertingkah lagi, ayo siap-siap bentar lagi acara mau mulai"


"(menunduk) iya bunda"


"(mengejek) hahahaha rasain lu kak"


"(menyenggol adiknya) "


"Udah belum? Zila! udah selesai dandannya?"


"Bentar lagi bunda (berlari ke arah meja hias)"


"Aku juga mau siap-siap dulu bunda (berjalan pelan-pelan) "


"Iya sana, dandan yang cantik, nanti banyak tamu yang datang, jangan bertingkah ya nasyah"


"Iyah bun"


" hahahaha tadi nya mau dandan biasa aja, tapi sekarang kalau aku lakukan itu jin khodam bunda akan keluar, si zila ni, buat rencana aku gagal aja"(dalam hati).


Nasyah meninggalkan kamar, sementara bunda nya membantu zila untuk siap-siap.

__ADS_1


__ADS_2