TEMAN TAPI MENCINTA

TEMAN TAPI MENCINTA
Semester 5 KKN


__ADS_3

Setelah semester kelima ku dimulai kami disibukan dengan hal-hal dan berkas untuk KKN, aku dan teman lainnya sangat antusias menyambutnya.


Kami sudah menyiapkan mental kami sedari awal, bilamana desa yang akan kami tuju nanti adalah desa terpencil atau bahkan jauh dari pusat kota.


Aku yang berasal dari desa tidak kaget dan takut sama sekali, karena sudah terbiasa dengan suasana desa.


Setelah satu minggu masa pendaftaran KKN kami diberi informasi bahwasannya nama dan tempat KKN kami telah ditempelkan dimading, aku yang kala itu sedang berada dirumah tidak dapat melihat langsung kekampus yang hanya diwakilkan vira dan cindy.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*tring*


Ponselku berbunyi namun kuabaikan


"Kita semua misah loh, kamu dapat di desa kampung baru, aku di cubadak, cindy di bukit batu" kata vira dalam pesan singkat tersebut


Aku yang sedang menikmati bakso kesukaanku enggan untuk membuka dan membalas pesan yang masuk, sudah jadi kebiasaanku ketika menikmati bakso akan lupa dengan segalanya.


Vira yang kesal mendapati pesannya tidak kugubris pun terus menerus menerorku dengan pesan, sehingga membuatku mau tidak mau harus melihat dan membalasnya.


"Terus?" balasku seadanya


"Gini doang responmu? gak penasaran candra di desa mana?" katanya yang tidak kuketahui bertanya serius atau hanya sekedar memancingku


"Gak perduli aku, mau dia dimana sih bodo amat!" tekanku yang kesal telah diganggu vira


"Yakin nih?" balasnya lagi yang kuabaikan saja


*tring*


ponselku berbunyi lagi, yang sudah kuyakini bahwa vira dan cindylah yang mengirimkan pesan untuk ku.


Segera kuambil ponselku dengan niat ingin membalas kasar mereka, namun ketika kubuka pesan dari vira niatku mentah.


Vira mengirimkan foto berisi nama anak lainnya yang ikut kegiatan KKN, nama beserta desanya, dan membuatku terdiam sejenak ketika kulihat nama candra dan aleta yang berada disatu desa.


" Candra Wijaksana : Desa suka maju


Aleta Mentari : Desa suka maju" kirim vira


Pikiranku kosong, entah harus kubalas apa dan bagaimana, aku hanya memandangi foto yang dikirimkan vira tersebut.


"Gila gak sih mereka satu desa?" kirim vira lagi


"Aku kaget tau candra satu lokasi sama pacarnya" kata cindy yang juga mengirim pesan padaku


"Ya gak papa lah, apa salahnya coba mereka satu lokasi? lagian apa urusanku sih kalau mereka sama? gak jelas deh kalian!" balasku ke vira dan cindy kesal


"Duh kamu cepetan deh kesininya jangan lama-lama dirumah, kangen tau" balas cindy seolah mencairkan suasana yang mengerti aku sudah kesal dengan mereka


"ok" balasku singkat

__ADS_1


Sedih, kesal, cemburu menyelimuti perasaanku saat ini, jujur saja aku sudah menaruh hati pada candra, berawal dari sering telponan aku mulai menyukainya lebih dari teman.


*tring*


"Kita kok gak barengan ya desanya yang?" kata seseorang mengirim pesan singkat yang ternyata candra


"Entahlah" jawabku singkat


"Nanti malam aku telpon ya, sayang jangan tidur dulu" balasnya lagi


"Ok" kataku singkat yang masih kesal melihat nama candra dan aleta tadi


Semenjak semester lima candra kerap memanggilku sayang, bermula dari sebuah candaan kini sapaan tersebut sudah akrab terdengar ditelingaku dan teman lainnya.


Aku tidak pernah ambil pusing dengan hal itu apalagi semua teman sekalas tau bahwasannya itu hanya gurauan semata.


Malamnya Candra menepati janjinya ia menelponku melalui pesan suara.


"Hallo yang" sapanya lembut disana


"Hmm ya apa?"balasku datar


"Lagi ngapain yang?"katanya


"Mau tidur, kenapa?" balasku cuek


"kenapa sih yang? kok jutek amat? lagi ada masalah atau gimana?" tanyanya penasaran yang tidak mengerti bahwasannya dirinyalah sumber kekesalanku


"Biasalah, ada apa bih nelpon?" tanyaku seadanya


"Besok kekampus ya yang, ada yang mau aku omongin ke kamu" katanya serius


"Yauda sekarang aja kenapa harus nanti?" jawabku penasaran


"Jangan yang, aku maunya kita ketemuan sambil ngobrol" katanya lagi


"Oke nanti kukabarin, yauda ya aku ngantuk udahan" jawabku yang masih males meladeninya


"Iya yang, yauda ya bye" balas candra yang langsung kusambut dengan mematikan sambungan telponnya.


Setelah telpon terputus aku semakin merasa penasaran, dimana aku yang berharap perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, namun juga ada sedikit kekhawatiran dihatiku yang mana aku takut jikalau ini menyangkut hubungannya dengan aleta.


Tepat tiga hari sebelum kami pergi kelokasi Candra mengirimkan pesan untuk ku dan bertanya kapan bisa bertemu.


Aku memang semakin jarang bertemu dengannya, dikarenakan aku lebih sering menghabiskan waktu dengan kelompok KKN ku.


"Dimana ra? aku dikampus nih" katanya lewat pesan singkat


"Lagi kumpul sama kelompok" balasku


"Ketemu yuk, aku rindu" katanya

__ADS_1


"Gak bisa, lagi sibuk banyak hal yang mau diurus" balasku lagi


"Aku mau hubungan kita jelas!" katanya yang membuat jantungku seperti terkena serangan jantung mendadak


GILA....


"Besok aja ya hari ini gk bisa" kataku yang masih tidak menyangka dan heran dengan perkataannya.


"Oke ra"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tepat satu hari sebelum keberangkatan aku mengirim pesan singkat kepada candra.


"Dimana can? jadi bicaraain kejelasan hubungan kita?" kataku lewat pesan singkat


"Jadi, bisa kirimkan Screenshoot pesan kita dari awal ke aku?" balasnya


Jujur saja aku merasa aneh dengan balasan darinya, yang mana tidak seperti candra yang kukenal, tidak ada keramahan dalam sebaris pesan singkat darinya.


"Bisa, wait ya" kataku sambil mengirimkan foto yang mana candra lebih banyak perhatian kepadaku, aku sedikit sadar bahwasannya ponsel candra sedang berada ditangan sang kekasih.


"ini can (mengirim sebuah foto)" kirimku


tidak lama berselang candra pun membalas pesanku.


"Ini aku Aleta, bisa-bisanya kalian kaya gini dibelakangku ya, dan bisa-bisanya kau minta kejelasan sama pacar orang!" katanya marah


"Oh, maaf ya kak" kataku yang malas meladeni wanita tersebut


"Uda berapa lama kalian kaya gini? sanggup kalian ya. Kalau mau sama dia bilang aja samaku biar aku kasih, gak perlu main belakang!!" lanjutnya marah padaku


"Maaf ya kak, aku males ribut" balasku seadanya


"Diluar sana masih banyak laki-laki kenapa harus pacar orang lain? kaya perempuan gak laku aja" katanya yang sedikit membuatku emosi


"Mohon maaf ya kak aku laku kok, aku minta maaf uda ganggu hubungan kalian. ini salahku sepenuhnya" kataku sedikit marah


"Perempuan macam apa yang bisa-bisanya berhubungan sama pacar orang? uda sejauh apa kalian? uda saling tukar sosmed ya? katanya yang menerorku dengan berbagai pertanyaan


"Tanya langsung aja sama pacar kakak" kataku lagi


"Kau jawab, aku maunya kau yang jawab bukan candra!"


"Maaf ya kak" kataku lagi yang sudah mulai malas melayaninya


"Uda kalian lanjut aja, biar hubunganku sama candra kubicarakan nanti" katanya yang seolah menyuruhku melanjutkan hubungan terlarang kami.


*Glegggg*


Ternyata seperti ini ya dilabrak pacar orang, pikirku.

__ADS_1


Aku yang masih syok dengan kejadian tersebut pun langsung mematikan ponselku.


__ADS_2